Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menari Bersama Penyihir Gila
Suasana desa yang awalnya tenang dan damai itu mendadak riuh dan kacau balau, ketika melihat dari arah barat daya melesat ratusan bola api raksasa..
Samudra melebarkan matanya, ia terkejut karena ini di luar perkiraanya. Ia berpikir bahwa jumlah kelompok penyihir ini hanya puluhan dan menyerang di malam hari menggunakan metode serangan langsung, bukan menggunakan sihir api skala luas seperti ini. Itu sama saja mereka berniat menghancurkan desa ini.
"Aaarrrhhh..." teriakan warga yang berlarian terdengar, berbondong bondong mereka semua keluar rumah dan berlari menjauh dengan sangat panik.
"Keparat! Apakah mereka mencoba membakar desa ini?!" Batin Samudra geram..
"Sihir angin tornado penghempas!" Ucap Samudra. Angin Tornado besar tercipta dari tubuh Samudra dan melesat ke ratusan bola api raksasa itu, seketika puluhan bola api berputar putar di udara, gagal mendarat, namun karena jumlahnya ratusan membuat banyak bola api yang bisa lolos.
Duargh!
Duargh!
Duargh!
Rentetan ledakan pun terjadi...
"Warga... prioritasku harus menyelamatkan mereka." batin Samudra.
Wus...
Wus...
Wus....
Samudra melesat cepat...
Seorang kakek dan nenek tua tampak kesusahan berjalan.
Duargh!
Sebuah bola api menghantam tiang besi besar, tiang itu langsung terbakar dan turun ke bawah menuju ke kakek nenek itu.
Swwuuusshhh...
Samudra dengan cepat membawa terbang kedua kakek nenek itu, kedua kakek nenek itu tampak pucat, terkejut dan ketakutan.
Tiga bola api sekaligus melesat dan menuju kerumunan warga yang sedang lari.
"Tidaaakkk... aku tidak mungkin dapat menyelamatkan mereka." Batin Samudra ia sendiri saat ini sedang sibuk.
DRRRTTTT!!!!
DHUAAAARRGGHHH!!!
Tanah di bawah tiba tiba mencuat dan membentuk dinding besar, tanah itu langsung menghalangi tiga bola api raksasa itu.
"Semuanya cepat kabur...!!!" Teriak seorang penyihir muda.
Hap! Hap! Hap!
Suara langkah kaki yang berhenti terdengar bersamaan, tampak puluhan penyihir muda berpangkat junior berdiri di atas atap atap rumah warga.
"Semuanya bersatu! Sepertinya ada kelompok penyihir yang berniat menghancurkan desa ini, kita harus bertahan sampai pasukan Hierarki dari istana tiba." Ucap salah satu penyihir junior.
Hap!
Samudra mendarat di atap dekat mereka.
"Sepertinya penyerangnya bukan para penyihir lemah, aku akan mencoba kesana kalian semua bertahan di sini dan bantu evakuasi warga." Ucap Samudra.
"Kau penyihir gila yang menangkap maling tadi siang. Kau... jangan terlalu gegabah, musuh bukan berada di tingkatan kita, lebih baik kita bertahan sampai pasukan Hierarki tiba!"
"Kita tidak perlu kesana, lihat itu mereka menyerbu ke sini.. sialan! Jumlah mereka sangat banyak!" Ucap salah satu penyihir Junior.
Tampak orang orang berjubah hitam keluar dari rimbunnya hutan. Wajah mereka putih pucat, mata merah darah, dan tubuh mereka seperti mayat yang hidup kembali.
"Mereka... mereka dari kelompok Penyihir Mayat Darah... kabur, kita semua bisa mati!" Teriak salah satu penyihir junior.
Berbondong bondong penyihir junior di sana kabur ketakutan, mereka semua tau kelompok Mayat Darah. Sebuah kelompok penyihir misterius yang sudah mengobrak abrik banyak desa desa kecil di pinggiran negara besar, mereka sering menculik anak kecil namun tujuan mereka menculik belum di ketahui pasti.
Swuuuussshhhh!!!
Hap!
Tuan Janu mendarat di atap rumah warga, ia menatap ratusan warga dan puluhan penyihir junior yang kabur ketakutan.
Duargh!
Duargh!
Duargh!
Sisa ratusan bola api tampak berjatuhan dari angkasa dan membakar setiap sudut desa ini.
"Ambil anak anak yang berusia di bawah sebelas tahun! Yang menghalangi bunuh saja!" Ucap Tuan Janu memberikan perintah.
Kekacauan benar benar terjadi di desa ini, bangunan bangunan hancur terbakar, teriakan demi teriakan terdengar saling bersahutan.
"Tolooongg.... tolooongg...."
Samudra menatap seorang ibu ibu yang tampak sedang menggendong anak kecil yang sedang pingsan.
Mata Samudra bergetar, anak kecil yang di gendong itu ialah Gadis yang memberikannya nasi uduk.
Ibu ibu itu tampak sedang di kejar puluhan penyihir berjubah hitam yang terbang dan membentuk barisan seperti ular.
Tanpa basa basi lagi Samudra langsung melesat.
Sring!
Samudra mengeluarkan pedang kubikiribocho dari cincin penyimpanannya, tak hanya itu satu gelang emasnya tampak melayang dan terbang kemudian berubah wujud menjadi piringan raksasa yang langsung membawa terbang ibu ibu itu.
"Keparat!!! Akan aku habisi kalian!!!"
Slassshhh!!!
Praaall...!!!
Praalll....!!!
Puluhan tubuh terbelah menjadi dua ketika tebasan pedang kubikiribocho menghantam mereka.
Praaal...!!!
Praaal...!!
Praal...!!!
Bunyi suara tubuh yang tertebas terdengar sangat nyaring, Samudra melesat kesana kemari dan menghabisi puluhan anggota Kelompok Mayat Darah dengan pedang kubikiribocho miliknya.
Hanya dalam waktu 50 detik Samudra berhasil membunuh 43 penyihir Mayat Darah.
Tentu hal itu membuat Tuan Janu dan bawahannya terkejut bukan main.
Hap!
Samudra mendarat Di atas tandon air besar ia menyeringai menatap musuhnya, baju dan pedangnya basah dengan darah merah kental dan berbau amis.
"Dia iblis!!!" Teriak salah satu anggota mayat darah.
"Bagaimana bisa dia membunuh puluhan rekan kita tanpa menggunakan sihir?" Sahut yang lainnya.
Piringan emas tampak melesat dari kejauhan, membentuk gelang dan kembali ke pergelangan tangan Samudra.
Kini Samudra bertatap tatapan langsung dengan Tuan Janu dan puluhan anggota mayat darah.
"Hixixixixi.... sepertinya aku terlalu berlebihan menghadapi kalian ya?" Ucap Samudra.
"Cih! Jangan sombong hanya karena kau memiliki pedang yang hebat! Akan aku tunjukan bukan dirimu saja yang memiliki artefak kuat!" Ucap Tuan Janu dan langsung mengeluarkan sebilah tombak.
Tombak hitam legam, panjang dan tampak super kokoh.
"Lihat itu, Tuan Janu mengeluarkan Tombak Lunjuk Rimba miliknya, tombak legendaris pemberian guru."
"Matilah kau dasar orang gila keparat!"
"Hixixixixixixii.... bahkan aku tidak perlu memerlukan sihir untuk membunuh kalian semua, tau." Ucap Samudra yang langsung melesat dengan kecepatan tidak masuk akal.
"Maatiiii...!!!" Teriaknya melompat dari udara dan menebaskan pedang kubikiribochonya kebawah, tepatnya ke arah Tuan Janu.
Dentang!
Pyar!
Semua anggota mayat darah terkejut ketika Tuan Janu menangkis serangan Samudra namun justru tombaknya malah hancur. Ya! Tombak Lujuk Rimba milik Tuan Janu langsung patah ketika beradu dengan pedang kubikiribocho milik Samudra.
Begitu pula dengan Tuan Janu ia kaget setengah mati, di tambah lagi pedang kubikiribocho itu belum berhenti dan masih menebas ke arahnya.
Slash!
Tubuh Tuan Janu terbelah menjadi dua begitu saja.
Brug!
Prang!
Tubuh Tuan Janu ambruk di susul dengan suara tombaknya yang jatuh. Samudra menjilat darah di pedang kubikiribochonya.
"Kini giliran kalian.... Hixixixixixi...." ucapnya kemudian tertawa bak orang gila.
Para anggota mayat darah menelan ludahnya penuh ketakutan.
Blaaaass....!!!!
Samudra melesat cepat ke arah mereka... para anggota mayat darah langsung menembakan sihir bola api mereka.
Namun Samudra meliuk liuk menghindari serangan tersebut bagaikan sedang menari di udara.
Sesekali ia tertawa penuh kesenangan bagaikan orang gila.
Whuussss...
Brag!
Samudra tiba tiba sudah berdiri di atas tubuh salah satu anggota mayat darah dan menginjak wajahnya.
"Hixixixi... aku sudah ribuan kali menghindari serangan seperti itu tau..." ucap Samudra sambil menyeringai.
"Bocah gilaaa...!!!" Semua anggota mayat darah lari ketakutan.
Namun Samudra dengan gerakan cepat membunuh mereka dengan pedang kubikiribochonya. Satu tebasan puluhan tubuh terbelah.