Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4 : PERJANJIAN DI ATAS LUKA
Malam merayap semakin larut, namun cahaya di ruang kerja pribadi Devan Arkatama masih menyala terang. Ruangan itu sangat maskulin—didominasi kayu jati gelap, aroma cerutu mahal, dan deretan buku bisnis yang tertata sangat rapi. Devan duduk di balik meja besarnya, sementara Anya berdiri di depannya, masih mengenakan gaun hijau botol yang kini terasa seperti kain kafan yang menyesakkan napasnya.
Di atas meja, terletak sebuah dokumen setebal dua puluh halaman. Judulnya sederhana namun mematikan: PERJANJIAN PRANIKAH.
"Duduklah, Anya. Kita perlu bicara sebagai dua orang dewasa yang sedang melakukan transaksi," ucap Devan dingin. Suaranya tidak lagi berisi ejekan seperti di restoran tadi, melainkan nada bisnis yang datar dan tanpa ampun.
Anya duduk dengan punggung tegak. "Katakan saja apa alasan sebenarnya, Devan. Aku tahu ini bukan hanya soal citramu yang buruk sebagai playboy di majalah gosip. Keluarga sekaya Arkatama bisa membeli media untuk membersihkan nama. Kenapa harus melalui pernikahan yang rumit ini?"
Devan terdiam sejenak. Ia melepaskan kancing atas kemejanya, seolah oksigen di ruangan itu mulai menipis. Ia memutar kursi ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap gedung-gedung Jakarta.
"Papa mengidap kanker paru-paru stadium tiga," ucap Devan lirih. "Hanya sedikit orang yang tahu. Dia menolak menjalani kemoterapi jika aku tidak memberinya satu hal: stabilitas keluarga. Dia takut jika dia pergi sekarang, dewan direksi akan menggoyangkan posisiku karena aku dianggap belum 'matang' secara personal. Dia ingin aku menikah dengan wanita yang memiliki latar belakang bersih, seseorang yang bisa dia percayai untuk menjagaku saat dia tidak ada. Dan dia sangat mempercayai ibumu."
Anya tertegun. Ia tidak menyangka ada beban seberat itu di balik sikap otoriter Papa Arkatama. Namun, ia tidak membiarkan rasa ibanya mengaburkan tujuannya.
"Dan aku? Kamu pikir aku melakukan ini karena aku ingin menjadi pengasuhmu?" tanya Anya sinis.
"Aku tahu alasanmu, Anya," Devan berbalik, menatap tajam ke mata Anya. "Ibumu ditipu oleh Hendra. Hutang dua belas miliar itu hanyalah puncak gunung es. Hendra juga melibatkan butik ibumu dalam kasus pencucian uang tanpa dia sadari. Jika hutang itu tidak dilunasi minggu depan, ibumu bukan hanya kehilangan rumah, tapi dia bisa berakhir di penjara."
Anya merasa jantungnya mencelos. "Penjara? Mama tidak mungkin melakukan itu!"
"Tentu saja dia tidak tahu. Tapi di mata hukum, tanda tangannya ada di sana. Keluargaku bisa menghapus jejak itu. Aku bisa membayar hutang itu dalam satu detik, dan pengacaraku bisa memastikan ibumu bersih dari segala tuntutan hukum. Tapi sebagai gantinya..." Devan menunjuk dokumen di depan Anya. "...kamu harus menjadi istriku selama dua tahun. Secara legal, di mata dunia, dan di depan orang tua kita."
Anya mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar. Ia membaca poin demi poin.
1. Pernikahan akan berlangsung selama 2 tahun.
2. Pihak Kedua (Anya) wajib mendampingi Pihak Kesatu (Devan) dalam setiap acara resmi.
3. Pihak Kedua dilarang memiliki hubungan asmara dengan pihak lain selama masa kontrak.
4. Kebutuhan finansial keluarga Pihak Kedua akan ditanggung sepenuhnya oleh Pihak Kesatu.
Anya sampai pada satu poin yang membuatnya berhenti bernapas sejenak.
1. Pihak Kesatu dan Pihak Kedua akan tinggal dalam satu rumah untuk menjaga kerahasiaan kesepakatan.
"Satu rumah?" tanya Anya, suaranya meninggi. "Kamu ingin aku tinggal bersamamu? Pria yang bahkan tidak tahu cara menghargai pohon?"
Devan berdiri, berjalan mendekati Anya hingga bayangannya menutupi wanita itu. "Satu rumah, satu kamar jika orang tua kita berkunjung. Kita harus menciptakan ilusi pernikahan yang sempurna, Anya. Papa tidak boleh curiga. Jika dia tahu ini hanya kontrak, dia akan membatalkan bantuannya pada ibumu, dan aku akan kehilangan posisiku di perusahaan."
Anya menatap dokumen itu dengan mata berkaca-kaca. Mengapa hidupnya menjadi serumit ini? Kapan ia kehilangan kendali atas takdirnya sendiri? Hanya beberapa hari yang lalu ia masih memikirkan jenis pupuk apa yang terbaik untuk Tabebuya di proyeknya, dan sekarang ia harus menandatangani surat kepemilikan dirinya pada pria asing yang dingin ini.
"Kenapa kamu setuju, Devan? Kamu bisa mendapatkan wanita mana pun. Kamu bisa membayar model atau aktris untuk berpura-pura."
Devan terdiam cukup lama. Ia menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, namun dengan cepat tertutup kembali oleh topeng keangkuhannya.
"Karena kamu tidak bisa dibeli, Anya. Itu yang Papa suka darimu. Dan itu juga yang membuatku merasa... aman. Aku tahu kamu melakukan ini demi ibumu, bukan demi hartaku. Di duniaku, orang yang tidak menginginkan uangku adalah orang yang paling bisa dipercaya."
Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba menghentikan getaran di tangannya. Ia mengambil pena emas yang disodorkan Devan.
"Dua tahun, Devan. Setelah itu, aku ingin kebebasanku kembali. Aku ingin rumah ibuku bersih, dan aku ingin kamu menjauh dari hidupku selamanya."
"Sepakat," jawab Devan pendek.
Anya menggoreskan tanda tangannya. Tinta hitam itu meresap ke atas kertas, mengunci nasibnya. Ia merasa seolah-olah ia baru saja menyerahkan jiwanya.
"Selamat datang di neraka yang indah, Anya Clarissa," ucap Devan sambil mengambil kembali dokumen itu.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Mama Arkatama masuk dengan wajah ceria, membawa dua gelas susu hangat.
"Aduh, kalian ini! Malam-malam masih saja mengurusi kontrak kerja. Ayo, minum dulu susunya. Devan, jangan galak-galak pada Anya, dia ini calon istrimu, bukan sekretarismu!"
Perubahan suasana yang mendadak itu membuat Anya hampir tersedak ludahnya sendiri. Devan dengan cepat menyembunyikan dokumen perjanjian di bawah tumpukan kertas lain.
"Iya, Ma. Kami hanya... membahas detail 'masa depan' kami," ucap Devan dengan nada yang dipaksa lembut, bahkan ia memberanikan diri merangkul bahu Anya.
Anya tersenyum kaku, merasa bahunya terbakar oleh sentuhan tangan Devan. "Iya, Mama... Devan sangat... detail."
"Baguslah! Mama sudah tidak sabar melihat kalian di pelaminan minggu depan. Persiapannya sudah 90 persen. Kalian tinggal fitting baju besok pagi!"
Minggu depan? Anya merasa kepalanya berputar. Pernikahan ini benar-benar terjadi. Bukan dalam mimpi, bukan dalam novel picisan, tapi dalam kenyataan hidupnya yang pahit.
Setelah Mama Arkatama keluar, Devan langsung melepaskan rangkulannya. Ia kembali menjadi pria dingin yang tak tersentuh.
"Besok jam delapan pagi, sopirku akan menjemputmu. Jangan terlambat, Anya. Aku tidak suka menunggu."
Anya berdiri, menatap Devan untuk terakhir kalinya malam itu. "Dan aku tidak suka diperintah. Kita mungkin terikat kontrak, Devan. Tapi ingat satu hal: kamu memiliki statusku, tapi kamu tidak akan pernah memiliki harga diriku."
Anya melangkah keluar dengan kepala tegak, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Di balik pintu, ia bersandar dan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Ia menangis bukan karena takut pada Devan, tapi karena ia tahu, di balik kebencian ini, ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan: kemungkinan bahwa ia akan terjebak dalam pesona pria itu tanpa ia sadari.
Sementara itu, di dalam ruangan, Devan menatap tanda tangan Anya. Ia menyentuh tempat di mana bahu Anya tadi ia rangkul. Ada kehangatan yang tertinggal di sana, sebuah perasaan asing yang mulai menggerogoti dinding es di hatinya.
"Dua tahun," gumam Devan pada kegelapan. "Hanya dua tahun, dan semuanya akan kembali normal."
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Devan tahu... tidak akan ada yang kembali normal setelah Anya Clarissa masuk ke dalam hidupnya.