Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Tapi... dia... dia benar-benar mayat yang ada di kamar mayat! Ke-kenapa dia bisa bangun sendiri?" tanya Pak Joko terdiam sejenak sebelum mengulang pertanyaannya.
Mata Pak Joko melotot melihat ke arah Abram.
Abram mengangkat bahu dengan senyuman lembut. "Mungkin dokter salah mendiagnosis. Saya merasa baik-baik saja kok, Pak."
Rian mendekat pelan ke arah Abram. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba mencubit lengan Abram dengan kuat.
"Aduh!" Abram menjerit kesakitan, ia segera menggosok bagian lengan yang terkena cubitan. "Itu sakit sekali!"
Pak Joko menghela nafas dengan nada cemberut. "Hei, salah cara! Kalau mau mengecek apakah dia benar-benar hidup, seharusnya kamu yang dicubitnya, bukan kamu yang mencubit dia!"
Rian menggeleng-geleng kepala dengan wajah polos. "Tapi aku takut sakit, Pak. Kalau aku yang dicubit, pasti nangis deh."
Pak Joko mengangkat alisnya dengan tidak percaya. "Kau takut sakit, tapi dia tidak? Bukankah dia baru saja dianggap meninggal dunia?"
Rian menoleh ke arah Abram dengan wajah penuh permintaan maaf. "Maaf ya, maaf. Aku cuma mau ngecek aja kok. Aku kira kalau kamu benar-benar mayat, kamu nggak akan merasakan sakit."
"Berhubungan Anda baru saja bangun dan kemungkinan ada kesalahan dalam diagnosis dokter, sebaiknya saya hubungi dokter on-call untuk memeriksa kondisi Anda kembali. Ini sesuai prosedur rumah sakit, Pak." kata petugas keamanan itu mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter.
Abram mendadak teringat pada kondisi tubuhnya sebelum dibawa ke rumah sakit, tubuhnya hampir seluruhnya ada luka, penuh nanah dan bau busuk yang menyengat.
Tapi sekarang, ketika ia melihat tangannya, kulitnya tampak mulus dan bersih seperti tidak pernah mengalami cedera sama sekali. Itu berubah setelah ada batu kecil berwarna kuning masuk ke dalam dadanya.
"Eh, tidak usah, Pak. Saya merasa cukup sehat dan ingin langsung pulang saja," kata Abram dengan senyuman yang mencoba tampak tenang.
"Tidak bisa begitu, Pak. Anda harus menjalani pemeriksaan ulang terlebih dahulu agar tidak ada komplikasi di kemudian hari," jawab petugas keamanan itu dengan tegas.
Petugas keamanan itu mengulurkan tangan untuk memegang lengan Abram agar Abram tidak pergi.
Tiba-tiba, energi hangat yang tidak terduga mengalir dari tubuh Abram melalui titik kontak tangan mereka. Petugas keamanan itu merasakan panas yang luar biasa menarik tangannya kembali, seolah-olah dirinya menyentuh bara api yang masih menyala.
"Aduhhh!" Petugas keamanan itu menjerit kesakitan dan segera melepaskan genggamannya, mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang mulai tampak kemerahan seperti terbakar.
"Ke-kenapa ini? Kenapa tanganku seperti terbakar padahal aku cuma menyentuhnya?" tanya petugas keamanan itu kesakitan dan kebingungan.
Wajah petugas keamanan iti penuh kepanikan saat ia melihat gelembung kecil mulai muncul di permukaan kulit tangannya.
Abram juga terkejut dan kebingungan, ia melihat kedua tangannya dengan tatapan bingung. Bagaimana mungkin orang yang menyentuh kulitnya membuat orang itu terbakar?
"Kamu... apa yang kamu lakukan kepada Bapak petugas ini?!" Pak Joko menjerit dengan suara menggema di lorong kosong, matanya membulat lebar menyaksikan kejadian yang tak masuk akal itu.
"Aku... aku tidak tahu, Pak. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi," jawab Abram dengan suara gemetar, merasakan adanya kekuatan aneh yang mulai muncul dari dalam dirinya, kekuatan yang ia tidak sanggup kendalikan.
"Ughhhh! Sakit sekali!" seru petugas keamanan itu.
Matanya menyipit kesakitan saat tangannya yang mulai memerah membengkak hingga ke pergelangan.
Pak Joko dan Rian, langsung terkejut dan panik. Matanya keduanya membulat lebar, tak percaya melihat kondisi tangan petugas keamanan itu semakin parah.
"Ayo, pak! Bapak harus segera mendapatkan perawatan sebelum kondisi tanganmu semakin parah!" teriak Pak Joko dengan nada khawatir, segera meraih lengan Budi dengan hati-hati agar tidak menyakitinya lebih jauh.
Rian juga segera menolong menyandarkan tubuh Budi yang mulai goyah karena menahan sakit.
Mereka meninggalkan Abram sendirian di depan ruang kamar mayat.
Wajah Abram penuh kebingungan. Ia berdiri dengan tubuh yang sedikit goyah, masih belum bisa memahami apa yang baru saja terjadi.
"Kekuatan macam apa ini? Kenapa bisa jadi begini?" bisik Abram sambil menatap arah di mana Pak Joko dan Rian membawa Budi pergi.
Tanpa sadar, tangannya meraih bagian dada yang sedikit terasa hangat. Ia perlahan membuka sedikit kain menutupi sebuah benda yang tertanam di dadanya sejak ia bangun.
Cahaya samar berkelap kelip dari dalam batu tersebut, seolah sedang merespons kebingungan yang ada di benak Abram.
"Apa ini karena kamu ya?" tanya Abram pelan, ujung jarinya hampir menyentuh permukaan batu tersebut.
Tiba-tiba, sebuah suara dalam dan terdengar seperti bergema dari dalam dirinya sendiri. "Hey, anak muda!"
Abram terkejut kaget, tubuhnya melompat mundur dan matanya mengelilingi sekeliling koridor yang sepi. Jantungnya berdebar kencang karena rasa takut yang muncul tiba-tiba.
"Siapa kau?! Di mana kamu berada?! Tunjukkan dirimu sekarang juga!" teriaknya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Hey, anak muda... Aku adalah penjaga batu ajaib yang ada di dadamu. Panggil saja aku pak Tua saja," kata Suara itu.
Abram langsung menatap ke arah batu belang di dadanya. "Kau... kau yang berbicara itu?" tanya Abram.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya