NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 12: Panglima Perang Narik Ojek Lagi

Satu bulan sudah Guntur Hidayat resmi jadi bos besar di Surabaya. Tapi, pagi ini dia merasa otaknya mau pecah. Duduk di kursi kantor yang harganya selangit malah bikin pantatnya panas. Dia rindu bau knalpot, rindu maki-maki driver lain di lampu merah, dan rindu sensasi dikejar debt collector gadungan.

​Guntur membongkar gudang rumah mewahnya sampai berantakan. Sekar yang baru bangun sampai geleng-geleng kepala melihat suaminya asyik mencium bau jaket hijau yang sudah agak apek itu. Mas Guntur nggoleki opo? (Mas Guntur cari apa?) tanya Sekar heran.

​Sekar, aku kangen dadi wong susah. Aku kangen narik ojek, (Sekar, aku kangen jadi orang susah. Aku kangen narik ojek,) jawab Guntur sambil langsung memakai jaket legendarisnya. Persetan dengan omongan orang, hari ini Naga Properti libur, tapi jiwa ojeknya lagi meronta-ronta.

​Guntur mengeluarkan motor matic bututnya dari balik tumpukan mobil mewah. Dia tancap gas menuju pangkalan lamanya di Sidoarjo. Begitu sampai, aroma kopi murahan dan asap rokok kretek langsung menyambut hidungnya. Guntur merasa seperti kembali ke rumah yang sebenarnya.

​Walah, Bos Naga kumat sengklek-ne! (Walah, Bos Naga kumat gilanya!) teriak Cak Kumis, salah satu driver lama yang langsung berdiri kaget. Arep nyumbang sembako ta, Mas? (Mau nyumbang sembako ta, Mas?) tambahnya sambil tertawa ngakak.

​Matamu sembako! Aku arep balapan karo kowe kabeh! (Matamu sembako! Aku mau balapan sama kalian semua!) sahut Guntur sambil nyengir lebar. Tanpa banyak gaya, Guntur langsung menyalakan aplikasi ojeknya. Tidak butuh waktu lama, ponselnya bergetar hebat. Ada orderan masuk!

​Guntur langsung melesat menuju lokasi penjemputan. Ternyata penumpangnya adalah seorang pria kantoran yang gayanya selangit, pakai kacamata hitam dan tas bermerek. Begitu naik ke motor Guntur, pria itu langsung ngomel-ngomel karena motornya terasa bergetar hebat.

​Woy Driver! Pelan sedikit dong! Ini motor apa gerobak sampah? Kasar banget jalannya! teriak si penumpang dengan nada sombong. Guntur yang mendengar itu hanya tersenyum sinis dari balik helm. Dia tidak sadar kalau orang yang dimaki-makinya ini bisa membeli seluruh kantor tempat dia bekerja.

​Kowe kakehan cangkem, Mas! Nek pengen alus, numpako odong-odong kono lho! (Kamu kebanyakan mulut, Mas! Kalau ingin halus, naik odong-odong sana lho!) sahut Guntur sambil malah menambah kecepatannya, meliuk-liuk di antara kemacetan Surabaya yang gila.

​Begitu sampai di tujuan, pria itu turun dengan wajah pucat dan muntah-muntah di pinggir jalan. Driver gila! Saya laporin kamu ya! Saya ini manajer di PT Naga Properti, tahu nggak kamu?! bentak pria itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Guntur yang masih tertutup helm.

​Guntur pelan-pelan membuka helmnya. Wajah dingin sang CEO langsung terpampang nyata di depan mata si pria kantoran itu. Lho... Pak Guntur? Bapak CEO? tanya pria itu dengan suara gemetar, hampir pingsan di tempat.

​Guntur menepuk bahu bawahannya itu dengan keras sampai dia hampir tersungkur. Sesuk nek melbu kantor, ojo lali laporno aku nang HRD nggih! (Besok kalau masuk kantor, jangan lupa laporkan aku ke HRD ya!) ucap Guntur sambil tertawa puas dan langsung tancap gas meninggalkan karyawannya yang mematung ketakutan.

​Sore itu, Guntur pulang dengan perasaan luar biasa lega. Baginya, menjadi bos itu biasa, tapi menjadi penguasa aspal yang berani memaki balik dunia adalah kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang satu triliun pun. Naga itu tetaplah seekor naga, mau di kursi emas atau di atas motor butut, taringnya tetap tajam.

Setelah bikin manajernya sendiri hampir pingsan di pinggir jalan, Guntur makin semangat. Dia nggak balik ke kantor, malah melipir ke pangkalan ojek bawah jembatan layang. Di sana, kawan-kawan lamanya lagi asyik main domino sambil misuh-misuh karena sepi orderan.

​Woy, asu! Iki Bos Naga kok malah ngetem nang kene maneh! (Woy, asu! Ini Bos Naga kok malah ngetem di sini lagi!) teriak Cak Leman sambil membanting kartu dominonya. Guntur cuma tertawa, dia duduk di bangku kayu yang hampir reyot itu seolah-olah dia bukan pemilik perusahaan bernilai miliaran.

​Cangkemu, Man! Aku kangen krungu misuh-mu, (Mulutmu, Man! Aku kangen dengar makianmu,) sahut Guntur sambil menyambar kopi hitam sisa milik Cak Leman. Guntur benar-benar merasa hidup kembali. Baginya, obrolan kasar di pinggir jalan ini jauh lebih jujur daripada rapat-rapat formal di Jakarta yang penuh penjilat.

​Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pangkalan mereka. Seorang pria muda dengan setelan jas rapi turun sambil menutup hidung, wajahnya kelihatan jijik melihat kumuhnya pangkalan ojek itu. Woy, kalian! Minggirin motor-motor rongsok ini! Saya mau parkir di sini sebentar! bentak pria itu dengan nada yang sangat meremehkan.

​Guntur yang tadinya lagi tertawa, mendadak diam. Matanya yang tajam langsung menatap pria sombong itu. Matamu picek ta, Mas? Gak weruh iki pangkalan ojek? (Matamu buta ta, Mas? Gak lihat ini pangkalan ojek?) tanya Guntur dengan nada rendah tapi penuh ancaman.

​Pria itu malah tertawa meremehkan, tidak sadar kalau orang di depannya adalah penguasa bisnis properti Jawa Timur. Driver sampah kayak kalian tahu apa? Minggir atau saya panggil polisi buat gusur tempat kumuh ini! teriaknya lagi sambil menendang salah satu ban motor driver tua di sana.

​Guntur perlahan berdiri, dia mendekati pria itu dengan langkah tenang namun auranya benar-benar mengerikan. Gak usah kakehan cangkem. Nek kepingin parkir, parkiro nang njero neraka kono lho! (Gak usah kebanyakan mulut. Kalau ingin parkir, parkirlah di dalam neraka sana lho!) ucap Guntur sambil langsung mencengkeram kerah baju pria itu sampai kakinya hampir terangkat dari tanah.

​Pria itu mulai ketakutan melihat otot lengan Guntur yang terlihat sangat kuat. Lepaskan! Kamu tahu siapa saya?! Saya ini kerabat dekat pemilik lahan ini! ancamnya dengan suara gemetar. Guntur cuma tersenyum sinis, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

​Kandani bosmu, jenenge Guntur Hidayat wis tuku lahan iki wingi sore. Dadi saiki, kowe sing kudu minggat teko kene sak durunge raimu tak dadekno perkedel! (Bilangi bosmu, namanya Guntur Hidayat sudah beli lahan ini kemarin sore. Jadi sekarang, kamu yang harus pergi dari sini sebelum wajahmu tak jadikan perkedel!) gertak Guntur sambil melempar pria itu sampai jatuh tersungkur.

​Pria sombong itu langsung lari terbirit-birit masuk ke mobilnya dan tancap gas tanpa menoleh lagi. Seluruh driver di pangkalan langsung bersorak kegirangan. Mas Guntur pancen mboys! Gak lali karo kancane senajan wis dadi bos! (Mas Guntur memang keren! Gak lupa sama temannya meskipun sudah jadi bos!) puji Cak Leman sambil menepuk-nepuk pundak Guntur.

​Guntur cuma nyengir sambil membetulkan posisi helmnya. Dia ngerasa puas banget. Baginya, kekuasaan itu gunanya buat ngelindungi orang kecil, bukan buat gaya-gayaan. Sore itu, di bawah langit Surabaya yang mulai jingga, sang Panglima Perang itu merasa benar-benar jadi manusia lagi. Naga itu sudah kembali ke aspal, dan aspal itu tetap tunduk pada perintahnya.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!