NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Clara seakan ingin tertawa saat mendengarnya.

Faktanya, Vanessa dan Edward mengenal satu sama lain setelah dirinya dan Edward menikah.

Vanessa tentu tahu hubungan Edward dan dirinya. Clara tidak percaya Ervan tidak tahu kalau Edward adalah suami dari putrinya yang lain.

Yah, Ervan pasti tahu!

Namun, tanpa perasaan malu sedikitpun, pria itu justru berusaha menjodohkan Vanessa dan Edward.

Terlihat jelas sekali bukan, betapa akunya perasaan Ervan terhadap Putri kandungnya sendiri.

Edward mengangguk tanda setuju.

Setelah berbasa-basi sebentar, Ervan dan Edward berpisah. Edward tanpa menunggu Evan menaiki mobil. setelah mobil itu pergi, barulah kemudian dirinya naik mobil dan pergi.

Kalau melihat status dan kedudukan Edward saat ini, hanya sedikit orang saja di keluarga anggasta yang bisa membuatnya sampai bertindak sejauh ini.

Lagi-lagi jelas sekali terlihat, Edward sangat menghormati Ervan.

Bukan apa-apa, alasannya hanya satu, Erfan adalah ayah dari Vanessa.

Saat memikirkannya, Clara teringat sikap dingin dan acuh Edward pada nenek, paman dan bibinya kala itu.

Terlebih lagi, saat dirinya dengan hati-hati membicarakan permasalahan yang ada di keluarga harmosa, pria itu tetap enggan membantu.

Sikap Edward benar-benar berbeda pada orang-orang terdekat Vanessa.

Perlakuan Edward terhadap Clara dan Vanesa tanpa beda jauh.

Inilah perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai.

Edward tampak pergi.

Selang beberapa lama, barulah Clara berbalik dan masuk ke dalam rumah makan itu.

Sore harinya, selepas bekerja dia langsung pulang ke rumah untuk mengambil hadiah yang sudah disiapkan untuk kakek dan nenek keluarga anggasta, lalu kemudian pergi menemui mereka.

Kediaman keluarga anggasta terletak di pinggiran kota, dikelilingi pegunungan dan sungai yang indah. Suasananya pun begitu tenang sungguh tempat yang cocok untuk di masa tua.

Satu-satunya kekurangan tempat itu mungkin salahkan yang cukup jauh dari pusat kota.

Cara membutuhkan waktu satu setengah jam untuk tiba di kediaman itu.

Selesai memakirkan mobil, Clara berjalan menuju pintu masuk. Belum juga masuk, dia mendengar suara tobat ya putrinya, Elsa.

Nenek melihat ke arah pintu dan langsung mengenali siapa yang datang. Begitu melihat Clara, nenek tampak sumringah, lalu berkata "akhirnya clara datang. cepat sini, duduk sama nenek."

Namun, hanya nenek saja yang tersenyum lepas. Sedangkan ibu mertuanya, dan Maya anggasta beserta anaknya, senyum mereka lenyap seketika saat melihat kedatangan Clara.

Clara tentu menyadarinya, tapi dia tak begitu memedulikannya seperti dulu.

Lala mengabaikannya dan tetap tersenyum. Dia menyerahkan ke dia pada pelayan yang menyambutnya, lalu berjalan mendekati nenek. " Nenek," sapa Clara.

"Ya." Nenek tersenyum bahagia dan menyuruh Clara duduk di sampingnya." Kenapa kamu kurusan, Clara? Apa edward membulimu?" Tanya nenek kemudian sembari mengerutkan Keningnya.

"Nggak kok, Nek. Belakangan ini memang lumayan sibuk," jawab Clara menggelengkan kepalanya.

Jawaban itu bisa dibilang jawaban dramatis, separuh benar dan separuh tidak.

Memang benar Edward tidak membullynya, tapi suasana hatinya memang sering mendapatkan pengaruh dari sikap Edward.

Selain itu, dalam setengah bulan terakhir, selepas kau hujan Dia selalu menghabiskan waktu untuk meneliti kecerdasan buatan atau AI hingga larut malam.

Hal itu juga menjadikan salah satu alasan kenapa dia semakin kurus belakangan ini.

Belum sempat ingin menjawabnya, Maya sudah lebih dulu mencintainya berkata, "sibuk? Memangnya pekerjaanmu itu penting banget ya? Sampai-sampai perusahaan nggak bisa jalan tanpa ada kamu."

Di sisi lain, Sinta kartajaya, yang tidak lain adalah ibu kuat sekaligus ibu mertua Clara, tampak duduk dengan anggun dan tenang.

"Kalau merasa pekerjaan di anggasta Group melelahkan, Bundo kan diri saja. Nggak ada yang memaksamu bekerja di sana." Kecipir cinta setelah menyesap tehnya.

"Tepat sekali! Tapi sepertinya ada yang gagal lawan lakuin itu," ejek Maya.

Nenek tidak suka melihat orang lain merendahkan Clara. Saat hendak membela, Clara malah lebih dulu berkata, "aku sudah ajukan pengunduran diri. Setelah proses serah terima selesai, aku nggak akan di sana lagi.

Begitu mendengarnya, Sinta dan Maya pun terkejut.

Nenek mengerutkan keningnya, berkata "Clara..."

"Mama udah datang?" Teriak Elsa.

Elsa baru saja naik ke lantai dua.

Saat turun ke lantai satu menggunakan dan melihat Clara, wajahnya langsung berseri-seri. Bagaimanapun, sudah lebih dari setengah bulan dia tidak berkomunikasi dengan Clara.

Elsa memotong pembicaraan nenek dan memeluk Clara, berkata. "Mama!"

Clara terdiam sesaat, lalu memeluknya ringan.

"En," gumam Clara tak lagi mengatakan sepatah katapun.

Sebenarnya nenek tidak ingatlah keluar dari anggasta group.

Namun, saat melihat Elsa bersama mereka, nenek tak lagi melanjutkan obrolannya dan mengubah topik yang lain. "Clara, Nenek sudah lama tidak minum teh buatanmu. Mau minum bersama nenek?" Ucap nenek bersama Nenek?" Ucap Nenek tersenyum pada Clara.

Sejak kecil, cara tumbuh di bawah asuhan nenek keluarga Hermosa. Kepribadiannya sejak kecil memang tenang dan sabar, apalagi dia juga berbakat. Keahliannya dalam menyeduh teflon bisa dibilang cukup bagus.

"Nggak masalah sih, Nek. Tapi, bentar lagi kan mau makan malam...." Jawab Clara

Maya lebih suka minum kopi daripada teh.

Terlebih lagi, dia tidak suka melihat Clara menunjukkan kebolehannya dalam menyeduh teh. Jadi dia lantas memotong pembicaraan dengan kesal, berkata, "Ya, bentar lagi Edward dan Dustin sudah mau datang, jadi kita bisa langsung makan malam."

Baru saja mengatakannya, Edward pun tiba.

Dia masuk dan menyapa nenek serta Sinta.

Dia melihat Clara di sana dan langsung mengalihkan pandangannya, lalu duduk di kursi yang jauh dari wanita itu.

Elsa segera melepas pelukannya pada Clara saat melihat kedatangan Edward.

"Ayah!" teriaknya sambil berlari mendekat

"Ya." Edward memeluknya dan melihat sekitar. Saat hendak mengatakan sesuatu, Dustin pun tiba.

Usia Dustin jauh lebih muda dibandingkan Maya dan Edward. Dia masih belum dewasa dan kepribadiannya ceria. Begitu masuk ke dalam ruangan, dia melompat ringan melalui sandaran sofa dan langsung terduduk di sofa dengan mantap.

"Kalian semua tunggu aku?" celetuknya sambil tertawa saat melihat sudah banyak orang di ruangan.

Maya menepuk kepala Dustin lalu berkata, "Ya! Kita semua udah kelaparan gara-gara tunggu kamu!"

Edward memiliki kepribadian tenang dan tak banyak bicara. Maya dikenal pemarah, emosinya sering meluap-luap. Sedangkan Dustin, bisa dibilang dia adalah sumber keceriaan di Keluarga Anggasta. Hubungan dengan orang tuanya juga lebih dekat ketimbang kakak-kakaknya.

Kedatangan Dustin membuat raut wajah Sinta yang tadinya dingin kini memancarkan senyum sumringah. Sama halnya dengan nenek, nenek terlihat semakin senang.

Sudah waktunya untuk makan malam. Semua anggota juga sudah berkumpul, nenek lantas menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan malam.

Total ada sembilan orang menuju ruang makan.

Posisi tempat duduk di ruang makan saat itu adalah nenek, Edward, Elsa dan Clara.

Nenek lantas tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Elsa, lalu berkata, "Elsa tukar tempat duduk dengan ayah, ya. Biarkan ayah dan ibu duduk bersebelahan."

Nenek selalu berusaha menyatukan Edward dan Clara.

Semua orang pun sudah terbiasa melihatnya dan menganggapnya percuma.

Bagaimanapun nenek berusaha menyatukan mereka, hubungan mereka tetap tidak ada perubahan sedikit pun.

Senyum sinis terpancar di wajah Maya saat melihat usaha nenek yang sia-sia. Dia terlihat malas untuk terlibat kali ini dan mencari tempat duduk sesukanya.

Edward tentu tidak suka dengan aturan nenek. Meski begitu, asalkan bukan urusan besar, dia tetap akan menurutinya derni menghormati nenek.

Oleh sebab itu, dia tidak mengatakan sepatah kata pun Edward tentu tidak suka dengan aturan nenek. Meski begitu, asalkan bukan urusan besar, dia tetap akan menurutinya demi menghormati nenek.

Oleh sebab itu, dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Artinya, dia menuruti kemauan nenek.

Clara tidak seperti dulu yang senang dengan usulan nenek.

Wajah Clara tanpa datar. Dia menatap nenek dengan senyum lembut, lalu berkata.

"Nggak apa-apa, Nek. Duduk seperti ini saja nggak masalah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!