NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Elang Kaivan vs Mata Batin Gendis

Pagi di lereng Gunung Etna menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti perkebunan zaitun. Di teras vila yang terbuat dari batu alam, Kaivan Vittorio duduk dengan tegak, sebuah senapan runduk (sniper rifle) jenis L115A3 terletak di pangkuannya. Ia sedang membersihkan lensa bidik dengan kain mikrofiber, gerakannya presisi dan penuh perhitungan. Mata abu-abunya yang tajam—yang sering disebut anak buahnya sebagai "Mata Elang"—menatap lurus ke arah lembah di bawah sana, memindai setiap pergerakan yang mencurigakan.

​Bagi Kaivan, penglihatan adalah segalanya. Ia dilatih untuk melihat detak jantung di leher musuh dari jarak satu kilometer, melihat pantulan bayangan di genangan air, dan mendeteksi kebohongan dari kedipan mata lawan. Baginya, dunia adalah kumpulan data visual yang logis.

​Namun, di sampingnya, duduk seorang gadis yang sedang sibuk mengupas jeruk sambil menatap ke arah pohon zaitun tua yang tampak kosong.

​"Kak, jangan liat ke arah situ terus. Ganggu lho," ucap Gendis tiba-tiba tanpa menoleh.

​Kaivan menghentikan gerakan tangannya. Ia kembali menatap melalui lensa bidik, mengamati area yang ditunjuk Gendis. "Kenapa? Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya semak belukar dan jarak pandang yang bersih."

​Gendis mendengus, lalu memasukkan satu siung jeruk ke mulutnya. "Itu menurut mata elang Kakak yang cuma bisa liat benda padat. Tapi menurut mata batin saya, di bawah pohon itu lagi ada rapat RT para arwah pejuang perang dunia kedua. Mereka lagi protes karena laras panjang Kakak itu ngarah tepat ke hidung komandan mereka. Dia baperan lho, Kak, nanti kalau dia tiup larasnya, peluru Kakak bisa melengkung ke jidat sendiri."

​Kaivan menurunkan senjatanya dan menatap Gendis datar. "Gendis, aku sedang melakukan pengintaian keamanan. Jangan mulai lagi dengan urusan 'rapat RT' gaibmu."

​"Dibilangin nggak percaya," gumam Gendis. Ia berdiri, lalu mendekati Kaivan. Ia meletakkan tangannya di depan lensa bidik senapan itu. "Coba deh, Kakak liat pakai rasa, jangan cuma pakai mata. Tutup mata Kakak sebentar."

​"Aku tidak punya waktu untuk permainan ini."

​"Sebentar doang! Pelit amat sih jadi Mafia," paksa Gendis.

​Entah kenapa, Kaivan menuruti perintah itu. Ia memejamkan mata. Suasana mendadak hening. Ia hanya mendengar suara angin yang berdesir di antara daun zaitun dan napas Gendis yang teratur di sampingnya.

​"Sekarang, bayangin warna udara di depan Kakak. Bukan bening, tapi ada serat-seratnya kayak benang," bisik Gendis lembut, suaranya kini terdengar serius. "Di arah jam dua, ada warna merah pekat yang keruh. Itu bukan manusia, itu amarah yang tertinggal. Di arah jam sepuluh, ada warna biru pucat. Itu rasa takut."

​Kaivan mencoba berkonsentrasi. Awalnya ia merasa konyol, namun perlahan, kegelapan di balik kelopak matanya seolah mulai bergejolak. Ia merasakan sebuah denyutan di udara—sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh sensor teknologi manapun.

​"Mata batin itu bukan liat setannya, Kak. Tapi liat sisa emosi yang mereka tinggalin. Mata elang Kakak mungkin bisa liat siapa yang pegang senjata, tapi mata batin saya bisa liat siapa yang niat narik pelatuk bahkan sebelum tangannya bergerak," lanjut Gendis.

​Tiba-tiba, Kaivan merasakan sebuah sengatan dingin di tengkuknya. Matanya terbuka lebar. Secara refleks, ia menyambar senapannya dan membidik ke arah jam sebelas—sebuah arah yang baru saja ia "rasakan" sebagai titik bahaya.

​KLIK.

​Di kejauhan, di balik rimbunnya pohon cemara yang jaraknya hampir 800 meter, terlihat kilatan cahaya kecil. Pantulan lensa musuh.

​"Tiarap!" teriak Kaivan sambil menarik kerah baju Gendis hingga gadis itu jatuh ke lantai teras.

​DOR!

​Sebuah peluru menghantam pilar batu tepat di tempat kepala Kaivan berada sedetik yang lalu. Pecahan batu beterbangan.

​"Anjir! Benar kan kata saya! Ada yang niat jahat!" teriak Gendis sambil berusaha menyelamatkan jeruknya yang jatuh.

​Kaivan tidak membalas. Ia sudah kembali ke mode predator. Matanya kembali menjadi dingin dan fokus. Ia mengatur napasnya, mengunci koordinat yang tadi ia rasakan melalui "instruksi" warna Gendis.

​"Gendis, tetap di bawah pilar itu. Jangan bergerak," perintah Kaivan. Suaranya rendah dan mematikan.

​"Iya, iya! Tapi Kak, arah jam satu! Ada yang lebih gelap warnanya! Dia lagi ngerayap di parit!" seru Gendis sambil menunjuk ke arah kanan tanpa berani mengangkat kepalanya.

​Kaivan menggeser laras senapannya ke arah jam satu. Secara visual, parit itu kosong. Hanya bayangan pepohonan. Namun, ia mengingat kata-kata Gendis tentang "serat udara". Ia melihat sedikit pergerakan rumput yang tidak seirama dengan arah angin.

​TAARRRR!

​Kaivan menarik pelatuk. Senapan itu menyalak kuat, menyebarkan gema ke seluruh lembah. Di kejauhan, seorang pria dengan pakaian kamuflase terjatuh dari parit, senjatanya terlempar ke udara.

​"Satu tumbang," gumam Kaivan.

​"Bagus! Tapi Kak, itu yang tadi nembak pilar masih ada! Dia lagi dilindungi sama hantu pohonnya! Hantu pohonnya lagi nutupin pandangan Kakak pake kabut tipis!" Gendis merayap mendekati kaki Kaivan, lalu memegang pergelangan tangan pria itu. "Sini, biar saya pinjemin 'mata' saya sebentar."

​Saat tangan Gendis menyentuh kulit Kaivan, sebuah sensasi aneh seperti aliran listrik statis mengalir. Pandangan Kaivan melalui lensa bidik mendadak berubah. Kabut yang tadinya menghalangi pandangannya seolah menjadi transparan. Ia bisa melihat siluet manusia di balik batang pohon besar dengan sangat jelas, seolah-olah pohon itu terbuat dari kaca.

​"Sekarang, Kak! Tembak bagian yang ada warna merah menyala di dadanya!" bisik Gendis.

​Kaivan tidak membuang waktu. Ia menarik napas, menahan detak jantungnya di antara dua denyutan, dan... DOR!

​Musuh kedua jatuh telak. Suasana lembah kembali hening. Kabut yang tadi terasa tebal mendadak buyar tertiup angin.

​Kaivan menurunkan senjatanya. Napasnya memburu. Ia menatap tangannya, lalu menatap Gendis yang masih memegang pergelangan tangannya dengan wajah pucat.

​"Kau... kau melakukan itu lagi," kata Kaivan, suaranya bergetar antara takjub dan ngeri.

​Gendis melepaskan tangannya, lalu terduduk lemas di lantai. "Duh... pusing, Kak. Pinjemin energi ke Mafia itu ternyata boros baterai ya. Kayak nge-cas HP pakai aki truk."

​Kaivan meletakkan senapannya, lalu berlutut di depan Gendis. Ia memegang wajah gadis itu dengan kedua tangannya—sebuah gerakan yang sangat lembut, sangat tidak mencerminkan seorang bos mafia. "Kau tidak apa-apa?"

​Gendis menatap mata Kaivan. Untuk pertama kalinya, Mata Elang itu tidak sedang mencari sasaran tembak. Mata itu sedang menatapnya dengan kekhawatiran yang nyata. "Nggak apa-apa... cuma laper lagi. Efek samping liat yang gaib-gaib emang bikin perut keroncongan, Kak."

​Kaivan terkekeh pelan. Ia menarik Gendis ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang. "Mata elangku mungkin bisa melihat dunia, tapi tanpamu, aku buta terhadap kebenaran yang tersembunyi."

​Gendis terdiam di pelukan Kaivan. Bau parfum kayu cendana dan sedikit aroma mesiu dari tubuh Kaivan entah kenapa terasa sangat menenangkan. "Cieee... Kak Kaivan bisa romantis juga. Belajar dari mana? Dari hantu pujangga yang saya usir kemarin ya?"

​"Diamlah, Gendis. Nikmati saja momennya sebelum aku berubah jadi monster lagi," sahut Kaivan, meski ia makin erat memeluknya.

​Tiba-tiba, Gendis melepaskan pelukannya dengan wajah panik.

​"Kenapa?" tanya Kaivan siaga.

​"Itu! Don Alessandro! Dia lagi berdiri di belakang Kakak sambil tepuk tangan! Dia bilang, 'Nah gitu, lanjutin! Jangan cuma pelukan, cium dong!'" Gendis menutup wajahnya dengan tangan. "Iih, kakek buyut Kakak mesum banget! Malu saya!"

​Kaivan menoleh ke belakang, tentu saja ia tidak melihat apa-apa, tapi ia bisa merasakan kehadiran yang hangat dan sedikit "jahil" di udara. Ia kembali menatap Gendis, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.

​"Sampaikan pada kakek buyutku," bisik Kaivan, suaranya serak dan menggoda, "bahwa aku tidak butuh penonton untuk bagian yang itu."

​Wajah Gendis meledak menjadi merah padam. "KAAAAAK KAIVAN! MESYUUUM!"

​Gendis segera berlari masuk ke dalam vila sambil menenteng sisa jeruknya, sementara Kaivan tertawa terbahak-bahak di teras. Tawanya memantul di lereng Gunung Etna, meredam sisa-sisa aroma kematian yang tadi sempat singgah.

​Malam itu, Kaivan menyadari satu hal penting. Mata elangnya mungkin memberinya kekuasaan di dunia nyata, namun mata batin Gendis memberinya sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kompas untuk memahami jiwanya sendiri yang selama ini hilang arah.

​Dua mata yang berbeda, dua dunia yang berlawanan, kini mulai belajar untuk saling mengisi. Di tengah ancaman para pembunuh bayaran yang masih mengintai, ada sebuah ikatan yang lebih kuat dari peluru baja yang mulai terpatri di antara sang Raja Mafia dan sang Gadis Indigo.

​"Kak! Seblaknya mana?!" teriak Gendis dari dapur.

​Kaivan menggelengkan kepala, mengambil senapannya, dan berjalan masuk. "Sabar, Gendis! Aku sedang menelepon koki di Roma untuk menerbangkan bumbunya!"

​Dunia mafia mungkin berbahaya, tapi menghadapi Gendis yang sedang lapar jauh lebih menantang bagi seorang Kaivan Vittorio.

1
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Farida 18: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!