NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Arka tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang kontrol dengan pistol di pangkuan, mata menatap monitor yang tidak menampilkan apa pun selain putih yang sunyi. Di sampingnya, radio komunikasi masih menyala dengan suara statis yang tidak pernah berhenti. Sesekali, di sela-sela statis itu, dia mendengar potongan suara. Tidak jelas. Mungkin hanya gangguan. Mungkin bukan.

Pratama masuk dengan dua cangkir kopi instan. Tanpa berkata apa-apa, dia meletakkan satu di meja, lalu duduk di kursi sebelah.

“Kamu juga tidak tidur?” tanya Arka.

“Tidak. Memikirkan apa yang Umar dengar dari radio.”

“Kelompok pemburu sudah sampai di Kebayoran.”

“Itu artinya mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan kita.”

Arka menyesap kopi. Pahit. Lidahnya sudah mati rasa, tapi dia tetap minum. “Mereka tidak hanya bergerak cepat. Mereka juga terorganisir. Badu bilang Komandan punya anak buah tiga puluh orang. Tapi setelah kita lihat patroli di stasiun tadi, rasanya lebih dari itu.”

Pratama mengangguk. “Bisa jadi Badu tidak tahu jumlah persisnya. Atau dia sengaja meremehkan.”

“Atau Komandan terus merekrut.”

Mereka diam sebentar. Suara mesin ventilasi memenuhi ruangan.

“Kita tidak bisa terus bertahan di sini,” kata Pratama akhirnya. “Bukan karena kita tidak kuat. Tapi karena mereka punya sumber daya lebih banyak. Waktu tidak berpihak pada kita.”

Arka meletakkan cangkir di meja. “Apa usulmu?”

“Kita serang markas mereka. Bukan sekarang. Tapi kita cari tahu kelemahan mereka. Jalur suplai, jadwal patroli, titik lemah gedung BNI. Lalu kita pukul di tempat yang paling sakit.”

“Risikonya besar.”

“Bertahan di sini juga besar. Tidak ada pilihan yang aman.”

Arka tidak menjawab. Matanya kembali ke monitor. Putih. Sunyi. Tapi di balik putih itu, di antara gedung-gedung yang membeku, dia tahu bayangan itu terus bergerak.

Pagi berikutnya, Arka memanggil semua orang ke ruang utama. Umar datang dengan wajah kusam, mata sembab. Dia tidak tidur. Atau jika tidur, hanya sebentar. Dewi duduk di sampingnya, tenang, tapi matanya juga tidak segar. Rina memeluk catatan tanamannya seperti biasa. Wawan berdiri di dekat rak stok, tangan di saku.

Arka berdiri di hadapan mereka. “Kita harus bicara tentang apa yang akan datang.”

Umar mengangkat muka. “Mereka akan ke sini?”

“Sudah pasti. Cepat atau lambat. Badu bilang Komandan ingin lihat sendiri bunker ini. Dan setelah patroli kita kemarin, mereka tahu kita masih di sini.”

“Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Rina. Suaranya kecil.

“Dua pilihan. Bertahan di sini, atau pergi.”

Diam. Semua orang saling berpandangan.

“Bertahan,” kata Dewi. Suaranya tegas. “Kita sudah membangun tempat ini. Stok masih cukup. Senjata ada. Kita tahu medan. Mereka tidak.”

“Tapi mereka lebih banyak,” kata Umar.

“Kuantitas tidak selalu menang,” kata Pratama dari belakang. “Kita punya keuntungan: mereka harus masuk melalui terowongan sempit. Satu per satu. Tidak bisa ramai-ramai.”

Arka menambahkan, “Kita juga punya perangkap di tiga titik. Dua sudah meledak, satu masih utuh di Setiabudi. Tapi kita bisa pasang lagi di terowongan utama.”

Wawan angkat suara. “Sensor gerak. Saya bisa pasang di pintu darurat dan di ujung terowongan. Kalau mereka masuk, kita akan tahu.”

“Berapa lama?”

“Setengah hari. Tapi saya butuh baterai dan kabel.”

“Ambil dari stok.”

Wawan mengangguk.

Arka menatap Umar. “Kamu bagaimana?”

Umar menggenggam obengnya. “Aku... aku ingin cari keluarga aku. Tapi aku tidak bisa pergi sendirian. Dan aku juga tidak bisa meninggalkan kalian. Jadi... aku bertahan.”

Arka mengangguk. Tidak ada senyum. Tidak ada tepukan bahu. Hanya anggukan singkat yang berarti banyak.

“Baik. Kita persiapkan semuanya hari ini. Pratama, kamu pimpin pemasangan perangkap tambahan. Wawan, urus sensor. Umar, bantu mereka. Dewi, pastikan obat dan perban cukup. Rina, jaga ruang tanam. Jangan sampai mati lampu.”

Rina mengangguk cepat.

“Satu lagi,” kata Arka. “Mulai sekarang, semua orang harus pegang senjata. Bukan hanya Pratama dan aku. Dewi, kamu ambil pistol cadangan. Umar, kamu pegang senapan angin. Wawan, pisau taktis. Rina, kamu jaga diri di ruang tanam. Kalau ada yang masuk, kamu sembunyi.”

Dewi mengangguk. Umar menggenggam obengnya lebih erat. Wawan menghela napas. Rina memeluk catatannya.

Mereka bekerja sepanjang hari. Pratama dan Umar memasang dua perangkap baru di terowongan, menggunakan sisa tabung gas dan baterai. Jaraknya sepuluh meter dari pintu bunker, di tikungan yang tidak terlihat dari jauh. Pemicu dari tali pancing yang hampir tidak terlihat.

Wawan merangkai sensor gerak dari kamera keamanan bekas yang dia temukan di stasiun. Dia memasangnya di pintu darurat stasiun Sudirman, tepat di luar terowongan. Layar monitor kecil di ruang kontrol akan menampilkan peringatan jika ada yang bergerak.

Dewi memeriksa ulang stok obat. Antibiotik masih cukup untuk dua orang luka parah. Penghilang rasa sakit tinggal sedikit. Perban masih banyak. Dia membuat daftar yang harus dicari jika ada kesempatan keluar.

Rina mematikan lampu grow di ruang tanam untuk menghemat listrik. Tanaman bayam dan kangkung akan bertahan dua hari tanpa cahaya. Setelah itu, mereka mulai layu. Tapi tidak ada pilihan.

Arka berkeliling, memeriksa setiap sudut. Pintu baja sudah digeser baut pengamannya. Rak-rak besi di ruang utama dipindahkan membentuk barikade. Jika pintu berhasil ditembus, mereka masih punya satu lapis pertahanan.

Di ruang kontrol, dia menyalakan radio. Statis.

“...bagi warga yang masih bertahan di wilayah Kebayoran dan sekitarnya, hindari gedung-gedung tinggi. Kelompok bersenjata dilaporkan beroperasi di area tersebut...”

Arka mematikan radio. Suara itu sudah tidak penting. Mereka sudah tahu.

Sore harinya, saat semua orang beristirahat, Umar mendekati Arka di ruang kontrol. Wajahnya masih pucat, tapi matanya lebih tenang dari kemarin.

“Mas, aku minta maaf.”

“Maaf untuk apa?”

“Karena... karena aku egois. Keluarga aku di Kebayoran, tapi aku di sini, memikirkan diri sendiri. Padahal kalian juga butuh aku.”

Arka menatapnya. “Kamu tidak egois. Kamu manusia. Wajar ingin cari orang yang kamu cintai.”

Umar menunduk. “Tapi aku tidak bisa pergi. Aku tahu itu. Aku hanya bisa berdoa.”

Arka tidak menjawab. Dia tidak tahu harus berkata apa. Di kehidupan pertama, dia juga berdoa. Tapi doanya tidak pernah terjawab. Atau mungkin terjawab dengan cara yang tidak dia mengerti.

“Kita cari mereka setelah ini selesai,” kata Arka. “Janji.”

Umar mengangguk. Dia keluar dari ruang kontrol, meninggalkan Arka sendirian.

Di monitor, kamera pintu belakang hotel masih menampilkan putih yang sunyi. Tapi di sudut layar, ada gerakan. Arka memperbesar.

Seekor anjing. Anjing yang sama? Mungkin. Kurus, bulu kusut, berjalan tertatih. Hidungnya mencium tanah beku. Kali ini, dia tidak sendirian. Di belakangnya, ada yang lain. Anjing lain. Lebih besar. Lebih kurus. Matanya menyipit ke arah kamera.

Keduanya berjalan perlahan, melewati pintu hotel, lalu menghilang di balik tumpukan salju.

Arka mematikan monitor. Di kepalanya, bayangan itu terus bergerak. Anjing-anjing itu mencari makanan. Mencari kehangatan. Mencari sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mereka temukan.

Seperti Umar. Seperti dia. Seperti semua orang di dunia yang membeku ini.

Pratama masuk dengan segelas air. “Semua sudah siap.”

“Kita tinggal menunggu.”

“Berapa lama?”

Arka menatap monitor yang gelap. “Tidak tahu. Tapi mereka akan datang. Dan kita akan siap.”

Pratama mengangguk. Dia duduk di kursi sebelah. Mereka berdua diam, mendengarkan suara mesin ventilasi dan angin di atas sana.

Di kejauhan, di antara putih yang tak berujung, sesuatu bergerak. Mendekat. Merencanakan.

Malam itu, bunker masih aman. Tapi keamanan itu, seperti semua hal di dunia ini, hanya sementara.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!