Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
###♥️
Hujan hari itu memang sudah berhenti. Namun bagi Alya, rasanya belum benar-benar selesai.
Malam setelah kejadian itu, ia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap jas yang masih tergantung di dekat lemari. Jas itu sudah kering, sudah rapi, tapi entah kenapa ia belum mengembalikannya.
Bukan karena lupa, Tapi karena belum siap.
Ia menghela napas pelan, lalu bangkit dan mengambil jas itu. Ujung jarinya menyentuh kainnya perlahan, seolah mencoba merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Kenapa jadi kepikiran terus sih…
Alya menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan diri. Namun bayangan itu tetap muncul.
Suara Arka.....
Tatapannya....
Dan cara ia berdiri di bawah hujan tanpa pergi.
Alya membuka mata, lalu dengan cepat menggantung kembali jas itu.
Besok aja.
Keesokan paginya, Alya datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan tidak sabar yang ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Langkahnya terasa lebih cepat.
Matanya beberapa kali menyapu sekitar, tanpa sadar mencari satu sosok yang ia kenal.
Namun ia tidak menemukannya.
Alya langsung masuk ke kelas. Ia duduk, membuka buku, mencoba terlihat biasa.
Padahal pikirannya tidak, Waktu berjalan pelan.
Satu per satu mahasiswa masuk. Suara ramai mulai terdengar. Namun perhatian Alya hanya terfokus pada satu hal yaitu
pintu....
Hingga akhirnya, pintu itu terbuka.
Arka masuk seperti biasa. Tenang. Rapi. Tidak menunjukkan perubahan apa pun.
Namun bagi Alya kehadirannya langsung sangat terasa.
Ia menunduk cepat, berpura-pura membaca, meski satu baris pun tidak benar-benar ia pahami.
Kenapa jadi gini sih…
“Selamat pagi.”
“Pagi, Pak.”
Kelas dimulai.
Arka menjelaskan seperti biasanya jelas, tegas, tanpa ragu. Tidak ada yang berubah dari caranya mengajar.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Setidaknya bagi Alya.
Beberapa kali, tanpa sadar, pandangan mereka hampir bertemu. Dan setiap itu terjadi, Alya selalu lebih dulu menghindar.
Bukan karena takut.l, Tapi karena tidak siap.
Hingga di tengah penjelasan, Arka berhenti sejenak.
“Alya.”
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
“Iya, Pak?”
“Fokus.”
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat Alya tersentak kecil.
Beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh sekilas, lalu kembali diam.
Alya mengangguk cepat. “Iya, Pak.”
Ia menunduk, mencoba kembali membaca. Namun kali ini, pipinya terasa hangat.
Bukan karena malu dipanggil, Tapi karena cara Arka mengatakannya.
Tidak keras, Tidak mempermalukan.
Lebih seperti sebuah perhatian.
Kelas berlanjut tanpa gangguan. Namun sejak saat itu, Alya benar-benar mencoba fokus Atau setidaknya berpura-pura fokus.
Waktu terasa lebih cepat dari biasanya. Hingga akhirnya, kelas selesai. Mahasiswa mulai keluar satu per satu. Suasana kembali ramai, lalu perlahan sepi. Alya masih duduk.
Tasnya sudah ia pegang. Jas itu ada di dalamnya.
Namun ia belum berdiri. Ada rasa ragu yang menahannya.
Sekarang… atau nanti?
Ia menghela napas pelan, lalu akhirnya bangkit. Namun saat ia melangkah ke depan Arka sudah lebih dulu berbicara.
“Alya.”
Langkahnya terhenti.
Ia menoleh perlahan. “Iya, Pak?”
“Jas saya.”
Nada suaranya biasa saja. Tidak dingin, tidak juga terlalu hangat. Tapi cukup untuk membuat Alya semakin gugup.
“Iya, Pak… maaf baru sekarang,” ucapnya sambil membuka tas.
Ia mengeluarkan jas itu dengan hati-hati, lalu menyerahkannya. Arka menerimanya tanpa buru-buru.
Ia melihat jas itu sebentar, lalu berkata, “Kamu simpan baik.”
Alya tersenyum kecil. “Iya, Pak.”
Hening.
Namun kali ini terasa lebih panjang.
Lebih dalam.
“Semalam hujan lagi,” kata Arka tiba-tiba.
Alya mengangguk. “Iya.”
“Masih takut hujan?”
Alya sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
Ia menggeleng pelan. “Enggak.”
Arka menatapnya beberapa detik.
“Bagus.”
Satu kata lagi.
Namun cukup membuat Alya kembali terdiam. Ia tidak tahu kenapa percakapan sederhana itu terasa berbeda.
Seolah ada sesuatu yang disampaikan tanpa benar-benar diucapkan.
Alya menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Saya duluan, Pak.”
Arka mengangguk. “Iya.”
Alya berbalik, melangkah keluar kelas.
Namun kali ini, langkahnya tidak langsung menjauh. Ia sempat berhenti di depan pintu.
Tanpa sadar ia menoleh. Arka masih berdiri di sana. Dan lagi-lagi hanya menatapnya.
Tidak ada senyuman.....
Tidak ada panggilan..
Namun ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum mereka pahami.
Namun sudah mereka rasakan....
Alya akhirnya berjalan pergi.bNamun kini ia tahu satu hal hujan kemarin memang sudah berhenti.
Tapi apa yang dimulai di bawahnya belum.
Dan mungkin tidak akan mudah selesai.
maaf lancang🙏🙏🙏