Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMARAN
"Salam, pemegang lencana Bulan, kami merasakan panggilan dari energi lencana itu," ucap pria misterius itu dengan suara yang berat dan penuh kepatuhan.
Rania tertegun, dia tidak menyangka bahwa hanya dengan mengeluarkan lencana itu dari kotaknya, warisan ibunya akan langsung datang mencari dirinya.
"Siapa kamu?" tanya Rania, suaranya tetap dingin, tidak menunjukkan ke gentaran sedikit pun.
"Saya adalah bayangan nomor tujuh, kami adalah pelindung rahasia Duchess Eleanor, kami telah lama menunggu seseorang yang mampu membangkitkan kunci gudang rahasia itu kembali," jawab pria itu tanpa mendongak.
Rania menatap lencana serigala yang ia letakkan di atas meja.
"Berapa banyak dari kalian yang tersisa?" tanya Rania, datar.
"Empat belas orang, Nona. Kami tersebar di dalam mansion ini dan di luar ibu kota," jawab pria itu, tegas.
"Nyawa kami adalah milik Anda," lanjut pria itu, membungkuk hormat.
Rania terdiam sejenak, ini adalah kartu as yang tidak pernah dia duga.
Dengan sistem di kepalanya dan pasukan bayangan di tangannya, dia bukan lagi Rania yang lemah, sang Letnan militer benar-benar hidup kembali.
"Bagus! Tugasku untukmu malam ini sederhana," ucap Rania sambil berjalan mendekati pria misterius itu.
"Awasi paviliun Diana dan Viola, jika mereka berencana melakukan sesuatu, jangan hentikan mereka. Cukup beri tahu aku!"perintah Rania, penuh penekanan.
"Hanya itu, Nona? Anda tidak ingin kami melenyapkan mereka?" tanya Bayangan Tujuh.
"Tidak sekarang. Mati terlalu cepat itu membosankan, aku ingin mereka melihatku bersinar di puncak, lalu aku sendiri yang akan merobek jantung mereka," jawab Rania dengan kilat mata yang kejam namun cerdas.
"Perintah diterima," jawab bayangan tujuh tahun, tegas.
Pria itu membungkuk hormat, sebelum akhirnya pergi, melompat dari jendela kamar Rania.
Setelah pria itu pergi, Rania kembali duduk di tepi tempat tidurnya, tangannya meraba lencana Bulan sabit itu.
Sekarang dia punya kekuatan militer nyata, bukan hanya poin sistem.
******
Matahari baru saja merangkak naik, namun atmosfer di aula utama Istana Gild terasa pagi ini terasa begitu dingin.
Di atas singgasana nya Kaisar Aron Gild duduk dengan satu tangan menopang dagu, sementara tangan kanannya yang berada di balik jubah hitamnya sedang menggenggam erat sebuah cincin perak kecil.
"Ulangi sekali lagi," suara Aron rendah, membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
"Y-yang Mulia... Raja kami mengirimkan hadiah untuk anda, beliau menghadiahkan Putri Rosella... Untuk menjadi permaisuri di kekaisaran Gild, dan beliau akan memberikan akses ke tambang kristal mana di perbatasan, sebagai hadiah pernikahan Anda dan Putri Rosella nanti nya," ucap pria tua, utusan dari kerajaan Forest.
Brak
Aron menggebrak meja, di tambah tekanan mana yang meledak membuat lantai marmer retak.
"Apa aku terlihat seperti pria yang kekurangan batu kerikil?" tanya Aron dingin.
"Katakan pada Rajamu, jika dia ingin mengirim putrinya ke sini, pastikan dia datang sebagai pelayan pembersih debu!" ucap Kaisar Aron bangkit berdiri.
"T-tapi Yang Mulia! Ini demi-"
"Tutup mulut mu, aku tidak butuh omong kosong mu itu!" bentak Aron, benar-benar marah.
"Yang Mulia..." Panggil Putri Rosella dengan suara yang di lembut-lembut kan.
"Pergi sebelum aku membunuhmu dan meratakan Kerajaanmu!" bentak Kaisar Aron, bengis.
Bukannya mundur, Putri Rosella justru menunjukkan ketebalan muka nya, dia melangkah maju dengan berani, mengabaikan aura kematian yang menguar dari tubuh Aron.
Putri Rosella merasa kecantikannya tidak akan di tolak oleh Kaisar Aron.
"Yang Mulia, janganlah bicara begitu kejam," ucap Putri Rosella sambil mencoba mendekat ke arah singgasana.
"Saya tahu Anda hanya sedang lelah, tekanan mana yang Anda derita pasti sangat menyiksa. Biarkan saya berada di sisi Anda untuk menghibur Anda. Saya jauh lebih berharga daripada pelayan-pelayan di istana ini," ucap Putri Rosella, percaya diri.
"Saya perhatikan dari tadi, Anda tampak menyembunyikan sesuatu di tangan Anda. Apa itu? Sebuah rahasia? Berikan pada saya, saya akan menyimpannya dengan baik sebagai tanda cinta kita-"
ZRAAAAPP
Kilatan petir ungu menyambar tepat di depan ujung sepatu Putri Isabella.
Pangeran Aron melangkah turun dari singgasana, matanya berkilat merah, batas kesabarannya sudah habis.
"Kau pikir kau siapa, berani menebak-nebak apa yang ada di tanganku?" desis Aron tepat di depan wajah Putri Rosella.
Napas Kaisar Aron terasa sangat panas dan penuh tekanan mana yang mencekik.
"S-saya hanya ingin membantu-"
"Dav! Seret perempuan tidak berotak ini keluar!" perintah Aron tanpa belas kasih.
"Jika dia atau ayahnya mengirimkan surat lagi, anggap itu sebagai deklarasi perang. Aku akan meratakan kerjaan forest dalam satu malam!" lanjut Aron, tidak main-main.
"T-tidak! Yang Mulia! Dengarkan saya dulu! Anda tidak bisa memperlakukan Saya seperti ini!" teriak Putri Rosella sambil histeris saat para ksatria menyeretnya keluar dari aula seperti tumpukan sampah.
"Anda tidak bisa melakukan ini padaku! Aku adalah calon istrimu—akh!" jerit Putri Rosella, tanpa mempedulikan martabatnya sebagai seorang putri.
"Lepaskan! Aku akan kembali! Yang Mulia, Anda akan menyesal karena telah menolak ku!" teriak Putri Rosella histeris hingga suaranya menghilang di balik pintu aula yang tertutup rapat.
Setelah pintu aula tertutup rapat, Aron masih diam, amarah nya masih belum reda, membuat mana dalam tubuhnya kembali bergejolak.
"Ssssstttt"
Desis Aron, mengepal kan tangan nya kuat.
"Yang Mulia, Anda Baik-baik saja?" tanya Dav, mendekat ke arah Aron.
Kaisar Aron mengangkat sebelah tangan nya, dan berlalu pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan Dav.
Sementara itu di waktu yang sama, Rania baru saja selesai sarapan, saat ini dia sedang bersantai di dekat jendela kamar nya, sambil membaca buku.
"Indikator Kiamat naik 98,5%"
"Kaisar Aron baru saja mendapatkan lamaran dari kerajaan Forest, membuat susana hati kaisar memburuk!"
"Sial! Tidak bisakah pria gila itu memberikan aku waktu bersantai begini," ucap Rania, mengumpat kesal.
"Lakukan kontak fisik, dan salurkan energi Anda pada kaisar, sebelum dunia ini benar-benar hancur!"
"Kontak fisik apa maksud mu, Sistem? Kau jangan menyulitkan ku!" tanya Rania, kesal.
"Peluk Kaisar Aron, untuk menurunkan radar panas di hatinya."
"APA! KAU GILA!"
Teriak Rania, melotot kan matanya.
"Kau tidak mau!" tolak Rania, tegas.
"Indikator Kiamat naik 99%"
"Sistem kau jangan main-main dengan ku! Kau pasti berbohong kan!?" tanya Rania, marah.
"Dunia ini akan hancur dalam hitungan jam, dan Anda gagal menjalankan dua misi sekaligus, misi mencegah kiamat dan misi balas dendam pemilik tubuh Anda."
"Aakkhhh sistem sialan! Diam kau!" teriak Rania, frustasi.
Yang benar saja dia harus memukul Kaisar, bisa-bisa harga dirinya sebagai letnan jatuh.
Rania menggeram frustasi, tangannya mencengkeram pinggiran jendela hingga buku yang dia baca terlipat tak karuan.
"Sistem, kamu benar-benar tidak punya perasaan! Memeluknya? Yang benar saja! Dia itu Kaisar Gila!" teriak Rania, kesal.
"Indikator Kiamat 99,2%. Waktu tersisa: 45 Menit."
"Akkkhhh! Diam! Berhenti menghitung mundur seperti bom waktu!" teriak Rania, geram.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor