Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Letaknya Sebuah Kebenaran
Mansion megah itu diselimuti oleh kegelapan yang pekat, seolah-olah seluruh bangunan itu sedang menahan napas.
Di dalam kamar utama, detak jam dinding terdengar seperti suara palu yang menghantam paku—konstan, dingin, dan mematikan.
Kinara berbaring di tempat tidur, matanya terbuka lebar menatap langit-langit yang gelap.
Di sampingnya, Arlan tertidur dengan napas yang teratur.
Tangan pria itu melingkar erat di pinggang Kinara, sebuah pelukan yang biasanya terasa hangat namun kini terasa seperti belenggu bagi Kinara.
Sudah empat hari Kinara memainkan peran sebagai istri yang sempurna.
Ia tersenyum saat Arlan membawakan bunga, ia tertawa saat Arlan bertingkah manja meminta disuapi, dan ia bahkan membiarkan Arlan mencium keningnya setiap malam sebelum tidur.
Namun, di balik topeng kepatuhan itu, hati Kinara membeku. Ia adalah seorang mata-mata di rumahnya sendiri.
Perlahan, dengan gerakan yang sangat hati-hati, Kinara melepaskan tangan Arlan dari tubuhnya.
Ia menahan napas saat Arlan sedikit mengerang dalam tidurnya, namun untungnya pria itu tidak terbangun.
Kinara turun dari ranjang, kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya.
Ia melangkah menuju ruang kerja pribadi Arlan—sebuah ruangan yang selama ini menjadi area terlarang. Dengan jari-jari yang bergetar, ia memasukkan kode akses yang berhasil ia intip kemarin sore.
Klik.
Pintu terbuka dengan suara yang sangat pelan.
Kinara segera masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan membangunkan seisi mansion. Ia duduk di kursi kebesaran Arlan, menyalakan komputer, dan segera memasukkan sebuah flashdisk yang sudah ia siapkan.
"Ini akhirnya, Arlan," bisik Kinara dalam hati.
"Malam ini, aku akan mengambil kembali apa yang kau curi dari Ayah."
Ia mulai meretas folder demi folder yang dilindungi kata sandi.
Sebagai seorang penulis, Kinara memiliki ketelitian yang luar biasa.
Ia mencari folder berlabel "Andromeda 2021".
Saat folder itu terbuka, ribuan dokumen muncul di layar.
Dokumen keuangan, rekaman suara, hingga salinan kontrak-kontrak gelap.
Kinara mulai menyalin data itu satu per satu.
Matanya membelalak melihat angka-angka triliunan yang berpindah tangan.
Namun, saat ia sedang menunggu proses penyalinan selesai, perhatiannya teralih pada sebuah folder kecil di sudut layar yang tersembunyi di dalam sistem root.
Nama foldernya adalah "K-P-2021 (Protect)".
"K-P? Kinara Posentia?" gumamnya bingung.
Ia membuka folder itu. Isinya bukan tentang kehancuran bisnis, melainkan tumpukan surat medis, bukti pembayaran rumah sakit, dan... rekaman percakapan telepon yang disadap.
Kinara mengklik salah satu rekaman audio.
Suara di rekaman itu terdengar sangat familiar.
Itu adalah suara Paman Samuel, adik kandung ayahnya, satu-satunya keluarga yang selama ini mendukung Kinara setelah ayahnya meninggal.
"...Lakukan saja. Pastikan sistem keamanannya jebol malam ini. Kakakku terlalu percaya padaku, dia tidak akan curiga. Jika dia terkena serangan jantung karena panik, itu bukan urusanku. Yang penting saham itu jatuh ke tanganku sebelum Arlan Group masuk," suara Paman Samuel terdengar dingin dan licik di rekaman itu.
Darah Kinara seolah berhenti mengalir. Dunianya serasa berputar. "Tidak... tidak mungkin... Paman Samuel?"
Ia membuka dokumen berikutnya.
Itu adalah bukti aliran dana dari perusahaan kompetitor ke rekening pribadi Samuel.
Samuel-lah yang membocorkan rahasia dagang ayahnya. Samuel-lah yang sengaja memicu kebangkrutan itu agar ia bisa menjual perusahaan tersebut ke pihak luar.
Lalu, Kinara menemukan sebuah kontrak penjualan aset tertanggal satu hari setelah ayahnya meninggal. Penjualnya adalah Samuel (sebagai wali sah Kinara saat itu), dan pembelinya adalah Arlan Group.
Namun, ada catatan kaki yang ditulis dengan tinta merah oleh Arlan sendiri di sana:
"Beli dengan harga 200% dari harga pasar. Pastikan dana ini masuk ke rekening aman atas nama Kinara Posentia tanpa diketahui oleh Samuel. Aset perusahaan harus diamankan dari Samuel sebelum dia menjualnya ke pihak asing. Ini adalah satu-satunya cara menyelamatkan warisan Ayah Kinara."
Kinara menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air matanya tumpah begitu saja, membasahi meja kerja Arlan.
Selama ini ia mengira Arlan adalah monster yang menghancurkan ayahnya.
Namun ternyata, Arlan adalah satu-satunya orang yang mencoba menyelamatkan sisa-sisa kehancuran ayahnya dari pengkhianatan keluarganya sendiri.
"Kenapa..." Kinara terisak. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya, Arlan?"
"Karena kau sangat menyayanginya," suara sebuah bariton rendah memecah kesunyian ruangan.
Kinara terlonjak kaget.
Di ambang pintu, Arlan berdiri dengan piyama sutranya.
Cahaya dari monitor membuat bayangannya tampak panjang dan menakutkan di lantai..
Namun, wajah Arlan tidak menunjukkan kemarahan.
Ia tampak hancur. Matanya merah, menunjukkan bahwa ia mungkin sudah memperhatikan Kinara sejak tadi.
"Arlan..." Kinara bangkit dengan kaki yang lemas tak bertulang. "Paman Samuel... rekaman ini... apa ini benar?"
Arlan berjalan mendekat, langkahnya sangat perlahan, seolah ia takut akan menakuti mangsa yang terluka. Ia berhenti tepat di depan Kinara.
"Aku tahu kau mencintai pamanmu. Dia adalah satu-satunya keluargamu yang tersisa saat itu. Aku tidak sanggup melihatmu hancur untuk kedua kalinya jika aku memberitahumu bahwa dialah yang membunuh ayahmu secara perlahan."
Arlan tersenyum pahit, sebuah senyum yang merobek hati Kinara.
"Aku lebih baik menjadi monster di matamu, Kinara. Aku lebih baik dibenci olehmu setiap hari, asalkan kau masih punya satu orang di dunia ini untuk kau percayai, meskipun orang itu adalah seorang pengkhianat."
Kinara merosot ke kursi, tubuhnya bergetar hebat. "Tapi aku hampir menghancurkanmu, Arlan! Aku sudah mengirimkan sebagian data palsu yang kubuat ke musuh bisnismu sore tadi melalui kantor baruku! Aku ingin membuatmu bangkrut!"
Wajah Arlan memucat, namun ia tetap tenang.
Ia berlutut di depan Kinara, memegang tangan wanita itu yang sedingin es.
"Aku tahu. Tim IT-ku sudah mencegatnya di server pusat setengah jam yang lalu. Tapi sejujurnya, Kinara... jika kau benar-benar ingin aku hancur, kau tidak perlu menggunakan data perusahaan."
Arlan menempelkan tangan Kinara ke dadanya yang berdetak kencang.
"Kau hanya perlu pergi meninggalkanku lagi. Itu sudah cukup untuk menghancurkan seluruh duniaku. Arlan Group tidak ada artinya jika kau menatapku dengan kebencian seperti malam itu."
Kinara menatap Arlan, pria yang selama ini ia lukai dengan kata-katanya, ia hina dengan tatapannya, dan ia hancurkan dengan rencananya.
Pria yang selama ini bertingkah manja hanya untuk mendapatkan sedikit saja perhatian darinya, ternyata adalah orang yang memikul beban rahasia yang begitu berat demi menjaga kesehatan mental Kinara.
"Maafkan aku, Arlan... maafkan aku..." Kinara menangis tersedu-sedu, ia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Arlan.
Namun, Arlan tidak langsung membalas pelukan itu dengan hangat seperti biasanya.
Ia tetap diam.
Tangannya hanya menggantung di sisi tubuhnya.
Ia melepaskan pegangan Kinara secara perlahan dan berdiri.
"Aku sudah lelah, Kinara," ucap Arlan dengan suara yang sangat hampa.
"Aku memberikan segalanya, tapi kau tetap memilih untuk tidak mempercayaiku. Mungkin benar kata orang, cinta yang dibangun di atas rasa bersalah dan rahasia tidak akan pernah berhasil."
Arlan berbalik membelakangi Kinara.
"Besok, aku akan menyiapkan surat perceraian kita. Semua aset ayahmu sudah aku pindahkan ke akun pribadimu. Kau bebas sekarang. Kau tidak perlu berpura-pura mencintaiku atau menjadi penurut lagi."
Arlan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Punggungnya tampak begitu rapuh, sangat kontras dengan sosok CEO yang berkuasa.
Kinara terpaku di ruang kerja yang dingin itu, menyadari bahwa kemenangan yang ia dambakan ternyata adalah kekalahan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Ia telah memenangkan kebenaran, tapi ia baru saja kehilangan pria yang mencintainya lebih dari nyawanya sendiri.