Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Harapan Hamzah yang Mustahil
"Ibu!" Aku berteriak panik. Kurasakan debar jantungku kian memburu karena takut. Aku lantas menjatuhkan pisau itu dari tangan Ibu. Kemudian memeluknya erat agar ia memiliki tempat teraman untuk berlabuh.
Ridho tersenyum puas mendapati uang itu kini berada dalam genggamannya. Ia membuka amplop berisi uang jutaan rupiah itu. Kemudian mengeluarkan uang tersebut dan tersenyum menang sambil mencium uangnya.
Aku membiarkannya. Bukan karena aku takut padanya, melainkan ingin agar Ibu tetap aman dalam dekapanku. Aku tahu bahwa saat ini yang Ibu butuhkan bukanlah uang tersebut. Melainkan, bentuk aksi perlindungan dariku.
Kulihat, Ridho menekukkan wajahnya. Kemudian duduk di atas sebuah kursi kayu di ruang tamu. Ia menekan pelipisnya seolah ada beban yang ia pendam sendirian. Ditatapnya kembali uang yang kini berada dalam genggamannya. Tiba-tiba ... ia berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan menujuku dan Ibu.
"Nih!" ucapnya seraya menyodorkan seluruh uang tersebut kembali. Aku lantas mengambilnya. Seraya menatap wajahnya yang sedari tadi tampak gusar itu.
"Kalau kau mau, ambillah! Tapi jangan semua. Kau tak pikirkan Ibumu?" kataku menasihatinya.
Ridho kini memberanikan diri mengangkat kepalanya. Tatapannya nanar dan berkaca-kaca. Seperti ada sesuatu yang ia tahan selama ini. Kemudian, sebuah ucapan terbit dari lisannya.
"Gue habis kalah judi."
Mataku melotot tak percaya dengan kata-katanya. Dadaku bagai ditancap sembilu ratusan kali. Sakit yang tak berdarah kala melihat adik sendiri, kini harus mengalami krisis identitas diri dan hilang arah hidup.
Aku menyudahi mendekap Ibu, yang kini terlihat kaget tak percaya dengan ucapan Ridho. Kakiku melangkah menuju Ridho. Lalu, satu kalimat terucap dari bibirku.
"Bodoh!" ucapku kasar seraya menoyor kepalanya.
Ridho tersenyum. Ada getir di dalam senyumannya. Kemudian, sebuah kalimat terbit dari lisannya.
"Kau nggak akan bilang gitu kalau nggak ngerasain gimana rasanya di posisi gue saat ini."
Aku menghela napas panjang. Lalu mengembuskannya dengan kasar. Ridho, ia sedang tidak baik-baik saja. Aku mendaratkan pelukanku padanya. Tiba-tiba ... sosok yang selama ini kukenal keras, lantas menangis detik itu juga. Kurasakan air matanya menetes hingga membasahi pundakku. Aku membelai lembut rambutnya sebagai mana dulu aku memperlakukannya saat ia kecil.
Ridho membalas pelukanku dengan erat. Kemudian mengucapkan sebuah kata yang jarang kudengar dari lisannya.
"Maaf!" mohonnya sambil menyudahi pelukannya.
Aku mengangguk paham. Lantas menjitak pelan kepalanya. Ia kini bisa tertawa lagi setelah aksi jitakan dikepalanya itu kulakukan.
"Berapa uang judi lo?" tanyaku kemudian sambil menghitung uang di tanganku.
"lima ratus ribu," jawab Ridho sambil menyeka sisa air matanya.
"Akan gue kasih buat lo. Asal dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Ridho penasaran.
"Jadilah anak yang baik. Satu lagi, berhentilah narkoba dan judi. Cukup sekali aja gue dengar lo main judi. Kalau masih ...." Aku menjeda kalimatku sambil memerhatikan ekspresi Ridho yang seolah penasaran akan kelanjutan ucapanku.
"Kalau masih, lo nggak akan gue nafkahi lagi. Cari kerja sendiri!" pungkasku.
"Siap, Kak," jawab Ridho sambil memberi hormat padaku.
"Nih! Gue tambahin dua ratus buat beli jajan, lo. Tapi, buat jajan yang sehat, ya. Jangan ngerokok lagi."
"Gue boleh komplain nggak kalau soal itu?"
"Nggak boleh! Titik!" tegasku sambil meninggikan sedikit suara.
"Ya, deh. Tapi gue nggak janji, ya. Tapi bakal gue kurangi, kok merokok itu," balas Ridho seraya menatapku dengan alis terangkat.
"Ya, pelan-pelan aja," jawabku kemudian.
Kuperhatikan Ridho yang kini berlalu keluar rumah. Aku pun menghampiri Ibu yang tampak tersenyum memandangku di belakang sana.
"Bu, aku mau bicara sama Ibu. Ini kabar bahagia," ucapku memberi kabar bahagia untuk Ibu.
"Apa itu, Nak?" tanya Ibu kemudian seraya tersenyum padaku.
"Alhamdulillah, aku sudah mulai bekerja, Bu."
"Oh, ya? Kamu kerja apa?" tanya Ibu padaku dengan raut wajah penuh keceriaan.
"Aku kerja jadi baby sitter, Bu. Di rumah seorang dokter."
"Kok bisa? Kamu kenal dokternya di mana? Dokternya baik, nggak? Gajinya berapa sebulan?" Ibu melontarkan pertanyaan beruntun padaku.
"Beliau dokterku saat aku berobat ke rumah sakit karena sakit demam, Bu. Aku pernah jujur padanya bahwa aku sedang mencari pekerjaan. Jadi, dia tawarkan."
Kulihat, senyum itu tak lagi dapat disembunyikan Ibu. Ibu lantas memelukku erat lalu berucap.
"Alhamdulillah. Doa Ibu Allah kabulkan, Nak. Kamu dipertemukan dengan orang baik dan dapat pekerjaan."
Aku tersenyum haru dalam dekapan Ibu. Ternyata, Ibu diam-diam mendoakan kebaikan untukku.
"Terima kasih, Bu. Sudah doain Adelin," ucapku berterima kasih.
"Sama-sama, Sayang."
Sesuatu terlintas dalam benakku. Aku belum menjelaskan pada Ibu bahwa aku malam ini akan pamit ke rumah majikanku. Aku pun mulai menyampaikannya pada Ibu.
"Bu, malam ini dan untuk seterusnya, mungkin aku akan tinggal bersama majikanku. Karena aku harus menjaga anaknya di rumah. Bolehkah, Bu?" tanyaku pada Ibu yang kini tampak sedang berpikir.
"Boleh, Nak. Apa yang terbaik buat kamu, Ibu dukung dan doakan. Asal, kamu jaga diri baik-baik ya di sana. Jaga sikap. Jangan sampai sikapmu di rumah kamu bawa ke sana." Ibu menasihatiku sambil menepuk pelan pundakku.
Kuanggukkan kepala seraya tersenyum manis pada Ibu.
"Ibu. Aku akan bahagiakan Ibu selalu. Sampai akhir hayatku," batinku berbisik.
***
Malam yang dinanti telah datang. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku. Aku lantas bersiap mengangkat koperku keluar. Namun, tiba-tiba ... Dokter Deva muncul di depan pintu rumahku.
"Assalamualaikum," ucapnya memberi salam.
"Waalaikumsalam," jawab kami sekeluarga serempak.
"Izin ya, Bu bawa Adelin ke rumah saya." Dokter Deva menyalami tangan Ibu. Kemudian memeluk Ibu erat.
"Pamit, ya, Bu." Aku berpamitan dengan Ibu, sambil memeluknya dengan erat. Ibu membalas pelukanku kemudian berucap.
"Hati-hati di jalan, Nak," doanya dengan nada sedikit berteriak.
***
Rumah yang kini menjadi tempatku menghabiskan hari demi hari bersama makhluk kecil yang tanpa sadar perlahan aku jatuh cinta padanya. Aku menghabiskan waktu bermain dengannya hingga ia benar-benar puas. Sebuah spidol warna-warni ia berikan padaku. Ia memintaku untuk menggambar sebuah hewan bernama kucing. Lantas, aku mengikuti maunya.
Saat tengah asyik menggambar, tiba-tiba Hamzah mengoreksi gambar kucingku.
"Tante jangan, ya kasih mata. Itu tidak boleh kata Allah haram." Aku lantas tersipu malu oleh pemahaman agama anak seusia Hamzah yang masih berusia tiga tahun. Tapi, sudah begitu paham tentang hal-hal yang dilarang di dalam Islam.
Aku pun membuat lukisan baru untuknya. Kali ini tanpa mata sama sekali. Ia tersenyum ketika gambar sederhanaku telah selesai dibuat. Tiba-tiba ... Hamzah memelukku erat. Kali ini tanpa mencium pipiku. Ketika kami saling berpelukan, seseorang berdiri di ambang pintu.
"Maaf, Hamzah ... sudah tidur?" tanya Ustaz Afwan padaku yang baru saja kembali dari mengantar dokter Deva bekerja di rumah sakit.
Aku memerhatikan Hamzah yang kini diam tak berkutik dalam dekapanku. Aku mengangguk lalu menaruh Hamzah perlahan ke atas kasurnya. Kami terdiam satu sama lain. Sebelum pada akhirnya ustaz Afwan kembali berlalu dari rumah pergi entah ke mana.
Aku melirik di balik tirai jendela ruang tamu. Ustaz Afwan menaiki motornya dan setelahnya aku tak tahu ke mana lagi ia pergi.
***
Hari-hari terus berganti. Aku semakin mencintai profesiku sebagai baby sitter untuk Hamzah. ustaz Afwan, hampir setiap malam jika tiada dokter Deva di rumah, maka ia akan berlalu keluar dan tak akan kembali sebelum dokter Deva benar-benar kembali pulang.
Akan tetapi, kali ini berbeda. Saat aku dan bi Ani menyediakan sarapan pagi untuk keluarga besar ini, sebuah suara motor berhenti menyentakku. Suara motor yang kukenal, yaitu suara motor ustaz Afwan. Aku bergegas menyelesaikan hajatku dalam menata sarapan di atas meja makan. Namun, ternyata ustaz Afwan sudah sampai di depan pintu depan.
"Abaty!" teriak Hamzah sambil berlari mengejar Abinya. Aku tersenyum sekilas menatap pemandangan mengharukan itu.
Tampak ustaz Afwan berjalan menuju meja makan bersama Hamzah yang kini dalam gendongannya.
"Silakan sarapan, ustaz!" ucap Bi Ani sambil berlalu pergi.
Saat aku ikut menyeret langkah untuk berlalu, tiba-tiba sebuah suara memanggilku.
"Tante! Mau makan sama Tante di sini." Hamzah memintaku makan bersamanya. Hal yang membuatku kini harus membalikkan badan.
"Makan sama Tantenya ya, Nak. Biar Abi makan di dapur."
"La!" teriak Hamzah seraya melotot pada Abinya.
Kemudian, sebuah kalimat yang membuatku dan ustaz Afwan kini terkaget, muncul dari lisan seorang anak kecil.
"Abaty dan Tante, menikah, ya."
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?