No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN YANG TERGUNCANG
Hutan di sekitar Lembah Hijau tidak pernah sediam ini. Pepohonan yang tadinya rimbun kini merunduk, patah dan hangus akibat ledakan energi tujuh warna yang baru saja meletus dari tubuh Yi Ling. Asap tipis masih menguar dari tanah yang menghitam, membawa aroma hangus yang samar.
Di tengah kehancuran itu, Yi Ling berdiri.
Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup serpihan kaca. Namun rasa hampa yang selama tujuh belas tahun menghuni perutnya kini telah lenyap. Sebagai gantinya, sebuah pusaran energi berputar tenang namun agung—Dantian Tujuh Warna.
“Jangan cuma berdiri bengong, Bocah!” suara Zhui Hai memecah keheningan. “Ledakan tadi bukan kembang api. Para tetua bangka itu pasti sudah merasakannya. Dalam hitungan menit, tempat ini akan dikepung!”
Yi Ling mengepalkan tangan kanannya. Tato perak di punggung tangannya berdenyut hangat. Ia bisa merasakan keberadaan Xiān Yǔ di dalam dirinya—lemah, namun stabil.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
Ia baru saja hendak bergerak ketika semak di depannya tersibak kasar.
Tiga murid klan Yi muncul dengan wajah pucat. Mereka adalah orang-orang yang tadi berdiri di belakang Yi Chen.
“Itu… Yi Ling?” salah satu dari mereka terbata. “Bagaimana mungkin? Energi itu… cahaya tujuh warna?”
“Siapa peduli!” bentak yang lain. “Dia pasti mencuri harta karun! Tangkap dia! Penatua pasti memberi hadiah besar!”
Mereka menyerang bersamaan.
Namun di mata Yi Ling—
Gerakan mereka lambat.
Terlalu lambat.
“Zhui Hai,” gumamnya.
“Sudah siap sejak tadi,” balas seruling itu.
Yi Ling mengangkat Zhui Hai ke bibirnya dan mengalirkan sedikit energi.
DRUUUMMM—!
Gelombang suara rendah menghantam.
Ketiga murid itu langsung terpental, tubuh mereka menghantam pohon keras hingga pingsan. Darah mengalir dari telinga mereka.
Yi Ling bahkan tidak menoleh.
“Lemah.”
“Tentu saja lemah!” Zhui Hai tertawa. “Tapi auramu terlalu mencolok. Kau seperti obor di malam hari!”
Tiba-tiba, tato di tangan Yi Ling bersinar. Kabut perak keluar perlahan, membentuk sosok Xiān Yǔ dalam wujud roh yang melayang di sampingnya.
Serigala itu menatap langit.
Geramannya rendah.
“Mereka datang,” ucap Yi Ling pelan.
Di kejauhan, tiga cahaya pedang membelah langit. Aura mereka menekan udara.
Penatua.
“Kau mau mati di sini?” Zhui Hai mendengus. “Lawan mereka? Tiga napas saja kau habis! Lari ke utara—ke wilayah kabut!”
Yi Ling tidak membantah.
Ia melesat.
Tubuhnya bergerak seperti bayangan, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Setiap pijakan terasa ringan, seolah angin sendiri mendorongnya maju.
Di belakang—
“YI LING! BERHENTI!” suara Penatua menggema.
Yi Ling tidak menoleh.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Terlambat.
Hutan berguncang di bawah tekanan aura yang mengejar. Di langit, cahaya pedang semakin mendekat.
“Bocah, mereka pakai Teknik Pelacak Sukma!” suara Zhui Hai kini serius.
Xiān Yǔ muncul lebih jelas di samping Yi Ling, matanya bersinar tajam.
“Ke barat. Ada jurang berkabut. Masuk ke sana.”
Yi Ling langsung mengubah arah.
Ia melompat dari dahan ke dahan, kecepatannya stabil meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Dari kejauhan—
“YI LING! SERAHKAN KEKUATAN ITU!” teriak Yi Chen.
Yi Ling mendengus pelan.
Mengganggu.
Ia berhenti mendadak di atas dahan tertinggi.
Berbalik.
Tiga cahaya pedang kini sudah dekat.
“Zhui Hai,” ucapnya.
“Kau serius?” nada seruling itu sedikit terkejut.
“Lakukan.”
Yi Ling mengangkat seruling.
FIIIIII—!
Nada rendah keluar.
Namun udara di sekitarnya langsung retak.
Gelombang suara raksasa melesat ke langit.
“APA?!” Penatua Ketiga terkejut, langsung membentuk perisai energi.
DUMMM!
Ledakan mengguncang udara.
Langit bergetar.
Dan dalam momen itu—
Yi Ling menghilang.
Ia melompat ke dalam jurang berkabut.
Kabut tebal menelan segalanya.
Suara luar menghilang.
Tekanan aura juga lenyap.
Yi Ling mendarat di dasar jurang dengan satu lutut. Tanah lembap menyerap hentakannya.
Napasnya kacau.
Darah kembali mengalir dari bibirnya.
Harga dari teknik tadi.
“Kau benar-benar gila,” gumam Zhui Hai. Namun kali ini, nadanya terdengar… puas. “Tapi aku suka.”
Xiān Yǔ berdiri di sampingnya, menjaga.
“Kita aman sementara,” ucapnya.
Yi Ling menyandarkan punggung ke dinding batu. Dadanya naik turun perlahan.
Namun matanya—
Tetap dingin.
Ia menatap ke dalam kegelapan jurang.
Pusaran tujuh warna di dalam tubuhnya berputar perlahan, semakin stabil.
“Ini baru permulaan,” ucapnya pelan.
Suaranya tenang.
Namun membawa sesuatu yang berat.
“Mereka menginginkan Nirwana…”
Ia menutup matanya sejenak.
Lalu membukanya kembali.
Dingin.
“Kalau begitu… aku akan berikan mereka neraka terlebih dahulu.”
Kabut di jurang itu bergetar pelan.
Seolah merespons.
Dan jauh di atas—
Langit malam tetap diam.
Namun tak lagi sama.