NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kilau yang Berbicara

Sinar matahari pagi di Jakarta terasa lebih menyengat dibandingkan udara sejuk Puncak yang mereka tinggalkan beberapa jam lalu. Namun, bagi Arumi, panasnya ibu kota tidak sebanding dengan debaran di dadanya saat melihat cincin berlian berbentuk pir itu melingkar di jari manisnya. Setiap kali jemarinya bergerak di atas kemudi atau sekadar merapikan rambut, kilau itu seolah mengingatkannya bahwa ia bukan lagi "pemain cadangan".

Hari ini adalah hari Minggu, dan sesuai tradisi yang belum tertulis, keluarga Baskoro mengadakan makan siang rutin di rumah utama.

Biasanya, Arumi akan merasa cemas, bersiap-siap menjadi pendengar setia bagi cerita-cerita Siska atau sekadar menjadi bayangan di sudut meja. Namun, kali ini ada yang berbeda. Adrian bersikeras untuk ikut, padahal biasanya ia selalu beralasan ada urusan kantor jika menyangkut acara keluarga besar Arumi.

"Mas yakin ingin ikut? Bukannya Mas harus meninjau laporan untuk rapat besok?" tanya Arumi saat mereka bersiap di depan cermin besar kamar mereka.

Adrian, yang sedang merapikan kerah kemeja linen birunya, menoleh melalui pantulan cermin. Ia berjalan mendekat, berdiri di belakang Arumi, dan meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya. "Laporan itu bisa menunggu. Tapi menunjukkan pada duniamu bahwa kamu adalah prioritasku... itu tidak bisa ditunda."

Adrian melirik jari manis Arumi. "Dan aku ingin melihat reaksi mereka saat menyadari cincin lama itu sudah hilang."

Arumi tersenyum tipis, ada rasa hangat yang menjalar. "Mas nakal ya, sengaja ingin pamer."

"Bukan pamer, Arumi. Ini pernyataan kepemilikan yang sah," canda Adrian sambil mengecup pelipis Arumi.

Sesampainya di rumah keluarga Baskoro, suasana terasa cukup ramai. Selain Ayah dan Ibu, ternyata Siska juga sudah ada di sana. Siska tampak lebih tenang dibandingkan minggu lalu, meskipun guratan kelelahan emosional masih terlihat di matanya. Ia sedang membantu Ibu menata piring di meja makan luas yang terbuat dari kayu jati.

"Arumi, Adrian! Kalian datang tepat waktu," sapa Ratna dengan wajah berseri-bari. "Ayo duduk, Ibu masak rendang kesukaan kalian."

Baskoro muncul dari ruang tengah, menyalami Adrian dengan takzim. Hubungan antara menantu dan mertua ini perlahan membaik, meski masih ada rasa sungkan dari pihak Baskoro karena kejadian memalukan yang melibatkan Siska.

Mereka pun duduk melingkari meja makan. Awalnya, percakapan mengalir biasa saja—membicarakan bisnis Adrian, kesehatan Ayah, dan kegiatan Siska di yayasan. Arumi lebih banyak diam, namun ia merasa Adrian terus menggenggam tangannya di bawah meja, seolah memberinya kekuatan.

Saat Arumi meraih gelas air mineralnya, kilau berlian di jarinya menangkap cahaya lampu gantung di atas meja makan. Mata Siska yang tajam, yang terbiasa memperhatikan detail kemewahan, seketika terpaku pada tangan adiknya.

Siska terhenti menyendok nasi. Wajahnya berubah, ada kerutan di dahinya. "Rum... cincinmu..."

Semua orang di meja makan seketika berhenti bicara. Pandangan mereka mengikuti arah telunjuk Siska.

"Lho, bukannya itu bukan cincin yang kemarin, Rum?" tanya Ratna heran, ia mendekat untuk melihat lebih jelas. "Ini... ini jauh lebih indah. Dan beda sekali modelnya."

Baskoro juga ikut memperhatikan. "Bukankah cincin pernikahan kalian itu warisan dari keluarga Pramoedya untuk... pengantin Adrian?"

Adrian meletakkan sendoknya dengan tenang. Ia menegakkan punggung, memancarkan aura otoritas yang membuat suasana seketika menjadi formal.

"Benar, Yah. Cincin yang kemarin adalah bagian dari tradisi keluarga yang dipaksakan," ujar Adrian, suaranya mantap dan jelas. "Tapi cincin yang dipakai Arumi sekarang adalah pilihanku sendiri. Aku memberikannya semalam di Puncak sebagai tanda bahwa aku memulai pernikahan ini kembali dari nol. Tanpa kontrak, tanpa paksaan, dan tanpa bayang-bayang siapa pun."

Hening sejenak menyelimuti ruang makan. Siska tampak menelan ludah, wajahnya memucat. Ia tahu betul makna di balik kata-kata Adrian. Cincin lama itu adalah haknya yang terbuang, namun cincin baru ini adalah bukti bahwa Arumi telah memenangkan hati pria yang dulu ia remehkan.

"Jadi... kalian sudah tidak terikat kontrak itu lagi?" tanya Siska lirih, suaranya bergetar.

"Kontrak itu sudah jadi abu, Siska," jawab Adrian dingin namun tidak bermaksud menghina. "Arumi bukan lagi istri pengganti. Dia adalah istriku karena keinginanku sendiri."

Ratna menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu, ia tahu betapa berat beban yang dipikul Arumi selama beberapa bulan terakhir. Mendengar pengakuan Adrian di depan keluarga besar adalah validasi yang selama ini ia harapkan untuk putri bungsunya.

"Alhamdulillah..." bisik Ratna. "Ibu ikut senang, Rum. Maafkan Ibu kalau selama ini Ibu terlalu banyak menuntutmu untuk mengalah."

Arumi tersenyum, matanya juga mulai basah. "Tidak apa-apa, Bu. Semua sudah lewat."

Siska tiba-tiba berdiri. Kursinya berderit di atas lantai marmer. Semua orang menatapnya dengan was-was, khawatir ia akan meledak seperti biasanya. Namun, di luar dugaan, Siska justru berjalan mendekati Arumi.

Ia meraih tangan Arumi, menatap cincin itu dengan saksama. "Bagus, Rum. Sangat bagus. Adrian benar... cincin ini memang lebih cocok untukmu daripada cincin kuno milik keluarga Pramoedya itu."

Siska menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sisa keirihatian, namun ada juga pengakuan yang tulus. "Aku sadar sekarang, posisi ini memang bukan untukku sejak awal. Aku yang membuangnya, dan aku senang kamu yang memungutnya dan menjadikannya sesuatu yang indah."

Siska kemudian menoleh pada Adrian. "Jaga adikku, Adrian. Kalau kamu menyakitinya, aku tidak akan segan-segan membawanya pergi, meskipun aku tahu dia sekarang sangat mencintaimu."

Adrian mengangguk kecil, menghargai kejujuran Siska. "Aku tidak punya rencana untuk melepaskannya, Siska."

Makan siang berlanjut dengan suasana yang jauh lebih santai. Beban rahasia yang selama ini menghantui hubungan mereka seolah terangkat.

Siska bahkan mulai bercerita tentang salah satu temannya di yayasan yang mulai mendekatinya, dan bagaimana ia merasa takut untuk memulai hubungan baru lagi.

"Pelan-pelan saja, Kak," hibur Arumi. "Tidak perlu terburu-buru."

Setelah makan siang, Arumi dan Siska duduk berdua di ayunan taman belakang, sementara para pria mengobrol di teras depan.

"Rum, boleh aku tanya sesuatu?" Siska memulai, ia memainkan ujung bajunya.

"Tentu, Kak."

"Kapan kamu sadar kalau kamu benar-benar mencintainya? Maksudku, dia kan dingin sekali di awal."

Arumi terdiam sejenak, menatap bunga-bunga kamboja yang berguguran di rumput. "Mungkin saat dia membela aku di depan orang lain tanpa aku minta. Dan saat aku melihat sisi rapuhnya yang ia sembunyikan dari dunia. Adrian itu seperti novel misteri, Kak. Awalnya gelap dan sulit dimengerti, tapi kalau kita sabar membaca setiap halamannya, ada cerita yang sangat indah di dalamnya."

Siska menghela napas panjang. "Aku dulu terlalu malas untuk membaca, Rum. Aku hanya suka melihat sampulnya yang mewah. Itulah bedanya kita."

Mereka tertawa bersama—sebuah tawa persaudaraan yang murni yang sudah lama hilang dari hubungan mereka.

Sore harinya, saat dalam perjalanan pulang, Arumi merasa sangat lelah namun bahagia. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Adrian saat mobil melaju membelah kemacetan Jakarta.

"Terima kasih untuk hari ini, Mas," bisik Arumi.

"Untuk apa?"

"Untuk menjadi suaraku saat aku tidak berani bicara. Dan untuk cincin ini."

Adrian menggenggam tangan Arumi, sesekali mencium punggung tangannya yang kini berhias berlian. "Ini baru permulaan, Arumi. Kita punya banyak bab lagi yang harus kita tulis bersama."

"Mas sudah mulai bicara seperti penulis," goda Arumi.

"Yah, hidup dengan seorang penulis sukses ternyata menular," balas Adrian sambil tersenyum lebar.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, ponsel Adrian bergetar. Sebuah email masuk dari pengacara keluarganya. Adrian membacanya sekilas dan rahangnya sedikit mengeras.

"Ada masalah, Mas?" tanya Arumi cemas.

"Hanya masalah kecil dengan Dewan Komisaris. Sepertinya kabar tentang kita membakar kontrak sudah sampai ke telinga paman-pamanku.

Mereka mulai mempertanyakan stabilitas citra perusahaan jika kita tidak lagi terikat 'perjanjian formal'," ujar Adrian tenang, namun ada nada waspada di suaranya.

Arumi menegakkan duduknya. "Apakah itu akan berbahaya bagi posisimu?"

Adrian menatap Arumi, lalu tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir. Mereka lupa bahwa aku adalah pemegang saham mayoritas. Dan mereka juga lupa satu hal..."

"Apa?"

"Bahwa seorang pria yang sedang jatuh cinta jauh lebih berbahaya dan tak terkalahkan dibandingkan seorang CEO yang hanya bekerja demi angka."

Arumi tertawa, meski ada sedikit rasa khawatir akan konflik baru yang mungkin muncul dari pihak keluarga Adrian. Namun, melihat sorot mata Adrian yang penuh keyakinan, ia tahu bahwa apapun badai yang akan datang, mereka akan menghadapinya sebagai satu tim. Bukan sebagai pemberi kerja dan karyawan, melainkan sebagai pasangan hidup yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!