Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerah
"Kalau kamu benar mencintai saya ... cintanya cukup sampai di sini saja, kamu berhak bahagia." Ucapan itu menjadi pembicaraan pertama setelah Ikhram dan Rinjani tiba di bandara.
Ungkapan yang baru saja dia dengar menjelaskan bahwa sudah saatnya dia dan Rinjani berpisah untuk selamanya?
Tangan Ikhram terasa kosong saat Rinjani menjauhkan diri. Wanita itu, kembali seperti dulu tidak tersentuh olehnya. Seakan-akan tiga hari ... bukan, dua bulan yang mereka jalani tidak ada artinya.
"Rinjani, apakah ...."
"Astaga sayang, aku hampir gila menunggumu."
"Kenapa Ikhram?" Rinjani mengabaikan ucapan Ardian yang menghampiri dan mengenggam tangannya.
"Saya mau menyarankan untuk mengantarmu ke jakarta karena kamu terlihat nggak enak badan, tapi sepertinya nggak perlu kan?"
"Hm, nggak perlu. Ada Ardian bersama saya."
"Hati-hati kalau begitu."
Ikhram mundur satu langkah, kemudian membalik tubuhnya. Berjalan menjauh tanpa menoleh meski hanya sebentar saja.
Haruskah dia menyesal karena saat di bangku kuliah mempermulus jalan mereka untuk bersama? Dia tidak pernah memikirkan bahwa keputusannya dulu menyakitinya hari ini.
Di dalam mobil, Ikhram menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ingatannya memutar kembali bagaimana Ardian mengenggam tangan Rinjani dan tidak ada penolakan. Seolah semuanya sudah direncanakan? Dia tidak pernah menjadi pilihan untuk wanita itu.
***
"Kenapaki itu nak? Ibu perhatikan diam terus. Biar ada pelanggang bertama tetap saja diam." Ibu Tika menghampiri Ikhram yang tengah mendisplai barang di rak.
"Kalau pade tidak bisaki jauh-jauh sama Jani, ibu sama ayah tidak masalahji sama keputusanta nak."
Benar, jauh sebelum Rinjani berkunjung ke desa, Ikhram sempat mendiskusikan keinginannya untuk mengundurkan diri menjadi PNS mengingat kasusnya berlarut-larut dan ia seolah di persulit. Bahkan hampir 80% warga tidak menginginkan Ikhram lagi mengajar anak-anak mereka sehingga menjadi pertimbangan pihak berwenang.
"Tidak apa-apa ja Bu. Sepertinya mauka berjuang pertahankan posisiku," jawab Ikhram. Lagi pula untuk apa dia mengundurkan diri di saat orang yang akan dia temui memilih orang lain?
"Kita ji pale Nak, tapi jangki kepikiran terus. Kalau rinduki langsung sama telepon istrimu."
Ikhram mengangguk, ia tersenyum merasakan pundaknya di tepuk oleh ibunya. Dia kembali fokus pada rak. Memperhatikan apa saja yang kurang atau belum terpajang.
Sejenak, dia duduk di depan toko ibunya. Menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Tatapannya jauh memandang, pikirannya melayang tanpa arah.
Haruskah dia terus berbohong pada orang tuanya atau mengatakan yang sebenarnya bahwa dia dan Rinjani memutuskan untuk jalan masing-masing?
Namun, bagaimana menjelaskan semuanya? Sedangkan yang mereka lihat dia dan Rinjani baik-baik saja.
Lamunannya berakhir merasa ada seseorang ikut duduk di sampingnya. Ikut menghela napas panjang seakan memiliki banyak beban sepertinya.
"Barupako di tinggal satu hari, kayak duda melarat mako."
"Tumben ada waktu buat duduk," balas Ikhram dengan pembicaraan lain.
"Tidak nubiarkanka istirahat?"
Ikhram terkekeh. "Bertanyaka bukan tidak saya biarkanko istirahat. Lagian tidak biasamu istirahat. Kaumi itu anak muda paling sibuk."
"Iyo." Jaka-teman Ikhram tetapi nasib mereka berbeda. Selain keluarga tidak berkecukupan, otak Jaka tidak seperti Ikhram.
"Kayaknya mauka merantau deh. Tidak adami mau ku urus di desa. Siapa tau ada kenalanmu di kota Ikhram."
"Nanti coba saya tanya-tanya nah."
Benar Jaka tidak memiliki keluarga lagi di desa. Ibu yang selalu menjadi alasannya untuk tinggal di desa sudah meninggal 2 bulan yang lalu, satu minggu setelah Ikhram dan Rinjani dipaksa menikah.
"Jaka?" Ikhram menoleh sekilas dan kembali menatap hamparan sawah yang berada di seberang jalan. "Pernah ko jatuh cinta?"
"Weh tiba-tibanya pertanyaanmu." Jaka tertawa. Dia tidak menyangka Ikhram akan mempertanyakan itu apalagi selama ini Ikhram di kenal tidak tersentuh oleh perempuan. Terlalu fokus dengan hidupnya sendiri. "Pernah, sampai sekarang masih pacaranka lagi iya. Tapi sembunyi-sembunyi karena tidak na restui ka orang tuanya. Mungkin kodong ka saya tidak ada uangku, baru dia pns terus keluarga besar."
"Tidak ada pikiranmu menyerah?"
"Buat apaka menyerah kalau mauji juga berjuang pacarku. Inimi juga alasanku mau merantau, biar bisaka sukses dan lamarki. Kenapa ka tiba-tiba ko bertanya?"
Ikhram mengeleng. "Misal-misal nih. Sukako sama cewek, terus itu cewek suka sama orang lain. Menurutmu tetap ko berjuang atau ikhlaskanmi?"
"Ikhlaskanmi. Orang bodoh itu kalau berjuang sendiri."
"Tapi keluarga sudah setuju."
"Mau diapa kalau keluargaji setuju Ikhram. "
"Iyo pale." Ikhram berdiri, bicara dengan Jaka membuatnya mendapatkan dua pandangan.
Tidak apa-apa berjuang jika orang yang kita perjuangkan ingin berjuang pula. Tapi jika sebaliknya, lebih baik berhenti karena menyakiti diri sendiri.
Memang 20 tahun bukan waktu singkat melupakan Rinjani. Tapi dia akan berusaha.
.
.
.
Ini serius Ikhram menyerah?☹️
Mana nih komen kalian? Like, vote dan subscribe ya
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,