Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Aman yang Ketergantungan
Rasa sakit itu tidak langsung hilang bahkan setelah Elora sudah dipindahkan ke kamar di lantai atas bahkan setelah tubuhnya sudah berada di tempat yang lebih aman karena yang tertinggal bukan hanya nyeri di pergelangan kakinya yang terasa berdenyut setiap kali ia mencoba sedikit saja bergerak tapi juga sesuatu yang jauh lebih dalam sesuatu yang tidak bisa dilihat namun terus terasa seperti tekanan yang menahan napasnya tanpa benar benar memberinya ruang untuk tenang
Kamar itu luas dengan jendela besar yang menghadap ke luar namun hari itu cahaya yang masuk tidak terasa hangat seperti biasanya justru terasa asing seolah ruangan itu tidak lagi memberikan rasa nyaman yang sama seperti sebelumnya dan Elora hanya bisa berbaring dengan tubuh yang sedikit miring berusaha menemukan posisi yang tidak terlalu menyakitkan sementara pikirannya terus kembali pada satu momen yang sama saat kakinya kehilangan pijakan saat tubuhnya jatuh tanpa bisa ia hentikan dan saat itu terjadi terlalu cepat untuk ia pahami
Ia memejamkan mata sejenak bukan untuk tidur tapi untuk mencoba menenangkan dirinya sendiri namun yang muncul justru potongan potongan kejadian yang membuat dadanya semakin sesak suara benturan suara langkah Arshaka yang datang dengan cepat dan rasa kosong sesaat ketika ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri
Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara keras dan Arshaka masuk dengan langkah yang tetap tenang seperti biasanya namun ada sesuatu dalam cara ia bergerak yang berbeda lebih fokus lebih tajam seolah seluruh perhatiannya hanya tertuju pada satu hal
Elora
Ia berhenti di samping tempat tidur menatap Elora beberapa detik tanpa langsung berbicara memperhatikan setiap detail kecil yang mungkin tidak disadari orang lain bagaimana napas Elora masih belum stabil bagaimana tangannya sesekali menggenggam sprei seolah menahan sesuatu dan bagaimana matanya tidak benar benar terlihat tenang meskipun ia mencoba terlihat baik baik saja
“Masih sakit”
Suara Arshaka terdengar rendah
Bukan pertanyaan
Lebih seperti pernyataan yang sudah ia pastikan
Elora membuka matanya perlahan menatap ke arahnya
“Sedikit”
Jawaban itu keluar pelan meskipun ia tahu itu tidak sepenuhnya benar karena rasa sakit itu masih ada masih jelas namun ia tidak ingin terlihat lebih lemah dari yang sudah terjadi
Arshaka tidak membantah ia hanya duduk di tepi tempat tidur tangannya bergerak perlahan menyentuh pergelangan kaki Elora dengan hati hati memastikan posisinya tidak memperparah keadaan gerakannya terkontrol tidak terburu tapi juga tidak ragu seperti seseorang yang tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu bertanya
“Kamu tidak perlu menahan”
Kalimat itu keluar pelan
Dan untuk sesaat Elora hanya diam
Karena bukan hanya tentang rasa sakit fisik yang ia tahan
Tapi juga yang lain
“Aku tidak apa apa”
Ia tetap menjawab seperti itu
Refleks
Kebiasaan
Arshaka mengangkat pandangannya menatap langsung ke arah Elora
“Kamu tidak perlu bilang itu ke aku”
Nada suaranya tetap datar
Tapi ada tekanan yang jelas
Dan itu membuat Elora tidak bisa langsung menjawab
Hening jatuh di antara mereka namun bukan keheningan yang nyaman melainkan sesuatu yang penuh dengan hal hal yang tidak diucapkan sesuatu yang terus menekan tanpa benar benar dilepaskan
“Aku jatuh”
Akhirnya Elora berkata pelan seolah mencoba memahami ulang kejadian itu
Arshaka tidak langsung menjawab
Tatapannya tidak berubah
“Itu bukan jatuh biasa”
Kalimat itu keluar tanpa ragu
Dan langsung membuat napas Elora tertahan
“Ada yang buat itu terjadi”
Lanjut Arshaka dengan nada yang sama
Tenang
Tapi pasti
Elora menatapnya lebih lama kali ini
Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin menyangkal ingin mengatakan bahwa mungkin itu hanya kecelakaan bahwa mungkin ia hanya tidak hati hati namun bagian lain dari dirinya tahu bahwa itu tidak sesederhana itu
“Dia”
Satu kata itu keluar pelan
Tidak perlu nama
Tidak perlu penjelasan
Arshaka langsung mengerti
“Iya”
Jawabannya singkat
Dan cukup
Napas Elora langsung terasa lebih berat tangannya tanpa sadar menggenggam sprei lebih erat seolah mencoba menahan sesuatu yang mulai muncul lagi dari dalam dirinya rasa takut yang sebelumnya sudah ada kini terasa lebih nyata lebih dekat lebih tidak bisa dihindari
“Aku nggak aman ya”
Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan
Lebih ke dirinya sendiri daripada ke Arshaka
Namun Arshaka tetap menjawab
“Kamu aman di sini”
Nada suaranya tegas
Tanpa ragu
Elora menatapnya
“Tapi dia bisa masuk”
Kalimat itu mematahkan ketenangan yang Arshaka coba bangun
Dan untuk beberapa detik Arshaka tidak langsung menjawab
Bukan karena tidak tahu
Tapi karena ia tidak akan memberikan jawaban yang lemah
“Aku tidak akan biarin itu terjadi lagi”
Akhirnya ia berkata
Lebih rendah
Lebih dalam
Dan kali ini bukan hanya janji
Tapi keputusan
Elora mengalihkan pandangannya ke arah jendela namun tidak benar benar melihat apa yang ada di luar karena pikirannya masih tertahan di satu titik yang sama pada rasa tidak aman yang tidak bisa ia lepaskan dengan mudah
“Aku takut”
Kalimat itu akhirnya keluar
Jujur
Tanpa ditahan
Dan itu membuat Arshaka diam sejenak
Bukan karena tidak tahu harus menjawab
Tapi karena ia mendengar sesuatu yang selama ini tidak pernah diucapkan secara langsung
Ia bergerak sedikit lebih dekat tangannya terangkat lalu berhenti sejenak sebelum akhirnya menyentuh kepala Elora dengan pelan bukan gerakan yang terburu tapi cukup untuk memberi rasa bahwa ia ada di sana
“Kamu tidak sendiri”
Suaranya lebih pelan sekarang
Namun tetap kuat
Elora menutup matanya sejenak merasakan sentuhan itu bukan hanya sebagai bentuk perhatian tapi juga sesuatu yang mulai ia butuhkan tanpa ia sadari sesuatu yang membuatnya sedikit lebih tenang di tengah rasa takut yang tidak benar benar hilang
“Aku nggak mau sendirian”
Kalimat itu keluar lagi
Lebih pelan
Lebih dalam
Dan itu bukan lagi sekadar pernyataan tapi kebutuhan
Arshaka menatapnya lebih lama
“Aku di sini”
Jawabannya singkat
Namun cukup
Dan di titik itu sesuatu mulai berubah bukan hanya di Arshaka tapi juga di Elora karena perlahan tanpa ia sadari rasa aman yang ia rasakan tidak lagi datang dari tempat atau keadaan tapi dari satu orang
Dan itu berbahaya
Hari berganti namun Elora tidak benar benar meninggalkan tempat tidur bukan hanya karena kakinya yang masih sakit tapi karena ia sendiri tidak ingin terlalu jauh bergerak setiap kali ia mencoba duduk lebih lama atau melihat ke arah luar rasa tidak nyaman itu kembali muncul seolah ada sesuatu yang menunggu di luar sana sesuatu yang tidak bisa ia lihat tapi cukup untuk membuatnya memilih tetap di dalam
Arshaka tidak meninggalkannya terlalu lama bahkan ketika ia harus pergi ke ruangan lain ia tetap memastikan bahwa Elora berada dalam jangkauannya baik secara langsung maupun tidak dan setiap kali ia kembali ia selalu memastikan satu hal
Elora masih di sana
“Aku bisa sendiri”
Elora berkata suatu saat ketika Arshaka kembali membawakan sesuatu untuknya
Namun Arshaka hanya menatapnya
“Kamu tidak perlu”
Jawabannya singkat
Dan itu cukup untuk menutup percakapan
Hari demi hari berjalan dengan pola yang sama Elora semakin jarang bergerak semakin sering diam dan tanpa ia sadari ia mulai menunggu Arshaka bukan hanya untuk hal hal kecil tapi untuk merasa lebih tenang untuk merasa lebih aman untuk memastikan bahwa ia tidak sendirian
Dan Arshaka melihat itu
Mengetahui itu
Namun tidak menghentikannya
Malam itu kembali tenang namun tidak sepenuhnya sunyi karena di dalam ketenangan itu ada sesuatu yang bergerak tanpa terlihat Arshaka berdiri sendirian di ruang kerja ponselnya berada di tangan layar menampilkan informasi yang sudah ia kumpulkan sejak kejadian itu
Nama
Lokasi
Pergerakan
Potongan potongan kecil yang kini mulai membentuk sesuatu yang lebih jelas
“Aku sudah bilang”
Suaranya rendah saat berbicara melalui telepon
“Aku tidak mau setengah setengah”
Hening beberapa detik
“Temukan dia sebelum aku yang datang sendiri”
Nada suaranya tetap datar
Namun kali ini ada sesuatu yang lebih gelap di dalamnya sesuatu yang tidak lagi sekadar melindungi tapi siap menghancurkan
Ia menutup panggilan lalu menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mematikannya
Tatapannya kosong
Dingin
Dan penuh keputusan
Di kamar Elora terbangun perlahan dari tidurnya yang tidak benar benar nyenyak napasnya sedikit cepat seperti baru saja keluar dari mimpi yang tidak ingin ia ingat ia menoleh ke samping
Kosong
Untuk beberapa detik dadanya langsung terasa sesak
Namun sebelum rasa itu berkembang lebih jauh pintu terbuka dan Arshaka masuk
Dan dalam satu momen singkat
semuanya kembali terasa lebih stabil
“Kamu ke mana”
Suara Elora pelan
Hampir seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu
Arshaka menatapnya
“Aku di sini”
Jawabannya sederhana
Namun cukup untuk membuat Elora kembali diam
Dan tanpa ia sadari
ia tidak lagi mencari rasa aman di tempat lain
melainkan hanya pada satu orang
Arshaka.
———
See you di next episode.
Jangan lupa baca like dan komen ya!