Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Senin Yang berubah Arah
Senin. Hari paling menyebalkan dalam seminggu. Bagi anak SMP sepertiku, Senin berarti upacara yang panjang, kelas matematika yang bikin pusing, dan rutinitas penjemputan yang sudah mendarah daging: Kak Hazel.
Biasanya, tepat pukul dua siang, motor Kak Hazel sudah terparkir di depan gerbang sekolah. Dia akan berteriak, "Rea! Cepetan!" dengan suara cemprengnya yang bikin murid satu sekolah menoleh.
Tapi hari ini berbeda. Sampai pukul 14.15, motor itu tidak kunjung datang.
Ponselku bergetar di saku rok. Ada pesan WhatsApp dari Kak Hazel.
[Kak Hazel] : "Dek, sorry banget! Tugas praktik bengkel gue ternyata belum kelar, harus lembur sampai sore di SMK. Gue nggak bisa jemput lo. Tapi tenang, gue udah bilang Luq. Dia ada urusan lewat deket sekolah lo, jadi dia yang jemput ya."
Jantungku rasanya berhenti berdetak sedetik.
Luq? Yang menjemput bukan Kak Hazel, tapi Luq?
Aku buru-buru membalas, "Gak usah, kak. Aku naik ojek online aja"
Tapi pesanku hanya centang satu. Kak Hazel pasti sudah sibuk di bengkel. Aku menghela napas, berdiri di dekat gerbang sekolah sambil berusaha menyembunyikan wajahku di balik buku catatanku.
Rasanya canggung sekali membayangkan Luq harus menunggui anak SMP di gerbang sekolahnya yang ramai.
Lima menit kemudian, sebuah motor yang sangat familiar berhenti tepat di depanku.
Itu dia. Luq.
Dia tidak memakai seragam SMK-nya yang lengkap, tapi jaket hoodie gelap yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dan... keren. Dia membuka kaca helmnya, menatap ke arahku dengan senyum tipis.
"Rea?" panggilnya.
Aku melangkah mendekat dengan ragu. "I-iya, Kak Luq. Maaf ya, Kak Hazel malah nyusahin kakak."
Luq tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat tenang di tengah bisingnya klakson kendaraan di depan sekolah. "Santai aja kali. Hazel Emang lagi sibuk sama tugas praktek nya karena ga bisa izin. Lagian gue emang mau ke arah sini kok."
Dia menyodorkan helm cadangan padaku.
"Ayo naik. Nanti telat sampai rumah, dimarahin Ibu."
Aku menerima helm itu dengan tangan sedikit gemetar. Ini pertama kalinya aku dibonceng Luq. Saat aku naik ke jok belakang, aku harus menjaga jarak sejauh mungkin—aku sangat sadar diri kalau aku masih anak SMP dan dia sudah anak SMK.
"Pegangan, Rea. Nanti kamu jatuh," katanya dari depan, tanpa menoleh.
"Enggak, aku udah pegangan kok," jawabku canggung, hanya memegang bagian besi belakang motor.
Luq tidak membalas lagi, dia menjalankan motornya perlahan. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa menatap punggung jaket Hoodie nya. Aroma parfumnya—aroma maskulin yang samar, campuran wangi sabun—tercium jelas saat angin berhembus.
Dunia terasa sangat sunyi, hanya ada suara deru mesin motor. Biasanya, kalau dibonceng Kak Hazel, dia akan ngoceh terus dari awal sampai rumah. Tapi dengan Luq, suasananya jauh lebih tenang.
"Sekolah kamu tadi lancar?" tanya Luq tiba-tiba, memecah keheningan saat kami berhenti di lampu merah.
"Eh? Iya, lancar kok, Kak," jawabku kikuk.
"Bagus. Semangat ya belajarnya. Aku tahu kelas 2 SMP itu lagi capek-capeknya tugas."
Kalimat itu sederhana sekali. Tapi buatku, itu jauh lebih berarti daripada ocehan Kak Hazel. Dia memperhatikanku. Dia tahu aku kelas berapa. Dia tahu aku sedang capek.
Saat motornya berhenti di depan pagar rumahku, aku segera turun dan menyerahkan helm. "Makasih ya, Kak Luq. Maaf banget ngerepotin."
Luq membuka kaca helmnya lagi, menatapku dengan mata yang hangat. "Nggak ngerepotin, Rea. Lain kali kalau Hazel nggak bisa jemput, bilang aja ke akuu langsung. Gak usah sungkan."
Dia mengedipkan sebelah mata, lalu memutar motornya meninggalkan halaman rumahku.
Aku berdiri mematung di depan pagar, menatap motornya yang menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Hari Senin yang tadinya kupikir akan berjalan membosankan, ternyata menjadi hari yang paling sulit kulupakan.