Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Ketika Song Aran memasuki aula pernikahan, semua tamu yang hadir terkesima melihatnya. Walau wajahnya ditutupi kain merah, tapi dari apa yang menempel ditubuhnya, menjadi fokus kekaguman.
Ini kali pertama yang terjadi didesa, gadis petani menikah dengan mengenakan busana serba baru serta jepit rambut dan gelang perak.
Song Dahuan dan Zhao Jie duduk di kursi kehormatan.
Ekspresi Zhao Jie yang pada dasarnya sudah menghitam, semakin memburuk saja saat melihat busana Song Sui'er.
Ia teringat putrinya yang memasuki keluarga Kang kemarin sambil membawa bungkusan kain, berpakaian jelek dan tanpa tandu. Sangat tidak terhormat.
Padahal mengambil selir pun tidak dilakukan dengan begitu asal-asalan.
Ingin rasanya Zhao Jie mengamuk, mencabik-cabik Song Aran sampai menjadi bangkai yang tidak bisa dikenali. Tapi setelah menerima tatapan tajam dari Song Dahuan, ia cuma bisa duduk dengan patuh.
Zhao Jie tidak bisa menyinggung Song Dahuan. Ia masih memiliki seorang putra kandung yang memerlukan dukungan darinya.
Zhao Jie menyaksikan dengan wajah suram saat Song Aran menyelesaikan upacara mewah itu.
Setelah upacara pernikahan selesai, Zhao Jie mengaku tidak enak badan, sebelum berbalik pergi.
Hal itu disambut cibiran disertai tawa meledek dari para tamu yang hadir.
Song Dahuan memaksakan senyuman, mengucapkan beberapa kata manis menenangkan untuk meredakan situasi agar kembali kondusif.
Adegan ini membuat Song Qing Bao semakin ingin mengutuk Zhao Jie. Tapi sekarang adalah hari bersejarah bagi adiknya, ia tidak akan membiarkan si ibu tiri merusaknya.
Untung saja pada saat itu terdengar suara petasan di luar, mempelai pria telah datang untuk menjemput pengantin wanita.
Song Qing Bao menggendong Song Aran keluar pintu dengan rona sedih yang jelas tergambar diwajah tegasnya.
Song Aran melihat Xiao Jian berdiri menunggu diluar halaman.
Pria itu tinggi dan gagah. Jika bukan karena bekas luka di wajahnya, Xiao Jian akan terlihat tampan.
Sebelas dua belas dengan Mateo.
Ah, kenapa harus membahas bajingan yang sudah membusuk dineraka itu.
Baiklah, lupakan dia.
Xiao Jian mengendarai kereta kuda tanpa dinding untuk menjemput mempelai wanita. Di dadanya menggantung bunga merah. Terlihat amat sangat bersemangat.
Begitu Song Aran mendekati kereta, Xiao Jian mengambilnya dari pelukan sang kakak, menggendong posesif ke dalam kabin pedati kuda.
Lengan pria itu kekar, tampak sangat kuat. Membuat Aran takjub tak menyangka.
"Sungguh pria pekerja keras, tubuhnya kekar berotot." batin Song Aran.
"Mempelai wanitanya sangat cantik..!"
"Siapa yang bilang Aran gemuk dan jelek ? lihat, dia begitu cantik, sangat beruntung sekali..!"
"Tadi kau bilang kalau Qing Bao dan Xiao Jian tidak akan sanggup menggendong Aran, sekarang buka matamu, lihat baik-baik..!"
"Siapa..? aku tidak mengatakan itu..!"
"Aran memakai jaket merah baru.!"
"Maharnya begitu banyak, bahkan dua peti kampernya saja di ukir. Ah, itu sangat bagus..!"
"Ada juga gelang perak serta jepit rambut, Aran sangat beruntung..!"
Penduduk desa yang hadir tak kuasa menahan napas saat melihat penampilan Song Aran.
Semua itu sukses membuat mereka iri, terlebih saat melihat mahar yang begitu banyak.
Song Aran yang mendengar percakapan itu, tersenyum pongah. Ia kembali bisa menyenangkan arwah jiwa asli pemilik tubuh.
Sebenarnya Song Aran adalah gadis cantik dengan kulit bak mutiara, hidung bangir, mata bulat jernih dengan tinggi 165cm.
Tapi karena racun yang diberikan Jiao dan Zhao Jie, tubuhnya menjadi rusak.
Tapi setelah beberapa hari terakhir ini menjalani detoksifikasi, kulitnya menjadi kemerahan, bentuk tubuhnya lebih proporsional.
Meski pun masih terlihat gemuk, namun kecantikannya sudah kembali terlihat.
Sebenarnya bukan gemuk, tapi semok dan montok.
Kereta kuda melaju pelan.
Xiao Jian juga tampak amat gembira. Saking bahagianya, bibir pria itu tak henti-hentinya tersenyum.
Ke mana pun mereka pergi, penduduk desa memuji pasangan yang sempurna itu.
Pemandangan ini hampir membuat Jiao yang bersembunyi di balik pohon besar mematahkan kukunya. Ia tidak berani menunjukkan wajahnya.
Jiao baru saja ketahuan melakukan hal memalukan kemarin, hari ini bahkan ibu mertuanya sudah melarang keras untuk tidak keluar rumah. Tapi karena rasa penasaran pada acara pernikahan Song Aran, ia nekat melipir pergi.
Zhao Jiao semakin membenci Song Aran.
Semua kemewahan dan kemeriahan pesta seharusnya menjadi miliknya.
Sementara Kang Yance, pria itu pergi bersembunyi di sekolah yang ada di kota untuk menghindari gosip.
Sejak Song Aran mengkonsumsi mata air spiritual, ia memiliki pendengaran yang sangat tajam. Jadi ia bisa mendengar semua suara para penduduk desa memujinya.
Suasana hati Aran yang sedang bahagia makin saja berbunga-bunga.
Kereta kuda tanpa dinding itu mengelilingi desa sebelum tiba di kediaman keluarga Xiao.
Rumah keluarga Xiao lebih besar tapi tidka sebagus rumah keluarga Song. Dindingnya cuma batu bata lumpur, beratapnya genteng. Masih cukup layak.
Sebuah anglo dinyalakan di pintu masuk.
Menurut adat, pengantin wanita harus melangkahi anglo tersebut, itu melambangkan penghapusan nasib buruk agar masa depan makmur.
Namun Song Sui'er merasa tungku api terlalu besar, menyala menyambar kemana-mana.
"Cih, kampungan. Kalian pikir ini bisa membuatku takut..? tunggu saja dan lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kalian."
Aran bisa saja melompatinya, mau kayang, salto, memanjat dinding atau di tendang sekalian juga bisa. Tapi jelas itu sangat tidak pantas.
Kalau ini terjadi diabad modern, tentu lain lagi cerita.
Dizaman kuno yang semua masih serba kolot, Aran harus bisa menempatkan diri.
Ini adalah tanda jika Song Aran tidak di terima oleh ibu mertuanya.
Sebuah bentuk intimidasi, bahkan sebelum Aran tahu sebanyak apa guci beras keluarga Xiao.
Suasana menjadi canggung, tapi itu adalah adat. Aran wajib mengikuti rangkaiannya.
Ketika Aran sedang memikirkan cara apa yang akan ia pakai, ia merasakan hembusan hangat di telinganya.
"Jangan panik."
Sedetik kemudian, tubuhnya melayang diudara. Sang suami menggendongnya erat. Dengan kakinya yang panjang, Xiao Jian melangkahi anglo lalu menurunkannya.
Seketika, semua orang bersorak, melempar godaan.
Song Aran tersipu dari balik kerudung yang ia pakai, lalu mengintip guna melihat ekspresi ibu mertuanya terlipat kesal.
Sisa upacara penting berjalan lancar.
Ini adalah acara sakral yang membahagiakan, meski ibu mertua tak menyukai Xiao Jian. Wanita tua itu tidak mungkin membuat masalah.
Tapi jamuan pernikahan sangat sederhana. Walau tahun ini bukan panen raya, namun hasil ladang masih lumayan.
Xiao Jian adalah putra sulung keluarga Xiao. Dengan hidangan rumahan biasa yang tersaji di atas meja jamuan pernikahan, sungguh itu sangat tidak menghormati tamu.
Benar-benar berhati hitam, sangat buruk.
Cuma ada dua hidangan daging.
Salah satunya tumis sayuran liar daging cincang, yang bahkan jumlah sayurannya tiga perempat lebih banyak.
Yang lainnya adalah telur goreng dengan daun bawang sangat melimpah.
Ini terlalu menyepelekan.
Wajah para tamu menjadi muram, tapi tidak ada yang berani mengatakan apa pun.
Song Aran sudah diantar ke kamar pengantin. Ia baru saja duduk di tepi ranjang ketika mendengar pintu di ketuk.
"Ran'er, ini aku."
Tanpa menunggu jawaban sang adik, Song Qing Bao mendorong pintu. Begitu masuk, pemuda itu langsung merotasi ruangan.
Dengusan kekecewaan Qing Bao hempaskan.
"Keluarga Xiao benar-benar tidak berperasaan. Mereka menyulitkanmu tadi, jamuan makannya sangat pelit, apa lagi ruangan ini sama sekali tidak terlihat seperti kamar pengantin. Sungguh sangat keterlaluan..!"
Ruangan itu sangat kumuh. Selain tempat tidur dan meja kecil di samping ranjang. Tidak ada perabot lain sama sekali. Tanpa hiasan, tidak ada kelambu, lilin, bahkan kertas merah nihil.
Song Aran juga sebenarnya amat tak terima, tapi mau bagaimana lagi.
Aran menyentuh selimut kaku kasar, terbuat dari katun tua yang di jahit kembali. Karena penasaran, Aran membuka lemari kecil di dekatnya.
Aran meringis, batinnya mencelos pedih. Di dalam lemari kecil nan usang itu, cuma ada dua set pakaian tua tambalan.
"Dalam beberapa hari terakhir, Jian mengalami kesulitan di keluarga Xiao."
Song Aran menghela napas berat. Sepertinya hari-harinya di keluarga Xiao juga tidak akan berjalan dengan damai.