"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ancaman manda
Baskara memutar kemudi menuju jalan tikus yang sudah sangat ia hafal, menghindari kemacetan di gerbang utama yang dipenuhi oleh ribuan mahasiswa baru dan kendaraan yang mengantre. Gerbang belakang yang lebih sepi menjadi jalur rahasia andalan mereka, tempat di mana mereka bisa masuk tanpa harus menjadi pusat perhatian terlalu dini.
Suasana di gerbang belakang pagi itu cukup tenang, hanya ada beberapa petugas keamanan yang langsung memberikan hormat saat mengenali mobil Baskara. Pepohonan rindang di sisi jalan kampus ini memberikan keteduhan, kontras dengan teriknya matahari yang mulai naik di luar sana.
"Kita masuk lewat pintu samping gedung auditorium," ucap Baskara pelan, matanya fokus menatap jalanan di depannya. "Dengan begitu, kamu bisa langsung masuk ke ruang tunggu panitia tanpa harus berdesakan dengan maba lainnya."
Lara mengangguk, ia merasa bersyukur Baskara selalu memikirkan detail terkecil demi kenyamanannya. "Terima kasih, Kak. Aku sebenarnya agak gugup kalau harus lewat depan dan dilihat banyak orang pagi ini."
Baskara menghentikan mobilnya di area parkir khusus pengurus inti. Sebelum turun, ia menoleh ke arah Lara, menatap bros lili yang masih terpasang sempurna.
"Jangan gugup. Ingat apa yang saya katakan semalam? Kamu kuat. Kamu hanya perlu berdiri di sana dan menjadi dirimu sendiri," ucap Baskara dengan nada yang memberikan kekuatan.
Saat mereka turun dari mobil dan berjalan bersisian menuju gedung, dari kejauhan terlihat Randy yang sudah berdiri di depan pintu masuk dengan walkie-talkie di tangannya. Namun, bukan hanya Randy yang ada di sana. Di balik pilar gedung, sepasang mata tajam milik Manda sedang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan tatapan yang sangat dingin.
Manda mengepalkan tangannya kuat-kuat saat melihat tangan Baskara sempat menyentuh punggung Lara dengan lembut untuk menuntunnya masuk. Kemarahan Manda semakin memuncak ketika matanya menangkap kilauan bros perak di almamater Lara—bros yang ia tahu persis adalah koleksi pribadi yang sangat dijaga oleh Baskara.
"Jadi, kamu benar-benar memilihnya, Bas?" gumam Manda dengan suara yang bergetar karena emosi.
Acara penutupan PKKMB di lapangan utama universitas berlangsung dengan sangat megah dan tertib. Ribuan mahasiswa baru mengenakan almamater kebanggaan mereka, menciptakan lautan warna di bawah langit pagi yang cerah. Suasana yang tadinya tegang karena insiden hari-hari sebelumnya, kini berganti menjadi haru dan penuh semangat.
Baskara berdiri di atas podium utama dengan wibawa yang luar biasa. Suaranya yang berat dan tegas menggema melalui pengeras suara, memberikan pidato penutupan yang membakar semangat para mahasiswa baru. Di barisan depan panitia, Lara memperhatikan dengan rasa bangga yang membuncah. Ia menyadari bahwa pria yang semalam tertidur di depan pintunya demi menjaganya, kini adalah pemimpin yang dikagumi ribuan orang.
"Dengan ini, PKKMB Universitas tahun 2026 resmi saya nyatakan ditutup!" seru Baskara yang disambut dengan riuh tepuk tangan dan pelepasan ribuan balon ke udara.
Lara menjalankan tugasnya sebagai asisten dengan sempurna. Ia mengatur alur penyerahan penghargaan bagi mahasiswa berprestasi dan memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai jadwal tanpa hambatan sedikit pun. Bahkan, Randy berkali-kali memberikan jempol padanya sebagai tanda kerja kerasnya sangat diakui.
Manda, yang biasanya mendominasi panggung, kali ini hanya bisa berdiri di barisan samping. Ia melihat bagaimana semua mata—termasuk para dosen pembina—menatap kagum pada Lara. Kehadiran Lara yang tenang dan elegan dengan bros lili di dadanya benar-benar mengalihkan perhatian semua orang dari ambisi Manda yang meledak-ledak.