Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Kabur Tapi Gagal
Ide itu datang jam dua pagi. Bukan ide yang direncanakan. Bukan hasil mikir panjang atau strategi matang. Tapi waktu Zahra rebahan di kasurnya dan tiba-tiba sadar bahwa besok, lusa, minggu depan, bulan depan semuanya akan tetap sama. Rumah yang sama, meja makan yang sama, keheningan yang sama.
Sesuatu di dalam dadanya bilang 'kabur.'
Bukan kabur permanen. Bukan lari keluar negeri atau hal-hal dramatis yang ada di novel. Hanya, pergi dulu. Nafas dulu. Keluar dari rutinitas yang mulai terasa seperti dinding yang pelan-pelan menyempit.
Zahra duduk di kasur. "Gue bisa pergi ke rumah Sinta."
Sinta punya kost di daerah Tebet, dua kamar, satu kamar kosong yang kuncinya Zahra masih pegang dari jaman mereka sering begadang ngerjain tugas kuliah di sana. Cukup buat semalam. Cukup buat Zahra merasa punya kontrol atas sesuatu, apapun itu.
Dia mulai packing ransel kecil. Pelan-pelan, supaya tidak berisik. Baju ganti satu. Charger. Dompet. Kunci kost Sinta yang masih nyangkut di gantungan kuncinya.
Ransel dijinjing ke bahu. Zahra membuka pintu kamar pelan-pelan. Koridor gelap. Sepi. Pintu kamar Rafandra tertutup, tidak ada cahaya dari celah bawahnya.
"Oke. Dia udah tidur. Ini gampang."
Zahra menuruni tangga satu per satu, menjauhi anak tangga ketiga dari bawah yang kemarin bunyi krek waktu dia injak.
Sampai di foyer. Pintu depan tinggal beberapa langkah. Zahra meraih gagang pintu—
"Mau ke mana?"
Zahra membeku. Suara itu datang dari arah ruang keluarga. Gelap, tapi kalau Zahra squint matanya ada siluet di sofa. Duduk. Tidak menyalakan lampu.
'Rafandra.'
"Ya Allah—" Zahra memegang dadanya sendiri. "Om ngagetin aja."
"Mau ke mana?" Diulang. Sama datar. Sama tenang. Seperti menanyakan cuaca.
Zahra menarik napas. "Gue mau... keluar sebentar."
"Di jam dua pagi?."
"Iya."
"Dengan ransel?."
Zahra tidak menjawab. Lampu meja di sudut ruang keluarga menyala Rafandra yang menyalakannya, dari remot kecil di tangannya. Cahaya remang menerangi ruangan itu cukup untuk Zahra melihat wajahnya.
Dia duduk di sofa dengan satu kaki diangkat, buku terbuka di pangkuan yang jelas sudah tidak dibaca karena matanya sekarang ke arah Zahra. Kaos hitam, rambut tidak tersisir.
Dia tidak tidur. Dari tadi dia di sini.
"Gue cuma mau ke tempat teman," kata Zahra akhirnya. "Semalam. Besok gue balik."
Rafandra menatapnya.
Tidak marah, itu yang pertama Zahra tangkap. Tidak ada rahang yang mengencang atau mata yang menggelap. Hanya menatap, dengan ekspresi yang susah sekali dibaca di cahaya redup ini.
"Kamu boleh pergi," katanya akhirnya.
Zahra berkedip. "Hah?"
"Kamu boleh pergi," ulang Rafandra. "Tapi bukan malam ini."
"Kenapa?"
"Karena jam dua pagi bukan waktu yang aman untuk seorang perempuan keluar sendiri." Dia menutup bukunya. "Kalau kamu mau pergi besok siang, bilang ke Mbak Reni. Supir akan mengantarmu."
Zahra menatapnya.
"Dia nggak ngelarang. Tapi dia juga nggak ngizinin, tidak untuk malam ini, ribet banget." kesal Zahra.
"Gue bisa pesan ojek online sendiri, Om."
"Aku tahu kamu bisa." Rafandra meletakkan buku ke meja. "Tapi tidak malam ini." Nadanya bukan perintah keras. Tapi juga bukan permintaan yang bisa diabaikan.
Zahra berdiri di sana beberapa detik ransel di bahu, tangan masih di gagang pintu, kepala yang sedang menimbang apakah ini worth it untuk diperdebatkan.
Akhirnya dia melepas gagang pintu.
"Besok siang gue pergi," kata Zahra. "Dan gue nggak butuh supir."
"Terserah kamu."
Zahra berbalik ke tangga. Naik. Masuk kamar. Menutup pintu. Ransel dilempar ke sudut kasur dan rebahan, menatap langit-langit menghela napas panjang.
"Gagal."
Bukan karena Rafandra melarang secara teknis dia tidak melarang. Tapi entah kenapa waktu dia bilang "bukan malam ini" dengan nada itu, dengan ekspresi seperti itu.
Kaki Zahra memilih balik ke kamar dan itu yang paling membuat Zahra frustrasi. "Bukan dia yang ngehentiin gue."
"Gue yang ngehentiin diri sendiri."
.
.
.
Besok siangnya, Zahra menepati kata-katanya. Turun dengan ransel yang sama, memberitahu Mbak Reni bahwa dia akan pergi semalam, dan berjalan ke pintu depan.
Rafandra tidak ada sudah berangkat dari jam setengah enam seperti biasa. Tapi di meja dekat pintu ada sesuatu.
Amplop putih kecil. Nama Zahra ditulis di depannya dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas. Zahra mengambilnya, membuka.
Di dalamnya: kartu nama Rafandra dan satu lembar kertas kecil. "Kalau ada apa-apa, hubungi nomor ini. Kapanpun."
Bukan "cepat balik." Bukan "jangan kemana-mana." Hanya nomor dan satu kalimat itu.
Zahra melipat kertas itu, memasukkan ke saku jeans-nya. Lalu keluar naik ojek online yang dia pesan sendiri, seperti yang dia bilang dan selama perjalanan ke kost Sinta, tangannya sesekali menyentuh saku tempat kertas itu tersimpan.
Kost Sinta menyambutnya dengan pelukan yang terlalu keras dan suara yang terlalu keras untuk siang hari.
"AKHIRNYAAA! Gue udah mau jemput lo paksa!"
"Lebay lo." Tapi Zahra balas pelukannya.
Mereka rebahan di kasur Sinta seperti jaman SMA Sinta dengan camilan di tangan, Zahra dengan bantal dipeluk, langit-langit kost yang catnya sudah mulai mengelupas di sudut atas.
"Jadi," kata Sinta. "Cerita. Semua. Dari awal."
Zahra cerita.
Semua dari percakapan soal kesepakatan keluarga, gala dinner dan Pak Irwan, sampai kejadian semalam di foyer jam dua pagi. Sinta mendengarkan dengan serius, yang berarti dia tidak menyela lebih dari tiga kali.
"Okay," kata Sinta waktu Zahra selesai. "Gue mau bilang sesuatu dan lo nggak boleh marah."
"Bilang aja."
"Rafandra itu..." Sinta memilih kata-katanya. "Bukan yang lo kira, kayaknya."
Zahra menoleh. "Maksudnya?"
"Lo kira dia dingin dan nggak peduli. Tapi dari semua yang lo ceritain, sandwich waktu lo nggak makan, kertas di meja tadi, semalam dia nggak ngelarang lo pergi tapi juga nggak biariin lo keluar jam dua pagi sendirian—" Sinta mengangkat alis.
"Itu bukan orang yang nggak peduli, Zah."
Zahra menatap langit-langit.
"Gue tau," katanya pelan. Jujur untuk pertama kali hari ini. "Itu yang bikin gue bingung."
"Bingung kenapa?"
"Karena lebih gampang kalau dia beneran dingin dan nggak peduli." Zahra menghela napas.
"Kalau dia beneran kayak gitu, gue bisa benci dia dengan tenang. Tapi kalau dia kayak... ini—"
"Lo nggak bisa benci dia."
"Gue nggak tau harus ngerasa apa."
Sinta diam sebentar.
"Lo nggak harus langsung tau, Zah." Pelan. Tanpa dramatis. "Lo baru sebelas hari nikah sama orang yang hampir nggak lo kenal. Nggak tau harus ngerasa apa itu wajar."
Zahra menutup matanya. Sebelas hari. Terasa seperti lebih lama dari itu.
.
.
.
Malam itu Zahra tidur di kost Sinta dengan selimut tipis dan bantal yang terlalu kempes, jauh dari kasur king size di rumah itu. Tapi entah kenapa tidurnya lebih nyenyak dari beberapa malam terakhir.
Mungkin karena di sini dia bisa jadi Zahra yang biasa bukan istri siapapun, bukan bagian dari kesepakatan keluarga manapun. Hanya Zahra, dengan sahabatnya, di kamar kost yang catnya mengelupas.
Jam sebelas malam, HPnya bergetar. Pesan masuk dari nomor Rafandra.
"Sudah sampai?" Tiga kata. Singkat. Tapi dikirim.
Zahra menatap layar itu lama. Lalu mengetik.
"Sudah. Tidur yang nyenyak, Om."
Tiga detik kemudian, centang dua dibaca. Tidak ada balasan.
Tapi Zahra meletakkan HP dengan perasaan yang aneh di dadanya bukan marah, bukan sedih.
Sesuatu yang lebih dekat ke tenang. Dan itu yang paling tidak dia mengerti.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼