NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Hana bangkit dari tidurnya. Duduk. Dengan kedua mata sembab. Semalaman ia tidak bisa tidur.

Arnold sukses menghancurkan skill tidur cepat Hana. Baru pertama kali seorang Adrianne Hana yang kalau kena bantal langsung tidur sekalipun minum dua gelas kopi espresso kini insomnia. Hana mendengus sebal. Sinis dengan ironi yang dideritanya. Mentertawakan kebodohan dan cinta kampret yang dideritanya. Nana benar. Untungnya hari ini dia tidak ada jadwal dimanapun dan apapun. Hana rasanya ingin kabur. Pergi ke tempat yang jauh. Sialnya, Hana hanya punya libur satu hari. Tak pakai lama berpikir. Hana langsung berdiri. Turun dari kasur. Masih memakai crop top putih sebagai atasan. Hana hanya mengganti training short pants yang dipakainya dengan jeans. Ia mengikat rambutnya asal lalu mengambil kunci mobil di atas meja riasnya. Keluar kamar. Rumahnya masih lengang. Tanpa aktivitas. Hana bergegas menuruni tangga sampai Ibu-nya mengejutkannya.

"Mau kemana pagi-pagi begini? Bukannya libur?" tanya Sara.

Hana menoleh. Ibunya tengah memegang alat penyiram tanaman di depan pintu balkon lantai dua. Sara memang paling rajin menanam di rumah ini.

Bahkan di lantai dua sekalipun. Ia berhasil mengembang-biakkan tanaman lidah mertua sampai berpot-pot.

"Pergi sebentar, Bu," jawab Hana.

"Patah hati ya?" ledek Sara.

"Buuuuuu," Cara menjawab Hana sudah menjawab ledekan Sara.

Sara tertawa.

"Kan udah Ibu bilang, Arnold itu kan sukanya sama Lana. Buat apa mengejar lelaki yang cintanya jelas-jelas sama wanita lain," Sara membuka sesi ceramah paginya.

Jujur, ibu satu anak ini memang kurang menyukai Arnold. Merestui sebagai temannya Hana. Oh, iya. Tapi untuk lebih dari itu, Sara ragu. Ada ganjalan dihatinya mengenai Arnold.

"Hmm, mulai lagi," cetus Hana.

Hana memang sedang tak ingin diceramahi. Ia ingin pergi menenangkan diri dulu. Sendirian tanpa ada satu pun orang yang mengenalnya.

"Terus sekarang mau kabur kemana?"

Sara kenal betul kebiasaan Hana.

"Cari menantu buat Ibu," jawab Hana asal.

"Aamiin... Cari yang cinta banget sama kamu, yang mau terima kita semua ya, Han," Sara menimpali Hana jauh lebih asal.

Hana mencibir sebal. Sara tertawa.

"Hana pergi ya, Bu," pamitnya lalu menuruni tangga menuju lantai bawah.

Hana berjalan menuju KIA Sonet miliknya yang terparkir di garasi rumah. Tak lama suara mesin mobil menyala terdengar, KIA milik Hana pun keluar dari rumah besar yang ada di kawasan Cipete itu.

"Hanaaaaaa," teriak gerombolan pemuda yang terus mengejar Hana.

"Hanaaaaa, jangan sombong dong. Masa artis sombong!!" teriak salah satu dari mereka.

Hana tidak mempedulikannya dan terus berlari tanpa arah dalam parkiran basement hotel. Sungguh menyesal ia atas keputusannya ingin membeli kopi di sini untuk dbawa duduk bengong di pinggir pantai Ancol. Bukannya beruntung. Hana malah ketiban sial. Bertemu dengan sekelompok pemuda habis mabok yang mengenalinya sebagai Adrianne Hana. Sampai-sampai ia lupa posisi mobilnya diparkir. Sungguh sial! Malah masih sepi. Hana melihat apple watch-nya yang menunjukkan pukul 05.30 WIB. Kalau saja yang mengejarnya tidak lebih dari 5 orang, mungkin ia masih bisa menghajarnya dengan ilmu bela dirinya. Masalahnya ini ada 8 pemuda gendeng, setengah mabok pula.

BREGH!

Hana terkejut ketika tubuhnya menabrak seseorang. Ia terpental ke belakang. Bagai menimpa trampolin. Bedanya trampolin yang ditabraknya barusan adalah dada bidang seorang pria. Dengan takut-takut Hana mendongak untuk melihat wajah manusia yang ditabraknya. Berharap bukan salah satu dari manusia gendeng yang tengah mengejarnya. Hana justru jauh lebih kaget melihat wajah yang beberapa hari lalu ditunjukkan Nana bekal hasil browsing di google. Ini adalah wajah yang dikenalinya sebagai Reiga Rahardian Reishard.

Pria yang dielu-elukan Eyang Uti sampai tiga cucu perempuannya dipaksa mengikuti perjodohan konyol. Okay, mungkin hanya Hana yang merasa dipaksa.

TAP!

Reiga dengan sigap menarik tangan kiri Hana lalu merangkul pinggang gadis itu sebelum jatuh gubrak ke belakang. "Are you okay?" tanya Reiga pertama kali menanyakan keadaan Hana yang sungguh berkeringat padahal tidak sedang olahraga itu.

"I'm not okay!" jawab Hana lalu berdiri tegak.

Dahi Reiga mengerut. Bingung.

"Kamu bisa bela diri kan? Di google, kamu ditulis sebagai ban hitam karate, taekwondo, dan silat," ujar Hana memborbardir Reiga dengan pertanyaan yang tentu menurut Reiga amat sangat ngaco.

"Maksudnya?" bingung Reiga.

Baru Hana mau membuka mulut menjelaskan.

Gerombolan gendeng itu sudah sampai.

"Hanaaaaa, oh di sini rupanya," ujar salah seorang mereka yang berdiri paling depan.

Hana menghela napas pasrah. Ah, sial! Kedua mata Reiga memindai delapan manusia berkelamin pria ini. Semuanya setengah mabok. Berwajah beler dengan ekspresi menyeramkan bak pelaku kejahatan seksual yang tengah mengincar korbannya. Pantas Hana lari seperti tengah mengikuti lomba sprint. Refleks, Reiga mendorong Hana ke belakang tubuhnya. Hana terperangah dengan gesture sederhana itu. Ini pertama kalinya ada manusia yang tanpa ba bi bu lagi seakan berniat melindunginya.

"Sebelum ada yang terluka, sebaiknya kalian semua bubar, pergi dari sini," ucap Reiga dengan intonasi berubah.

Hana terperangah dua kali. Intonasi Reiga bak Iko Uwais yang siap maju menghajar lawannya.

"Cih! Bubar!? Gimana kalau lu aja? Nggak usah belagak sok pahlawan deh lu! Minggir! Serahkan Hana sama kita!!!"

Reiga mendengus. Bibirnya menyeringai.

"Sampai mati sekalipun gue nggak akan serahin Hana sama kalian!" sahutnya.

Hana terhenyak. Reiga mengenalnya.

"Han," panggil Reiga seraya menyerahkan kunci mobil.

Hana menerimanya meski dengan muka bingung.

"Masuk mobil aku. Mobilnya ada di samping kiri kamu. Kunci ya, Han," ucap Reiga santai dengan sebuah senyuman ramah. Sesaat Hana tertegun dengan betapa tampannya wajah manusia satu ini. Hana menoleh ke samping kirinya. Sebuah Ferrari merah mengkilap terparkir gagah di sana.

"Terus kamu gimana? Kita berantem bareng aja. Aku bisa bela diri kok!" tolak Hana. Sebenarnya Hana takut juga sih kalau Reiga kenapa-napa. Bisa aja kan, informasi yang dicantumkan di ensiklopedia yang ada di google itu palsu. Hanya saja, Reiga tersenyum mendengar kalimat Hana barusan.

"I can handle it. Sana masuk mobil," ucap Reiga lagi.

Hana diam beberapa detik. Bimbang. "Seriusan. I'll be okay," ucap Reiga lagi setelah membaca kalimat cemas dalam pikiran Hana. Hana masih gamang, lalu Reiga dengan kemampuannya memanipulasi pikiran Hana agar menurutinya. Hana saja sampai bingung. Karena entah mengapa ia akhirnya menuruti Reiga. Hana berjalan ke arah mobil lalu masuk dan mengunci mobil tersebut.

Dengan was-was menatap Reiga yang ekspresinya sudah berubah.

"Si Anjing belagak jadi pahlawan! Lo nggak lihat kita ini berapa!?"

Reiga menyeringai.

"Delapan anak begajulan yang sukanya nyusahin orangtua kan?" sinis Reiga tanpa rasa takut.

Sebuah komentar yang mendidihkan delapan manusia setengah mabok itu.

"Anjing! Bangsat!" teriak mereka lalu berlari kearah Reiga. Siap menyerang Reiga secara membabi-buta. Reiga menyeringai.

"Sini. Maju. Jangan kelamaan ngomong. Gue nggak sabar pengen kasih kalian pelajaran tata krama," sombong Reiga membuat kawanan gendeng itu makin marah.

"Sialan lu!" teriak mereka.

Mereka langsung mengeroyok Reiga. Hana menontoni perkelahian itu dari dalam mobil dengan penuh kecemasan.

BAK! BUK! BAK!

Perkelahian itu makin tak berimbang.

Konyolnya, tak berimbangnya adalah kekalahan dipihak yang jumlahnya lebih banyak. Delapan manusia itu tak satupun yang mampu menyentuh Reiga dengan sebuah pukulan ataupun tendangan. Sebaliknya mereka habis babak belur. Terkapar di lantai coran basement. Hana terhenyak dengan kedua mata membelalak.

"Udah nih? Gini aja? Apa masih ada yang mau maju lagi?" Reiga begitu angkuh mengatakannya.

Sekalipun gigi mereka semua bergemeretak.

Kesal. Mereka sudah tidak mampu berdiri lagi.

Reiga berjongkok. Menatap yang sejak tadi tampak seperti pimpinan gerombolan ini.

"Sampai gue tahu lo dan teman-teman kampret lo ini nggak sopan atau berniat nggak baik sama Hana. Bukan cuma badan lu yang bakal gue bikin babak belur. Tapi juga hidup lu semua. Dan ini bukan ancaman. Ini peringatan pertama dan terakhir dari gue. Gue paling nggak suka sama manusia parasit kayak kalian," dingin Reiga mengucapnya.

"Siapa sih lo!? Siapanya Hana!? Sampai segitunya tolongin dia!! Anjing! Bangsat!"

Reiga mendengus.

"Gue calon suaminya," jawab Reiga lantang lalu berdiri kemudian.

Delapan orang itu tentu kaget mendengarnya.

Setelah menatap penuh ejekan terakhir kali. Reiga berjalan menuju mobilnya. Memberi kode agar Hana membuka kuncinya. Hana menurutinya. Reiga membuka pintu di bagian kursi pengemudi lalu masuk. Tangan kirinya terulur kearah Hana. Kening Hana mengerut.

"Apaan sih? Pamrih amat tolongin orang. Belum apa-apa aja udah minta pegangan tangan! Kok bisa si Lana suka sama orang kayak gini?" ucap Hana dalam hatinya. Seakan lupa habis ditolong Reiga barusan.

Sulit bagi Reiga untuk tidak tersenyum mendengar isi hati Hana.

"Kuncinya, Adrianne Hana. Bukan tangan kamu," ucap Reiga.

Kalimat yang sukses membuat Hana membelalakan mata. Karena merasa Reiga telah membaca pikirannya. Dan ini pertama kalinya untuk Reiga mengutarakan langsung isi pikiran seseorang yang dibacanya. Biasanya ia akan menahan diri. Tapi Hana perempuan ini seperti memiliki daya tarik sendiri.

"Dih! Siapa yang bilang tangan lagi?" sangkal Hana yang kemudian memberikan kunci mobil pada Reiga.

Tentu saja Hana akan menyangkalnya.

"Nggak bilang terima kasih?" ledek Reiga sambil senyum.

Hana jadi kikuk seketika.

"Makasih!" ucapnya dengan judes.

Astaga! Hana bingung sendiri kenapa dia jadi judes ya? Senyum Reiga makin lebar.

"Judes amat," ledek Reiga lagi.

Hana diam dan bingung harus menanggapi Reiga bagaimana. Kejadian yang begitu cepat. Aksi Reiga yang begitu sigap. Hana belum bisa memfokuskan pikirannya. Reiga sudah memakai earpods dan tampak menghubungi seseorang.

"Pagi, Dim," sapanya duluan pada Dimas.

Dahi Hana mengernyitkan kening. Dengan dua mata terus memperhatikan Reiga.

"Telepon siapa ya tuh orang?" gumam Hana dalam hati.

"Aku telepon aspri aku dulu ya," ucap Reiga menoleh kearah Hana dengan sebuah senyuman.

Bohong jika Hana tidak kaget dibuatnya. Benar kalau faktanya Reiga mulai menikmati wajah kaget Hana.

"What!? Dia baca pikiran gue atau gimana sih!?" racau Hana dalam hati.

Kali ini Reiga tidak menanggapinya.

"Pagi, Pak," sapa balik Dimas yang penasaran tadi bos-nya mengajak bicara siapa. Ini masih pagi. Setahu Dimas pun, Reiga tidak ada jadwal olahraga dengan siapapun. Tidak juga dengan genk weird-silly-nerd (Reiga sendiri yang menamakan genk-nya begini). Apa itu Lana? Dimas tidak percaya jika itu memang benar. Tapi bukankah dinner dengan Lana masih hari Sabtu?

"Saya habis hajar 8 orang di hotel Palace," santai Reiga mengucap.

"HAH!?" kaget Dimas.

Reiga terkekeh.

"Tenang aja. Nggak ada yang patah tangan atau kaki kok. Masih aman. Cuma babak belur aja...."

"Gila, santai banget nih orang!" tukas Hana dalam hati.

Dimas tidak menanggapinya. Selain karena Reiga belum selesai bicara. Dimas juga sama syoknya dengan Hana.

"Mereka terkapar di depan parkiran mobil saya.

Tugas kamu yang pertama mengurus mereka ya, Dim. Saya mau mereka di pidana. Atas dasar mereka setengah mabuk dan berniat melecehkan perempuan di hotel saya...."

Reiga begitu serius saat mengatakannya. Hana tertegun dengan aura leadership yang tiba-tiba terpancar dari Reiga.

"Kedua, tolong evaluasi kinerja sistem keamanan hotel ini. Panggil semua manajernya. Saya nggak mau kejadian seperti ini terjadi di hotel saya. Memalukan dan sangat amat merugikan hotel," ucap Reiga lagi.

"Iya, Pak," jawab Dimas.

Reiga memang orang yang ramah. Tapi Dimas kenal betul, jika Reiga sudah mengultimatum begini maka CEO Reishard Corporation ini sangat serius.

"Ketiga, saya mau kamu akses cctv di basement 2 parkiran hotel. Pastikan wajah Hana nggak kelihatan. Dan rekaman cctv tidak boleh tersebar ke publik. Paham, Dim?"

"Paham, Pak. Eh... tadi siapa Pak?" Dimas baru sadar kalau Reiga menyebut nama Hana. Hana yang mana ya? Sejak kapan Reiga punya kenalan bernama Hana?

"Hana, Dim," jawab Reiga.

"Hana yang mana ya, Pak?" tanya Dimas.

"Your most favorite actress," jawab Reiga sambil senyum.

"Oh, Adrianne Hana .... Wait! Whattt!??

MAKSUDNYA PAK REIGA SEKARANG LAGI SAMA ADRIANNE HANA YANG CANTIK BANGET ITU!! YANG AKTINGNYA MASYA ALLAH KEREN BANGET TIADA DUANYA!!! YANG BAIK HATI. LEMBUT. PANUTAN WANITA SE-INDONESIA DENGAN FAN BASE COWOK PALING BANYAK SE TANAH AIR INI, PAK!???" heboh Dimas sudah lupa tata krama karena terus berteriak di telinga Reiga.

Reiga terkekeh.

"Iya. Hana yang itu," jawab Reiga.

Hana mengernyitkan kening. Penasaran dengan isi pembicaraan Reiga dengan seseorang yang dipanggil Dim oleh pria itu. Apalagi ada namanya terbawa dalam obrolan itu.

"Apa Adrianne Hana yang tadi Pak Reiga maksud akan dilece..."

"Ya, Dim."

"Baik, Pak! Saya segera meluncur ke TKP. Pak Reiga nggak usah khawatir. Akan saya penjarakan mereka semua," Dimas seketika terdengar sangat begitu serius.

Reiga terkekeh.

"Saya selalu suka semangat kamu," tanggap Reiga.

"Terima kasih, Pak," jawab Dimas.

"Saya tutup teleponnya ya," ujar Reiga lalu mencopot earbuds yang digunakannya sejak tadi.

Reiga menoleh kearah Hana yang langsung kikuk. Tak menyangka dengan tatapan itu.

"Apa liat-liat!?" galak Hana.

Reiga tertawa melihat reaksi Hana. Tawa yang membuat Hana kian kikuk. Bingung dengan dirinya sendiri yang berubah galak dan judes pada Reiga yang jelas-jelas sudah menolongnya.

"Mau dianterin pulang ke rumah atau mau langsung ke Singapore?" tanya Reiga yang sengaja 'memindai' pikiran Hana.

Mana mungkin Hana tidak kaget.

"Singapore? Ngapain!? Jangan macam-macam ya!? Jangan anda kira karena anda barusan tolongin saya terus sekarang seenaknya bisa bawa saya kemana-mana!? Jangan-jangan anda komplotan mereka kan!? Ini skenario yang anda buat!? Jangan kira, karena Eyang saya jodohin kita terus anda bisa sembarangan!! Kita aja belum saling kenal," omel Hana panjang dengan berbagai mimik. Mulai dari bertolak pinggang, mata melotot, sampai raut ngajakin berantem. Anehnya bukannya tersinggung, Reiga malah tersenyum lebar.

"Anjir! Malah senyum-senyum nih orang!" tukas Hana dalam hati.

Reiga mengulurkan tangan kanannya kearah Hana. "Mau ngapain nih!?" tukas Hana mundur satu langkah dengan wajah curiga.

"Kenalin, Reiga Rahardian Reishard," jawab Reiga membuat Hana terhenyak.

"Apaan sih? Sok keren banget! Ngeselin!" dumel Hana lagi-lagi dalam hatinya.

Senyum Reiga mengembang mendengar dumelan Hana.

"Adrianne Hana," jawab Hana tak mau menjabat tangan terulur Reiga.

"Tanpa Soediro?" gumam Reiga memancing pikiran Hana yang lain.

"Kenapa emangnya!?" galak Hana lagi.

Pikirannya kosong. Di luar prediksi Reiga. Hana ternyata berbeda dengan perempuan kebanyakan.

Pikirannya tidak seribut mereka. Hati perempuan ini putih dan bersih. Suasananya lengang dan tenang. Sebuah kelengangan yang menenangkan. Sekalipun sejak tadi Hana bersikap galak dan terus-terusan judes padanya. Membuat Reiga makin iseng melihat hidup perempuan yang tiga bulan lebih muda darinya ini. Hidup yang tidak bisa dibilang mudah. Penuh airmata, kesendirian, dan patah hati. Namun di lembaran berikutnya Reiga menemukan Hana yang tidak pernah menyerah, berjuang, hingga berada di titik ini.

"Malah bengong!" ujar Hana menghentikan keasikan Reiga 'menggali' hidup Hana lewat sepasang mata yang teduh itu.

"Tuduhan kamu tadi bisa saya jadiin laporan pencemaran nama baik loh, Han," ucap Reiga.

Hana terhenyak. Panik seketika.

"Bercanda," tukas Reiga sambil tertawa kecil.

"Apaan sih nih orang!" sewot Hana dalam hati.

"Terus sekarang gimana? Mau dianterin ke rumah atau mau lanjut kabur?" tanya Reiga.

Hana kembali terkesiap.

"Tahu dari mana kamu, kalau aku mau kabur?" heran Hana.

"Aku?"

"...?"

"Cepat banget berubahnya. Tadi anda-saya, sekarang aku-kamu. Menarik banget sih kamu, Adrianne Hana," ucap Reiga membuat kedua pipi Hana memerah.

"Jangan ngaco deh, Han! Why your cheeks's blushing for him!??? Cowok macam Reiga ini udah pasti buaya kan!? Kuasa, uang, dia punya segalanya buat bisa mainin perempuan manapun yang dia mau. Jangan tertipu! Harusnya lu belajar dari si Kampret Arnold! Jangan jatuh ke lubang yang sama, Adrianne Hana!!!"

Reiga mengernyitkan kening ketika pikiran Hana menyebut nama Arnold.

"Belum kenal aja udah tuduh aku macam-macam," ucap Reiga yang untuk pertama kalinya seterbuka ini mengomentari isi pikiran orang lain.

Terlebih ia mengatakannya dengan tersenyum.

Hana kian terkesiap. Bak maling tertangkap.

"I don't even say anything yet, Reishard!" heran Hana.

Reishard? Reiga tertegun namun panggilan itu terdengar begitu menyenangkan di kedua telinganya.

"I love the way you call me like that, Han," ucap Reiga mengutarakan pendapatnya.

Hana tercengang. Dikejar gerombolan pria setengah mabuk. Ketemu Reiga Reishard. Masuk ke dalam pria ini pula. Sekarang malah terlibat pertengkaran nggak jelas mirip sepasang kekasih. Mimpi apa Hana? Semua ini tak ada dalam rencana kaburnya. Dan ya, Reiga benar! Tadinya Hana memang bermaksud ingin terbang ke Singapore. Seharian main di negeri singa tersebut. Tanpa tujuan. Tanpa perlu sibuk dikenali di setiap langkahnya. The problem is... Hana belum memberitahu siapapun tujuan dan niatnya itu. Kok bisa si Reiga tahu?

"Hana, jawabannya..."

Reiga mengembalikan kesadaran Hana.

"Jawaban apa?"

"Mau dianter pulang atau ditemani ke Singapore? Aku nurut aja," ucap Reiga lagi.

Hana terkesiap. Apalagi dengan kata aku nurut aja yang diucapkan Reiga barusan. Seakan mereka sudah seakrab itu. Hana mendengus. Lalu memutuskan untuk memutar tubuhnya agar menghadap Reiga. Hana bersidekap dengan raut serius.

"Begini ya, Reishard. Ini pertama kalinya kita ketemu. Ya sekalipun kita saling mengenali wajah satu sama lain bukan berarti kita sedekat itu. So, can you stop talk like we are a bestfriend?" ujar Hana.

Reiga malah tersenyum.

"Jangan senyum!"

"Okay!"

Reiga mengikuti mau Hana dengan mengganti ekspresinya menjadi datar. Meski terkesiap dengan vibe datar dan cool-nya raut wajah Reiga. Hana menata hatinya untuk kembali berpidato di depan pria ini.

"Pertama, aku nggak tahu kamu tahu dari mana aku mau kabur ke Singapore, tapi sekalipun aku pergi ke sana, aku rasa it will be so damn weird kalau kita pergi bareng," ujar Hana.

Reiga mengangkat tangan kanannya. Bak murid bertanya pada guru.

"Anehnya di mana?"

"Ya aneh, karena kita baru kenal! Dan jujur aja ya, aku nggak mau dekat-dekat sama kamu. Aku nggak mau sampai Eyang tahu dan berpikir kalau aku merebut jodoh cucu kesayangannya!"

Hana ingin menabok mulutnya di detik selanjutnya lantaran keceplosan.

"Cucu kesayangan?"

"Bukan! Enggak! Kamu salah deng..."

"Lana maksudnya?" potong Reiga mencuri dengar pikiran Hana.

Hana menghela napas.

"Kedua! Aku bawa mobil sendiri. Nggak perlu dianterin apalagi sampai ditemenin," ujar Hana tidak ingin berlama-lama dengan Reiga. Ia bersiap membuka pintu.

СТАК!

Reiga mengunci Ferrari-nya. Hana menoleh dengan tatapan tajam bercampur minta penjelasan kearah Reiga. Bukannya menjelaskan, Reiga sibuk memasang seatbelt lalu menyalakan mesin mobilnya. Pergi dari parkiran tersebut.

"Ini apa-apaan sih!? Perbuatan kamu ini sama aja penculikan tahu, penyekapan!!" seru Hana bingung harus keluar dengan cara bagaimana.

"Seat belt-nya dipakai, Han. Apa mau dipakein?"

Reiga malah menggoda Hana dan mengacuhkan protes Hana.

"Berhenti nggak!" Hana setengah berteriak.

"Kalau aku nggak mau gimana?"

"Dih! Apaan sih!? Nggak lucu ya!"

"Aku juga nggak lagi nge-lucu sih, Han. Aku serius mau temenin kamu di Singapore. I will have worried about you will have met stupid man like that again," jujur Reiga.

Ya. Entah mengapa hatinya yang susah peduli sama orang lain ini mendadak mencemaskan Hana. Perempuan yang baru pertama kali ditemuinya. Bicara dengannya. Langsung berantem pula.

Reaksi Hana?

Hana cukup terhenyak mendengar kejujuran Reiga yang dianggapnya bualan manis lelaki pada umumnya.

"Gini-gini aku bisa bela diri ya. Sayang aja tadi orangnya lebih dari lima. Kalau kurang dari lima, aku nggak butuh bantuan siapapun," ujar Hana yang terdengar tidak ada terima kasihnya sama sekali atas bantuan Reiga.

"Tahu kok," tanggap Reiga.

"Tahu dari mana??"

Hana makin jengah dengan detailnya informasi yang Reiga ketahui mengenai dirinya.

"Biodata kamu yang dikirim Papa," jawab Reiga jujur.

"What?!"

Hana tidak percaya ini. Apa mereka bertiga sudah menjadi komoditas perdagangan manusia? Yang biodatanya diberikan secara cuma-cuma pada calon pembeli.

"Jelek amat sih pikirannya," celetuk Reiga.

Sungguh terkesiap Hana dengan kalimat Reiga barusan. Seakan membenarkan tebakan konyolnya kalau Reiga bisa baca pikiran. Ferrari Reiga tiba-tiba berhenti. Hana kira Reiga akan marah. Tapi yang ditemuinya malah sebuah senyum hangat yang ramah.

"Pertama, aku tulus mau temenin kamu kabur seharian ini. Nggak ada niat macam-macam. Okay, well, jujur ... I find that you are a very interesting person. Begitu menarik untuk dikenal lebih jauh," ucap Reiga.

Asam lambung Hana naik mendengarnya.

"Kedua, aku beneran khawatir kamu ketemu lagi sama binatang berkedok manusia kayak tadi. Iya tahu kamu bisa berantem juga, but i still worry about you, pretty," ucap Reiga membuat Hana tertegun. Bukan karena ke-ge-er-an. Melainkan karena kalimat yang mengingatkan Hana pada seseorang. Almarhum ayah-nya.

"Iya, ayah tahu Hana kuat. Ban hitam. Jago berantem. But i still worry about you, my pretty daughter."

Tanpa sadar kedua mata Hana berkaca. Reiga melihat siluet kenangan itu juga. Terenyuh dia merasakan bonding yang begitu kuat antara Hana dengan Denis. Membuat Reiga semakin ingin kenal sama yang namanya Adrianne Hana ini.

"Ketiga, tuh mobil kamu di samping. Kalau memang nggak mau aku temenin, paling nggak aku kawal ya sampai airport. Atau pulang aja ke rumah biar aman. Aku cemas, Hana," ucap Reiga.

Hana menoleh ke arah jendela. Itu memang mobilnya. Bagaimana bisa Reiga tahu tempat ia memarkirkan mobil? Hana saja lupa tempatnya sampai tadi berlari tanpa arah. Ditambah, kok bisa Reiga tahu mobilnya yang ini? Tahu dari mana?

"Kamu tahu dari mana ini mobil aku?" bingung Hana sekaligus curiga.

"I see it clearly in your mind," jawab Reiga.

Hana tercengang dengan jawaban Reiga.

"Maksudnya?"

Reiga diam. Kenapa jadi begini ya? Kok bisa-bisanya dia dengan mudahnya membuka rahasia sendiri. Rahasia besar yang bahkan sahabat terdekatnya saja tidak tahu. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang sangat kuat ingin jujur pada Hana. Reiga ingin tahu reaksi Hana akan kemampuan anehnya ini. Apa benar pikiran Hana se-bijaksana yang dilihatnya tadi? Apa iya gadis ini memiliki hati yang tulus dan baik? Reiga merasa dirinya begitu naif sekarang. Anggaplah ini judi dan pertaruhannya.

"I can read your mind, Han," jawab Reiga.

Mereka saling menatap. Hening agak lama. Lalu, pecahlah tawa Hana. Tawa yang begitu lepas yang membuat Reiga terpukau. Antara kaget dengan reaksi Hana yang hilarius dan cantiknya Hana saat tertawa.

"Antik banget sih gombalannya. Lana sering kamu ginian ya? Udah berapa cewek yang kena gombalan jadul begini??" ledek Hana masih tertawa renyah.

Tawa pertama setelah malam durjana hancurnya pengharapan semu selama 4 tahun yang Arnold berikan padanya. Hana tak pernah menyangka, justru Reiga, orang asing ini yang membuatnya tertawa selepas ini.

"Kok dibilang gombalan sih," ucap Reiga sambil senyum.

Hana mengganti tawanya dengan senyum lebar.

Ia mengulurkan tangan kearah Reiga.

"Apa nih?"

"Reiga Reishard ya? Kenalin. Adrianne Hana," ucap Hana dengan ekspresi cengengesan.

Reiga terhenyak lalu tersenyum lebar. Hana memang penuh kejutan. Ia menjabat tangan terulur Hana.

"Salam kenal ya. Mohon bimbingannya," sahut Reiga menyambut lawakan cetek Hana.

Kali ini tidak ada kejudesan dan galak yang Reiga terima. Hana tersenyum lebar hingga tampak dua lesung pipinya.

"Nggak jadi turun?" tanya Reiga meledek Hana.

"Nggak jadi ikut ke Singapore?" tanya balik Hana.

"Apa nggak berbahaya pergi sama aku?" balas Reiga mengingatkan Hana akan kegalakan gadis itu beberapa menit yang lalu.

Wajah Hana bersemu merah. Malu.

"As long as we don't take a picture, everything will be okay, Reishard," ujar Hana mulai merasa akrab dengan Reiga.

Ah, anak satu ini memang mudah akrab dengan siapa pun. Hana memang ramah dan penyayang sejak kecil. Makanya ia punya banyak teman. Berbeda dengan Lana dan Nana.

"Kalau udah diajak masa ditolak," ujar Reiga membuat senyum mereka saling beradu.

Ferrari Reiga pun kembali melaju meninggalkan basement hotel.

*

"Kita di mana?" tanya Hana merasa ini bukanlah jalan menuju Soetta.

"Nggak masalah kan kalau naik jetpri aku aja?"

Reiga menjawab pertanyaan Hana dengan pertanyaan lain.

Hana mengernyitkan dahi. Iya, Hana tahu keluarga Reishard memang se-kaya raya itu dari Nana. Tapi ke Singapore dengan jet pribadi. Hana tidak membayangkan kaburnya jadi sebegini dramatisnya. Jujur, ia pun tidak membayangkan akan kabur dengan Reiga.

"Is it okay?"

Hana ragu.

"Tenang aja. Ini punya aku pribadi kok. Bukan punya Papa," jawab Reiga lalu membelokkan Ferrari-nya ke dalam hanggar.

Seorang petugas menghampiri mereka begitu Reiga dan Hana keluar.

"Flight pagi, Pak?" tanya security ber-name tag Adrian.

"Flight dadakan sih, Pak. Captain udah siap?" tanya Reiga ramah.

Hana memperhatikan cara Reiga berkomunikasi dengan pegawainya. Cowok ini begitu ramah dan rendah hati. Beda banget saat menghajar delapan manusia gendeng tadi.

"Sudah, Pak. Sudah diberitahu Pak Dimas," jawab Adrian.

Reiga tersenyum. Menoleh pada Hana. "Oh iya. Kenalin Pak, ini ..."

"Mbak Adrianne Hana! Saya fans berat Mbak Hana!" seru Adrian memotong kalimat Reiga dengan wajah sumringah dan malu-malu.

Reiga terhenyak lalu tersenyum lebar.

"Boleh minta foto, Mbak?"

"Bukannya nggak..."

"Boleh kok," potong Hana atas ucapan Reiga. Pria itu memasang wajah bertanya.

Hana berfoto dengan Adrian dengan Reiga sebagai fotografer-nya. Setelahnya mereka semua masuk ke dalam hanggar. Bagaikan jumpa fans, semua attendant minta foto termasuk captain Yusuf. Mereka semua tidak menyangka akan terbang sepagi ini dengan Adrianne Hana. Aktris papan atas negara ini. Meski dalam pikiran mereka mulai mempertanyakan hubungan bos mereka dengan aktris terkenal ini. Reiga membaca jelas isi pikiran para pegawainya itu. Sejak di hanggar sampai mereka semua sudah terbang seperti sekarang.

"Emangnya gue semenyedihkan itu ya sampai kaget banget semua orang lihat gue bawa cewek naik jetpri," gumamnya sendiri dalam hati. Mungkin inilah yang menjadi kekhawatiran Rahardian pada putra semata wayangnya.

"Kayaknya ini pertama kalinya kamu bawa perempuan terbang naik jetpri ya, Rei?" tanya Hana yang sejak tadi begong memandang hamparan awan luas dari jendela pesawat.

"Kelihatan banget ya?" jawab Reiga.

Hana tertawa kecil.

"Is it okay? Harusnya yang naik duluan jetpri ini Lana kan? Bukan aku," gumam Hana dengan helaan napas berat. Malas mencari masalah dengan keluarga besar Soediro. Terkhususnya, Eyang Uti, Lana, dan Pakde Devan.

Reiga menyeruput kopi panasnya.

"Kenapa Lana harus yang pertama naik?"

Hana bingung dengan pertanyaan Reiga. "Ya karena kamu sama Lana adalah pemeran utama perjodohan yang menyeret aku sama Nana. Masa gitu aja nggak tahu sih!?"

Hana menyerukannya dalam pikiran.

"Gimana kalau kamu aja yang jadi pemeran utamanya?" gumam Reiga.

Hana terkesiap mendengarnya.

"Kok dia bisa tahu isi pikiran gue?"

"Kan aku udah bilang, aku bisa baca isi pikiran kamu, Hana," ucap Reiga sekali lagi.

Ah, dia memang gila. Pertemuan pertama dan ia sudah membocorkan kemampuan anehnya. Tanpa jaminan Hana akan menyimpan rahasia ini pula.

"Nggak lucu ya, Reishard," Hana mulai jengkel.

"Nggak ada yang ngelawak juga, Hana," sahut Reiga dengan senyum.

Hana berusaha berpikir jernih. Menebak jikalau Reiga mungkin bisa ilmu psikologi.

"Aku nggak tahu ilmu psikologi. Aku aja kuliahnya bisnis sama ilmu komputer kok," Reiga menjawab pertanyaan dalam pikiran Hana.

"Reishard!" pekik Hana heran setengah mati.

Hana memindai wajah Reiga.

"Ini seriusan si Reiga bisa baca pikiran?"

"Serius, Hana," sahut Reiga dalam pikiran Hana.

Wajah Hana sontak berubah pucat. Barusan ia mendengar Reiga bicara dalam kepalanya.

"Kamu sadap pikiran aku?"

Hana bertanya dengan suara tercekat dalam pikirannya.

"Bisa dibilang begitu, "jawab Reiga.

"What the hell!" pekik Hana kini bersuara.

Reiga tak aneh melihat reaksi Hana. Dengan santainya ia kembali menyeruput kopi panasnya yang sudah tidak terlalu panas.

"Jangan bercanda deh!"

"Aku serius," ujar Reiga santai.

Hana mencoba mencerna pernyataan Reiga.

Baiklah, kalau Reiga jujur bukankah ini menjawab mengapa lelaki ini bisa tahu ia sedang kabur dan berencana pergi ke Singapore? Ini juga menjawab mengapa Reiga bisa tahu mobilnya yang mana? Tapi Hana masih tidak percaya ada makhluk seaneh ini di dunia.

"Iya aku memang aneh," aku Reiga.

Hana tak enak sendiri. Reiga benar-benar membaca pikirannya.

"Oke. Anggap aja kamu jujur."

"Aku emang jujur."

Hana mendengus.

"Kenapa kamu kasih tahu aku ini? Kita baru ketemu hari ini. We're not yet friends. We're just two strangers, Reishard! Ini rahasia besar loh. Kamu terlalu naif dan gegabah," tukas Hana mengomeli kecerobohan Reiga.

Bibir Reiga mengulum senyum. Isi pikiran Hana persis seperti apa yang dikatakan gadis itu barusan. Murni dan tidak dibuat-buat.

"So please keep this big secret, Han," santai Reiga.

"What!?" pekik Hana kaget dengan reaksi santai Reiga.

"Siapa aja yang tahu?"

"Cuma kamu," jawab Reiga.

Hana terhenyak.

"Kok bisa!?"

"Terjadi begitu saja," jawab Reiga.

"Nggak mungkin terjadi begitu saja. Ratusan

Oh enggak! Mungkin udah ratusan juta kali kamu baca pikiran orang, ya masa kamu tiba-tiba pilih aku. Sangat amat tidak masuk akal ya, Rei!" ujar Hana ngotot.

Tidak terima dengan jawaban nyeleneh Reiga.

"That's the fact," sahut Reiga.

Hana makin terkesiap dengan sikap cuek Reiga.

"Rei, ini masalah besar dan penting banget loh.

Bisa-bisanya kamu sesantai dan secuek ini!? Nggak ada jaminan aku bakal simpan rahasia loh?! And wait! Kalau kamu bisa baca pikiran berarti kamu udah tahu dong kalau Lana suka sama kamu!?" Hana makin histeris.

Diamnya Reiga cukup menjadi jawaban Hana.

"Brengsek juga ya kamu. Persis seperti orang yang aku kenal," seru Hana merasa sepenanggungan dengan sepupunya.

"Orang yang kamu maksud itu Arnold ya? You said in your mind a few minutes ago," cetus Reiga yang sejak tadi memang sengaja menggiring Hana agar menyebutkan nama Arnold sendiri. Reiga ingin tahu Arnold ini siapa. Bukan hanya dari hasil sadapan masa lalu dan isi hati Hana. Ah, sepertinya untuk kemampuan yang ini Hana tidak perlu tahu.

Hana?

Ia menyesal sudah keceplosan.

"Alasan kenapa kamu sampai mau kabur?" tambah Reiga.

"It's none of your business!"

Reiga tersenyum.

"Dan berhenti baca pikiran aku!" seru Hana kembali galak.

Reiga tersenyum.

"So now you already believe if i can read your mind, Han?"

Hana terkena jebakan kalimat Reiga lagi.

"Emangnya aku punya pilihan untuk nggak percaya?"

"Baik banget sih kamu. Bodoh banget yang namanya Arnold malah cinta sama orang lain," ceplos Reiga berasa tengah ngobrol dengan Zidane juga genk-nya sampai nyaman untuk bicara jujur.

"Berhenti baca pikiran aku, Reishard!" marah Hana dengan muka marah bercampur malu.

Padahal hari ini ia tidak pakai blush on. Tapi Reiga berulang kali membuat kedua pipinya memerah.

"Kalau aku nggak mau gimana?" ledek Reiga.

"Reishard!"

Hana menarik napas.

"Aku kasih tahu semua orang kalau kamu bisa baca pikiran," ancam Hana.

"Terus bakal ada yang percaya?"

Hana menghela napas.

"Ya nggak ada sih. Mana ada yang bakal percaya. Punya bukti juga nggak. Terlalu beresiko buat gue malah, "keluh Hana dalam hati.

"Benar sekali!" celetuk Reiga.

Hana cemberut.

"Nggak sopan!" sebal Hana yang tahu Reiga barusan kembali membaca pikirannya.

Hana menebar muka ajak ribut kearah Reiga, saat yang dilakukan Reiga malah membalasnya dengan sebuah senyuman.

*

Hana

Jangan cari gue.

Gue lagi bersenang-senang.

Juni mengernyitkan kening membaca whatsapp Hana sejak 1,5 jam lalu yang baru dibacanya.

"Bersenang-senang dalam kepatahan hati maksudnya?" cetusnya. Juni mengetik balasan lalu kembalu joging. Ia senang, Hana patah hati. Simbol kalau bos-nya itu sudah sadar bahwa yang namanya Arnold itu memang tidak pantas lagi diperjuangkan. Well, untuk apa memperjuangkan manusia yang tidak ingin diperjuangkan kan? Biarlah kali ini Hana kabur. Toh hari ini Hana juga tidak ada jadwal. Kebetulan Juni juga ingin rebahan di apartemen seharian. Tanpa memikirkan apapun lagi. Era Arnold si kutu kupret itu telah lewat. Juni tersenyum lebar. Asisten Hana ini selalu berdoa Hana mendapat pasangan yang bucin setengah mati pada bos-nya itu. Hana itu orang baik. Tulus. Meski kadang suka aneh dengan tingkah dan pikirannya. Ya namanya juga orang pintar kan? Mana ada orang pintar yang nggak aneh? Juni mencari pembenaran atas pemikirannya. Tinggal ada satu masalah lagi! Perjodohan.

Ya.

Perjodohan yang semakin hari semakin membuat Hana senewen. Ibu Sara meminta Juni mengosongkan jadwal Hana demi pertemuan yang sering disebut Hana pertemuan konyol itu. Juni pun mengikuti mau Ibu Sara.

***

1
𝐀⃝🥀Weny
thor, kok blm up lagi😪
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!