"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Ketegangan sisa semalam masih menggantung kental di udara penthouse. Bekas seretan tangan Arvin di pergelangan tangan Zoya meninggalkan rona kemerahan yang samar, namun luka di hati Zoya jauh lebih dalam.
Pagi itu, tidak ada aroma sarapan yang biasanya membangkitkan selera. Zoya duduk diam di meja makan, menatap piring kosongnya dengan mata yang bengkak.
Arvin keluar dari kamar dengan setelan jas hitam yang sempurna, seolah kejadian memalukan di kafe kemarin tidak pernah terjadi. Ia duduk di hadapan Zoya, menyesap kopi hitamnya, lalu meletakkan sebuah map transparan di atas meja.
"Mulai hari ini, ada protokol baru untukmu," ucap Arvin, suaranya sedingin es di kutub utara.
Zoya mendongak perlahan. "Protokol apa lagi, Tuan? Apakah jam malam pukul empat sore belum cukup untuk mematikan kehidupanku?"
Arvin tidak mempedulikan nada sindiran dalam suara istrinya. Ia mengetukkan jarinya ke meja. "Ini disebut aturan Tiga Meter. Di mana pun kau berada di kampus, perpustakaan, koridor, atau ruang kelas, kau dilarang keras berada dalam jarak kurang dari tiga meter dengan pria mana pun. Terutama pria bernama Liam itu."
Zoya tertegun, mulutnya sedikit terbuka di balik cadar. "Tiga meter? Tuan, itu gila! Bagaimana aku bisa belajar di kelas? Bagaimana aku bisa berdiskusi kelompok? Jarak antar kursi di ruang kuliah saja nggak sampai satu meter!"
"Itu urusanmu," sahut Arvin tanpa beban. "Gunakan meja paling belakang, atau minta dosenmu memindahkan kursi mahasiswa lain. Aku sudah menyumbang dana besar untuk pembangunan laboratorium fakultasmu tahun ini. Mereka tidak akan berani membantah permintaanku."
Zoya berdiri, kursinya berderit keras di atas lantai marmer. "Kau memperlakukan aku seperti penderita penyakit menular, Tuan! Kau membuat aku terlihat seperti orang aneh di mata teman-temanku!"
Arvin ikut berdiri, matanya berkilat tajam. "Ini adalah syarat agar kau tetap bisa kuliah di Jakarta, Zoya. Jika aku menerima laporan dari supir atau melihat di kamera pengawas kampus bahwa kau melanggar jarak itu meski hanya satu sentimeter... aku sudah menyiapkan berkas pemindahanmu ke sebuah universitas di pinggiran Zurich, Swiss. Di sana, kau tidak akan punya teman, tidak tahu bahasanya, dan kau akan sepenuhnya berada di bawah pengawasanku 24 jam. Pilihannya ada di tanganmu."
Zoya melangkah masuk ke koridor kampus dengan perasaan hancur. Ia merasa seperti membawa bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Setiap kali ada mahasiswa pria yang berjalan mendekat, Zoya refleks mundur dengan wajah ketakutan, membuat orang-orang menatapnya dengan heran dan bisik-bisik yang menyakitkan.
Di depan ruang seminar, Liam sudah menunggunya. Wajah Liam tampak sangat khawatir setelah kejadian di kafe kemarin.
"Zoya! Kamu baik-baik saja? Pria kemarin itu benar-benar..." Liam melangkah maju ingin mendekati Zoya.
"Jangan mendekat!" teriak Zoya spontan sambil merentangkan tangannya ke depan. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding. "Liam, tolong... tetap di sana. Jangan kurang dari tiga meter."
Liam mematung, tangannya menggantung di udara. "Tiga meter? Apa maksudmu, Zoya? Ini aku, temanmu."
"Aku mohon, Liam... jika kamu peduli padaku sebagai teman, jangan mendekat. Dia... dia memantau semuanya. Aku bisa dikirim ke luar negeri jika kamu melanggar jarak ini," isak Zoya di balik cadarnya.
Liam menatap Zoya dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan kemarahan besar. "Ini gila, Zoya. Ini bukan pernikahan, ini perbudakan! Bagaimana bisa kamu bertahan dengan pria posesif seperti itu?"
Zoya tidak menjawab. Ia hanya bisa menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai koridor. Ia harus memilih antara martabatnya atau pendidikannya. Dan untuk saat ini, Arvin memegang kedua kartu itu di tangannya.
~~
Malam harinya, Zoya pulang tepat waktu. Ia menemukan Arvin sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa laporan dari supir pribadinya yang kini merangkap sebagai polisi jarak bagi Zoya.
Zoya tidak langsung masuk ke kamar. Ia berdiri di depan Arvin, menatap suaminya dengan keberanian yang muncul dari rasa sesak yang sudah mencapai puncaknya.
"Apa sebenarnya yang Tuan takutkan?" tanya Zoya dengan suara yang tenang namun bergetar hebat.
Arvin tidak mendongak dari tabletnya. "Aku tidak takut apa pun."
"Bohong," potong Zoya cepat. "Kau melakukan semua ini karena kau takut. Apa yang sebenarnya Kau takutkan, Tuan Arvin Dewangga? Apakah kau takut nama baik keluargamu rusak lagi karena fitnah? Atau..." Zoya menjeda kalimatnya, mencoba menatap langsung ke manik mata Arvin. "Atau kau takut aku berpaling? Kau takut aku menyadari bahwa di luar sana ada pria yang bisa memperlakukanku dengan manusiawi tanpa harus merantaiku?"
Arvin terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Pertanyaan Zoya menghujam tepat di titik terlemahnya, titik di mana ia merasa tidak cukup berharga untuk dicintai secara tulus tanpa paksaan kontrol.
Rasa malunya karena ditelanjangi secara emosional oleh Zoya membuatnya panik.
Arvin membanting tabletnya ke sofa. Ia berdiri dan melangkah maju, memaksa Zoya mundur hingga terpojok di pilar ruang tengah. Ia menumpukan kedua tangannya di pilar, mengurung tubuh Zoya.
"Jangan terlalu percaya diri, Zoya Alana!" bentak Arvin dengan suara kasar, mencoba menutupi rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. "Kau pikir ini tentang cinta? Kau pikir aku takut kau berpaling?"
Arvin tertawa sinis, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menyakiti. "Kau itu hanyalah aset. Kau adalah barang milikku yang sudah kubayar mahal dengan kenyamanan dan perlindungan. Aku hanya tidak ingin barang milikku disentuh atau dikotori oleh orang lain! Kau mengerti? Sama seperti aku tidak suka mobilku dipinjam orang, aku juga tidak suka istriku didekati pria lain. Ini soal kepemilikan, bukan soal perasaan!"
Zoya memejamkan mata. Kata 'barang' dan 'aset' terasa seperti silet yang mengiris-iris hatinya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya.
"Terima kasih atas kejujurannya, Tuan," bisik Zoya, suaranya sangat lirih hingga nyaris hilang. "Aku lupa kalau di rumah ini, aku tidak lebih berharga daripada koleksi jam tangan mewahmu."
Zoya mendorong dada Arvin dengan sisa kekuatannya dan berlari menuju kamar.
Arvin tetap berdiri di tempatnya, menatap tangannya yang tadi sempat gemetar. Ia ingin mengejar Zoya, ingin mencabut kata-katanya yang kasar, namun egonya kembali membisikkan bahwa menunjukkan kelemahan berarti kekalahan.
Ia telah memenangkan perdebatan itu, namun ia merasa baru saja kehilangan separuh dari nyawa di dalam rumahnya sendiri.
Di dalam kamar yang tertutup rapat, isak tangis Zoya terdengar memilukan, meratapi aturan Tiga Meter yang kini benar-benar menjauhkan hati mereka lebih jauh dari sekadar jarak fisik.
...----------------...
To Be Continue .....