Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sempurna
Enam menit kemudian, Cassia berdiri di depan cermin tiga sisi, dan dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Gaun hitam itu melekat sempurna di tubuhnya yang bisa dikategorikan berbentuk jam pasir, tahta tertinggi bentuk kesempurnaan tubuh wanita.
Korsetnya membentuk lekuk tubuhnya menjadi siluet jam pasir yang elegan. Kainnya jatuh lembut di pinggulnya, lalu melebar ke lantai. Setiap kali bergerak, belahan kain di sisi kiri memperlihatkan sekilas pahanya yang jenjang dan selalu tertutup selama ini.
Tapi yang paling gong adalah bahunya. Tanpa tertutup kain di bahu dan lengan, seluruh leher tampak jenjang seperti patung.
Punggungnya yang biasanya tersembunyi di balik kemeja kuno, kini terbuka lebar hingga tiga jari di atas pinggang.
"Oh my God … Nona Cassia, kau sangat sempurna," Elizabeth berdiri di belakangnya dengan mulut terbuka karena tak menyangka bahwa di balik pakaian kuno Cassia, terdapat tubuh indah yang disembunyikan.
Mereka bercermin bersama. "Anda tidak terlihat seperti sekretaris yang pergi ke pesta. Anda terlihat seperti wanita yang akan membuat semua orang berhenti bicara saat memasuki ruangan. Ini jauh melebihi ekspektasiku.”
"Tapi aku tidak—"
"Tuan Kingsford pasti sepakat melihat apa yang aku lihat sekarang." Elizabeth berputar mengelilingi Cassia. "Dia pasti belum pernah melihat Anda seperti ini. Dia pasti akan terpana. Percayalah padaku.”
Cassia menggigit bibir bawah. Dalam hatinya, dia berharap apa yang dikatakan oleh Elizabeth benar adanya. Benarkan Max akan melihatnya? Pada akhirnya?
"Baiklah," Cassia berbisik. "Aku ambil gaun ini."
Elizabeth bertepuk tangan pelan. "Keputusan yang luar biasa. Sekarang, untuk sepatu."
Cassia mengira prosesnya selesai. Ternyata belum. Elizabeth membawanya ke bagian alas kaki. Rak itu berisi stiletto dari berbagai merek yang nama-namanya hanya Cassia baca di majalah mode.
Elizabeth mengeluarkan sebuah kotak hitam. Di dalamnya, sepasang stiletto haknya setinggi sepuluh sentimeter berwarna hitam matte, dengan tali tipis melingkar di mata kaki.
"Ini dari koleusi terbatas. Haknya stabil, aku pastikan itu. Dan dengan gaun yang jatuh panjang, Anda butuh tambahan tinggi agar siluetnya sempurna."
Cassia menatap hak itu seperti melihat tebing terjal. Sepuluh sentimeter. Dia hampir tidak bisa berjalan dengan hak lima sentimeter.
"Coba dulu," bujuk Elizabeth. "Kami punya karpet tebal di sini, tidak akan sakit."
Cassia memakainya. Ajaibnya, hak itu nyaman. Atau mungkin dia hanya terlalu terpesona dengan bagaimana kakinya tiba-tiba tampak lebih panjang, bagaimana posturnya berubah.
"Sepatu ini akan membantu Anda, Nona. Dengan postur yang benar, Anda akan tampak percaya diri. Dan percaya diri adalah aksesori paling mahal. Anda akan tampak sempurna di samping Tuan Kingsford."
Lalu perhiasan. Elizabeth membuka brankas kecil di dinding. Mengeluarkan kalung rantai tipis dengan liontin berlian hitam, anting seperti tetesan air mata yang sama, dan gelang diamond yang tipis di pergelangan.
"Ini bukan milik butik, Nona. Ini milik desainer yang bekerja sama dengan kami. Aku bisa meminjamkannya untuk acara Anda."
"Meminjamkan?"
"Tuan Kingsford adalah pelanggan paling berharga kami." Elizabeth tersenyum. "Ini bentuk terima kasih."
Cassia hampir tertawa. Sebuah kalung yang bisa membayar uang kuliahnya setahun penuh, dipinjamkan gratis karena nama Max Kingsford.
Terakhir adalah tas. Elizabeth memilih clutch hitam kecil dengan pegangan rantai emas. Ukurannya hanya cukup untuk ponsel, lipstik, dan kartu. "Tas besar membuat wanita terlihat sibuk. Tas kecil membuatnya terlihat seperti ratu yang tidak perlu membawa apa pun karena semua orang akan melayaninya."
*
*
*
Saat semua sudah dimasukkan ke dalam kantong belanja mewah, empat kantong besar untuk gaun, sepatu, perhiasan, dan tas—Elizabeth mengambil sesuatu dari laci mejanya.
Sebuah amplop berwarna krem, dengan lilin merah yang dicap inisial asterisk.
"Apa ini?" Cassia bertanya.
"Voucher untuk salon kecantikan Veronica. Di lantai empat gedung ini, naik lift ke kiri. Mereka spesialis riasan dan tatanan rambut untuk acara selebritis dan pernikahan bangsawan." Elizabeth menyerahkan amplop itu dengan kedua tangan. "Semua sudah diatur untuk hari pesta. Perawatan tubuh, rambut, dan makeup. Anda hanya perlu datang pukul sembilan pagi, dan mereka akan mengurus sisanya."
“Tuan Kingsford tahu tentang ini?" Cassia bertanya, suaranya masih ragu.
Elizabeth mengedipkan mata. "Tuan Kingsford hanya tahu bahwa Anda akan tampil sempurna. Untuk keseluruhannya, biar menjadi kejutan."
‘Kejutan? Apakah benar Max akan terkejut dengan penampilanku nanti?’ batin Cassia.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭