NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Manipulasi Sampel

Ruang lab steril. Dokter Tirta memutar label tabung sampel dengan gerakan sangat terlatih.

Sabrina mengamati dari balik celah panel pintu baja tahan karat. Hawa pendingin sentral menusuk kulit pucatnya tanpa ampun. Luka jahitan berlapis di perut bawahnya berdenyut hebat setiap kali ia menarik napas panjang.

Ia berdiri tanpa alas kaki di atas lantai ubin lab bersuhu lima belas derajat. Sepatu hak pendeknya sudah ia lepas dan tinggalkan di ujung lorong luar demi langkah senyap tanpa gaung.

Bau alkohol medis pekat menguasai udara, menusuk tajam ke dasar paru-paru, menutupi aroma karat darah dari korsetnya yang lembap. Darah nifasnya merembes lambat. Otot rahimnya menjerit memohon istirahat, tapi insting keibuannya membakar habis segala batas fisik yang ada.

Di dalam ruangan berpenerangan putih menyilaukan itu, Dokter Tirta melirik ke arah sudut atas dinding. Lampu indikator merah pada kamera pengawas mati. Ruangan ini buta secara digital. Tidak ada rekaman. Tidak ada saksi mata.

Pria berjubah putih steril itu merogoh saku jasnya. Jemarinya mengeluarkan sebuah tabung vakum kecil berisi cairan merah pekat. Darah segar. Ukuran tabung dan warna label ungunya seratus persen identik dengan tabung sampel milik Sebastian.

Tangan berlapis lateks itu bergerak lincah, memisahkan tabung asli berisi darah anak Sabrina dari atas nampan metal, lalu menggantinya dengan tabung dari dalam saku. Sebuah sabotase medis kelas kakap.

Sabrina memejamkan matanya rapat-rapat. Ia membiarkan hawa es dari pintu logam meresap menenangkan keningnya yang berkeringat. Detak jantungnya sengaja ia turunkan ke ritme paling lambat. Relaksasi taktis.

Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia mengingat kembali kehangatan punggung kecil Sebastian di dadanya. Anak itu bernapas dengan damai. Anak itu hidup mengandalkan detak jantung ibunya.

Dan bajingan bersarung tangan di depannya ini sedang mencoba menghapus masa depan identitas anak itu dari muka bumi.

Ruang napas spiritualnya selesai. Kegelapan mutlak mengambil alih sistem sarafnya. Mode predator menyala penuh.

Pintu geser otomatis itu terbuka mulus tanpa suara gesekan mesin. Sabrina meluncur masuk ke dalam ruang lab ibarat bayangan pencabut nyawa.

Tirta baru saja menginjak pedal tong sampah biohazard. Mulut tong terbuka lebar. Ia bersiap menjatuhkan tabung darah asli Sebastian ke tumpukan limbah medis berbisa untuk melenyapkan bukti permanen.

Tangan kiri Sabrina melesat membelah udara. Ujung jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Tirta tepat di titik saraf medianus. Ia menekan titik kelemahan anatomi tersebut dengan torsi maksimal, memutus aliran sinyal motorik seketika.

"Ah!" Tirta memekik tertahan kaget. Otot kelima jarinya lumpuh seketika dan terbuka lebar. Tabung kaca berisi darah Sebastian tergelincir dari genggamannya menuju mulut tong sampah.

Tangan kanan Sabrina melayang merendah, menangkap tabung kecil itu di udara hanya satu milimeter sebelum menyentuh pinggiran tong sampah. Refleks dan presisi mematikan seorang pembunuh bayaran tingkat dewa.

"Gerakan tanganmu terlalu kaku untuk ukuran penipu, Dokter," ucap Sabrina pelan. Nada suaranya mendatar, sedingin lantai keramik yang ia injak.

Tirta memutar tubuhnya panik. Wajahnya memucat pasi melihat istri tiran Halim tiba-tiba berdiri di ruang steril ini. Jantung dokter itu berdegup kencang hingga napasnya memburu berantakan.

"Nyonya! Apa... apa yang Anda lakukan di sini?" Tirta tergagap, mencoba menarik paksa tangannya dari cengkeraman baja Sabrina, namun gagal total. "Anda dilarang keras masuk ke zona pengujian!"

"Aku sedang memastikan transparansi standar protokol Halim." Sabrina mengangkat tabung darah Sebastian tepat di depan hidung Tirta.

"Golongan darah O rhesus positif dari bayi acak di rumah sakit bersalin lain? Begitu cara kerjanya? Cukup untuk mengacaukan hasil sekuensing dan membuktikan anakku bukan darah daging Adrian."

Keringat dingin menetes membasahi pelipis Tirta. "Saya sungguh tidak mengerti tuduhan Anda. Itu... itu tabung limbah bekas pasien balita tadi siang."

"Pembohong yang buruk." Sabrina melangkah maju menembus zona personal pria itu. Ia mendorong keras dada Tirta menggunakan sikunya hingga punggung dokter itu menghantam pinggiran rak metal. Bunyi logam beradu tulang bergema tumpul memecah kesunyian lab.

"Berapa ratus juta Kania mentransfer uang pelicin ke rekening luar negerimu, Dokter?" Sabrina memojokkan mangsanya.

Tirta menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. "Anda memfitnah kredibilitas saya! Saya akan memanggil tim keamanan!"

Pria itu memaksakan diri mendorong bahu Sabrina ke samping untuk melarikan diri menuju pintu.

Sebuah kesalahan fatal.

Sabrina tidak menangkis dorongan itu dengan tangan. Ia memutar pinggulnya sedikit ke kiri, merendahkan titik berat badannya, lalu menyapu kaki kanan Tirta menggunakan hantaman lutut. Serangan presisi tepat di sisi luar tempurung lutut membuat tendon kaki pria itu kehilangan fungsi tumpuan secara instan.

Tirta merosot jatuh ke lantai keramik sambil mengerang menahan sakit yang menyengat sarafnya.

Sabrina merenggut kasar kerah jas putih Tirta, menariknya kembali berlutut secara paksa. Rasa ngilu di rahim Sabrina berteriak protes akibat gerakan ekstrem ini, tapi lonjakan adrenalin meredam semuanya menjadi sensasi kebas yang bisa dikendalikan. Tangannya menyambar cepat sebuah pisau bedah bermata karbon dari atas nampan perak di dekat mesin pemusing sentrifugal.

Ujung tajam bilah hitam itu ia tempelkan menyamping tepat di bawah rahang kiri Tirta. Denyut nadi karotis pria itu berdetak gila-gilaan mencium dinginnya baja pembunuh.

"Panggil keamanan sekarang," tantang Sabrina berbisik lamat-lamat. Ia mencondongkan wajahnya, menatap lurus menembus kedalaman pupil Tirta yang membesar karena teror.

"Biar mereka melihat langsung anatomi apa yang kubedah di lehermu malam ini. Kau tahu suamiku, Dokter Tirta. Kau tahu cara Adrian menghukum pengkhianat internal. Dia menyemen musuhnya hidup-hidup di pondasi gedung barunya. Aku jauh lebih berbelas kasih. Aku membiarkanmu mati tenang kehabisan darah di lantai sterilmu sendiri."

"Jangan... tolong ampun..." Napas Tirta bergetar hebat. Air mata kepanikan merusak posisi kacamata bacanya.

"Nona Kania mengancam akan menghancurkan lisensi medis saya. Dia memegang bukti kelalaian prosedur saya saat menangani pasien gagal jantung tahun lalu. Saya terpaksa menuruti perintahnya, Nyonya."

"Itu bukan urusanku." Sabrina menekan pisau bedah itu satu milimeter lebih dalam. Sebuah garis merah tipis memanjang muncul di kulit leher sang dokter. Darah menetes pelan.

"Kau masuk tanpa izin ke wilayah anakku. Kau menargetkan nyawaku. Kau harus membayar mahal harganya."

"Sumpah, Nyonya! Saya akan membuang sampel palsu itu!" Tirta terisak panik. Ia tidak berani menelan ludahnya sendiri karena takut lehernya tergores makin dalam. "Saya akan kembalikan tabung anak Anda ke rak. Saya mohon, angkat pisau itu."

Sabrina menahan pergerakan pisaunya. Ia tidak membutuhkan mayat dokter pengecut ini di lantai. Ia membutuhkan instrumen hidup untuk meremukkan Kania di depan seluruh dewan direksi besok pagi.

"Kau tidak akan membuang apa pun," perintah Sabrina dingin tak terbantahkan. "Kau akan memasukkan tabung asli anakku ke dalam mesin itu. Kau biarkan proses sekuensing berjalan penuh tanpa intervensi zat kimia apa pun."

Tirta mengangguk kaku patah-patah. "Baik. Tentu, Nyonya. Sampel asli Tuan Muda Sebastian yang akan diproses."

"Dan kau harus memastikan Kania tidur lelap dengan perasaan menang malam ini." Sabrina memutar pisau bedah di tangannya dengan keluwesan mengerikan.

"Hubungi Kania sekarang. Katakan padanya rencanamu berhasil tanpa celah. Katakan kau sudah membuang darah Sebastian."

"Dia... dia pasti menagih bukti fisik dokumennya besok pagi sebelum rapat dimulai."

"Tentu saja dia akan menagihnya." Sabrina menyeringai tipis. Bukan senyum lega, melainkan seringai iblis yang menemukan taktik penjagalan paling efisien.

"Besok pagi, cetak hasil tes DNA aslinya. Hasil yang menyatakan Sebastian mutlak anak biologis Adrianus Halim. Lalu, masukkan kertas itu ke dalam amplop cokelat tebal berlogo rumah sakit Halim. Segel dengan lilin merah resmi."

Mata Tirta membelalak. Ia akhirnya memahami rancangan manipulasi balik yang disiapkan wanita pucat di depannya ini.

"Biarkan Kania membawa amplop itu ke meja rapat dewan direksi besok pagi," lanjut Sabrina. Ritme bicaranya konstan membuai alam bawah sadar.

"Biarkan jantung Kania berdebar penuh harap saat dia melempar amplop cokelat itu ke tengah meja. Biarkan dia membuka sendiri pintu nerakanya di depan Tante Rosalinda dan seluruh sesepuh klan."

"Anda secara tidak langsung memberikan pistol padanya agar dia menembak kepalanya sendiri," bisik Tirta takjub berbalut ngeri.

"Itu balasan paling manusiawi untuk anjing betina yang mencoba merusak nama putraku." Sabrina membuang pisau bedah itu ke dalam wastafel aluminium. Bunyi denting logam beradu nyaring memecah keheningan lab.

Tirta melirik ke arah tabung palsu di meja kerjanya, lalu menatap kembali ke arah tabung asli di rak metal. Pria itu menelan ludah cemas. Ketakutannya pada ancaman pencabutan lisensi medis oleh Kania tampak belum sepenuhnya lenyap. Ia menggeser bahunya diam-diam sejauh satu inci, mencoba mendekati tombol merah alarm darurat di dinding tembok.

Mata Sabrina menangkap pergerakan mikro tersebut dengan sempurna. Kesabaran keibuannya menguap tak bersisa.

Sabrina menekan leher dokter itu ke dinding keramik dingin. "Ganti sampelnya, atau aku potong nadimu."

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!