Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pewaris Darah yang Terbakar
Kabut pagi di Lembah Marapi seolah memiliki tekstur. Ia tidak sekadar melayang di udara, melainkan menempel pada kulit, memberatkan helaian rambut, dan meninggalkan jejak embun di setiap permukaan benda.
Dara mengayuh sepeda ontel tua milik Kakek Danu dengan napas sedikit terengah. Jalanan menuju SMA Nusantara Lereng Marapi didominasi oleh aspal yang mulai mengelupas, diapit oleh rimbunnya perkebunan kol dan bayang-bayang bukit yang menjulang angkuh di kejauhan. Pakaian seragam putih abunya yang dilapisi jaket wol tebal terasa lembap.
Sepanjang perjalanan, Dara menyadari tatapan penduduk desa. Ibu-ibu yang sedang menyapu halaman atau bapak-bapak yang memikul kayu bakar, semuanya menghentikan aktivitas mereka sejenak hanya untuk menatapnya. Tatapan mereka bukanlah permusuhan, melainkan perpaduan antara rasa penasaran yang besar dan... kehati-hatian. Seolah-olah Dara adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja, atau justru sebuah bom waktu yang menunggu untuk meledak.
Mereka tahu siapa diriku, batin Dara. Mereka tahu aku cucu Kakek Danu, anak yang selamat dari langit.
Dara mencengkeram setang sepedanya lebih erat, memaksa matanya untuk menatap lurus ke depan. Ia tidak ingin dikasihani. Ia bertekad menjadikan hari pertamanya di sekolah ini sebagai titik balik. Tidak ada lagi Dara yang meringkuk ketakutan di sudut kamar. Jejak kaki raksasa semalam adalah bukti bahwa dunia ini lebih gila dari yang ia bayangkan, dan untuk bertahan hidup, ia harus membaur dan mencari informasi.
SMA Nusantara Lereng Marapi akhirnya perlahan muncul dari balik kabut. Bangunan itu membuat Dara menahan napas sejenak. Berbeda dengan sekolah-sekolah modern di Jakarta yang berlapis kaca dan beton, sekolah ini adalah sisa peninggalan era kolonial Belanda yang dialihfungsikan. Jendela-jendelanya berukuran raksasa dengan terali besi bercat putih yang mulai menguning. Atapnya tinggi, dan dinding-dinding batanya sebagian telah ditumbuhi tanaman rambat ivy yang menjalar liar.
Halaman sekolah dipenuhi oleh murid-murid berseragam putih abu-abu. Suara obrolan, tawa, dan deru mesin motor memecah kesunyian lembah. Untuk sesaat, suasana normal khas remaja ini membuat dada Dara terasa sedikit lebih ringan.
Dara menuntun sepedanya menuju area parkir di bawah deretan pohon beringin. Begitu ia menurunkan standar sepeda, keheningan canggung tiba-tiba menjalar di sekitarnya. Beberapa murid perempuan yang sedang berkerumun berhenti bergosip dan menatapnya terang-terangan.
Dara menarik napas panjang, menundukkan pandangan, dan mulai berjalan menuju gedung utama.
"Hei! Awas!"
Sebuah suara nyaring terdengar sepersekian detik sebelum sebuah bola basket melayang deras tepat ke arah wajah Dara.
Refleks instingtif Dara—yang entah mengapa terasa lebih tajam sejak ia menginjakkan kaki di desa ini—mengambil alih. Ia menunduk dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Bola itu mendesing hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya, lalu menghantam batang pohon beringin di belakangnya dengan bunyi debuk yang keras.
"Buset! Nyaris aja," seorang gadis berambut sebahu yang diikat ekor kuda berlari menghampirinya dengan wajah panik. Gadis itu mengenakan seragam yang sedikit kedodoran dan memiliki senyum yang sangat lebar. "Sumpah, maaf banget! Anak-anak cowok kelas dua belas kalau main passing suka nggak pakai otak. Kamu nggak apa-apa?"
Dara menegakkan tubuhnya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, namun ia memaksakan senyum. "Nggak apa-apa, kok. Cuma kaget sedikit."
Gadis itu memiringkan kepalanya, menatap wajah Dara lekat-lekat dengan mata bulatnya yang ekspresif. "Tunggu dulu... kulit pucat, wajah belum pernah kelihatan, dan aura anak kota yang kental banget. Kamu Dara Kirana, kan? Cucunya Kakek Danu? Yang... um, maaf, yang pindah dari Jakarta itu?"
Dara mengangguk pelan. "Iya, aku Dara."
"Astaga! Kenalin, aku Santi!" Gadis itu mengulurkan tangannya dengan antusias. Berbeda dengan warga desa lainnya, Santi menatap Dara tanpa setitik pun tatapan mengasihani. "Anak-anak sekelas udah heboh dari minggu lalu pas dengar kamu bakal masuk kelas XI-IPA 1. Ayo, aku antar ke ruang guru dulu, habis itu aku tunjukin kelas kita. Kebetulan kita bakal sekelas!"
Uluran tangan Santi terasa seperti tali penyelamat di tengah lautan orang asing. Dara menyambut jabatan tangan itu. Tangan Santi terasa hangat dan kapalan, khas seseorang yang sering bekerja fisik.
Saat mereka berjalan menyusuri koridor berlantai ubin teraso kuno, Santi terus berceloteh tanpa jeda. Ia menceritakan tentang guru Matematika yang killer, kantin yang soto ayamnya paling enak, hingga gosip-gosip receh sekolah. Celotehan Santi menjadi pengalih perhatian yang sempurna bagi Dara, hingga membuat gadis kota itu sesekali tersenyum tipis.
Namun, saat mereka berbelok di koridor utama yang menuju deretan loker dan ruang kelas XI, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah secara drastis.
Bukan hanya suasana yang berubah, melainkan suhu udara itu sendiri.
Dara merasakan embusan udara yang tiba-tiba menjadi lebih berat dan statis. Bulu-bulu halus di tengkuknya meremang secara serempak. Keributan di sepanjang koridor—suara tawa, bantingan pintu loker, teriakan saling ejek—padam seolah seseorang baru saja menekan tombol mute pada remote control raksasa.
Para siswa yang tadinya bergerombol menutupi jalan, kini secara otomatis menepi, menempel ke dinding koridor, menciptakan sebuah jalan kosong di tengah-tengah. Kepala mereka menunduk, memberikan gestur penghormatan yang bercampur dengan rasa segan yang kental.
"Sst, minggir," desis Santi, tiba-tiba menarik lengan Dara dan memaksanya menepi ke pinggir koridor di dekat pilar batu. Wajah Santi yang ceria mendadak berubah tegang.
"Ada apa?" bisik Dara bingung.
"Klan Bagaskara," bisik Santi nyaris tanpa suara. "Jangan tatap mata mereka terlalu lama. Cukup nunduk aja."
Dara mengerutkan kening. Insting pembangkangnya menolak untuk menunduk di sekolah umum hanya karena sekelompok remaja. Alih-alih menunduk, Dara mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke ujung koridor.
Dari arah pintu masuk utama, tiga sosok remaja berjalan beriringan menembus sisa-sisa kabut yang masih menggenang di lorong berangin itu. Penampilan mereka sangat mencolok, seolah-olah mereka adalah spesies yang sama sekali berbeda dari murid-murid lainnya di sekolah ini.
Di posisi paling kiri adalah seorang gadis yang luar biasa cantik dengan aura mematikan. Rambut hitam lurusnya jatuh sempurna hingga sebatas pinggang. Matanya setajam silet, menatap ke sekeliling dengan arogansi seorang ratu yang sedang memeriksa wilayah kekuasaannya. Ia adalah Maya Bagaskara.
Di posisi kanan adalah seorang pemuda bertubuh ramping dengan senyum simpul yang terus bertengger di bibirnya. Rambutnya sedikit ikal, dan gerak-geriknya terlihat santai, hampir seperti sedang menari. Namun, Dara bisa melihat otot-otot yang menegang di balik kemeja seragamnya, mengisyaratkan kekuatan tersembunyi. Ia adalah Raka Bagaskara.
Dan di tengah-tengah mereka...
Napas Dara seketika tercekat di tenggorokan.
Pemuda yang berjalan di tengah itu memiliki postur tubuh yang luar biasa tegap untuk ukuran remaja SMA. Kemeja putihnya dibiarkan tidak dimasukkan, lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan kulitnya yang pucat. Rambut hitamnya sedikit gondrong dan berantakan, menutupi kening dan alisnya yang tegas. Rahangnya terkatup rapat, menampilkan garis wajah yang keras, dingin, dan benar-benar tanpa ekspresi.
Namun, bukan ketampanannya yang mengintimidasi itu yang membuat jantung Dara berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Melainkan matanya.
Saat pemuda itu berjalan mendekat, tatapannya secara tidak sengaja berserobok dengan tatapan Dara yang menolak untuk menunduk.
Mata pemuda itu berwarna cokelat keemasan.
Warna yang sangat tidak lazim. Mata itu menatap Dara dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah jiwanya sedang dikuliti. Dalam hitungan sepersekian detik saat mata mereka terkunci, ruang dan waktu di sekitar Dara seolah berhenti. Suara napas Santi menghilang. Suara angin menghilang.
Hanya ada sepasang mata emas itu. Mata yang persis sama dengan sepasang mata yang mengawasinya dari balik kabut di luar jendela kamarnya pada pukul dua pagi.
Tubuh Dara menegang kaku. Keringat dingin seketika membasahi telapak tangannya. Memori tentang geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuknya kembali menghantam ingatannya. Pemuda ini... dia bukanlah manusia normal. Dara tidak membutuhkan bukti logis untuk menyadarinya; insting di dalam darahnya sendiri yang menjeritkan fakta tersebut.
Sesuatu yang aneh terjadi. Saat pemuda itu terus menatap Dara, langkahnya tiba-tiba terhenti sejenak. Rahang pemuda itu mengeras dengan sangat hebat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya yang keemasan tampak melebar sedikit, bukan karena terkejut, melainkan seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. Tangan kanannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Dara bisa melihat hawa panas—benar-benar uap panas yang nyata—mengepul tipis dari balik kerah kemeja pemuda itu, seolah suhu tubuhnya baru saja melonjak hingga mencapai titik didih.
Maya, gadis di sebelahnya, menyadari hal itu. Maya langsung melirik tajam ke arah Dara, memberikan tatapan membunuh yang begitu intens, lalu menyentuh pelan lengan pemuda itu.
"Indra," bisik Maya, suaranya pelan namun terdengar hingga ke telinga Dara karena keheningan lorong. "Kendalikan dirimu. Jangan di sini."
Pemuda bernama Indra itu memutus kontak matanya dengan Dara secara paksa. Ia menarik napas panjang melalui hidung, dadanya naik turun dengan kasar. Tanpa menoleh lagi, Indra melanjutkan langkahnya dengan cepat, nyaris seperti sedang melarikan diri dari sesuatu, diikuti oleh Maya dan Raka yang terus memasang kewaspadaan penuh di belakangnya.
Begitu ketiga sosok itu menghilang di tikungan koridor menuju kelas XII, seluruh murid di lorong mengembuskan napas lega secara serempak. Kehidupan kembali mengalir ke lorong itu.
"Sumpah, kamu gila ya?!" desis Santi, mencengkeram lengan Dara dengan kuat. Wajahnya agak pucat. "Kenapa kamu malah melototin Kak Indra?!"
Dara masih membeku. Ia menatap titik kosong di mana Indra baru saja berdiri. "Mereka... siapa mereka, San?" suaranya nyaris bergetar.
"Keluarga Bagaskara," jawab Santi sambil menarik Dara agar kembali berjalan. "Mereka penguasa de facto di daerah ini. Punya perkebunan kopi paling luas, donatur terbesar sekolah ini, dan... yah, mereka itu aneh. Nggak ada yang berani macam-macam sama mereka. Kak Indra itu pentolannya. Jangan pernah cari gara-gara sama dia, Ra. Rumornya, dia pernah bikin preman terminal cacat permanen cuma pakai tangan kosong. Udah, yuk ke ruang guru. Lupain kejadian tadi."
Dara membiarkan dirinya ditarik oleh Santi. Namun, ia tidak bisa melupakannya. Uap panas yang keluar dari tubuh Indra, dan sensasi aneh yang mengalir di pembuluh darahnya saat menatap pemuda itu... takdir seolah sedang menyeretnya ke dalam sebuah badai yang tidak bisa ia hindari.
Setelah urusan administrasi dengan wali kelas selesai, Dara diantar ke kelas XI-IPA 1. Saat wali kelas, Pak Budi, memperkenalkannya di depan kelas, Dara mencoba memindai seisi ruangan. Syukurlah, ketiga Bagaskara itu sepertinya adalah kakak kelas. Kelas ini diisi oleh anak-anak yang tampak normal. Santi melambaikan tangan padanya dari barisan tengah, menunjuk kursi kosong tepat di sebelahnya.
Dara bernapas lega. Setidaknya ia tidak perlu berurusan dengan pemuda bermata emas itu hari ini.
"Baiklah, Dara. Silakan duduk di sebelah Santi," ujar Pak Budi ramah.
Dara baru saja melangkahkan kakinya menuju bangku Santi, ketika pintu kelas tiba-tiba bergeser terbuka dengan kasar. Bunyi kayu beradu dengan kusen besi membuat seluruh isi kelas terlonjak kaget.
Pak Budi yang sedang memegang spidol terdiam. Seluruh murid di kelas seketika bungkam.
Indra Bagaskara berdiri di ambang pintu.
Ia tidak membawa tas. Kemejanya terlihat semakin berantakan, dan rambutnya basah oleh keringat meskipun udara pagi ini sangat dingin. Napasnya sedikit memburu, seolah ia baru saja berlari keliling lapangan. Matanya menyapu seisi kelas dengan cepat dan buas, sebelum akhirnya terkunci rapat pada satu titik.
Pada Dara.
Dara membeku di tengah lorong meja. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang menyakitkan.
"Indra?" Pak Budi menegur dengan nada yang terdengar jelas diwarnai keraguan, bahkan ketakutan. "Ada apa? Ini bukan kelasmu. Kelas XII ada di lantai dua."
Indra sama sekali tidak menoleh pada guru itu. Pandangannya tetap tertuju pada Dara. Pemuda itu melangkah masuk ke dalam kelas. Setiap langkahnya terasa berat dan menggema. Dara bisa merasakan suhu ruangan—yang asalnya dingin—perlahan-lahan mulai memanas. Ada radiasi panas yang dipancarkan secara fisik dari tubuh Indra, seolah pemuda itu adalah tungku api yang sedang membara.
Indra berjalan lurus ke arah Dara. Saat jarak mereka hanya tersisa dua meter, Dara secara instingtif melangkah mundur hingga punggungnya menabrak meja guru.
Pemuda itu berhenti. Ia menjulang di hadapan Dara. Aroma tubuhnya menyerbak memenuhi indra penciuman Dara. Itu bukan bau parfum murahan remaja laki-laki; itu adalah perpaduan aroma yang sangat liar. Aroma daun pinus yang remuk, aroma kayu terbakar, dan bau besi berkarat—seperti bau darah yang sudah mengering.
Dara mencoba mempertahankan ketenangannya, meskipun seluruh sel dalam tubuhnya meneriakinya untuk berlari. "A-apa maumu?" tanya Dara, suaranya nyaris berbisik.
Indra tidak langsung menjawab. Ia menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan hidungnya ke arah perpotongan leher Dara. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, mengendus udara di sekitar Dara.
Seluruh murid di kelas menahan napas menyaksikan adegan ganjil itu.
Saat Indra selesai menarik napas, matanya memejam erat. Rahangnya bergemeletuk menahan sesuatu yang tampaknya sangat menyiksa. Saat ia kembali membuka mata, warna keemasan di matanya terlihat semakin menyala, liar, dan nyaris seperti binatang buas yang kelaparan.
"Darahmu," suara Indra terdengar sangat rendah, serak, dan bergetar, menyerupai geraman yang mengancam. "Baunya... sangat mengganggu."
Dara terkesiap. Matanya membelalak.
Sebelum Dara sempat bereaksi, tangan kanan Indra tiba-tiba terangkat dan mencengkeram ujung meja kayu tebal yang ada di sebelahnya. Pemuda itu tidak terlihat mengerahkan tenaga sama sekali, namun sedetik kemudian, terdengar bunyi retakan yang mengerikan.
KRAK!
Kayu jati solid setebal lima sentimeter itu hancur berkeping-keping di bawah cengkeraman telapak tangan Indra. Serpihan kayu berjatuhan ke lantai kelas yang mendadak sunyi senyap bak kuburan.
Indra menarik tangannya, menatap Dara sekali lagi dengan tatapan yang memancarkan penderitaan dan kebencian yang mendalam. Tanpa memedulikan Pak Budi yang gemetar pucat, atau jeritan tertahan dari beberapa siswi, Indra berbalik dan berjalan keluar dari kelas, menghilang ke balik kabut koridor.
Dara berdiri mematung. Kakinya lemas hingga ia harus berpegangan pada sisa meja yang retak.
Panas tubuh yang ditinggalkan Indra di udara masih terasa memanggang kulitnya. Dara menatap serpihan kayu jati yang hancur lebur di lantai. Tidak ada manusia normal yang bisa menghancurkan kayu sekeras itu hanya dengan satu remasan tangan kosong.
Dia bukan manusia, jerit nalar Dara di dalam kepalanya. Dia monster yang ada di balik jendelaku.
Namun, yang paling membuat Dara ketakutan bukanlah kekuatan fisik pemuda itu. Melainkan fakta bahwa saat Indra mendekatinya tadi, saat hawa panas tubuh pemuda itu membungkusnya... segala kepanikan, trauma masa lalu, dan rasa cemas di dalam dada Dara mendadak lenyap tanpa sisa. Digantikan oleh perasaan tenang, utuh, dan sebuah dorongan gila untuk merengkuh hawa panas tersebut.
Dara menyadari dengan rasa ngeri yang merayap perlahan: apa pun makhluk yang ada di dalam diri Indra Bagaskara, darah di dalam tubuh Dara seolah memanggil makhluk itu untuk keluar.
Di Lembah Marapi, Dara bukanlah sekadar pendatang yang rapuh. Ia adalah mangsa, sekaligus kunci dari sebuah takdir yang lebih mematikan dari kematian itu sendiri.