Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 - MHB
Keberhasilan rapat kemarin seharusnya membuat Maya tenang, namun di dunia korporat Jakarta, keberhasilan sering kali diikuti oleh ekor yang panjang bernama gosip. Pagi itu, Maya baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen mendesak dan berniat mencari asupan kafein di pantry lantai 15.
Namun, langkahnya terhenti tepat di balik pintu kaca yang sedikit terbuka. Suara tawa cekikikan dan denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik terdengar dari dalam.
"Eh, kalian lihat nggak si anak magang dari Global Tech itu? Si Arka-Arka itu," suara itu milik Cindy, salah satu staf pemasaran yang dikenal paling vokal.
"Ganteng banget, kan? Gila, kayaknya kalau dia disuruh lembur semalaman nemenin gue, gue nggak bakal nolak deh," balas rekan lainnya, disusul tawa genit.
"Tapi beneran deh, dia itu kayaknya cuma 'pajangan' biar Global Tech kelihatan keren. Kemarin Pak Baskoro setuju juga pasti karena Arka pinter ngambil hati aja. Anak semuda itu mana mungkin paham algoritma serumit itu? Paling juga cuma modal tampang buat soft-selling. Kalau gue jadi Bu Maya, bakal gue manfaatin habis-habisan tuh anak buat narik klien-klien cewek kita."
Maya mengepalkan tangannya di balik saku blazer. Rahangnya mengeras. Ada rasa panas yang menjalar dari dadanya hingga ke telinga. Ia merasa marah—marah yang tidak hanya berasal dari rasa protektif seorang istri, tapi juga kemarahan seorang profesional yang melihat kerja keras direndahkan menjadi sekadar "modal tampang".
Beraninya mereka, batin Maya.
Ia ingin sekali mendobrak pintu itu dan memberikan kuliah panjang tentang etika kerja dan bagaimana Arka sebenarnya jauh lebih pintar dari mereka semua digabungkan. Namun, akal sehatnya segera berteriak: Jangan! Kalau kamu terlalu membelanya, mereka akan curiga. Kamu akan mengonfirmasi gosip yang bahkan belum mereka buat tentang hubungan kalian.
Maya menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi "Wanita Besi" yang tanpa emosi. Ia tidak jadi masuk ke pantry. Ia berbalik, berjalan menuju mejanya dengan langkah yang lebih cepat.
Ia menyadari satu hal: jika ia membiarkan Arka tetap terlihat "mudah" di mata orang kantor, maka citra Arka akan terus direndahkan. Dan yang lebih parah, ia tidak tahan melihat pria yang semalam membuatkannya jus dan mengaku mencintainya itu hanya dianggap sebagai pemanis ruangan.
Kamu mau bukti kalau dia bukan cuma modal tampang? Oke, aku kasih buktinya, pikir Maya dengan tekad bulat.
Satu jam kemudian, Maya memanggil tim inti proyek Neo-Industrial ke ruang diskusi kecil. Di sana sudah ada Arka, duduk dengan tenang sambil mencatat sesuatu di tabletnya. Wajahnya terlihat segar, sama sekali tidak tahu bahwa namanya baru saja menjadi bahan olahan di pantry.
Cindy dan beberapa staf yang tadi bergosip juga ada di sana.
"Baik, semuanya," suara Maya terdengar lebih tajam dari biasanya. "Kita punya kendala besar. Arsitektur keamanan data di server cabang Surabaya mengalami glitch yang tidak terduga. Ini bukan tugas biasa. Ini butuh rekonstruksi kode dalam waktu 48 jam sebelum audit pusat dimulai."
Semua orang di ruangan itu mendadak diam. Mereka tahu itu adalah tugas "bunuh diri". Tugas yang biasanya diserahkan pada konsultan senior dengan bayaran ratusan juta.
Maya menatap lurus ke arah Arka. Arka membalas tatapannya, sedikit mengerutkan kening, seolah bertanya-tanya kenapa Maya tiba-tiba memberikan tekanan sebesar ini.
"Saudara Arka," panggil Maya dengan nada formal yang dingin. "Karena Anda berasal dari tim inovasi Global Tech yang katanya paling unggul, saya menugaskan Anda untuk memimpin perbaikan ini. Secara mandiri. Saya ingin laporan teknisnya selesai besok lusa. Apakah Anda sanggup, atau ini terlalu berat untuk seorang tenaga magang?"
Ruangan itu mendadak senyap. Cindy dan teman-temannya saling lirik, ada kilat kepuasan sekaligus ngeri di mata mereka. Mereka pikir Maya sedang "menghukum" Arka atau benar-benar memanfaatkan tenaganya sampai habis.
Arka terdiam sejenak. Ia melihat mata Maya. Di balik tatapan tajam dan dingin itu, Arka menangkap sesuatu yang lain. Ada pesan tersirat di sana: Tunjukkan pada mereka siapa kamu sebenarnya.
Arka perlahan meletakkan tabletnya di meja. Ia menyandarkan punggungnya, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di wajahnya.
"Laporan teknis atau rekonstruksi total, Bu Maya?" tanya Arka dengan nada yang sangat tenang, seolah ia baru saja ditanya mau minum kopi apa.
"Dua-duanya," jawab Maya tanpa berkedip.
"Baik. Besok lusa, pukul sembilan pagi, laporannya akan ada di meja Anda. Dan saya pastikan server Surabaya akan lebih aman daripada brankas bank mana pun di kota ini."
Setelah rapat bubar, suasana kantor riuh dengan bisikan tentang betapa "kejamnya" Bu Maya terhadap si anak magang baru. Banyak yang merasa kasihan pada Arka, namun ada juga yang menanti kegagalannya.
Malam harinya di apartemen, Maya merasa sangat bersalah. Ia melihat Arka duduk di meja makan dengan tiga monitor menyala, dikelilingi oleh tarian barisan kode berwarna hijau dan putih. Arka bahkan belum menyentuh makan malamnya.
Maya mendekat dengan ragu, membawa segelas kopi hangat. "Arka... maaf."
Arka tidak menoleh, jari-jarinya masih menari di atas keyboard dengan kecepatan yang luar biasa. "Maaf buat apa? Buat tugas 'bunuh diri' ini atau karena kamu dengar gosip di pantry tadi pagi?"
Maya tersentak. "Kamu tahu?"
Arka menghentikan gerakannya sejenak, menoleh ke arah Maya dengan senyum jenaka. "Kak, aku ini peretas. Jaringan wi-fi pantry kantor itu tidak ada apa-apanya dibanding pertahananku. Aku tahu apa yang mereka bicarakan. Dan aku tahu kenapa kamu memberiku tugas ini."
Arka meraih kopi pemberian Maya, menyesapnya sedikit. "Kamu nggak perlu merasa bersalah. Kamu justru memberiku panggung yang bagus. Daripada aku memarahi mereka satu-satu, lebih baik aku membuat mereka bungkam dengan hasil kerja, kan?"
Maya duduk di samping Arka, memperhatikan barisan kode di layar yang tampak seperti bahasa alien baginya. "Aku cuma nggak tahan mereka meremehkanmu. Aku nggak mau kamu dianggap cuma... cuma pajangan."
Arka meletakkan gelas kopinya, lalu meraih tangan Maya. Ia mengecup punggung tangan istrinya itu dengan lembut. "Terima kasih sudah membelaku dengan caramu yang 'galak' itu. Itu sebenarnya seksi sekali, tahu."
"Arka! Fokus ke kerjaanmu!" Maya menarik tangannya dengan wajah merona, namun ia tidak bisa menahan rasa lega yang membanjirinya.
"Sepuluh menit lagi selesai kok," ucap Arka santai. "Lalu kita bisa lanjut membahas 'status' kita yang kata kamu tidak jelas itu."
Maya segera berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya. "Selesaikan tugasmu! Aku mau tidur!"
Di dalam kamar, Maya menyandarkan punggungnya ke pintu. Ia tersenyum. Arka memang bukan anak magang biasa.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡