Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah ...
Xander Rey Lergan, sosok pria paruh baya yang masih terlihat gagah meski guratan usia mulai menghiasi wajahnya, berdiri dengan dada naik-turun menahan emosi. Tangannya yang baru saja melayangkan pukulan telak ke wajah Raka masih terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya tajam, penuh amarah yang tidak lagi terbendung, seolah-olah ia siap melumat siapa saja yang berani menyakiti putri kesayangannya.
Kayden yang berdiri di ambang pintu tersentak melihat kehadiran sosok yang sangat ia segani itu. Tanpa membuang waktu, Kayden segera berlari menghampiri. Xander bukan sekadar sepupu baginya, pria itulah yang merawat dan mendidik Kayden sejak kecil. Meski secara status mereka adalah saudara sepupu, bagi Kayden, Xander adalah sosok ayah yang sebenarnya.
"Ayah ...," panggil Kayden dengan nada suara lirih, terselip rasa bersalah di dalamnya.
Xander seketika mengangkat jari telunjuknya, menunjuk ke arah Kayden dengan kemarahan yang meluap. "Kenapa kamu tidak menceritakan semua ini pada Ayah, hah?!" suaranya berat dan menggelegar, membuat nyali siapa pun yang mendengar akan menciut.
"Ayah, aku ...," Kayden mencoba membela diri, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
"Aku yang melarangnya, Yah! Aku!" sela Zira dengan suara parau. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
Xander mengalihkan pandangannya pada Zira, putri sambungnya yang bahkan lebih ia cintai dan lindungi melebihi anak kandungnya sendiri. Melihat Zira menangis sesenggukan, pertahanan Xander seolah runtuh, berganti dengan rasa iba yang mendalam.
"Zira, kamu berusaha melindungi baj1ngan ini, hah?" ucap Xander dengan nada suara yang memberat karena menahan pedih. "Kalau bukan karena Xavier yang melapor, Ayah tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padamu. Ayah tidak akan pernah tahu bahwa kehidupanmu sedang dihancurkan oleh pria yang dulu Ayah kira akan membahagiakanmu selamanya!"
Zira tertunduk, bahunya berguncang hebat karena isak tangis yang semakin menjadi. Melihat kehancuran di wajah putrinya, Xander segera menarik Zira ke dalam pelukan hangatnya. Ia mengelus lembut kepala Zira, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki. Sementara itu, Kayden hanya bisa menunduk, melirik ke arah Raka yang masih tersungkur di aspal. Pukulan Xander bukan main-maka; Raka tampak sangat kesakitan, memegangi rahangnya sementara darah terus mengucur dari hidungnya.
"Kita pulang sekarang, Nak. Bawa semua barang-barangmu. Kembali ke rumah Ayah dan Bunda. Kami masih ada untukmu, kamu selalu punya tempat untuk pulang sejauh apa pun kamu melangkah," ucap Xander dengan nada lirih sembari meraih wajah Zira, menatapnya dengan penuh kasih sayang seorang ayah.
Tangis Zira pecah lagi. Hatinya terasa remuk memikirkan betapa ia telah mengecewakan orang tuanya. Ia membayangkan bagaimana tatapan Bundanya nanti, wanita yang selalu berharap keutuhan rumah tangganya. Namun, kenyataan berkata lain—segalanya telah hancur berkeping-keping.
"Ayah ... hiks ...," Zira kembali menenggelamkan wajahnya di dada Xander, mengadu tentang segala rasa sakit yang ia pendam selama ini. Xander memejamkan matanya rapat-rapat, sudut matanya pun ikut berair. Hatinya seperti diremas mendengar tangisan pilu putri yang sangat ia manjakan.
"Kay," panggil Xander tanpa melepaskan pelukannya pada Zira.
"Ya, Ayah?" sahut Kayden dengan sigap.
"Ada barang Zira yang tertinggal lagi di dalam?" tanya Xander dengan nada menyelidik.
"Sudah tidak ada, Yah. Semuanya sudah masuk ke mobil pindahan," balas Kayden cepat.
"Ya sudah." Xander merangkul pundak Zira dengan protektif, membimbingnya menuju mobil mewah miliknya.
Sementara itu, Kayden menatap ke arah Raka yang berusaha beranjak berdiri dengan sisa tenaga. Hidung Raka masih berdarah, dan tatapannya tampak kosong karena syok fisik dan mental. Kayden mendekat sedikit, lalu berbisik dengan nada mengejek yang sangat tipis.
"Katakan selamat tinggal pada calon istriku," bisik Kayden telak.
Setelah memberikan serangan mental itu, Kayden dengan percaya diri berjalan mengekor di belakang Xander menuju mobil. Namun, tepat saat Kayden hendak menyelinap masuk ke pintu penumpang, Xander dengan cepat menutup pintu mobil dan memberikan jitakan keras di kepala Kayden.
"Yah! Sakit!" pekik Kayden sembari memegangi kepalanya, menatap Xander dengan pandangan tidak percaya.
"Anak nakal! Kamu pulang sendiri! Apa urusanmu ikut-ikut masuk ke mobilku!" desis Xander kesal. Ia merasa Kayden telah melakukan kesalahan besar karena menyembunyikan penderitaan Zira darinya.
"Loh, Ayah tidak tahu? Aku kan calon suami baru Kak Zira," ucap Kayden dengan mata yang membulat sempurna, mencoba peruntungannya di tengah suasana tegang.
"Calon upilmu! Sudah, sana pergi! Ayah mau langsung membawa Zira pulang ke Indonesia. Kamu, lanjutkan pekerjaanmu. Katanya pekerjaanmu menumpuk di sini, kan? Selesaikan semuanya, jangan malah ikut-ikut urusan kami!" ucap Xander tegas sebelum masuk ke dalam kabin kemudi, meninggalkan Kayden yang mematung di pinggir jalan.
"Yah, aku sibuk juga demi Kak Zira, Yah!" seru Kayden dari luar jendela mobil.
Xander menurunkan kaca mobilnya sedikit, menatap Kayden dengan pandangan meremehkan yang sangat khas. "Pede sekali kamu, memangnya sudah dapat restu? Sudah sana pulang, dasar kamu ... om-om bau kencur!" ucap Xander telak sebelum menutup kembali jendela mobilnya dengan rapat.
Perlahan, mobil itu melaju meninggalkan rumah yang penuh kenangan pahit itu. Kayden hanya bisa menghela napas kasar, menendang kerikil di jalanan dengan wajah frustrasi namun juga merasa sedikit lega karena Zira kini berada di tangan yang tepat.
"Dia benar-benar masih mengesalkan seperti dulu!" desis Kayden kesal, namun matanya terus menatap mobil yang membawa cintanya pergi menuju babak baru kehidupan mereka.
_______________
ku laporin ayang Xander nanti kau mau sakiti anak nya lagii, aku cctp lohh inii🤣