Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Bertugas
Bambang menghabiskan sisa siangnya dengan tidur. Atau setidaknya mencoba tidur. Tubuhnya lelah tapi pikirannya tidak mau berhenti. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah coretan-coretan di dinding kantin. Dua belas nama. Dua belas tanggal. Dua belas orang yang tidak pernah dia temui dan mungkin tidak akan pernah dia temui. Ditambah satu nama yang hilang. Dul. Dul tidak ada di coretan itu. Tapi Dul juga tidak ada di ruang tamu semalam. Kemana Dul?
Jam menunjukkan pukul setengah empat sore ketika Bambang akhirnya bangun dan memutuskan untuk berhenti memaksakan tidur. Dia duduk di ranjang, menatap dinding lembab di depannya. Pikirannya masih kacau. Dia membutuhkan jawaban. Tapi dari siapa? Joni terlalu ceria di permukaan tapi gelisah di dalam. Herman terlalu tertutup dan penuh peringatan. Ucok terlalu menyeramkan dan tidak ramah. Mbah Yem terlalu misterius dengan pesan-pesan pendeknya.
Bambang memutuskan untuk mencari Ucok. Bukan karena Ucok ramah, tapi justru karena Ucok tidak ramah. Orang yang tidak ramah cenderung lebih jujur. Mereka tidak punya energi untuk berbohong atau berpura-pura.
Dia menemukan Ucok di belakang blok satpam, duduk di atas drum kosong sambil merokok. Pemandangannya menghadap ke hutan belakang. Ucok tidak menoleh saat Bambang mendekat. Matanya tetap lurus ke depan, menatap pepohonan lebat yang berjarak sekitar seratus meter dari pagar belakang pabrik.
"Bang Ucok," panggil Bambang pelan.
Ucok tidak menjawab. Dia mengambil sebatang rokok lagi dari bungkusnya, menyalakannya dengan korek api, lalu membuang korek api bekas ke tanah. Asap rokok mengepul tipis di udara sore yang lembab.
"Bisa gue duduk?" tanya Bambang lagi.
"Tanahnya gratis," jawab Ucok tanpa menoleh.
Bambang duduk di tanah dekat drum itu. Rumputnya kering dan sedikit berduri. Dia tidak peduli. Matanya mengikuti arah pandang Ucok ke arah hutan. Dari sini, hutan terlihat gelap meskipun masih sore. Pohon-pohonnya tinggi dan rapat. Cahaya matahari sulit menembus kanopi. Di balik pepohonan itu, suara-suara aneh kadang terdengar. Suara burung, suara serangga, dan suara-suara lain yang tidak bisa Bambang identifikasi.
"Bang Ucok, gue mau tanya sesuatu."
"Tanya aja. Gue belum tentu jawab."
"Yang coretan-coretan di dinding kantin itu... itu nama siapa aja?"
Ucok berhenti menghisap rokoknya. Rokok itu menggantung di bibirnya beberapa saat sebelum dia mengambilnya dengan jari. "Kamu sudah ke kantin?"
"Iya tadi pagi. Sama Joni."
"Joni yang ajak?"
"Iya."
Ucok mendengus. "Joni suka bawa orang baru ke kantin. Biar liat coretan itu. Biar takut."
"Jadi itu nama siapa?"
"Satpam-satpam sebelumnya."
Bambang menelan ludah. "Mereka... kemana sekarang?"
Ucok membuang rokoknya ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu boot hitamnya. Dia menoleh ke arah Bambang untuk pertama kalinya. Matanya tajam. Wajahnya menyeramkan seperti semalam, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang mirip dengan kelelahan yang dalam.
"Kamu yakin mau tahu?"
"Gue yakin."
"Pulang. Mereka pulang ke rumah masing-masing."
Bambang lega. "Oh, jadi mereka keluar aja ya? Bukan apa-apa."
"Keluar, iya. Tapi tidak dengan cara yang kamu bayangkan." Ucok berdiri dari drum. Badannya yang besar menutupi cahaya sore dari arah barat. Bayangannya jatuh tepat di atas Bambang. "Ada yang pulang pakai kursi roda. Ada yang pulang pakai tandu. Ada yang pulang... ya sudah, pokoknya pulang."
"Bang Ucok, maksudnya..."
"Cukup. Jangan tanya lagi. Kalau kamu pintar, kamu akan bertahan. Ikuti aturan. Jangan cari tahu lebih dari yang perlu. Dan jangan pernah, pernah percaya pada suara-suara di malam hari."
Ucok berbalik dan berjalan meninggalkan Bambang. Langkahnya berat. Tanah bergetar sedikit setiap kali sepatu bootnya menginjak.
Bambang masih duduk di tanah, mencerna kata-kata Ucok. Pulang pakai kursi roda. Pulang pakai tandu. Itu artinya cedera. Cedera parah. Tapi kenapa? Apa yang bisa melukai satpam-satpam itu sampai sekparah itu? Mesin? Kecelakaan kerja? Atau sesuatu yang lain?
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit berubah dari abu-abu menjadi jingga, lalu merah, lalu perlahan-lahan gelap. Bambang masih duduk di belakang blok satpam, sendirian, ditemani oleh suara jangkrik yang mulai terdengar dari arah hutan.
Dia kembali ke blok satpam saat langit benar-benar gelap. Joni sedang menonton TV di ruang tamu. Acara komedi. Joni tertawa keras meskipun tidak ada yang lucu. Herman sedang membaca koran di kursi dekat jendela. Ucok tidak terlihat.
"Bang Bambang, lu makan malam belum?" tanya Joni.
"Belum."
"Ya udah, cepetan makan. Nanti jam dua belas lu jaga. Jangan sampe laper di pos."
"Makan di mana?"
"Kantin. Mbah Yem masih buka sampe jam sembilan."
Bambang berjalan ke kantin. Malam hari, kantin terlihat berbeda. Lampu minyak tanah menyala di atas meja dapur. Mbah Yem duduk di kursi kayu sambil mengupas bawang. Wajahnya terlihat lebih tua di bawah cahaya lampu yang redup.
"Mbah, masih ada makan?"
Mbah Yem mengangkat wajahnya. "Nasi goreng. Habis buat Joni tadi. Tapi masih ada nasi putih dan telur. Mau?"
"Iya, Mbah. Makasih."
Bambang duduk di meja yang sama seperti pagi tadi. Coretan-coretan di dinding kini nyaris tidak terlihat dalam kegelapan. Hanya bayangan-bayangan samar yang menari-nari di dinding karena tiupan angin yang membuat lampu minyak tanah berkedip.
Mbah Yem menyajikan nasi putih dengan telur ceplok dan sedikit sayur asem. Bambang makan perlahan. Rasanya tidak seenak tadi pagi. Mungkin karena pikirannya sedang tidak tenang.
"Kamu jaga malam ini?" tanya Mbah Yem dari belakang meja dapurnya.
"Iya, Mbah. Shift jam dua belas."
"Bawa senter."
"Ada aturan nggak boleh pake senter ke arah hutan belakang."
"Bawa senter buat jalan, bukan buat hutan. Jalan dari sini ke pos satpam gelap. Banyak lubang. Banyak ular."
Bambang mengangguk. "Mbah, gue boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Kok Mbah masih di sini? Mbah kan bukan satpam."
Mbah Yem berhenti mengupas bawang. Pisau kecilnya tertahan di udara beberapa saat sebelum dia melanjutkan gerakannya. "Mbah sudah di sini sejak pabrik ini berdiri. Dua puluh tahun yang lalu. Suami Mbah yang pertama kali bangun kantin ini. Dia sudah meninggal."
"Suami Mbah meninggal di sini?"
"Jatuh dari atok waktu lagi benerin bocor. Itu dulu banget, sebelum pabrik sepi kayak sekarang."
"Pabrik ini sekarang sepi, Mbah. Kenapa masih beroperasi?"
Mbah Yem tidak menjawab. Dia kembali mengupas bawang dengan gerakan yang lebih cepat. Bambang mengerti itu tanda untuk berhenti bertanya.
Dia menghabiskan makannya, mencuci piring sendiri di bak air belakang kantin, lalu berjalan kembali ke blok satpam. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum shift-nya dimulai.
Bambang duduk di ruang tamu menemani Joni yang masih tertawa di depan TV. Herman sudah tidak ada. Mungkin sudah tidur. Ucok juga tidak muncul.
"Joni, gue mau tanya."
"Tanya apa, Bang?"
"Dul itu siapa? Kenapa gue belum pernah liat dia?"
Joni berhenti tertawa. Matanya beralih dari TV ke Bambang, lalu kembali ke TV. "Dul lagi sakit. Lagi di kamar."
"Sakit apa?"
"Kayaknya tipes. Udah seminggu."
"Parah?"
"Lumayan. Tapi udah ada obat. Cuma belum sembuh total."
Bambang tidak yakin Joni bicara jujur. Tapi dia tidak punya bukti untuk tidak percaya. "Boleh gue jenguk?"
"Jangan. Dul nggak suka diganggu. Nanti dia marah. Lebih baik kamu fokus jaga malam. Jam udah mau dua belas."
Bambang melihat jam dinding. Pukul sebelas empat puluh lima. Dia berdiri dan berjalan menuju pos satpam di pintu gerbang utama. Joni memberinya senter kecil dan radio komunikasi.
"Radio ini buat panggil tim kalau ada masalah. Tombol di samping. Tekan dan bicara. Tapi jangan sembarangan tekan. Cuma kalau darurat."
"Darurat kayak gimana?"
"Kayak... ya pokoknya kalau kamu ngerasa ada yang nggak beres."
Bambang memasukkan radio ke saku celananya. Senter digenggam di tangan kiri. Dia berjalan melewati halaman menuju pintu gerbang. Jalan setapak dari blok satpam ke pos satpam tidak terlalu jauh, sekitar dua ratus meter. Tapi tanpa lampu, jalannya terasa panjang dan menyeramkan. Rumput-rumput tinggi di kiri kanan bergoyang-goyang tertiup angin malam. Sesekali dia mendengar suara cicak atau tokek dari arah bangunan utama.
Pos satpam adalah ruangan kecil berukuran dua kali tiga meter. Dindingnya dari kayu, atapnya seng. Di dalamnya ada satu meja, satu kursi plastik, dan satu monitor CCTV yang menampilkan gambar dari dua belas kamera di berbagai sudut pabrik. Monitor itu berkedip-kedip pelan. Di bawah meja, ada tombol merah besar yang terhubung ke bel di blok satpam.
Bambang duduk di kursi plastik itu. Dari jendela pos, dia bisa melihat pintu gerbang utama dan sebagian halaman depan. Di luar, gelap. Lampu penerangan di sekitar pabrik hanya sedikit dan redup.
Jam menunjukkan pukul dua belas tepat.
Shift malam pertama Bambang dimulai.
Dua belas kamera CCTV menampilkan gambar-gambar yang sama: sepi. Gudang produksi gelap. Halaman belakang gelap. Koridor di dalam bangunan utama gelap. Hanya sesekali ada bayangan yang bergerak, tapi itu hanya daun-daun yang tertiup angin.
Bambang mulai merasa sedikit tenang. Mungkin semua ketakutannya berlebihan. Mungkin pabrik ini memang biasa-biasa saja. Mungkin Ucok dan Joni dan Herman hanya orang-orang paranoid.
Jam satu malam. Tidak ada yang aneh.
Jam dua malam. Bambang mulai mengantuk. Dia memukul pipinya sendiri beberapa kali untuk tetap terjaga.
Jam tiga malam.
Monitor CCTV nomor tujuh berubah.
Bambang hampir tidak menyadarinya pada awalnya. Gambar dari kamera yang menghadap ke koridor belakang gudang produksi tiba-tiba bergerak. Bukan kamera yang bergerak, tapi ada sesuatu di dalam gambar itu yang bergerak.
Bambang mendekatkan wajahnya ke monitor.
Ada sesosok bayangan di ujung koridor. Bayangan itu tidak jelas bentuknya. Terlalu gelap. Tapi bayangan itu bergerak. Perlahan. Merayap di sepanjang dinding.
Bambang memicingkan matanya. Apa itu? Apakah itu manusia? Apakah itu satpam lain yang sedang patroli?
Dia melihat jam. Pukul tiga lewat lima menit. Jam-jam di mana aturan nomor satu berlaku. Dilarang membuka gudang produksi jam sebelas malam sampai jam empat pagi.
Bambang tidak membuka gudang. Dia hanya melihat dari CCTV.
Tapi bayangan itu tidak berhenti di depan pintu gudang. Bayangan itu terus bergerak. Mendekati pintu gudang. Lalu berhenti.
Bayangan itu menoleh.
Menoleh ke arah kamera.
Seolah-olah bayangan itu tahu bahwa Bambang sedang melihat.
Bambang mundur dari monitor. Jantungnya berdebar. Dia meraih radio di sakunya. Jari jemarinya gemetar.
Bayangan di monitor itu mulai berubah bentuk. Tidak lagi seperti bayangan manusia. Melebar. Memanjang. Seperti karet yang diregangkan.
Seperti suara yang dia dengar semalam.
Bambang menekan tombol merah di bawah meja.
Bel di blok satpam berbunyi.
Dia menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada yang datang.
Dia melihat monitor lagi. Bayangan itu sudah tidak ada. Koridor belakang gudang produksi kosong.
Apakah dia hanya berhalusinasi? Apakah karena kurang tidur?
Radio di tangannya berderak. Suara Herman.
"Ada apa, Bambang?"
"Di koridor belakang gudang... ada bayangan."
Diam sejenak. Kemudian Herman menjawab dengan suara datar. "Tidak ada bayangan. Kamu cuma ngantuk. Tetap jaga. Jangan tidur."
Radio mati.
Bambang menatap monitor lagi. Koridor belakang gudang masih kosong.
Tapi tepat di samping gambar koridor itu, di monitor nomor delapan yang menghadap ke halaman belakang, Bambang melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Halaman belakang. Rumput-rumput tinggi. Pagar besi. Dan di balik pagar, hutan gelap.
Ada sesuatu yang berdiri di tepi hutan.
Bukan bayangan. Bukan manusia.
Sesuatu yang tinggi. Sangat tinggi. Dengan lengan yang panjang menjuntai sampai ke tanah.
Sesuatu yang terbuat dari karet hitam.
Bambang tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak. Matanya terpaku pada monitor.
Dan makhluk itu... makhluk itu mulai berjalan. Mendekati pagar. Mendekati pabrik. Mendekati Bambang.
Radio di tangannya berderak lagi. Kali ini suara Ucok.
"Matikan monitor nomor delapan. Matikan sekarang."
Tangan Bambang bergerak tanpa perintah dari otaknya. Dia mematikan monitor nomor delapan.
Gambar itu menghilang.
Radio Ucok berbunyi lagi. "Jangan pernah menatapnya terlalu lama. Dia akan datang."
Bambang duduk di kursi plastik itu dengan tubuh membeku. Dia tidak berani menyalakan monitor nomor delapan lagi. Dia tidak berani melihat ke luar jendela. Dia hanya duduk diam, memegang radio erat-erat, dan berdoa dalam hati agar subuh segera tiba.
Jam menunjukkan pukul tiga lewat dua belas menit.
Masih empat puluh delapan menit sampai jam empat.
Empat puluh delapan menit yang terasa seperti empat puluh delapan tahun.
Bambang baru sadar bahwa dia tidak hanya terjebak dalam kontrak kerja yang mematikan. Dia juga terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam mimpi buruk sekalipun.
Dia terjebak di pabrik karet yang tidak pernah memproduksi karet.