Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIMISAN
"Terima kasih ya, sudah datang," bisik Lyra, pelan.
"Kayak sama siapa saja kamu ini," jawab Sifa sambil mengusap rambut Lyra penuh sayang.
Gia kembali berkicau, tangannya bergerak heboh ke sana kemari seolah sedang mendeskripsikan monster sekaligus pangeran tampan di saat yang bersamaan.
"Gila sih, Ly! Tadi pas dia turun dari mobil, kacamata hitamnya itu lho... duh, damage-nya nggak main-main! Tapi ya itu, mukanya datar banget kayak tembok baru dicat, terus denger-denger ya, hartanya itu nggak bakal habis tujuh turunan delapan tanjakan! Tapi ngeri juga sih, katanya dia kalau bisnis nggak punya ampun," cerocos Gia tanpa titik koma.
Sifa yang duduk di sebelah Gia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Gia, pelan kan suaramu, nanti Om Thomas denger dikira kita lagi bahas penjahat," ucap Sifa, menyerah dengan sifat cerewet teman nya itu.
"Lho, emang auranya kayak penjahat ganteng di film-film, Sif! Bayangin aja, dia berdiri di depan gerbang sekolah cuma buat nanya satu nama, Lyra Clarissa Wijaya. Suaranya itu lho, berat-berat serak gimana gitu, bikin merinding disko!" lanjut Gia makin menjadi-jadi.
Di tengah kebisingan itu, Lyra hanya diam, setiap kali nama Xavier yang keluar dari mulut Gia, rasanya ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk saraf kepalanya, sebuah bayangan samar tentang hamparan salju dan sepasang mata kelabu mulai berkelebat, membuat dunianya seolah berputar.
"Sakit... kepalaku sakit sekali..." batin Lyra, menggigit bibir bawahnya.
Lyra meremas sprei tempat tidurnya dengan kuat, mencoba mengalihkan rasa sakit yang semakin menghimpit, dia tidak ingin Gia dan Sifa khawatir, dan dia tidak ingin Mommy kembali menangis jika melihatnya kesakitan lagi.
"Eh, Ly? Kamu kok diem aja? Wah, jangan-jangan kamu sebenernya naksir ya sama Om-Om ganteng itu?" goda Gia sambil mencolek lengan Lyra.
Lyra mencoba memaksakan sebuah senyum, namun bibirnya yang pucat pasi justru gemetar.
"E-enggak... aku cuma... sedikit pusing," jawab Lyra, pelan.
"Tuh kan, Gia! Kamu sih berisik banget, Lyra jadi pusing kan!" tegur Sifa mulai merasa ada yang tidak beres dengan raut wajah sahabatnya.
Sifa mendekat, dia hendak memegang dahi Lyra, namun gerakannya terhenti seketika, matanya membelalak kaget, tangannya yang menggantung di udara mulai gemetar.
"Ly... Lyra... hidungmu..." ucap Sifa, suara nya mendadak tercekat di tenggorokan.
Gia yang tadinya masih mau protes langsung menoleh.
Deg
Detik itu juga, kecerewetannya hilang ditelan bumi, wajahnya yang ceria berubah menjadi pucat pasi.
"Astaga! Lyra!" teriak Gia spontan.
Cairan merah kental perlahan mengalir keluar dari lubang hidung Lyra, menetes jatuh mengenai sprei abu-abu mahalnya.
Lyra yang merasa ada sesuatu yang hangat di bibirnya, hanya bisa menyentuhnya pelan dengan ujung jari.
"Aku... kenapa?" gumam Lyra lirih. Pandangannya mulai mengabur, warna-warna di kamarnya seolah menyatu menjadi satu kegelapan yang pekat.
"TANTE! OM THOMAS! BANG ARKAN! TOLOOOONG!"
Gia berteriak histeris, suaranya mengguncang seluruh lantai dua kediaman Wijaya.
Sifa dengan sigap mengambil tisu dan mencoba menyumbat hidung Lyra, tangannya gemetar hebat.
"Ly, bertahan ya! Jangan tutup matamu! Ly!" seru Sifa, panik.
BRAK
Pintu kamar terbanting terbuka. Tuan Thomas, Nyonya Arin, dan Arkan masuk dengan wajah yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Nyonya Arin menjerit tertahan melihat putrinya bersimbah darah di bagian wajah, sementara Arkan langsung melompat ke sisi ranjang.
"Keluar! Kalian berdua keluar sekarang!" perintah Tuan Thomas pada Gia dan Sifa dengan suara menggelegar yang tidak bisa dibantah.
Gia dan Sifa yang ketakutan setengah mati langsung mundur dan keluar kamar dengan air mata yang mulai bercucuran.
Mereka tidak tahu apa yang salah, mereka hanya bercerita, tapi kenapa Lyra bisa sampai seperti itu?
Di dalam kamar, Arkan dengan cepat memeriksa denyut nadi Lyra yang semakin melemah.
"Dad, suhunya naik lagi secara mendadak! Ini bukan demam biasa, energinya menolak sesuatu!" ucap Arkan, panik.
Nyonya Arin memeluk kepala Lyra, membiarkan darah putrinya mengenai gaun mahalnya.
"Lyra... bangun Sayang... jangan dengerin suara itu... Mommy di sini..."bisik Nyonya Arin, lirih.
Lyra sudah tidak bisa mendengar apapun, di alam bawah sadarnya, suara serak itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih jelas dan sangat dekat.
“Jangan melawan, Lyra... raga manusiamu memang lemah, tapi jiwamu adalah jiwa suci.
"Lyra! Sayang, buka matamu!" teriak Nyonya Arin, suaranya pecah menjadi tangisan histeris saat melihat kepala putrinya terkulai lemas di lengannya.
Darah segar masih merembes dari hidung Lyra, menodai seprai dan kemeja putih Arkan yang sedang sibuk menekan titik syaraf di pergelangan tangan adiknya.
Arkan mengumpat pelan dalam hati, raut wajahnya yang biasanya tenang sebagai dokter kini tampak sangat tegang dan penuh keringat dingin.
"Dad, tolong ambilkan kotak obat darurat di mobilku sekarang! Tekanan darahnya melonjak drastis, aku harus beri penstabil pembuluh darah!" seru Arkan tanpa menoleh, suaranya serak karena panik yang luar biasa.
Tuan Thomas tidak membuang waktu, pria itu berlari keluar kamar, meninggalkan aroma kecemasan yang pekat di ruangan itu.
"Kenapa dia bisa begini, Ar? Kenapa?!" tanya Nyonya Arin menjerit sambil terus mengusap darah di wajah Lyra dengan tangannya sendiri, tidak peduli jemarinya ikut memerah.
"Aku tidak tahu, Mom! Secara medis ini gejala pecahnya pembuluh darah halus karena tekanan stres yang mendadak. Apa yang mereka bicarakan tadi?!" tanya Arkan dengan nada frustrasi, matanya menatap tajam ke arah pintu di mana Gia dan Sifa tadi berada.
Arkan benar-benar buntu, baginya, ini adalah kasus saraf yang belum pernah ia temukan di buku kedokteran manapun selama bertahun-tahun ia belajar demi Lyra.
Nyonya Arin tertegun, dia baru menyadari bahwa kecerewetan Gia tadi bukan sekadar gosip remaja biasa, melainkan pemicu bagi sesuatu yang seharusnya terkunci rapat di dalam diri Lyra.
"Nama itu... nama pria Valerius itu benar-benar racun bagi putriku," batin Nyonya Arin sambil memeluk erat kepala Lyra.
Di luar kamar, Gia dan Sifa terduduk lemas di lantai, keduanya menangis sesenggukan sambil menutup mulut mereka agar tidak mengeluarkan suara.
Tuan Steven dan Tuan Jerome berdiri di depan mereka dengan wajah yang sangat menyeramkan, aura mafia mereka keluar sepenuhnya tanpa bisa ditahan.
"Apa yang kalian katakan pada Lyra sampai dia seperti itu?!" tanya Tuan Jerome, suaranya rendah namun menggetarkan tulang.
"Ka-kami cuma... cerita soal Tuan Xavier... kami tidak tahu kalau Lyra akan sakit, Om... sumpah!" isak Gia dengan tubuh gemetar hebat, ia merasa sangat bersalah melihat sahabatnya bersimbah darah.
"Jika terjadi sesuatu pada keponakanku karena mulut kalian, jangan harap kalian bisa melihat matahari besok," ucap Tuan Steven mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
Sifa semakin terisak mendengar ancaman itu, ia memeluk Gia erat, meratapi kecerobohan mereka yang membawa-bawa nama pria berbahaya itu di depan Lyra yang sedang tidak stabil.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,