NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Menghadap Sang Ratu Menteng

Pagi ini nyaliku yang biasanya setebal kulit badak mendadak mengkeret jadi seukuran biji sesawi. Bagaimana tidak? Kemarin Clarissa dengan entengnya bilang kalau Mamanya ingin bertemu denganku. Bertemu dalam rangka apa? Apa mau diinterogasi soal silsilah keluargaku di Sidoarjo? Atau jangan-jangan mau disuruh angkat-angkat beras karena aku badannya paling tegap di rumah ini?

​"Genta! Kamu sudah siap belum? Pakai kemeja batik yang saya belikan kemarin, jangan pakai kaos oblong gambar tengkorak itu!" teriak Clarissa dari depan kamarku.

​Aku keluar dengan kemeja batik motif parang yang pas banget di badanku. Rasanya agak aneh, biasanya aku pakai jaket kulit atau kaos partai.

"Gimana Mbak Bos? Sudah mirip calon menantu idaman para ibu pejabat belum?" tanyaku sambil pamer senyum termanis yang kupunya.

​Clarissa terdiam sejenak, menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada sedikit semburat merah di pipinya. "Lumayan. Setidaknya kamu nggak terlihat seperti preman pasar yang habis malak pedagang sayur. Ayo cepat, Mama paling benci orang telat."

​Rumah orang tua Clarissa ternyata jauh lebih mewah daripada rumah pribadinya. Begitu masuk gerbang, aku disambut oleh barisan tanaman hias yang harganya mungkin bisa buat beli sawah satu hektar. Di ruang tamu yang luasnya seperti terminal Bungurasih, seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan elegan duduk sambil memegang cangkir teh porselen.

​Itulah Nyonya Wijaya, Ibunda Clarissa. Auranya sangat kuat, lebih galak daripada Clarissa kalau lagi telat rapat.

​"Ma, ini Genta. Bodyguard yang Clarissa ceritakan," ucap Clarissa pelan sambil mencium tangan ibunya.

​Aku maju dengan gemetar, mencoba sesopan mungkin. "Selamat siang, Tante. Nama saya Genta Arjuna, aslinya Sidoarjo tapi sekarang lagi 'tersesat' di Jakarta jadi pengawalnya Mbak Bos," kataku sambil menyalami tangannya.

​Nyonya Wijaya menatapku dengan mata yang sangat tajam, seolah sedang memindai seluruh dosaku di masa lalu. "Jadi... kamu yang bikin Clarissa jadi sering ketawa sendiri kalau di rumah? Dan kamu juga yang berani kasih anak saya makan mie instan tengah malam?"

​"Waduh, soal mie instan itu darurat, Tante. Habisnya Mbak Bos kelaparan, saya cuma menjalankan tugas kemanusiaan," jawabku jujur sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

​Suasana makan siang terasa sangat tegang. Aku duduk di depan Nyonya Wijaya, sementara Clarissa di sampingku. Di depanku ada berbagai macam makanan mewah yang cara makannya pakai sendok kecil-kecil. Aku bingung, mau makan saja kok kayak mau operasi bedah jantung, alatnya banyak sekali.

​"Genta, saya dengar kamu dulu di Sidoarjo itu... apa istilahnya? Pemimpin lingkungan?" tanya Nyonya Wijaya sambil memotong daging steaknya dengan anggun.

​"Anu Tante... lebih tepatnya pemimpin pasar. Saya jagain lapak pedagang biar nggak diganggu preman liar. Ya, semacam menteri keamanan level mikro lah," jawabku dengan gaya diplomasi pasar.

​Clarissa hampir tersedak air minumnya. Dia menyenggol kakiku di bawah meja, memberi kode supaya aku tidak terlalu jujur. Tapi Nyonya Wijaya malah tersenyum tipis.

​"Berarti kamu berani ya? Bagus. Clarissa butuh orang yang berani, bukan cuma yang pintar bicara bisnis tapi nyalinya ciut kalau ada masalah. Tapi, apa kamu sanggup menjaga Clarissa dari musuh-musuh bisnisnya yang licik?"

​"Tante, selama napas saya masih nyangkut di tenggorokan, nggak akan ada yang boleh nyentuh seujung kuku pun Mbak Bos saya ini. Kalau ada yang berani, bakal saya ajak 'ngopi' di tempat yang paling gelap di Jakarta," kataku dengan nada serius. Kali ini aku tidak bercanda.

​Setelah makan siang, Nyonya Wijaya mengajakku bicara empat mata di taman belakang. Clarissa disuruh menunggu di dalam. Ini dia babak penentuannya, pikirku. Apakah aku bakal diusir pakai cek kosong atau malah disuruh cuci piring?

​"Genta, saya tahu kamu bukan orang sembarangan. Di balik gaya konyolmu, saya bisa lihat kamu orang yang tulus. Saya cuma titip Clarissa. Dia itu kesepian sejak ayahnya meninggal. Dia cuma fokus kerja sampai lupa cara bahagia."

​Aku tertegun. Ternyata di balik kemewahan ini, ada sisi sedih dari bos galakku itu. "Tante tenang saja. Saya bakal bikin Mbak Bos bahagia terus, kalau perlu setiap hari saya bawain krupuk

Sidoarjo biar dia nggak lupa cara ketawa."

​Nyonya Wijaya tertawa lepas. "Kamu lucu. Ya sudah, sana kembali ke Clarissa. Dia sepertinya sudah cemas nungguin kamu di dalam."

​Begitu aku masuk, Clarissa langsung menarik tanganku. "Mama bilang apa saja? Kamu nggak dipecat kan? Kamu nggak ngomong yang aneh-aneh kan?"

​Aku menatap Clarissa dengan wajah sedih yang dibuat-buat. "Mbak Bos... Tante bilang kalau saya nggak boleh lagi jadi bodyguard Mbak Bos."

​Wajah Clarissa langsung pucat. "Lho? Kenapa?! Nanti aku bicara sama Mama—"

​"Tante bilang, tugas saya naik pangkat. Bukan cuma jagain Mbak Bos, tapi juga jagain hati Mbak Bos. Katanya, Mbak Bos butuh asisten seumur hidup," kataku sambil nyengir lebar.

​Clarissa terdiam, mukanya langsung berubah merah seperti kepiting rebus. Dia memukul lenganku dengan tasnya. "Genta! Kamu itu ya! Hobinya bikin jantungan!"

​Tapi aku tahu, pukulan itu nggak sakit. Malah terasa manis. Di bawah sinar matahari sore di rumah Menteng itu, aku merasa karirku sebagai preman sengklek sudah mencapai puncak yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya. Jakarta, aku mencintaimu beserta Bos-nya!

Tadi pas di meja makan, aku benar-benar merasa seperti ikan bandeng yang kesasar di kolam renang hotel bintang lima. Bayangkan saja, di depanku ada piring yang besarnya seperti nampan hajatan, tapi isinya cuma potongan daging kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari jempol kakiku. Ini makanan beneran atau cuma sampel laboratorium?

​"Genta, dimakan pembukanya. Itu Foie Gras, hati angsa paling mahal di dunia," bisik Clarissa dengan mata yang terus memberi kode supaya aku tidak bertingkah aneh.

​Aku cuma manggut-manggut sambil menahan tawa. Pas aku makan sedikit, rasanya memang gurih luar biasa, tapi tetap saja di pikiranku cuma satu, "Ini kalau dikasih nasi hangat sama sambal terasi pasti jauh lebih mantap dan bikin kenyang." Aku melirik Nyonya Wijaya yang makan dengan sangat santai, tidak ada suaranya sama sekali. Beda jauh denganku yang kalau makan kerupuk suaranya bisa seperti mercon banting.

​Setelah urusan "sidang" dengan calon mertua selesai, aku dan Clarissa akhirnya pamit untuk pulang. Di dalam mobil, suasananya mendadak jadi sunyi tapi sangat nyaman. Aku menyetir pelan-pelan membelah jalanan Menteng yang rimbun dengan pepohonan besar di kanan kiri.

​Aku melirik dari spion tengah, Clarissa kelihatan sangat lelah tapi wajahnya tampak jauh lebih plong. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya terpejam-pejam ayam. Sepertinya beban pikiran yang selama ini dia pendam sendiri mulai berkurang karena aku sudah mendapatkan

"lampu hijau" (meskipun statusnya cuma jadi bodyguard seumur hidup).

​"Genta... terima kasih ya untuk hari ini. Kamu hebat bisa bikin Mama tertawa lepas. Biasanya Mama itu orangnya sangat kaku kalau bertemu orang baru, apalagi orang seperti kamu," gumam Clarissa lirih, hampir tidak terdengar karena terbawa angin AC.

​"Sama-sama, Mbak Bos. Sidoarjo punya gaya, Mbak! Pokoknya selama ada Genta, dunia Mbak Bos tidak akan sepi lagi. Besok-besok kalau Mama butuh hiburan lagi, bilang saja, saya siap bawain tari jaranan ke ruang tamu kalau perlu," jawabku sambil bercanda.

​Clarissa cuma tersenyum tipis, lalu benar-benar tertidur pulas. Aku merasa senang sekali melihat dia bisa tidur nyenyak seperti itu. Ternyata benar kata orang, wanita paling kuat sekalipun tetap butuh sandaran yang kokoh—dan sandaran itu asalnya dari preman sengklek seperti aku.

​"Tidur yang nyenyak, Mbak Bos Cantik. Besok pagi perjuangan kita dimulai lagi," batinku sambil menambah kecepatan mobil perlahan. Jakarta malam ini terasa jauh lebih indah dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!