NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Duri dalam Daging

​Sisa waktu di kelas Pengantar Akuntansi Keuangan Menengah milik Pak Anton hari itu berubah menjadi simulasi neraka tak berapi bagi meja kelompok lima. Udara di sekitar mereka seolah telah membeku, berubah menjadi kristal-kristal es kasat mata yang menusuk kulit dan menyayat paru-paru setiap kali mereka berusaha menarik napas.

​Anandara Arunika telah menarik garis batas yang sangat brutal. Gadis itu menarik kursinya mundur beberapa sentimeter, menciptakan jarak fisik yang mempertegas jarak emosional yang baru saja ia ciptakan. Wajahnya dipalingkan sepenuhnya dari arah Angga Raditya. Nyonya Es itu memusatkan seluruh sisa kewarasannya pada layar laptop, jemarinya mengetik deretan angka neraca lajur dengan kecepatan mekanis, seolah-olah mesin di kepalanya telah mengambil alih kendali tubuhnya yang sebenarnya sudah mati rasa.

​Setiap ketukan keyboard yang dihasilkan Anandara terdengar bagai dentingan bel kematian bagi harga diri pemuda di seberangnya.

​Angga duduk membatu. Rahangnya yang tegas masih mengeras, otot-otot di lehernya menegang menahan gejolak amarah dan harga diri yang terkoyak. Ia adalah laki-laki yang selalu menjaga jarak dari drama, laki-laki yang selalu memilih keheningan di atas konfrontasi. Namun hari ini, ia dipermalukan, ditelanjangi egonya, dan diinjak-injak niat baiknya oleh seorang gadis yang tatapannya di kantin tempo hari justru berteriak meminta pertolongan.

​Keberadaan Angga di meja itu kini tak ubahnya seperti duri dalam daging bagi Anandara. Sangat menyakitkan, sangat mengganggu, namun tak bisa dicabut tanpa merobek lebih banyak jaringan luka. Anandara memperlakukan Angga lebih buruk dari sekadar musuh; ia memperlakukan Angga seolah pemuda itu adalah udara kosong, ruang hampa yang tidak memiliki eksistensi. Jika Angga mengeluarkan suara, Anandara akan berhenti mengetik, menahan napasnya, lalu kembali bekerja seakan suara itu hanyalah halusinasi pendengaran belaka.

​Permusuhan dingin ini menciptakan tekanan atmosfer yang luar biasa menyesakkan. Angga mulai merasa frustrasi. Rasa frustrasinya bukan sekadar karena egonya yang terluka, melainkan karena kebingungan yang menyiksa otaknya. Ia adalah pria yang rasional, dan sikap Anandara sama sekali tidak memiliki benang merah yang logis.

​Kenapa? Pertanyaan itu terus berputar seperti gasing gila di kepala Angga. Kalau dia memang sebenci itu padaku, kenapa matanya kemarin menyiratkan penderitaan yang begitu dalam saat menatapku? Kenapa dia harus gemetar saat membentakku? Orang yang benar-benar benci tidak akan repot-repot menutupi matanya yang terluka.

​Namun di saat yang bersamaan, rasa perih akibat penolakan brutal tadi tak bisa diabaikan. Angga merasa menjadi orang bodoh yang mencoba mengetuk pintu rumah yang sudah dibarikade dari dalam.

​Di antara dua kutub yang saling membeku dan menyakiti itu, Sinta terjebak di tengah-tengah badai tanpa membawa payung perlindungan.

​Bidadari ceria itu duduk dengan tubuh yang kaku. Kepalanya pusing melihat lembar tugas di depannya, namun hatinya jauh lebih pusing melihat dinamika dua manusia yang paling ia pedulikan saat ini. Sinta kebingungan setengah mati. Seumur hidupnya bersahabat dengan Anandara, ia tahu Nanda memang dingin dan sinis pada laki-laki. Tapi Nanda tidak pernah sekejam dan seagresif ini. Nanda biasanya hanya akan mengabaikan, bukan menyerang secara verbal hingga menghancurkan harga diri orang lain.

​Ada apa dengan Nanda hari ini? batin Sinta merintih, melirik sahabatnya yang berwajah pucat pasi itu. Apa perutnya sesakit itu karena PMS sampai dia nggak bisa mengontrol emosinya? Atau... ada hal lain yang Nanda benci dari Angga yang nggak gue tahu?

​Kepanikan dan ketakutan bahwa Angga akan membenci kelompok ini—dan berujung membencinya juga—membuat Sinta merasa harus segera bertindak. Ia tidak bisa membiarkan hawa dingin ini terus mencekik mereka hingga tugas ini selesai berminggu-minggu ke depan. Ia harus menjadi pawang bagi keduanya. Ia harus mencairkan suasana.

​Sinta menelan ludah, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia meletakkan pulpennya dan menepuk kedua tangannya pelan, sebuah usaha artifisial untuk memecah keheningan yang mematikan itu.

​"Ehem... oke, guys," suara Sinta terdengar sedikit bergetar di awal, namun ia memaksakan sebuah senyum yang sangat lebar dan ceria. Ia menatap Angga, lalu menatap Anandara secara bergantian. "Karena kita bertiga udah ditakdirkan sama generator Pak Anton buat sehidup semati di tugas ini, gimana kalau kita mulai kerjain dengan damai? Laporan keuangan ini nggak bakal kelar kalau kita cuma diem-dieman kayak lagi di ruang tunggu dokter gigi."

​Anandara tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar laptop, namun jari-jarinya berhenti mengetik.

​Angga hanya diam, matanya menatap Sinta sekilas sebelum kembali menatap kosong ke arah lembaran kertas di depannya.

​Melihat respons yang nihil itu, Sinta tidak menyerah. Ia merogoh tas ranselnya yang ada di bawah meja, lalu mengeluarkan sebuah kotak plastik kecil berisi permen jeli beraneka rasa.

​"Nih, gue bawa supply gula biar otak kita nggak error," ucap Sinta riang, membuka tutup kotak itu dan menyodorkannya ke tengah meja. "Ayo diambil. Kata artikel yang gue baca, mengunyah yang manis-manis bisa nurunin hormon kortisol yang bikin stres. Nanda, lo mau yang rasa stroberi kan kesukaan lo?"

​Sinta mengambil sebutir permen jeli berwarna merah dan menyodorkannya langsung ke depan wajah Anandara.

​Anandara menatap permen itu. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh batu bata. Ia tahu apa yang sedang Sinta lakukan. Ia tahu sahabatnya itu sedang ketakutan dan berusaha keras menyatukan mereka. Hati Anandara menjerit perih, menyadari betapa kerasnya Sinta berjuang demi menciptakan harmoni, sementara dirinya baru saja menciptakan neraka.

​Demi Sinta, Anandara memaksa dirinya memutar tubuh sedikit menghadap meja. Ia menerima permen itu dari tangan Sinta. Sebuah senyum tipis, sangat tipis dan terlihat rapuh, akhirnya muncul di wajah Nyonya Es itu.

​"Makasih, Sin," bisik Anandara pelan. Ia memasukkan permen itu ke dalam mulutnya. Rasa manis buatan itu meledak di lidahnya, berbaur dengan rasa asin dari air mata yang tertahan di kerongkongannya, menciptakan sensasi ironi yang memuakkan.

​Sinta menghela napas lega melihat Anandara meresponsnya dengan baik. Separuh misinya berhasil. Kini, ia menoleh ke arah Angga.

​Sinta mengambil sebutir permen jeli berwarna hijau dan menyodorkannya dengan senyum paling tulus dan hangat yang ia miliki. Matanya memancarkan permohonan maaf yang tak terucapkan atas nama sahabatnya.

​"Angga, lo mau rasa melon? Ini enak banget loh, manisnya pas, nggak bikin enek," tawar Sinta lembut. "Ayo dimakan, biar lo nggak terlalu tegang."

​Angga menatap permen hijau di tangan Sinta, lalu menatap mata gadis itu. Di sana, Angga melihat sebuah ketulusan murni. Sinta adalah antitesis dari Anandara. Jika Anandara adalah badai salju yang mematikan dan penuh rahasia, maka Sinta adalah api unggun yang menyala terang tanpa tendensi apa pun. Gadis ini berusaha sangat keras untuk menjahit kembali suasana yang robek.

​Meskipun hatinya masih dipenuhi oleh kekecewaan dan amarah akibat hinaan Anandara, Angga bukanlah pria yang tidak tahu berterima kasih. Ia tidak ingin menghukum Sinta atas kesalahan sahabatnya.

​Angga mengangkat tangannya dan mengambil permen itu dari tangan Sinta. Jari mereka tak sengaja bersentuhan tipis.

​"Makasih, Sinta," ucap Angga dengan nada bariton yang kini melembut. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, menghargai usaha gadis itu. "Gue suka rasa melon."

​"Syukurlah!" Sinta memekik kecil, kebahagiaan luar biasa meledak di dadanya hingga pipinya merona merah jambu. Ia merasa berhasil. Ia merasa usahanya dihargai oleh pemuda yang ia cintai. "Oke, sekarang karena kita bertiga udah makan permen perdamaian, mari kita bedah skandal perusahaan bodong ini!"

​Dengan semangat yang menyala-nyala, Sinta mulai membacakan paragraf demi paragraf dari lembar studi kasus itu, sesekali melemparkan pertanyaan ringan kepada Angga yang direspons pemuda itu dengan sabar. Sinta juga terus berusaha melibatkan Anandara, menanyakan validasi atas opini-opini yang ia dan Angga temukan.

​Anandara menjawab pertanyaan Sinta dengan profesional dan sangat singkat, namun ia tetap konsisten mempertahankan dinding kebisuan dengan Angga. Jika Angga yang bertanya atau memberikan opini, Anandara tidak akan menjawabnya, melainkan Sinta yang akan bertindak sebagai penerjemah dan penyambung lidah di antara mereka.

​Sebuah dinamika yang sangat menyedihkan dan mencekik perlahan terbentuk di meja kelompok lima itu.

​Di kursi barisan paling ujung ruangan, di meja kelompok satu, Dimas duduk dengan postur setengah bersandar. Buku paket tebal terbuka di depannya, namun tak satu pun kalimat yang masuk ke otaknya. Kiera dan Budi, dua anggota kelompoknya, sedang berdebat seru tentang teori akuntansi, namun bagi Dimas, suara mereka hanyalah white noise yang tak bermakna.

​Fokus mata elang di balik kacamata frame hitam itu kembali terkunci pada meja kelompok lima.

​Dimas mengamati semuanya. Ia melihat bagaimana Sinta menyodorkan permen dengan senyum yang begitu tulus, ia melihat bagaimana Angga menerima permen itu dengan senyum tertahan, dan ia melihat bahu Anandara yang menegang kaku seolah sedang disetrum aliran listrik bertegangan tinggi saat melihat interaksi kedua manusia itu.

​Sebuah helaan napas yang sangat berat, sarat akan ironi dan rasa kasihan yang mendalam, lolos dari bibir Dimas. Ia kembali menggelengkan kepalanya dengan lambat.

​Sandiwara yang menyedihkan, batin Dimas mengutuk dalam kesunyiannya. Tiga manusia buta yang sedang berjalan beriringan menuju jurang kehancuran mereka sendiri.

​Dimas menatap wajah Sinta yang bersemu merah. Hati pemuda itu berdesir nyeri. Lo terlalu polos, Sin. Lo senyum bahagia karena merasa berhasil mendamaikan mereka, padahal lo nggak tahu bahwa usaha lo justru sedang menyayat-nyayat hati sahabat lo sendiri secara perlahan. Lo lagi ngasih racun yang dibungkus permen jeli ke Anandara.

​Lalu tatapan Dimas beralih pada sosok Anandara yang kaku. Rasa hormat sekaligus rasa iba yang sangat besar mengalir dalam diri Dimas untuk Nyonya Es itu.

​Dan elo, Nanda... Dimas memicingkan matanya. Sebesar apa hutang nyawa lo sama Sinta sampai lo rela merobek dada lo sendiri dan membiarkan jantung lo diinjak-injak setiap harinya? Lo pikir dengan membenci Angga, perasaan lo bakal mati? Nggak. Lo cuma menunda ledakan bom waktu yang akan ngancurin kalian bertiga nanti.

​Dimas menutup buku paketnya dengan sedikit kasar, membuat Kiera dan Budi menoleh kaget. "Gue yang kerjain bagian laporan arus kas. Kalian berdua cari jurnal penyesuaiannya," perintah Dimas datar, memutus perdebatan kedua temannya secara otoriter sebelum ia kembali tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

​Teng! Teng! Teng!

​Suara bel kampus yang melengking panjang akhirnya berbunyi, menandakan berakhirnya siksaan di kelas Pak Anton siang itu. Suara itu terdengar seperti lonceng pembebasan dari neraka bagi Anandara.

​"Baik, waktu habis. Sisa pengerjaan dilakukan di luar kelas. Laporan dikumpulkan minggu depan tepat pukul delapan pagi," tutup Pak Anton sambil merapikan kertas-kertasnya dan berjalan keluar kelas tanpa menoleh lagi.

​Begitu sosok dosen itu menghilang dari balik pintu, Anandara langsung menutup laptopnya dengan kecepatan tak wajar. Gerakannya sangat terburu-buru, seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari bangunan yang akan runtuh. Ia memasukkan laptop dan buku-bukunya ke dalam tas jinjingnya secara serampangan, sesuatu yang sangat bertentangan dengan sifat perfeksionisnya.

​"Nan? Lo kok buru-buru amat?" tanya Sinta keheranan sambil memasukkan kotak permennya. "Kita kan masih ada jeda istirahat sejam sebelum kelas praktikum."

​"Perut gue sakit lagi, Sin. Mualnya kumat. Gue mau ke toilet bentar, abis itu gue mau tunggu di musala aja sambil tiduran," jawab Anandara cepat, suaranya bergetar samar. Ia tidak sanggup menatap Sinta, apalagi menatap bayangan Angga dari sudut matanya. "Lo ke kantin aja duluan sama anak-anak."

​"Eh, ya udah gue temenin ya ke musala?" tawar Sinta cemas.

​"Nggak usah! Gue butuh sendirian!" potong Anandara sedikit terlalu keras, lalu buru-buru melembutkan nadanya menyadari kesalahannya. "Maksud gue... gue butuh rebahan tenang, Sin. Kalau di kantin bau makanan bikin gue makin mual. Lo makan aja gih, kasihan lo belum makan siang. Nanti gue nyusul ke kelas."

​Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Anandara menyandang tasnya dan langsung membalikkan badan. Ia berjalan setengah berlari meninggalkan meja kelompok lima, menerobos kerumunan mahasiswa di pintu keluar. Nyonya Es itu kabur, melarikan diri dari medan perang yang telah membumihanguskan benteng kewarasannya.

​Di meja itu, Angga berdiri perlahan. Ia menatap punggung Anandara yang menghilang di balik pintu dengan tatapan elang yang kelam, dipenuhi oleh awan mendung kebingungan dan rasa frustrasi yang kian memuncak. Pemuda itu menghela napas panjang, mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan teka-teki gadis itu.

​Tiba-tiba, sebuah tepukan keras mendarat di bahu Angga.

​Angga menoleh dan mendapati Dimas sudah berdiri di sebelahnya dengan tas ransel yang tersampir santai. Kacamata Dimas memantulkan cahaya lampu kelas, menyembunyikan kilatan mata yang penuh perhitungan.

​"Muka lo udah kusut banget kayak kanebo kering belum dicelup air," ucap Dimas dengan nada datar andalannya. Ia menarik tali ranselnya. "Ayo ke kantin. Otak lo butuh karbohidrat buat nyerna penolakan brutal tadi."

​Angga mendengus sinis, tak punya tenaga untuk membalas ejekan temannya. Ia menoleh sekilas pada Sinta yang sedang dipanggil oleh Kiera dari barisan depan.

​"Duluan ya, Sinta," pamit Angga singkat.

​"Oh, iya! Nanti malam gue chat ya buat bahas pembagian tugasnya lebih lanjut!" balas Sinta dengan senyum cerah dan lambaian tangan.

​Angga hanya mengangguk sebelum berjalan keluar kelas mengikuti langkah Dimas.

​Dua pemuda itu berjalan dalam keheningan menyusuri koridor fakultas yang mulai padat oleh mahasiswa kelaparan. Langkah kaki mereka seirama, namun pikiran mereka mengembara ke arah yang berbeda. Setibanya di kantin fakultas yang riuh, Dimas memilih sebuah meja kosong di sudut paling luar yang bersebelahan dengan taman, jauh dari hiruk pikuk pusat kantin.

​Dimas memesan dua porsi mi ayam dan dua gelas es teh manis, meletakkannya di atas meja, lalu duduk berhadapan dengan Angga.

​Pemuda tampan itu tidak menyentuh sumpitnya. Angga duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di depan dada. Matanya menatap lurus ke arah lapangan basket di kejauhan, namun pikirannya masih terjebak di meja kelompok lima beberapa menit yang lalu. Rahangnya kembali mengeras.

​Dimas mengaduk mi ayamnya dengan pelan, membiarkan keheningan mengambil alih hingga sahabatnya itu siap memuntahkan beban di kepalanya.

​"Gue benar-benar nggak habis pikir, Dim," suara bariton Angga akhirnya memecah keheningan meja mereka. Nada suaranya sarat akan kekalahan, kebingungan, dan rasa frustrasi yang mendalam.

​Dimas menghentikan adukannya. Ia mendongak, menatap mata Angga. "Nggak habis pikir soal apa? Soal tugas Pak Anton atau soal Nyonya Es yang baru aja menguliti harga diri lo hidup-hidup?"

​Angga memejamkan matanya sekilas, menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja kayu kantin. Matanya yang tajam menatap Dimas dengan intensitas keputusasaan yang nyata.

​"Gue heran banget sama dia, Dim," desis Angga pelan, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. Tangannya mengepal erat di atas meja. "Gue nggak bodoh. Gue bisa bedain mana tatapan orang yang benci, dan mana tatapan orang yang memendam sesuatu. Waktu di kantin tempo hari, jelas-jelas sorot matanya itu... sorot matanya itu penuh luka, Dim. Kayak dia lagi minta tolong, kayak ada sebuah pengharapan yang dia tahan mati-matian."

​Angga mengusap wajahnya kasar, membuang pandangannya ke arah langit-langit kantin. "Tapi tadi... di kelas tadi, disaat gue mencoba membuka jalan buat sekadar ngobrol normal sama dia... kaya diputus begitu aja jalannya. Temboknya seketika setinggi langit. Dia natap gue dengan penuh rasa jijik, maki-maki gue di depan umum, dan ngedorong gue ke arah Sinta seolah gue ini cuma pion yang bisa dia pindah-pindahin sesuka hatinya."

​Angga kembali menatap Dimas, matanya memancarkan rasa frustrasi yang nyaris mematahkan egonya. "Gue bingung, Dim. Apa yang salah sama gue? Apa gue salah baca matanya? Atau dia emang psikopat yang hobi mainin mental orang?"

​Mendengar rentetan keputusasaan dari sahabatnya itu, Dimas tidak langsung menjawab. Ia mengambil sumpitnya kembali, menyuapkan segulung mi ke dalam mulutnya, dan mengunyahnya dengan sangat lambat. Di balik wajahnya yang sedatar tembok, otak Dimas sedang berputar mencari kalimat yang tepat. Ia tahu kebenarannya, namun ia tidak bisa menyerahkannya begitu saja di atas nampan perak.

​Dimas menelan makanannya, lalu menyeruput es teh manisnya hingga setengah gelas. Ia meletakkan gelas itu kembali dengan bunyi klak yang pelan.

​"Gue udah pernah bilang sama lo kemarin malam di kafe," ucap Dimas dengan nada yang sangat tenang, sedingin es namun tajam menembus kesadaran Angga. "Mungkin jalan lo bukannya diputus. Mungkin jalan itu emang disengaja diblokir dari dalam."

​"Diblokir untuk apa, Dim?! Untuk apa?!" tuntut Angga tak sabar, suaranya sedikit meninggi. "Kalau dia emang punya perasaan yang sama, atau setidaknya tertarik sama gue, kenapa dia harus bersikap sekejam itu? Kenapa dia harus bawa-bawa Sinta?"

​Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam mata elang Angga.

​"Karena kadang, Ngga," bisik Dimas penuh penekanan, menyuarakan jeritan hati Anandara yang ia baca dari barisan belakang. "Orang yang paling rela hancur adalah orang yang sedang melindungi satu-satunya hal berharga yang mereka miliki."

​Mata Angga menyipit. Otak cerdas pemuda itu kembali dipaksa mencerna teka-teki filsafat yang dilemparkan Dimas. Melindungi sesuatu yang berharga. Angga mengingat kembali adegan di meja. Ia mengingat bagaimana Anandara mati-matian memalingkan wajah. Ia mengingat tangan gadis itu yang bergetar hebat saat menunjuk Sinta. Dan ia mengingat bagaimana Sinta memohon padanya dengan mata berkaca-kaca demi membela Anandara.

​Seketika, sebuah teori yang sangat gila, sangat tidak masuk akal, namun sangat mungkin terjadi, menghantam isi kepala Angga seperti kilatan petir di siang bolong.

​Sinta mencintaiku, batin Angga, merangkai kepingan puzzle itu dengan cepat. Sinta secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Dan Anandara... Nyonya Es itu tahu bahwa sahabatnya mencintaiku.

​Mata elang Angga melebar perlahan seiring dengan realisasi yang menyeramkan itu. Napasnya tercekat di tenggorokan.

​Apakah dia... apakah Anandara sengaja memakiku dan mengusirku demi Sinta? batin Angga menjerit. Apakah tatapan luka di kantin waktu itu adalah tatapan seorang gadis yang sedang merelakan perasaannya sendiri karena terjebak oleh hutang persahabatan?

​Jika teori itu benar, maka kekejaman Anandara hari ini bukanlah sebuah hinaan. Penolakan itu adalah bentuk pengorbanan yang paling brutal, paling berdarah, dan paling menyayat hati yang pernah dilakukan seorang gadis demi sahabatnya.

​Melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah Angga yang perlahan menyadari kebenarannya, sebuah senyum simpul yang sangat tipis muncul di sudut bibir Dimas. Tugasnya sebagai pengamat telah selesai. Ia telah memberikan kailnya, dan Angga telah menangkap umpannya.

​"Makan mi ayam lo sebelum ngembang, Ngga," pungkas Dimas santai, kembali menyuapkan mi ke mulutnya seolah ia baru saja membahas cuaca hari ini. "Dunia nggak akan kiamat cuma karena cewek. Tapi kalau lo emang udah nemu jawabannya, langkah selanjutnya sepenuhnya ada di tangan lo. Ingat, Nyonya Es itu rela membunuh hatinya sendiri demi pertahanannya. Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh lo berani berdarah buat nembus temboknya?"

​Angga menatap mangkuk mi di depannya dengan tatapan kosong. Di dalam dadanya, rasa marah dan harga diri yang terluka tadi telah lenyap tak berbekas, menguap ke udara, digantikan oleh sebuah rasa kagum yang menyiksa dan tekad yang membara hebat.

​Ia kini tahu mengapa mata itu memancarkan luka. Dan Angga bersumpah pada dirinya sendiri, di tengah kebisingan kantin fakultas siang itu, bahwa ia tidak akan membiarkan Anandara terus-menerus menyiksa dirinya sendiri dalam kebohongan. Ia akan meruntuhkan tembok es itu, meski ia harus menghancurkan tangannya sendiri dalam prosesnya.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!