NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Aroma ramen yang baru matang perlahan memenuhi ruang tamu rumah Maria. Hangat, gurih, dan menenangkan, seperti mencoba menutup ketegangan yang sempat menggantung di antara percakapan sebelumnya.

Namun tidak semua hal bisa ditutup oleh aroma makanan.

Setelah Clay selesai bercerita tentang Dion dan masa lalunya, suasana di ruangan itu berubah. Tidak lagi sekadar percakapan ringan antara dua orang asing yang mulai saling mengenal, tetapi menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih berat.

Nindi duduk diam cukup lama. Matanya tidak langsung menatap Clay, tapi pikirannya jelas tidak berada di ruangan itu lagi.

Dion. Narkoba. Trauma. Ayah yang rusak. Maria yang menanggung semuanya sendirian.

Semua itu berputar di kepalanya.

Dan tanpa ia sadari, pandangannya perlahan bergeser ke arah Maria yang sedang sibuk di dapur. Wanita itu terlihat biasa saja dari luar. Begitu tenang, tersenyum kecil, bergerak seperti tidak ada beban. Tapi sekarang Nindi tahu, itu bukan ketenangan. Itu kebiasaan seseorang yang sudah terlalu lama bertahan.

“Nindi?”

Suara Clay memecah lamunannya.

Nindi menoleh perlahan. “Hm?”

“Kenapa diam?”

Nindi tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan.

“Aku Cuma berpikir,” jawabnya akhirnya.

Tentang Maria, lanjutnya dalam hati.

Tentang bagaimana seseorang bisa tetap berdiri meski hidupnya tidak pernah benar-benar ringan. Dan entah kenapa, wajah ibunya tiba-tiba muncul di pikirannya. Ibunya yang selalu bilang bahwa hidup itu tidak harus sempurna, yang penting masih bisa dijalani dengan kepala tegak.

Nindi tersenyum kecil, tapi kali ini tidak sepenuhnya cerah.

“Maria itu kuat,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Clay meliriknya sekilas. “Dia memang harus begitu.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Seolah Clay tidak sedang menjelaskan, melainkan menyimpulkan sesuatu yang sudah lama ia lihat.

Nindi menarik napas lagi. Lalu tanpa sadar, ia mulai membandingkan. Keluarganya. Rumahnya. Ayahnya yang kaku tapi tidak kejam. Ibunya yang cerewet tapi selalu ada. Hidup yang kadang ribut, tapi tetap hangat.

“Kalau di rumahku…” Nindi berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kami itu ribut terus, tapi, ya, keluarga cemara versi berisik.”

Clay mengangkat alis sedikit. “Cemara?”

“Iya,” jawab Nindi cepat. “Keluarga yang meskipun berantem, tetap keluarga.”

Ada jeda kecil setelah itu. Untuk pertama kalinya, suasana terasa sedikit lebih ringan. Namun tidak bertahan lama. Karena kemudian Nindi menatap Clay lagi. Lebih serius.

“Clay,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Jangan main-main sama perempuan.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tegas. Jelas. Tidak bercanda.

Clay yang tadinya bersandar santai langsung menoleh. “Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?”

Nindi menghela napas. Ia tidak suka membicarakan ini, tapi entah kenapa mulutnya lebih dulu bergerak daripada pikirannya.

“Aku dengar dari Cris,” katanya jujur. “Soal Alice. Soal kamu yang katannya hanya berpacaran sehari lalu putus. Dan itu kamu lakukan cuma gara - gara ingin tidur dengannya."

Clay terdiam. Hanya beberapa detik. Lalu ia tertawa kecil. Bukan tawa yang hangat. Bukan juga tawa yang benar-benar lucu. Lebih seperti tawa seseorang yang tidak menyangka hal itu akan dibahas dan Clay tidak terlalu suka.

“Jadi kamu percaya begitu saja?” Clay menatapnya, suaranya tenang tapi ada ujung tajam di dalamnya.

“Aku tidak bilang aku percaya,” balas Nindi cepat. “Aku cuma bilang, itu bukan hal yang baik.”

Nindi berhenti sebentar, lalu menghela napas pelan. “Aku tahu di sini orang lebih bebas,” lanjutnya, memilih kata dengan hati-hati. “Bahkan mungkin terlalu bebas menurutku.”

Nindi melirik Clay sekilas, lalu kembali menatap ke depan.

“Tapi tetap saja, apa pun itu dan apapun kebiasaannya, harusnya ada batas, kan?”

Suasana menjadi sedikit hening setelah kalimat itu. Bukan karena Nindi yakin sepenuhnya. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia sedang mencoba menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya nyaman untuk pahami.

Clay menatap Nindi sebentar. “Kamu bicara soal batasan,” Clay tersenyum tipis. “Seolah kamu nggak pernah salah.”

“Tentu saja.” Jawabannya cepat. Terlalu percaya diri. “Aku orang yang paling tahu batasanku sendiri.”

Clay menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Seolah sedang menilai apakah itu benar, atau hanya kalimat yang terdengar baik untuk diucapkan. Namun sebelum percakapan itu berkembang lebih jauh, suara Maria terdengar dari dapur. Seperti menarik mereka kembali ke dunia nyata.

“Maaf membuat kalian menunggu!”

Maria keluar membawa nampan besar. Di atasnya ada beberapa mangkuk ramen yang masih mengepul. Aromanya langsung menyebar, memutus ketegangan yang tadi sempat mengeras.

“Semuanya ayo kita makan,” katanya sambil tersenyum.

“Dion! sini makan!” Maria berteriak memanggil Dion.

Dion muncul. Dengan pelan dan ragu - ragu. Matanya tidak menatap siapa pun dengan benar. Bahunya sedikit menunduk. Langkahnya seperti orang yang selalu siap disalahkan.

Nindi memperhatikannya. Dan tanpa sadar, hatinya sedikit terenyuh.

“Duduk di sini,” kata Maria lembut, menunjuk kursi yang tadi sudah dia siapkan.

Dion duduk. Tapi tetap tidak mengangkat kepala. Tangannya gemetar kecil saat mengambil posisi duduk. Nindi melihat itu. Dan untuk sesaat, rasa iba muncul begitu saja. Clay yang berdiri di sampingnya menyadari itu. Matanya bergerak sedikit. Namun ia tidak langsung berkata apa-apa. Nindi justru yang bergerak lebih dulu. Ia berdiri. Langkahnya pelan mendekati meja. Lalu duduk di seberang Dion.

Dion langsung menegang. Tidak berani menatap.

“Dion,” panggil Nindi.

Tidak ada jawaban.

“Lihat aku.”

Sunyi.

Dion masih diam. Maria terlihat sedikit khawatir, tapi tidak menghentikan. Clay memperhatikan dari samping dengan diam. Mata tajamnya tidak lepas dari Nindi.

Akhirnya Dion perlahan mengangkat kepala. Pelan sekali. Seperti takut. Matanya bertemu dengan Nindi, tapi hanya sebentar.

“Mulai sekarang aku mungkin akan sering datang ke sini sendirian.”

Dion menegang.

“Aku tidak takut padamu,” lanjut Nindi tenang. “Aku bisa jaga diriku sendiri. Kalau kamu macam-macam, aku tahu cara membela diri.”

Tatapannya sedikit mengeras.

“Dan satu lagi… aku juga punya orang yang akan memastikan kamu tidak berani melewati batas.”

Dion menelan ludah.

Maria tersenyum kecil, tapi terlihat puas. Seperti yang ia harapkan. Meskipun terlihat sederhana, Nindi ternyata punya keberanian yang tidak bisa diremehkan.

“Dion,” suara Maria terdengar lembut tapi tegas. “Kamu dengar tadi, kan? Dia teman Ibu juga.”

Dion langsung menunduk.

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?”

“Iya…” Dion menelan ludah. “Maaf… aku tadi tidak sopan.”

Ia mengangkat sedikit kepalanya, tapi tetap tidak berani menatap lama. “Maafkan aku… semoga kita bisa akrab.”

Nindi menatapnya sebentar, lalu menghela napas pelan. “Nindi,” koreksinya singkat.

“Hm?”

“Namaku Nindi.”

“Oh… iya.” Dion buru-buru mengangguk. “Maaf, Nindi.”

Ada jeda kecil setelah itu.

Dion masih terlihat canggung, tapi setidaknya sudah berusaha menyesuaikan diri.

“Ya sudah, ayo cepat makan,” kata Nindi lagi, kali ini lebih santai. Matanya menyapu semua orang di ruangan itu. “Hari ini kita jadi keluarga dulu.”

Suasana sempat hening sesaat setelah kalimat itu keluar.

Maria tersenyum pelan, Dion langsung menurut tanpa banyak bicara, dan suasana yang tadi tegang perlahan mencair. Di sisi lain, Clay menatap Nindi cukup lama.

Lalu, tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum kecil. Miring. Bukan senyum hangat yang terang-terangan, tapi lebih seperti ekspresi puas yang ia tahan sendiri. Seolah ada sesuatu dari Nindi yang baru saja membuatnya tanpa sadar mengakui satu hal:

Gadis itu tidak hanya kuat, tapi juga mampu mengatur orang lain tanpa harus meninggikan suara. Dan itu, entah kenapa, membuat Clay terlihat, sedikit bangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!