NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Terjerat dalam Dekapannya

​Di bawah langit Jakarta yang pekat, "Sky Palace," kelab malam eksklusif milik Keluarga Lesmana, tampak bersinar benderang. Tempat itu adalah pusat kemewahan dan kesenangan duniawi yang hanya bisa dijamah oleh kaum jetset.

​Udara di sana pekat dengan aroma parfum mahal dan gengsi. Dentum musik yang dekaden terus menggema, memanjakan telinga mereka yang haus akan hiburan malam.

​Tania Santoso berada di sana bersama sahabat baiknya, Ghina, untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman kuliah mereka. Malam itu, Tania mengenakan gaun silk camisole berwarna pucat yang senada dengan kulit putih susunya yang merona. Lekuk tubuhnya terpahat sempurna, sementara rambut panjangnya yang bergelombang jatuh dengan patuh di bahu. Keindahannya begitu memikat hingga sulit bagi siapa pun untuk memalingkan muka.

​Ia duduk tenang di sudut ruangan VVIP, tampak kontras dengan kegaduhan di sekelilingnya. Meski diam, ia tetap menjadi pusat perhatian. Beberapa pemuda mencoba mendekat untuk sekadar berbasa-basi, namun Tania menolak mereka semua dengan senyum tipis dan kata-kata yang sopan namun tegas.

​Lama-kelamaan, suasana ruangan yang penuh sesak dan berisik itu membuatnya sesak napas. Ia butuh udara segar.

​"Aku ke toilet sebentar, ya," pamit Tania pada Ghina yang sedang asyik berdansa.

​Ghina menoleh dengan mata berbinar penuh semangat. "Mau kuantar?"

​"Tidak usah, sebentar saja kok." Tania tidak ingin merusak suasana hati sahabatnya. Ia berdiri dan melangkah keluar sendirian.

​Saat berjalan kembali dari toilet, di tikungan koridor yang remang, Tania berjalan agak terburu-buru. Ia tidak menyadari ada seseorang yang datang dari arah berlawanan.

​Bruk—

​Tania menabrak dada yang bidang dan keras. Benturan itu begitu kuat hingga Tania yang mengenakan sepatu hak tinggi kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke belakang.

​"Ah!" Tania memekik kecil dan jatuh terduduk di lantai. Rasa nyeri yang tajam langsung menjalar dari pergelangan kakinya.

​Sambil meringis, ia mengusap kakinya dan mendongak, ingin melihat siapa pria yang telah menabraknya.

​Pandangannya tertumpu pada wajah yang luar biasa dingin dengan garis rahang yang tegas. Sepasang matanya tajam bagai sembilu, memancarkan aura otoritas yang menekan—ciri khas seseorang yang sudah lama berada di puncak kekuasaan. Dingin dan tak tersentuh, seolah kehadirannya bisa membekukan udara di sekitar mereka.

​Hans Lesmana sedang melangkah sambil tenggelam dalam pikirannya saat seseorang tiba-tiba menabraknya. Tatapannya seketika berubah sedingin es. Baginya, setiap wanita yang sengaja menabraknya di tempat seperti ini pasti punya maksud terselubung dan ambisi yang picik.

​Ekspresinya datar, tanpa niat sedikit pun untuk menolong. Ia hanya berdiri di sana, memandang rendah ke arah wanita di bawahnya dengan tatapan menyelidik yang sinis.

​Mata Tania memerah karena menahan sakit. Air mata mulai menggenang di matanya yang indah saat ia memelototi pria itu dengan perasaan dongkol. Bagaimana bisa ada pria semenyebalkan ini? Tidak punya tata krama sama sekali!

​Hans terpaku saat tatapannya bertemu dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh amarah itu.

​Hanya dalam satu tatapan, kebisingan di sekeliling mereka seolah sirna. Waktu seakan berhenti berputar.

​Mata itu... begitu murni dan jernih. Sebuah kemurnian yang rasanya tidak pantas berada di dunia yang penuh kepalsuan ini. Tania tampak seperti anak kucing yang terluka namun tetap berusaha mengeluarkan cakarnya—tampak rapuh sekaligus keras kepala.

​Napas Hans tercekat. Sebuah debaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya melonjak di dadanya. Rasa posesif yang kuat tiba-tiba menyapu dirinya, membuatnya ingin menyembunyikan pemilik mata ini agar tidak ada orang lain yang bisa memandangnya.

​Seolah digerakkan oleh kekuatan gaib, Hans membungkuk dan dengan hati-hati mengangkat Tania dalam dekapan ala princess carry, seolah-olah ia sedang memegang harta karun yang paling berharga.

​Di bawah tatapan tak percaya asisten pribadinya, Asisten Lian, yang mulutnya hampir menganga jatuh ke lantai karena syok, Hans berjalan lurus menuju ruang VVIP pribadinya.

​Perasaan melayang yang tiba-tiba membuat Tania berteriak kecil. Secara insting, ia melingkarkan tangannya di leher Hans agar tidak jatuh. Namun, sedetik kemudian ia sadar dan berteriak marah, "Siapa kamu? Turunkan aku sekarang, dasar penjahat!"

​Hans tidak berhenti. Ia menggendong Tania dengan mantap, mengabaikan segala rontaan wanita itu. Ia menunduk menatap Tania dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.

​"Penjahat?" gumamnya pelan. Suaranya rendah dan magnetis, terselip nada geli di dalamnya.

​Wanita ini adalah orang pertama yang berani melabelinya seperti itu tepat di depan wajahnya. Menarik.

​"Iya, kamu penjahat! Penjahat yang tidak punya perasaan!" Tania mengerucutkan bibirnya, berusaha mendorong dada pria itu.

​Namun, lengan pria itu tak bergeming sedikit pun, terasa seperti jepitan besi yang menguncinya rapat.

​Asisten Lian yang mengekor di belakang benar-benar kehilangan kata-kata. Siapa—siapa wanita ini? Dia berani membentak Tuan Hans? Dan Tuan Hans justru... membawanya pergi? Otaknya dipenuhi tanda tanya besar.

​Ia tidak berani tertinggal dan segera mempercepat langkahnya. Perlu diketahui bahwa Tuan Hans adalah sosok "Malaikat Maut" yang terkenal di ibu kota; sangat dingin terhadap wanita dan memiliki tingkat fobia kuman yang akut. Biasanya, ia tidak akan melirik wanita mana pun untuk kedua kalinya, tapi sekarang ia malah menggendong seorang wanita secara sukarela. Ini lebih mustahil daripada matahari terbit dari barat!

​Tania masih merengut. Sejak kecil ia selalu dimanja oleh keluarganya; ia belum pernah diperlakukan sewenang-wenang seperti ini. Sudahlah ditabrak, sekarang malah diculik tanpa permintaan maaf. Pria ini benar-benar tidak tahu aturan!

​Ia melotot sebal, meski matanya yang berkaca-kaca justru membuatnya tampak menggemaskan dan malang di saat yang bersamaan.

​Hans membawa Tania masuk ke dalam ruang pribadinya. Beberapa orang kepercayaan di dalam, termasuk Yohan, seketika membatu melihat pemandangan itu. Mulut mereka menganga cukup lebar untuk dimasuki sebutir telur.

​Tuan Hans menggendong wanita? Dan wanita secantik itu? Apakah dunia sedang kiamat?

​Yohan adalah yang pertama bereaksi. Ia membelalakkan mata, menunjuk Tania, dan terbata-bata, "Han—Kak Hans, apakah ini... Kakak Ipar?"

​Melihat wajah cantik Tania dan tatapan Hans yang luar biasa fokus, Yohan merasa otaknya mengalami korsleting. Kata-kata itu meluncur begitu saja.

​Hans memberinya tatapan tajam yang dingin. Yohan langsung bungkam dan menciut, mengutuk mulutnya yang terlalu cepat bicara.

​Tania merasa kepalanya sedikit pening, dan detik berikutnya, tubuhnya mendarat di sofa yang sangat empuk.

​Ia membuka matanya dan menyadari dirinya berada di sebuah ruangan megah. Udara di sana beraroma mewah yang menenangkan, dengan lampu kristal yang memantulkan cahaya cemerlang. Setiap detail ruangan itu menunjukkan kemewahan yang luar biasa—sangat kontras dengan kondisinya yang berantakan.

​Hans berlutut di sampingnya. Sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan tekanan yang mengintimidasi.

​Dengan hati-hati, pria itu mengangkat kaki kanan Tania yang terluka. Sepatu hak tinggi Jimmy Choo hitam itu tampak kontras di atas kulit pergelangan kakinya yang putih mungil.

​Jemari Hans yang panjang dan tegas dengan lembut membuka kancing sepatu tersebut dan melepaskannya. Saat tangannya menyentuh pergelangan kaki Tania, kulit Tania terasa dingin, sementara telapak tangan pria itu terasa panas membakar. Tania tersentak dan secara insting mencoba menarik kakinya.

​Rasa nyeri kembali menusuk, membuat Tania mendesis kesakitan. Alisnya yang anggun bertaut rapat, dan butiran keringat dingin mulai muncul di keningnya.

​"Jangan bergerak," ucap Hans dengan suara rendah, penuh otoritas yang tak terbantahkan.

​Gerakannya berubah sangat lembut saat memeriksa pergelangan kaki Tania yang mulai memerah dan bengkak.

​"Sakit?" tanyanya. Suaranya terdengar sangat lembut, berbanding terbalik dengan sikap dinginnya tadi.

​"Iya!" Tania mengangguk kecil dengan nada suara yang bergetar menahan tangis.

​Gerakan tangan Hans terhenti sejenak. Tatapannya tertuju pada dahi Tania yang berkerut, dan matanya semakin menggelap dalam diam.

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!