NovelToon NovelToon
Setelah Lima Tahun Berlalu

Setelah Lima Tahun Berlalu

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:290.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.

Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.

Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.

" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Kyra kembali ke pantry. Sesak, marah itulah yang ia rasakan. kyra tidak tahu harus bagaimana lagi, jika dia berhenti dari sini artinya dia akan kehilangan pekerjaannya. Untuk mencari pekerjaan di luar sana yang gajinya setara dengan disini itu sangat susah.

Kyra menghembuskan napasnya dengan kasar " ngga mungkin aku berhenti begitu saja, apalagi aku sudah menandatangani kontrak"

" denda yang di berikan juga sangat besar, ya Tuhan bagaimana ini belum lagi Aldian yang akan masuk sekolah tahun depan"

Tiba-tiba kyra teringat dengan putranya itu. Jangan sampai Bagas tahu jika Aldian adalah putranya.

" Lo ngga papa Ra" ucap amel yang baru saja datang dan melihat kyra tengah melamun.

"hah, ohh aku ngga papa kok mel" jawab Kyra sedikit gugup.

Amel mengguk faham " dari tadi aku liat kamu melamun terus, kenapa? ada masalah atau kamu ngga betah disini, cerita aja sama aku atau Arya kita bakal dengarin kok. Aku juga awal-awal disini ngga betah sama orang-orang disini tapi mau gimana lagi gaji disini setara dengan UMR"

Iya, aku cuma lagi kepikiran sesuatu aja, Mel. Bukan soal kerjaan kok."

Amel mendekat, lalu menepuk bahu Kyra pelan. "Kalau ada yang berat, jangan dipendam sendiri. Aku tahu rasanya, kadang kita cuma butuh orang buat dengerin."

Kyra mengangguk, meski hatinya semakin sesak. Kalau aku cerita yang sebenarnya... mereka pasti nggak akan percaya. Bagas adalah bos besar di sini, siapa juga yang bakal berpihak sama aku?

"Aku nggak boleh berhenti," gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Aku harus bertahan demi Aldian."

Amel yang berdiri di dekatnya sempat melirik bingung. "Kamu bilang apa tadi, Ra?"

Kyra tersentak, buru-buru gelagapan. "Eh? Oh, nggak kok. Aku cuma ngomong sendiri." elaknya

Amel tersenyum samar, tak ingin memaksa. "Ya sudah. Semangat ya, Kyra. Kalau ada apa-apa, kita sama-sama di sini kok."

Setelah Amel pergi, Kyra bersandar di kursi pantry. Matanya menatap kosong ke dinding. Aldian... mama janji nggak akan biarin kamu kekurangan apa pun.

Ia menggenggam tangannya erat, mencoba mengusir ketakutan yang mulai menyelimuti. Aku harus pastikan Bagas nggak pernah tahu. Bagaimanapun caranya.

*****

Restoran sushi yang biasanya jadi tempat favorit Bagas untuk menjamu rekan bisnis, siang itu terasa berbeda. Suasana ramai, bunyi alat makan beradu dengan meja, dan wangi khas ikan segar memenuhi udara. Namun semua itu hanya seperti bayangan kabur di kepala Bagas.

Duduk berhadapan dengan tim dari Leo Company, Bagas berusaha menjaga wibawanya. Jas rapi, kemeja abu-abu, dan ekspresi dingin yang jadi ciri khasnya tetap ia pertahankan. Tapi pikirannya… tidak di sini.

"Jadi, Pak Bagas, seperti yang sudah kami bahas di email, kami menawarkan kerja sama dengan sistem bagi hasil 60:40. Kami rasa ini cukup menguntungkan kedua belah pihak," ucap salah satu direktur Leo Company dengan penuh semangat.

Bagas hanya menatapnya sekilas, kemudian menunduk pada dokumen di tangannya. Tapi kalimat-kalimat itu tak benar-benar masuk ke kepalanya. Yang terlintas justru wajah Kyra—sorot matanya yang berair, suara bergetarnya saat mengaku bahwa perpisahan mereka dulu karena paksaan ayahnya.

"Aku nggak pernah mau pergi darimu…"

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

"Bagas?" panggil Dika pelan, sedikit menunduk ke arahnya. "Pak, mungkin Anda bisa menanggapi penawaran mereka."

Bagas tersentak kecil, menyadari tatapan semua orang kini tertuju padanya. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menguasai diri. "Ah, iya. Maaf… saya sempat memikirkan hal lain." Ia melirik singkat ke dokumen, lalu kembali menatap lawan bicara. "60:40 terlalu berat bagi pihak kami. Saya hanya bisa menerima kalau bagi hasil 55:45. Dan itu pun dengan catatan—proses distribusi tetap diatur perusahaan saya."

Para petinggi Leo Company sempat saling pandang, lalu salah satu dari mereka menjawab dengan senyum diplomatis. "Baik, Pak Bagas. Itu bisa kita pertimbangkan."

Dika menghela napas lega di sampingnya. Ia tahu betul hari ini bosnya tampak tidak seperti biasanya. Bagas yang biasanya tegas, cepat tanggap, dan tak pernah meleset dalam fokus, kali ini beberapa kali terlihat melamun.

Setelah pertemuan usai, Bagas memilih diam sepanjang jalan kembali ke kantor. Ia hanya menatap keluar jendela mobil, seakan kota besar yang biasanya penuh hiruk pikuk kini tak lebih dari latar belakang yang hampa.

"Lima tahun aku menyalahkan dia… ternyata semua ini karena ayah."

Tangannya mengepal di pangkuan. Ada amarah yang mendidih, bukan hanya pada ayahnya, tapi juga pada dirinya sendiri. Karena selama lima tahun ini, ia sudah salah menilai perempuan yang masih memenuhi hatinya.

Setibanya kembali di kantor, Bagas langsung menuju ruangannya tanpa banyak bicara. Dika yang mengikuti dari belakang hanya bisa mengernyit heran. Biasanya, setelah meeting, Bagas akan langsung menanyakan detail hasil pembicaraan dan menyusun langkah lanjutan. Tapi kali ini, pria itu terlihat muram dan gelisah.

Bagas melempar jasnya ke sandaran kursi, lalu duduk dengan wajah menegang. Jarinya mengetuk meja berulang-ulang, kebiasaan lamanya ketika sedang berpikir keras.

"Kyra… lima tahun kamu hidup seperti apa? Kenapa aku sama sekali nggak tahu kabarmu? Dan kenapa kamu kembali tepat di sini, di tempatku?"

Ia tahu, sebagai CEO, sangat mudah baginya untuk mendapatkan informasi. Tapi hatinya ragu. Setengah dirinya ingin tahu segalanya, setengah lainnya takut pada jawaban yang mungkin akan ia temukan.

Bagas menekan tombol interkom. "Dika, masuk ke ruangan saya sekarang."

Tak lama, Dika muncul sambil membawa tablet. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Bagas menatapnya tajam. "Karyawan baru yang bernama Kyra. Cari semua data tentang dia. Dari CV, riwayat pekerjaan, bahkan latar belakangnya kalau bisa. Saya mau laporan lengkap ada di meja saya besok pagi."

Dika sempat terdiam, matanya berkedip bingung. "Kyra? Yang office girl itu, Pak?"

"Ya," jawab Bagas cepat. "Jangan tanya apa-apa. Kerjakan saja."

Dika menelan ludah. Ia jarang melihat Bagas memerhatikan staff level rendah seperti itu. Biasanya, CEO itu bahkan tidak pernah mengingat nama karyawan pantry. Tapi kali ini, berbeda. "Baik, Pak. Saya akan usahakan."

Begitu Dika keluar, Bagas bersandar di kursinya. Ia menatap langit-langit, menarik napas panjang. Ada resah yang tak bisa ia redam.

"Apa dia sudah menikah lagi? Apa dia bahagia? Atau... apa dia masih sendiri?"

****

Malam itu, setelah kantor sepi, Dika menyalakan laptopnya di ruangannya. Ia membuka database HR dan mulai mencari nama Kyra. Data dasar memang ada: tanggal lahir, alamat domisili, status pernikahan yang tertulis belum menikah, serta riwayat pekerjaan singkat di beberapa restoran kecil sebelum masuk perusahaan ini.

Tapi ada satu hal yang membuat Dika terhenti. Di bagian tanggungan keluarga, tercatat satu nama anak: Aldian, usia 5 tahun.

Dika terbelalak. "Dia punya anak? Tapi statusnya belum menikah..." gumamnya bingung.

Malam sudah larut, kantor hampir kosong. Lampu-lampu di beberapa lantai sudah dipadamkan, hanya menyisakan cahaya remang dari ruang kerja tertentu. Di lantai dua belas, Bagas masih duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop yang bahkan tak benar-benar ia baca.

Pikiran tentang Kyra masih menguasai kepalanya.

Ketukan pintu terdengar. "Pak, ini saya, Dika."

Bagas mendongak, sedikit heran. "Masuk."

Dika melangkah cepat dengan wajah serius, tablet di tangannya. Ia ragu sejenak sebelum akhirnya bicara.

"Pak, saya sudah dapat data tentang Kyra. Ternyata ada hal yang… mungkin Bapak harus tahu langsung."

Bagas menegakkan tubuh, tatapannya tajam. "Katakan."

Dika menyerahkan tablet itu. "Ini data dari HR. Statusnya tercatat belum menikah, tapi... dia memiliki seorang anak. Nama anaknya Aldian, usia lima tahun."

Sejenak, waktu seolah berhenti di ruangan itu. Bagas menatap layar tablet, membaca ulang nama itu berulang kali. Aldian. Usia lima tahun.

Tangannya mengepal. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman. "Lima tahun...?"

Dika mengangguk hati-hati. "Iya, Pak. Saya sendiri juga sempat kaget. Kalau dihitung dari usianya... Aldian lahir tidak lama setelah… ehm, setelah tahun-tahun sulit Bapak."

Bagas terdiam. Napasnya mulai terasa berat. Ia berdiri, mendorong kursinya hingga berderit keras. "Jadi… Kyra menyembunyikan ini dariku," suaranya bergetar, campuran marah dan sakit hati.

Dika menatap bingung. "Pak, maksudnya… Bapak dan Kyra ada hubungan apa sebelumnya?"

Bagas menghentikan langkah mondar-mandirnya. Ia menatap sekretarisnya tajam, lalu menghela napas panjang. "Dika… Kyra bukan sekadar karyawan. Dia mantan istriku."

Dika sontak terbelalak. "Apa? Mantan istri Bapak?"

"Ya," jawab Bagas tegas, namun lirih. "Kami menikah diam-diam lima tahun lalu. Tidak ada seorang pun yang tahu, termasuk orang tuaku. Sampai akhirnya ayahku mengetahui pernikahan itu… dan memaksanya pergi dari hidupku."

Dika tercekat, seolah baru memahami kenapa Bagas terlihat begitu terpukul sejak siang. "Kalau begitu… anak bernama Aldian itu…"

Bagas memotong cepat, suaranya dingin namun matanya penuh gejolak. "Ada kemungkinan besar dia anakku."

Hening menyelimuti ruangan. Dika hanya bisa menunduk, tak tahu harus berkata apa.

Bagas menatap keluar jendela gedung tinggi itu, matanya berkaca-kaca yang jarang sekali ia tunjukkan. "Selama lima tahun… aku mungkin sudah jadi seorang ayah. Dan dia menyembunyikan semuanya dariku."

Beberapa detik kemudian, ia berbalik menatap Dika. "Jangan ada seorang pun yang tahu tentang hal ini selain aku. Mengerti?"

"Baik, Pak," jawab Dika cepat.

Bagas mengepalkan tangannya erat. "Aku akan tanyakan langsung pada Kyra. Besok."

1
Lilik Juhariah
miris
ayu cantik
gantung
Lisa
Terimakasih y Kak utk karyanya..kita tunggu karya² selanjutnya y..👍😊
Atmita Gajiwi
/Heart//Heart//Rose/
Lisa
Wah sekarang rumahnya Bagas & Kyra selalu ramai tuh 😊
Nuri 73749473729
lanjut
Eno Pahlevi
LANJUTT.... DITUNGGU TRIPLE UPDATENYA THOR 🥰🥰🥰🥰
Muji Lestari
🤣🤣🤣lucu rewan
Nuri 73749473729
lanjut
Mazree Gati
SORRY THORR KLO AKHIRNYA BALIKAN SAMA BAGAS,,,END, UNSUB,,
Hari Saktiawan
lama banget update nya
Lisa
Happy wedding Revan & Dira..bahagia selalu & labggeng ya 🙏
Erna Riyanto
cerita Damian dan Dewi lanjutin dong thorrr....lama bgt lho...digantung
Uthie
Mampir untuk genre cerita seperti ini 👍👍👍
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Kalau sudah begini jalan ceritanya, kayaknya ini Prepare to ending.
Hari Saktiawan
dinovel nama arka kok banget Thor lu suka ya
ig: denaa_127: nama gebetan, jujurr🤭
total 1 replies
Arwondo Arni
jujur aja kl kamu mencintai Dira lgsg nikah aja biar ngak sepi
Lisa
😊 Kalau lagi sakit Revan baru inget tuh sama Dira 🤭
Lisa
Sehat selalu y Kyra, debaynya juga..
Maria Anyela Rosa
kok jadi melow begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!