Menikah dengan Aris (28 tahun), seorang bos pertambangan yang wajahnya setampan aktor film tapi sedingin es di kutub utara, seharusnya membuat hidup Maya (24 tahun) tenang. Namun, pindah ke rumah mewah di pinggiran kota justru menjadi awal dari kegilaan hidupnya.
Aris itu aneh. Dia posesifnya bukan main, tapi bukan ke sesama manusia. Dia melarang Maya keluar rumah lewat magrib bukan karena cemburu, tapi karena takut Maya "disapa" oleh penghuni pohon kamboja depan rumah. Dia memasang CCTV di setiap sudut, bukan untuk maling, tapi untuk memantau pergerakan bayangan putih yang hobi duduk di ruang tamu mereka.
Maya yang aslinya penakut tapi hobi ngelawak dan hobi menebar gombalan "maut" ke suaminya yang kaku itu, mulai merasa ada yang tidak beres. Apalagi para tetangga—Geng Gibah Bu RT—mulai nyinyir. Mereka bilang Maya itu tumbal pesugihan Aris karena Aris kaya raya tapi istrinya seperti dikurung di istana berhantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tujuh bulan maya
Beberapa bulan telah berlalu sejak malam maut itu. Kandungan Maya kini sudah memasuki usia tujuh bulan, perutnya sudah membuncit besar, membuatnya sulit untuk bergerak cepat. Aris telah menepati janjinya; ia merenovasi total rumah mereka dengan kaca anti-pecah, memasang sistem keamanan paling mutakhir, dan tidak pernah membiarkan Maya sendirian.
Namun, semakin besar janin di dalam rahim Maya, semakin "berkilau" pula ia di mata dunia gelap. Teror tidak lagi datang sesekali, melainkan setiap malam, seolah ada pasukan yang mengepung rumah mereka dari segala penjuru gaib.
Malam itu, suasana sangat mencekam. Padahal tidak ada hujan, tapi kabut hitam tebal menyelimuti halaman rumah, menghalangi pandangan CCTV. Danu, sang penjaga kecil, tidak lagi bermain mobil-mobilan. Ia terus berdiri di depan pintu kamar Maya dengan tubuh yang memancarkan aura hitam pekat, siap bertempur habis-habisan.
Maya sedang mencoba tidur saat ia merasakan kasurnya bergoyang hebat. Bukan gempa bumi, tapi seolah-olah ada puluhan tangan yang menarik ranjang itu dari bawah.
"Mas... Mas Aris!" rintih Maya sambil memegangi perutnya yang terasa kencang.
Aris yang sedang membaca berkas di sampingnya langsung sigap. Ia memeluk Maya, namun tiba-tiba, atap kamar mereka mulai merembeskan cairan kental berwarna merah darah. Bukan hanya satu kuyang, kali ini terdengar suara cakaran di atas plafon yang sangat masif, seolah ada puluhan makhluk yang merayap di sana.
*Kreeek... Kreeek...*
Tiba-tiba, sebuah tangan hitam panjang dengan kuku tajam menembus plafon dan nyaris mencengkeram kepala Maya. Aris dengan sigap menarik Maya menjauh hingga mereka jatuh ke lantai.
"Bajingan!" maki Aris. Ia mengambil lampu tidur kuningan yang berat dan menghantam tangan itu hingga hancur menjadi asap hitam.
Namun, teror belum selesai. Pintu kamar digedor dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan baja. Danu di luar sana sedang bertarung hebat; suara benturan fisik dan geraman gaib terdengar bersahut-sahutan.
Kondisi Maya semakin melemah. Tekanan gaib di ruangan itu membuat napasnya tersengal. Tiba-tiba, suhu ruangan menjadi sangat panas, dan dari balik tembok muncul bayangan hitam besar yang menyerupai genderuwo, mencoba menarik kaki Maya.
"Maya, pegang tangan Mas! Jangan lepas!" teriak Aris.
Aris tidak lagi peduli dengan logika. Ia melihat istrinya hampir terseret oleh kekuatan tak kasat mata. Dengan kemarahan yang meluap, Aris memeluk Maya dan menatap ke arah bayangan itu dengan mata yang menyala penuh amarah murni.
"KAMU MAU DIA?! LANGKAHI MAYAT SAYA DULU!" raung Aris.
Entah dari mana datangnya, kekuatan posesif Aris seolah menciptakan perisai. Ia menarik Maya ke dalam pelukannya begitu erat hingga tak ada celah. Danu kemudian mendobrak pintu masuk, tubuh kecilnya kini penuh luka, namun ia melompat ke arah bayangan hitam itu dan menyeretnya keluar lewat jendela yang pecah.
Duel itu berakhir dengan ledakan energi yang membuat seluruh lampu di rumah pecah. Maya pingsan di pelukan Aris karena kelelahan mental yang luar biasa. Aris pun jatuh terduduk, napasnya tersengal, wajahnya penuh peluh.
Ia melihat ke sekeliling; rumah mewahnya kini seperti medan perang. Aris menyadari satu hal: selama janin ini ada, rumah ini tidak akan pernah tenang. Musuh-musuh dari masa lalu dan para pencari tumbal tahu bahwa anak Aris memiliki aura yang sangat kuat.
Aris mencium kening Maya yang pucat dengan penuh kepedihan. "Mas tidak akan biarkan mereka mengambilmu, atau anak kita. Mas akan hancurkan siapa pun pelakunya, bahkan jika Mas harus menjemput ajal Mas sendiri."
Malam itu, Aris memutuskan satu hal ekstrem. Ia tidak akan lagi hanya bertahan. Esok hari, ia akan mencari dalang di balik semua ini dan mengakhirinya dengan tangannya sendiri.
kurang keras bantingnya, butuh parutan gk? ni aq ada
mayan buat marut kuyang🤣🤣🤣🤣