Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Teatrikal Kulit dan Embrio Kegelapan
Dunia luar bukan lagi tempat perlindungan.
Oksigen yang dihirup Bima terasa seperti jutaan jarum mikroskopis yang masuk ke dalam alveolus paru-parunya, membakar setiap jaringan yang baru saja tumbuh dari akar koin terkutuk itu.
Ia dan Kinasih kini telah menjadi satu entitas—sebuah gumpalan daging yang saling membelit, dijahit oleh dosa dan rasa lapar yang tak masuk akal.
Di tengah hutan bambu yang kini telah bermutasi menjadi barisan tulang rusuk raksasa yang mencuat dari bumi, Bima merasakan kesadarannya mulai terpecah.
Ia bisa merasakan aliran darah Kinasih yang berbau belerang masuk ke dalam jantungnya, dan ia bisa merasakan setiap memori penderitaan Kinasih saat diperkosa secara metafisik oleh Sang Inang Malam.
"Bim... lihat... desa kita..." Suara Kinasih muncul dari balik tengkuk Bima.
Lidahnya yang kini bercabang dua menjilat daun telinga Bima yang sudah tidak memiliki kulit, menyisakan rasa perih yang membuat Bima ingin mencungkil otaknya sendiri.
Di depan mereka, desa yang dulunya tenteram kini telah berubah menjadi sebuah diorama pembantaian yang puitis.
Rumah-rumah penduduk tidak hancur oleh api, melainkan "dimakan" oleh daging. Dinding semen berubah menjadi lapisan lemak yang bergetar, jendela-jendela berubah menjadi lubang mata yang terus mengeluarkan air mata nanah.
Penduduk desa yang tidak sempat melarikan diri mengalami transformasi yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Bima melihat Pak RT, seorang pria tua yang baik, kini tergantung di tiang listrik.
Namun, tubuhnya telah dipanjangkan secara paksa hingga panjangnya mencapai sepuluh meter.
Kulitnya ditarik hingga transparan, memperlihatkan organ dalamnya yang disusun ulang membentuk instrumen musik yang aneh.
Setiap kali angin bertiup, udara melewati lubang-lubang di tulang rusuk Pak RT, menghasilkan suara melengking yang terdengar seperti nyanyian duka yang sangat panjang.
"Indah, bukan?" Sang Inang Malam muncul di antara kabut darah. I
a kini tidak lagi berjalan.
Ia merangkak di udara, menggunakan ribuan tangan anak kecil yang tumbuh dari punggungnya sebagai kaki-kaki laba-laba. "Manusia selalu ingin menjadi abadi.
Aku hanya mewujudkan keinginan mereka. Mereka kini adalah bagian dari simfoni keabadianku."
Sang Inang mendekati massa daging Bima dan Kinasih. Dengan gerakan yang sangat lembut namun bertenaga, ia memasukkan tangannya ke dalam lubang di antara punggung mereka berdua. Ia mencari sesuatu di sana.
"AAARRRGGHHH!" Bima melolong.
Ia merasakan jemari Sang Inang meremas sumsum tulang belakangnya, memilin saraf-saraf motoriknya seolah-olah sedang menyetem senar gitar.
"Jangan berontak, Benih," bisik Sang Inang. "Aku hanya sedang mempersiapkan wadah untuk persembahan terakhir.
Anakmu lapar, dan ia membutuhkan 'induk' yang lebih luas dari sekadar tubuh wanita ini."
Sang Inang kemudian menarik keluar seutas saraf panjang dari tulang belakang Bima—saraf yang masih berdenyut dan bercahaya biru pucat.
Ia mengikatkan saraf itu ke leher "Anak" tanpa wajah yang lahir dari Kinasih.
Seketika, hubungan telepatik yang mengerikan tercipta.
Bima tidak lagi hanya melihat apa yang dilihat "Anak" itu; ia merasakan apa yang diinginkan makhluk itu.
Dan yang diinginkan makhluk itu adalah konsumsi.
Bukan sekadar makan, tapi asimilasi.
Ia ingin setiap molekul manusia di desa itu menjadi bagian dari sel-selnya.
"Anak" itu mulai bergerak menuju pusat desa, ke arah masjid yang kini telah berubah menjadi tumpukan daging yang menyerupai rahim raksasa.
Bima dan Kinasih ditarik di belakangnya, seperti umpan yang diseret di atas aspal yang kini telah berubah menjadi hamparan kulit manusia yang masih hangat.
Di dalam pusat desa, mereka melihat sebuah pemandangan yang akan menghancurkan kewarasan siapa pun yang masih memiliki nurani.
Sebuah meja panjang telah disiapkan di tengah jalan.
Namun, meja itu terbuat dari tubuh para remaja desa yang dibengkokkan secara paksa menjadi bentuk persegi panjang. Di atas "meja" hidup itu, tersaji hidangan yang terdiri dari bagian-bagian tubuh yang masih berdenyut, disiram dengan cairan empedu yang manis.
"Silakan, Anakku," ujar Sang Inang.
Makhluk tanpa wajah itu mulai makan.
Lubang di dadanya yang dipenuhi gigi berputar mulai mengisap segala sesuatu di sekitarnya.
Bukan hanya daging, tapi juga realitas.
Ruang di sekitar makhluk itu mulai melengkung dan pecah.
Suara jeritan dari jiwa-jiwa yang terisap masuk ke dalam lubang itu memenuhi udara, menciptakan distorsi suara yang memecahkan gendang telinga Bima.
Setiap kali makhluk itu menelan satu jiwa, tubuh Bima dan Kinasih mengalami perubahan fisik.
Jari-jari tambahan mulai tumbuh dari ketiak Bima.
Mata-mata kecil mulai bermunculan di sepanjang lengan Kinasih, masing-masing memiliki ekspresi ketakutan yang berbeda.
"Kita akan menjadi Tuhan, Bim," gumam Kinasih.
Suaranya kini terdengar seperti ribuan serangga yang mengepakkan sayap.
"Tuhan dari dunia yang baru. Dunia tanpa kematian. Dunia di mana rasa sakit adalah satu-satunya bentuk ibadah."
Tiba-tiba, koin hitam di dahi Bima mulai memancarkan cahaya yang begitu pekat hingga mampu menghapus bayangan.
Cairan hitam yang keluar darinya kini tidak lagi mengalir, melainkan menyembur seperti air mancur.
Cairan itu membentuk sebuah kubah di sekitar mereka, mengisolasi Bima, Kinasih, dan "Anak" itu dari dunia luar.
Di dalam kubah itu, gravitasi tidak lagi berlaku.
Bima merasa tubuhnya mulai terurai.
Sel-selnya mulai memisahkan diri satu sama lain, namun tetap terikat oleh benang-benang hitam dari koin tersebut.
"Prosesnya dimulai," Sang Inang Malam berbisik dari luar kubah.
Wajahnya yang hancur tampak penuh dengan kegembiraan yang jahat.
"Penyatuan trinitas yang terkutuk. Benih, Rahim, dan Sang Penghancur."
Bima melihat Kinasih mulai mencair.
Benar-benar mencair menjadi cairan merah dan hitam yang kental.
Cairan itu kemudian meresap ke dalam pori-pori kulit Bima.
Ia merasakan setiap memori, setiap rasa malu, dan setiap ketakutan Kinasih menjadi satu dengan pikirannya.
Ia melihat saat Kinasih pertama kali memungut koin itu di pinggir jalan, ia melihat ambisi Kinasih untuk keluar dari kemiskinan dengan cara apa pun.
"Maafkan aku, Bim... aku hanya ingin kita kaya..." suara Kinasih bergema di dalam lobus frontal otak Bima.
Lalu, "Anak" itu mendekat.
Makhluk tanpa wajah itu memasukkan seluruh kepalanya ke dalam lubang dada Bima yang terbuka.
Rasa sakitnya melampaui segala deskripsi medis. Itu adalah pemerkosaan terhadap eksistensi itu sendiri.
Bima merasakan kesadarannya ditarik ke dalam lubang hitam di tengah dada makhluk itu.
Di sana, ia melihat sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh miliaran wajah manusia yang menangis.
Dan di tengah-tengah kehampaan itu, duduklah sosok yang sangat ia kenal.
Sosok itu adalah Bima sendiri.
Namun Bima yang ini terlihat sempurna, bersih, dan tersenyum manis.
"Halo, Bima yang kotor," kata sosok itu dengan suara yang merdu.
"Terima kasih telah membawakan tubuh yang penuh penderitaan ini untukku.
Sekarang, biarkan aku mengambil alih.
Biarkan aku menjadi 'Pangeran' di dunia baru ini."
Di luar kubah, Sang Inang Malam berlutut.
Seluruh desa yang telah berubah menjadi daging itu mulai bergetar hebat.
Bumi terbelah, dan dari dalamnya keluar cairan kental berwarna keemasan namun berbau busuk—darah bumi yang telah diracuni.
Kubah hitam itu pecah.
Yang muncul dari sana bukan lagi Bima, bukan lagi Kinasih, dan bukan lagi "Anak" itu.
Yang muncul adalah sesosok entitas setinggi sepuluh meter dengan kulit yang berkilau seperti berlian namun terbuat dari jutaan gigi manusia yang dipadatkan.
Entitas itu memiliki dua belas sayap yang terbuat dari membran kulit tipis, dan di setiap sayapnya terdapat wajah-wajah penduduk desa yang sedang bernyanyi.
Wajah entitas itu sangat tampan, sangat cantik—sebuah perpaduan sempurna antara Bima dan Kinasih.
Namun di balik keindahan itu, terdapat kekosongan yang tak berujung.
Entitas itu membuka mulutnya, dan sebuah suara yang mampu meruntuhkan gunung terdengar:
"HIDUP BARU... TELAH TIBA."
Saat entitas itu melangkah, setiap jejak kakinya mengubah tanah menjadi daging yang membusuk.
Hutan bambu di belakangnya mulai layu dan rontok, meninggalkan pemandangan dunia yang kini telah berubah menjadi sebuah organisme raksasa yang lapar.
Matahari di langit perlahan-lahan tertutup oleh awan hitam yang terbuat dari lalat-lalat pemakan bangkai.
Kegelapan total menyelimuti bumi, dan satu-satunya cahaya yang tersisa berasal dari koin hitam yang kini tertanam di jantung dunia.
Penderitaan baru saja dimulai. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari siksaan yang abadi di bawah pemerintahan Sang Pangeran Daging.