(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Sang Raja
Malam turun di Pelabuhan Besi Berdarah dengan keheningan yang mencekam. Kematian Xie Sha, sang penguasa tiran generasi muda, telah menyebar seperti wabah penyakit. Jalanan yang biasanya dipenuhi oleh tawa kasar para pedagang budak kini kosong melompong. Semua orang mengunci pintu mereka rapat-rapat, tahu bahwa badai kemurkaan dari seorang Raja Fana akan segera membumihanguskan kota ini.
Di sebuah gua karang tersembunyi yang separuhnya terendam air laut hitam di pinggiran pelabuhan, Chu Chen duduk bersila di atas sebuah batu datar.
Ia telah memasang susunan pengunci Qi sederhana di mulut gua. Meng Fan berjaga di dekat pintu masuk dengan wajah yang masih pucat, sementara Bai duduk di sudut gua, memulihkan energinya dalam diam sambil sesekali melirik ke arah Chu Chen.
Di depan Chu Chen, mengambang sebongkah sisik hitam legam berukuran sebesar perisai. Permukaannya kasar, namun memancarkan aura kuno yang membuat udara di dalam gua terasa sangat berat.
"Sisik Terbalik Jenderal Naga..." Chu Chen bergumam pelan. Matanya yang gelap memancarkan hasrat yang membara.
Dalam legenda ras naga, Sisik Terbalik adalah sisik yang tumbuh menyongsang arah di bawah leher atau di atas jantung seekor naga. Ini adalah titik terlemah sekaligus titik yang menyimpan amarah dan kemurnian darah paling pekat. Menyentuh Sisik Terbalik seekor naga berarti membangunkan murka yang bisa menghancurkan dunia.
Chu Chen tidak ragu. Ia mengulurkan kedua tangannya, membiarkan Api Teratai Merah meletus dari telapak tangannya untuk menyelimuti sisik raksasa tersebut.
Seni Kaisar Naga Penelan Semesta!
Pusaran hisapan yang sangat ganas berputar. Berbeda dengan saat ia menyerap tulang purba biasa, Sisik Terbalik ini melawan balik!
Sebuah auman naga purba meledak di dalam benak Chu Chen, berusaha menghancurkan kesadarannya. Hawa pembunuhan yang berusia jutaan tahun menabrak Niat Spiritual Chu Chen layaknya lautan badai yang menabrak tebing.
"Tunduk!" raung Chu Chen di dalam batinnya. "Tuanmu telah mati jutaan tahun lalu! Darahku adalah garis keturunan Kaisar Naga tertinggi! Beraninya sebuah sisik jenderal menolak rajanya?!"
DEG!
Darah Dewa Naga Primordial di jantung Chu Chen berdetak dengan ritme yang melampaui waktu. Wibawa mutlak dari Kaisar Naga menekan auman roh di dalam sisik tersebut.
Sisik hitam itu perlahan-lahan mencair, berubah menjadi seberkas cairan hitam pekat yang memancarkan pendaran merah. Cairan itu tidak masuk ke dalam Dantian, melainkan melesat langsung menembus dada Chu Chen, menutupi tulang rusuk dan jantungnya!
"AAAARRRGGHH!"
Chu Chen mendongak, melolong menahan rasa sakit yang merobek jiwa. Cairan hitam itu melebur dengan Zirah Tulang Naga Hitam yang sudah ada di dalam tubuhnya. Lapisan pelindung yang sebelumnya hanya berupa tulang yang mengeras, kini mengalami penyempurnaan. Sisik-sisik hitam legam mulai menembus keluar dari bawah kulitnya, melapisi lengan, bahu, dan dadanya bagaikan baju zirah iblis sejati.
Suhu di dalam gua karang itu turun tajam, lalu sedetik kemudian melonjak panas. Air laut di bawah batu mendidih dan menguap.
Meng Fan merangkak mundur hingga punggungnya menempel ke dinding gua. "Dia... tubuhnya mengalami perubahan wujud..."
Bai berdiri, matanya membelalak. "Inti Emasnya menyerap hukum dari sisik itu... Zirah fisiknya bukan lagi sekadar pertahanan. Itu adalah penjelmaan wujud fisik naga!"
Proses peleburan itu berlangsung selama tiga jam yang menyiksa. Ketika cahaya merah dan hitam akhirnya meredup, Chu Chen kembali menundukkan kepalanya. Napasnya berat, menghembuskan uap putih.
Kulitnya telah kembali normal, menyembunyikan sisik-sisik hitam itu kembali ke bawah dagingnya. Namun, ada satu perubahan yang tidak bisa disembunyikan. Di tengah dadanya, tepat di atas jantungnya, terbentuk sebuah tanda lahir berupa sisik terbalik berwarna hitam pekat yang berdenyut dengan ritme mematikan.
Chu Chen mengepalkan tangannya.
KRAAAK! Ruang di sekitarnya retak hanya karena kepalan tangan kosong.
"Inti Emas Tahap Menengah Puncak," bisik Chu Chen, merasakan lautan tenaga di Dantiannya yang kini seluas samudra tanpa batas. "Dan Zirah Tulang Naga telah mencapai Tahap Penyempurnaan Pertama. Bahkan serangan kekuatan penuh dari Raja Fana Tahap Awal tidak akan mampu merobek jantungku lagi."
BUMMMMM!!!
Tepat saat Chu Chen menyelesaikan kalimatnya, seluruh gua karang itu berguncang hebat hingga stalaktit berjatuhan dari atapnya.
Sebuah tekanan spiritual yang luar biasa dahsyat—ratusan kali lipat lebih mengerikan dari Lin Tian—menembus lapisan karang dan menekan udara di dalam gua hingga menjadi padat seperti timah.
"Ketemu kau, tikus selokan..."
Sebuah suara yang berat, penuh dengan Niat Membunuh yang bisa meruntuhkan kota, bergema dari luar gua. Suara itu membawa penindasan mutlak dari hukum alam, membekukan air laut di sekitar gua.
Alam Raja Fana Tahap Menengah!
Bai memucat, kakinya lemas hingga ia nyaris jatuh berlutut. "Itu Xie Cang... Kepala Klan Hiu Hitam. Dia menemukan kita!"
"D-Dia Raja Fana Tahap Menengah! Chu Chen, susunan pengunci Qi-mu tidak berguna!" Meng Fan menjerit tertahan.
"Susunan itu bukan untuk menyembunyikan kita," Chu Chen bangkit berdiri dengan santai, merapikan jubah abu-abunya yang masih terlihat rapi. "Susunan itu hanya untuk memberiku waktu mencerna sisikku tanpa gangguan angin laut."
Chu Chen melangkah menuju pintu gua.
BOM! Dinding karang yang menutupi pintu gua hancur berkeping-keping, diledakkan dari luar.
Cahaya obor dan pendaran senjata spiritual menyilaukan mata. Di luar gua, ratusan kapal peronda Klan Hiu Hitam telah mengepung lautan. Ribuan ahli Inti Emas dan Istana Jiwa berdiri di atas kapal, membentuk barisan tempur yang memancarkan Niat Membunuh.
Namun, yang membuat udara terasa tidak bisa dihirup adalah sesosok pria raksasa yang melayang tepat di depan mulut gua.
Pria itu mengenakan jubah perang bersisik biru tua. Wajahnya keras dengan rahang berbentuk kotak, dan matanya menyala dengan kemurkaan seorang ayah yang kehilangan penerusnya. Air laut di bawah kakinya memusar membentuk pusaran raksasa yang terhubung dengan kemarahannya.
Itu adalah Xie Cang, penguasa mutlak Pelabuhan Besi Berdarah.
"Kau membunuh putraku. Kau meremukkan tulang-tulangnya dan menghisapnya menjadi debu," suara Xie Cang bergetar, setiap suku katanya memicu gelombang di lautan. "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah. Aku akan mencabut jiwamu, memenjarakannya di dalam Lentera Jiwa Laut Dalam, dan membakarnya setiap hari selama sepuluh ribu tahun!"
Ribuan pasukan Klan Hiu Hitam meraung serempak, menuntut darah.
Chu Chen berdiri di mulut gua, menghadapi barisan pasukan dan seorang Raja Fana sendirian. Angin laut meniup rambutnya yang hitam pekat.
Ia tidak mencabut senjata. Ia tidak menampakkan ketakutan. Ia justru mengangkat tangan kanannya, menyentuh titik sisik terbalik di dadanya, lalu menatap Xie Cang dengan sepasang mata emas yang memancarkan keangkuhan dari puncak semesta.
"Putramu adalah hidangan pembuka yang mengecewakan," ucap Chu Chen pelan, suaranya dikeraskan dengan Qi hingga menembus deburan ombak. "Mari kita lihat, apakah daging seorang Raja Fana Tahap Menengah bisa memuaskan rasa laparku malam ini."
"LANCANG!"
Xie Cang kehilangan kendali. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. Hukum Raja Fana: Penjara Palung Kematian!
Seketika, lautan hitam di bawah Chu Chen meledak ke atas, membentuk dinding air yang mengeras sekuat intan, berniat mengunci Chu Chen di dalam penjara air bertekanan miliaran kati yang akan meremukkan daging dan jiwanya menjadi ketiadaan!