NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jas Almamater, Keringat Ospek, dan Dua Garis Takdir yang Bersinggungan

Takdir sering kali memiliki selera humor yang aneh, namun di saat-saat tertentu, ia bisa menjadi sekutu yang sangat murah hati. Setelah rentetan badai yang menghantam, mulai dari keputusasaan di atap sekolah, pengorbanan masa depan, hingga tiga bulan yang dihabiskan dalam cengkeraman demam tifus, semesta akhirnya memutuskan bahwa keenam remaja ini pantas mendapatkan sebuah kemenangan mutlak.

Siang itu, udara di bulan Agustus terasa memanggang kulit, namun suhu di dalam ruang keluarga rumah Anandara terasa sedingin es karena ketegangan yang mengudara. Enam kepala menunduk, mengelilingi satu layar laptop yang menampilkan halaman loading situs penerimaan mahasiswa baru Universitas Pelita Bangsa. Kursor berputar lambat, seolah sengaja menyiksa jantung mereka yang berdetak tak karuan.

"Kalau sampai server-nya down lagi, gue bakal banting nih laptop, Nan. Sumpah," gumam Rehan sambil menggigiti kuku ibu jarinya. Kepalanya kini plontos tanpa rambut sehelai pun, sebuah nazar pribadi yang ia buat jika ia berhasil menyelesaikan soal ujian masuk seminggu yang lalu tanpa tertidur di meja.

"Sabar, Han. Jangan berisik. Ini lagi muter," desis Sinta yang duduk di sebelah kanan Anandara, kedua tangannya bertaut erat memanjatkan doa komat-kamit.

Anandara sendiri duduk dengan tenang, meski rahangnya mengeras dan matanya tak berkedip menatap layar. Ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Selama sebulan penuh setelah ia sembuh, ia melatih kelima temannya dengan spartan. Ia membuat simulasi soal akuntansi dasar, tes potensi akademik, hingga logika matematika dengan standar yang jauh lebih tinggi dari ujian aslinya. Jika hari ini mereka gagal, Anandara tidak tahu lagi harus menggunakan metode apa.

Tiba-tiba, layar laptop berkedip putih sejenak, lalu memunculkan sebuah tabel besar berisi nama, nomor peserta, dan status penerimaan.

Reza, yang duduk paling dekat dengan layar, menyipitkan matanya, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga hidungnya nyaris menyentuh monitor. Hening yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama tiga detik penuh.

Lalu, sebuah pekikan nyaring merobek keheningan.

"LULUS! KITA LULUS, WOY! LULUS SEMUA!" teriak Reza dengan suara seraknya, melompat berdiri hingga lututnya menabrak meja dan membuat gelas es teh di atasnya bergetar hebat.

Kepanikan seketika berubah menjadi kekacauan yang luar biasa. Kelima remaja itu saling menabrak, berdesakan untuk melihat layar dengan mata kepala mereka sendiri.

Di sana, terpampang jelas. Enam nama berjejer dengan kotak berwarna hijau menyala di sebelahnya yang bertuliskan: DITERIMA – FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS – PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI.

Dan yang membuat momen itu semakin terasa seperti keajaiban, nilai rata-rata kelulusan mereka berada jauh di atas ambang batas. Anandara, tentu saja, menempati peringkat pertama dengan skor nyaris sempurna. Namun yang paling mencengangkan adalah Rehan dan Reza. Duo beban negara yang biasanya selalu berada di urutan terbawah daftar absensi nilai, kini berhasil menembus persentil atas, mengalahkan ribuan pendaftar lainnya.

"Gila! Lo lihat nilai gue, Za?! Lo lihat?!" Rehan mengguncang-guncang bahu Reza dengan histeris. "Gue dapet nilai A di tes logika matematika! Gue pinter, Za! Ternyata selama ini gue nyembunyiin kejeniusan gue di balik rank Mobile Legends!"

"Ini bukan kejeniusan lo, botak! Ini keajaiban cambuknya Nanda!" balas Sinta sambil memukul kepala plontos Rehan dengan bantal sofa, namun tawa bahagia tak lepas dari bibirnya. Sinta lalu menoleh, memeluk Ami dan Kiera erat-erat, melompat-lompat kecil membentuk lingkaran. "Kita jadi anak akuntansi, guys! Bye-bye status pengangguran!"

Anandara duduk bersandar di karpet, menghembuskan napas yang sangat panjang dan lega. Beban rasa bersalah yang mengganjal di dadanya selama tiga bulan terakhir akhirnya menguap tak berbekas. Ia melihat teman-temannya yang sedang berpelukan, tertawa, dan menangis haru. Sudut bibirnya tertarik, membentuk senyuman tulus yang sangat lebar. Rencananya berhasil. Mereka akan tetap bersama.

"Terima kasih, Semesta," bisik Anandara pelan pada dirinya sendiri.

Namun, euforia kelulusan itu harus dibayar mahal dengan tradisi wajib bagi setiap mahasiswa baru di Indonesia: Masa Orientasi Mahasiswa, atau yang lebih dikenal dengan Ospek.

Universitas Pelita Bangsa terkenal dengan kedisiplinannya, dan Ospek di sana bukanlah ajang perkemahan yang menyenangkan. Selama tiga hari penuh, keenam remaja itu merasakan simulasi berada di kamp militer berkedok pendidikan karakter.

Matahari bersinar terik, menyengat ubun-ubun ratusan mahasiswa baru yang dibariskan di tengah lapangan aspal kampus yang luas. Penampilan mereka sangat jauh dari kata keren. Mahasiswa baru perempuan, termasuk Anandara, Sinta, Ami, dan Kiera, diwajibkan mengikat rambut mereka menjadi dua belas kepangan yang diikat dengan pita berwarna kuning cerah. Mereka memakai kemeja putih kebesaran, celana kain hitam, dan mengalungkan name tag dari karton berbentuk trapesium seukuran talenan yang dikalungkan dengan tali rafia.

Sementara mahasiswa laki-laki, seperti Rehan dan Reza, harus mencukur habis rambut mereka (untungnya Rehan sudah botak duluan, sehingga ia merasa menang satu langkah) dan memakai topi dari bola plastik yang dibelah dua.

"Gue berasa kayak orang-orangan sawah yang siap diusir petani," bisik Sinta yang berdiri di sebelah Anandara di barisan pleton tiga. Wajah gadis itu memerah karena kepanasan, keringat bercucuran dari pelipisnya.

"Diam, Sin. Nanti kakak tingkat komdis (komisi disiplin) lihat," balas Anandara datar, tubuhnya tegak sempurna tanpa bergerak sedikit pun, matanya menatap lurus ke depan. Bagi Anandara, berjemur di bawah terik matahari jauh lebih mudah daripada harus menghadapi konfrontasi emosional. Ia menggunakan rasionalitasnya: ini hanya panas, tubuh akan berkeringat untuk menstabilkan suhu, dan ospek ini akan berakhir dalam tujuh puluh dua jam. Hitungan yang sederhana.

Namun, ketenangan Anandara justru menjadi magnet bagi para senior Komdis yang berkeliling mencari kesalahan. Seorang senior laki-laki berwajah garang dengan kacamata hitam dan atribut ban lengan merah berjalan mendekati barisan mereka. Ia berhenti tepat di depan Anandara.

"Kamu!" bentak senior itu dengan suara menggelegar yang sengaja dibuat-buat untuk mengintimidasi. "Kenapa tatapan kamu menantang begitu?! Kamu merasa paling pintar?! Namamu siapa?!"

Beberapa mahasiswa baru di sekitar mereka menelan ludah, menunduk ketakutan. Sinta menggigit bibir bawahnya, siap untuk maju membela sahabatnya jika situasi memburuk.

Anandara tidak berkedip. Ia menatap senior itu tepat di balik kacamata hitamnya, lalu menjawab dengan suara yang sangat tenang, jelas, dengan artikulasi yang nyaris menyerupai robot, "Izin menjawab, Kak. Nama saya Anandara Arunika. Tatapan saya lurus ke depan sesuai dengan instruksi komandan pleton sepuluh menit yang lalu yang memerintahkan sikap sempurna. Sikap sempurna secara anatomis mengharuskan pandangan lurus sejajar dengan garis horizontal, bukan menunduk. Jika saya menunduk, saya melanggar instruksi komandan pleton Anda."

Keheningan seketika menyelimuti area pleton tiga. Mulut senior itu sedikit terbuka, kehabisan kata-kata karena argumen logis yang dibawakan dengan nada sedingin es itu. Alih-alih takut dan menangis seperti mahasiswa baru pada umumnya, gadis berkalung karton trapesium ini justru menceramahinya dengan anatomi sikap sempurna.

Senior itu berdeham canggung, wajahnya sedikit memerah menahan malu karena gagal mencari celah. "Bagus. Pertahankan sikap sempurna kamu," gumamnya pelan sebelum berbalik pergi mencari mangsa lain yang lebih mudah diintimidasi.

Sinta dan Kiera diam-diam menahan tawa hingga bahu mereka bergetar.

"Gila lo, Nan. Nyali lo terbuat dari vibranium ya?" bisik Kiera takjub.

Sayangnya, keberuntungan tidak memihak pada duo kocak di pleton lima. Rehan dan Reza ketahuan sedang bermain tebak-tebakan kata menggunakan gerakan tangan saat materi pengenalan fakultas sedang berlangsung. Alhasil, keduanya diseret ke depan lapangan oleh komdis dan dihukum melakukan push-up lima puluh kali di bawah tatapan ribuan pasang mata.

Bukannya malu, Rehan malah berteriak, "Satu! Dua! Tiga! Demi nilai IPK empat koma nol! Empat! Lima!"

Tingkah konyolnya membuat seluruh lapangan, bahkan beberapa senior yang bertampang garang, harus menggigit bibir menahan tawa.

Tiga hari masa ospek itu adalah kombinasi antara kelelahan fisik, tugas-tugas merangkum materi yang tidak masuk akal, dan kurang tidur. Mereka sering berkumpul di rumah Anandara pada malam hari, bukan untuk bermain game, melainkan untuk saling membantu membuat name tag yang talinya putus, atau membuat topi dari kertas karton yang ukurannya salah. Mereka mengomel, mengumpat pada senior, lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah satu sama lain yang penuh dengan sisa lem dan spidol.

Penderitaan itu, anehnya, menjadi semen yang memperkuat fondasi circle mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh ingin menyerah. Mereka sudah mengorbankan terlalu banyak untuk berada di sini.

Hingga akhirnya, sore di hari ketiga tiba. Upacara penutupan Ospek diselenggarakan dengan khidmat. Saat rektor universitas secara simbolis memakaikan Jas Almamater—sebuah jas berwarna biru navy dengan logo universitas yang dijahit emas di saku dada kiri—kepada perwakilan mahasiswa, sorak-sorai kelegaan meledak di seluruh penjuru lapangan.

Kini, mereka bukan lagi anak SMA berseragam putih abu-abu. Mereka bukan lagi calon mahasiswa yang luntang-lantung. Mereka secara sah dan resmi telah menyandang status sebagai Mahasiswa Universitas Pelita Bangsa.

Anandara memakai jas almamater kebesarannya. Ukurannya pas di tubuhnya. Ia mengusap logo universitas di dadanya, sebuah simbol bahwa ia berhasil menulis ulang takdirnya bersama teman-temannya. Ia menoleh ke arah Sinta yang sedang berfoto selfie dengan wajah kucel namun bahagia tak terkira.

"Kita berhasil, Sin," ucap Anandara lembut.

Sinta menoleh, tersenyum lebar hingga gingsulnya terlihat. "Bukan cuma berhasil, Nan. Kita bakal naklukin kampus ini. Mahasiswi Akuntansi kelas A, siap beraksi!"

Untuk merayakan berakhirnya masa orientasi dan diresmikannya status kemahasiswaan mereka, Rehan mengusulkan satu tempat yang tidak mungkin mereka tolak: Cafe Senja.

Malam itu, Cafe Senja tidak terlalu ramai. Suasana kafe yang berdesain perpaduan antara kayu rustic dan tanaman rambat buatan memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan oleh otot-otot mereka yang kaku setelah tiga hari dijemur di lapangan. Alunan musik indie folk mengalun dari speaker di sudut ruangan, menyatu dengan aroma biji kopi yang sedang digiling dan wangi mentega dari pastry yang baru matang.

Mereka berenam mengambil tempat di booth memanjang yang terletak di bagian dalam kafe, terpisah dari area pintu masuk oleh sebuah rak buku kayu raksasa yang berfungsi sebagai sekat ruangan.

Di atas meja kayu mereka, tersaji pesta kecil-kecilan: enam piring spaghetti carbonara, seporsi besar french fries dan onion rings, serta berbagai macam minuman dingin, mulai dari iced latte hingga matcha blend.

"Coba lo cubit pipi gue, Za. Sekencang-kencangnya," pinta Rehan yang sudah berganti memakai kaus polo yang rapi, meski kepalanya masih licin mengkilap memantulkan cahaya lampu kafe.

Reza tanpa ragu mencubit pipi Rehan dengan tenaga penuh.

"Aduh, aduh! Sakit woy! Gue kan suruh cubit, bukan pakai tang gegep!" protes Rehan sambil mengelus pipinya yang memerah.

"Ya lo yang suruh!" Reza membela diri.

Rehan tersenyum lebar, rasa sakit itu tak menghapus kebahagiaannya. "Berarti gue nggak mimpi. Sumpah ya, guys, tiga bulan lalu pas Nanda masuk rumah sakit, gue pikir masa depan kita semua udah hancur. Gue udah bayangin gue bakal kerja jadi operator warnet seumur hidup. Siapa sangka, sekarang kita duduk di sini, pakai jaket almamater biru navy ini. Keren abis nggak sih kita?"

Kiera yang sedang mengunyah kentang gorengnya mengangguk setuju. "Iya, gue masih merinding kalau ingat keputusan gila kita batalin ikut SNBT. Kalau dipikir pakai logika biasa, itu keputusan paling tolol sedunia."

"Tapi logika nggak selamanya bisa dipakai buat nimbang persahabatan, Kiera," sela Anandara. Ia mengaduk iced latte-nya perlahan, es batunya berdenting pelan menyentuh dinding gelas kaca. Ia menatap teman-temannya dengan sorot mata yang penuh kelembutan, sesuatu yang tak pernah ia perlihatkan pada orang di luar circle-nya. "Gue adalah saksi hidup dari itu. Kalau gue cuma ngandelin logika, gue mungkin udah lompat dari atap sekolah setahun yang lalu. Kalian... kalian yang bikin variabel logika gue berantakan, tapi dalam artian yang paling indah."

Kata-kata Anandara membuat meja itu hening sejenak, diiringi senyum hangat dari masing-masing mereka. Mereka semua tahu seberapa kelam masa lalu Anandara, dan mendengar pengakuan tulus itu adalah sebuah penghargaan yang lebih berharga dari nilai IPK berapa pun.

"Ah, udah ah, kok jadi melankolis gini sih!" Sinta memecah keheningan, mengusap sudut matanya yang diam-diam berair. Ia mengangkat gelas matcha blend-nya tinggi-tinggi. "Malam ini kita senang-senang! Nggak usah bahas masa lalu, nggak usah bahas dosen killer, nggak usah mikirin tugas akuntansi yang nunggu di depan mata. Malam ini, kita bersulang buat persahabatan kita yang bodoh tapi luar biasa ini!"

Ami, Kiera, Rehan, Reza, dan Anandara ikut mengangkat gelas mereka.

"Buat geng Akuntansi!" seru Rehan.

"Buat Nyonya Es yang udah cair!" tambah Reza.

"Buat masa depan!" timpal Kiera.

Ting!

Enam gelas kaca saling beradu di udara, menciptakan dentingan kemenangan yang menggema pelan di booth sudut kafe itu. Tawa ceria mengiringi tegukan minuman mereka, tawa kebebasan dari para remaja yang siap menyambut dunia baru dengan bergandengan tangan. Anandara tertawa sangat lepas, matanya melengkung seperti bulan sabit, lesung pipinya terlihat jelas. Di tengah kelima temannya ini, ia tidak butuh apa-apa lagi. Ia merasa sempurna. Ia tidak membutuhkan seorang laki-laki untuk melengkapinya, karena rumahnya sudah penuh.

Namun, dunia ini luas, dan Cafe Senja tidak hanya berisi mereka berenam.

Tepat di balik rak buku kayu raksasa yang menjadi sekat ruangan mereka, di area yang lebih dekat dengan meja barista dan kasir, seorang pemuda baru saja melangkah masuk dari pintu depan.

Kloning suara dentingan bel pintu kafe menyambut kedatangannya. Pemuda itu mengenakan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana jeans hitam. Tas punggung kanvas tersampir di sebelah bahunya. Wajahnya datar, setenang permukaan danau yang tak tertiup angin, namun kharismanya begitu kuat hingga beberapa pengunjung perempuan di meja terdekat tak bisa menahan diri untuk mencuri pandang.

Dan matanya—sepasang mata elang yang tajam itu—menyapu sekeliling ruangan dengan cepat dan efisien.

Itu adalah pemuda yang sama. Pemuda yang beberapa bulan lalu berdiri mematung di koridor mall, terpaku oleh pesona senyuman Anandara.

Pemuda bermata tajam itu berjalan menuju meja pemesanan. "Satu kopi hitam, tanpa gula. Dine in," pesannya pada barista dengan suara bariton yang berat dan tenang.

Sambil menunggu minumannya, pemuda itu bersandar pada meja kasir. Entah mengapa, sore ini ia memutuskan untuk mampir ke kafe ini alih-alih langsung pulang setelah mengurus berkas pendaftaran ulang kemahasiswaannya. Ia juga baru saja resmi menjadi mahasiswa Universitas Pelita Bangsa.

Di dalam kepalanya, senyuman gadis berblus putih di mall waktu itu tak pernah benar-benar hilang. Ia tidak tahu nama gadis itu. Ia tidak tahu sekolahnya, usianya, atau di mana gadis itu tinggal. Ia hanya tahu bahwa tawa lepas itu telah menciptakan sebuah ruang baru di ingatannya, mengusik ketenangannya yang selalu terjaga.

Ia mengambil nampan berisi cangkir kopi hitamnya, lalu berjalan mencari tempat duduk. Ia memilih sebuah meja kecil untuk dua orang, tepat bersebelahan dengan rak buku kayu raksasa yang menjadi pemisah area kafe.

Ia duduk. Mengeluarkan sebuah buku tebal dari tas punggungnya—buku pengantar ekonomi—dan mulai membaca sambil menyesap kopinya perlahan.

Hanya berjarak dua meter darinya, di balik susunan buku-buku tebal, novel-novel bekas, dan tanaman indoor yang menjalar di rak kayu tersebut, Anandara sedang menceritakan betapa lucunya wajah Reza saat dihukum push-up tadi siang. Suara tawa Sinta, Rehan, dan yang lainnya meledak menanggapi cerita Anandara.

Pemuda itu membalik halaman bukunya. Ia mendengar suara tawa riuh dari rombongan di balik rak, namun ia tidak terlalu peduli. Musik indie folk yang diputar kafe dan deru mesin espresso membuat suara obrolan dari booth di sebelahnya terdengar samar dan tidak jelas. Ia tidak bisa mengenali suara itu.

Di sisi lain, Anandara sedang sibuk memotong sosis dari piring carbonara-nya. Posisinya membelakangi rak kayu raksasa itu. Ia tidak melihat siapa pun yang masuk atau duduk di sisi lain ruangan. Teman-temannya yang menghadap ke arah rak juga tidak bisa melihat apa pun karena rapatnya susunan buku dan tanaman.

Mereka berada di satu ruangan yang sama. Menghirup aroma kopi yang sama. Mendengarkan lagu yang sama. Hanya terpisahkan oleh satu lapisan kayu tipis dan setumpuk buku. Jika pemuda itu berdiri dan menggeser satu pot tanaman di rak itu, ia akan melihat gadis yang selama berbulan-bulan membayangi pikirannya sedang tertawa lepas.

Jika Anandara menoleh ke belakang dan mengintip dari celah buku, ia akan melihat sepasang mata tajam yang kelak akan menghancurkan sumpah seumur hidupnya untuk tidak jatuh cinta.

Namun, takdir sedang memainkan kartunya dengan sangat cantik dan penuh rahasia. Takdir belum mengizinkan kedua garis ini untuk bertabrakan. Semesta menahan pertemuan mereka, seperti seorang sutradara yang menahan klimaks cerita agar lebih dramatis.

Pemuda itu tenggelam dalam bacaannya, menikmati pahitnya kopi hitam di tengah keramaian. Sementara Anandara tenggelam dalam kehangatan persahabatannya, menikmati manisnya iced latte dan tawa para sahabatnya, merasa bahwa dunianya tidak akan pernah bisa diretas oleh sebuah romansa.

Mereka sangat dekat, begitu dekat hingga jarak mereka bisa diukur dengan rentangan tangan. Namun malam itu, mereka tetap menjadi dua orang asing yang tidak saling melihat, dua entitas yang tersembunyi dalam rahasia takdir. Menyimpan sebuah ledakan emosi, pertengkaran, dan permusuhan panjang yang telah disiapkan semesta untuk meledak tepat di semester kedua perkuliahan mereka nanti.

Untuk malam ini, biarlah rahasia itu tetap menjadi rahasia, tertidur lelap di antara aroma kopi Cafe Senja, menunggu waktu yang tepat untuk bangun dan mengubah segalanya.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!