NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 23: Terasing di Menara Kaca

​Dua hari. Empat puluh delapan jam sejak kedaiku ditutup paksa dan disegel oleh dinas tata kota. Selama dua hari itu pula, kewarasanku nyaris tandas digerogoti kecemasan.

​Aku tidak bisa makan, tidak bisa tidur, dan yang paling menyiksa: Arka Danadyaksa seolah lenyap ditelan bumi. Ratusan pesanku hanya berujung centang satu. Panggilanku dialihkan ke suara mesin penjawab milik sekretaris perusahaannya.

​Rasa takut, putus asa, dan rasa ingin tahu yang menggebu akhirnya sukses mengalahkan sisa-sisa gengsi dan harga diriku. Pagi ini, aku memutuskan untuk mendatangi markas besarnya: kantor pusat PT Cipta Megah.

​Aku turun dari ojek online tepat di pelataran gedung pencakar langit berkapasitas 50 lantai itu. Berdiri di sana, aku mendongak menatap dinding-dinding kaca raksasa yang memantulkan teriknya matahari Jakarta dengan angkuh. Tiba-tiba saja, aku merasa luar biasa kerdil. Seolah gedung ini adalah monster raksasa yang siap menginjakku kapan saja.

​Aku menunduk, merapikan kemeja flanelku yang warnanya sudah mulai pudar karena dicuci berkali-kali, lalu membersihkan sedikit debu di celana kain hitamku. Aku mencoba memberikan kesan "rapi", tapi jauh di lubuk hatiku, aku tahu... mau sebersih apa pun pakaianku, aku tetap terlihat seperti gembel yang tersesat di istana ini.

​Dengan langkah gemetar namun dipaksakan, aku masuk ke dalam lobi yang suhunya sedingin kulkas. Aroma pengharum ruangan berbau peppermint dan musk langsung menyergap hidungku—aroma uang dan kekuasaan.

​"Selamat pagi. Saya ingin bertemu dengan Bapak Arka Danadyaksa," ucapku saat berdiri di depan meja resepsionis marmer yang melengkung megah.

​Resepsionis perempuan dengan seragam blazer pas badan dan riasan wajah tanpa pori-pori itu menatapku. Matanya bergerak perlahan dari ujung kepalaku hingga ujung sepatuku. Tatapannya dingin, penuh selidik, dan sarat akan penilaian.

​"Apakah sudah ada janji temu sebelumnya, Bu?" tanyanya dengan nada sopan yang terasa sangat mekanis.

​"Belum... tapi ini sangat mendesak. Tolong sebutkan nama saya, Senja," suaraku sedikit memohon.

​Resepsionis itu mengecek layar komputernya sejenak. Jemarinya yang dihiasi nail art mengetuk keyboard. Lalu, ia mendongak dan memberiku sebuah senyum tipis—jenis senyum merendahkan yang sama persis seperti yang sering kulihat terlukis di bibir Clara Beatrice.

​"Maaf, Mbak Senja. Jadwal Pak Arka sangat padat hari ini. Beliau sedang ada rapat penting tertutup dengan dewan komisaris dan perwakilan keluarga Wibowo. Saya tidak bisa mengizinkan Anda naik tanpa janji temu."

​Aku mencengkeram tepi meja resepsionis. "Tolonglah, Mbak. Bilang saja ini soal Kedai Kala Senja. Saya mohon, sampaikan saja nama kedai itu, dia pasti mau bertemu saya."

​"Sekali lagi, maaf, Mbak. Ini prosedur keamanan gedung. Silakan tinggalkan pesan tertulis saja di sini," jawab resepsionis itu, nada suaranya mulai meninggi dan tidak sabar, bersiap memanggil satpam.

​Aku menghela napas dengan dada yang sesak. Mataku memanas. Bahkan untuk sekadar bertemu dengannya pun aku harus mengemis seperti ini? Baru saja aku hendak berbalik pergi dengan rasa kalah, mataku menangkap sesosok pria tinggi yang sangat kukenal baru saja melangkah keluar dari lift VIP di ujung lorong lobi.

​"Revan!" teriakku spontan.

​Aku mengabaikan tatapan sinis dan kaget dari para eksekutif berjas rapi di lobi itu. Persetan dengan etiket gedung mewah ini.

​Revan menoleh. Wajahnya yang biasanya selalu dipenuhi senyum jenaka langsung berubah tegang dan pucat saat melihatku berdiri di sana. Ia setengah berlari menghampiriku sebelum dua orang petugas keamanan berseragam hitam sempat menyentuh lenganku.

​"Senja?! Astaga, lo ngapain di sini?" desis Revan dengan mata membelalak. "Arka nggak cerita kalau lo mau dateng ke sarang naga hari ini!"

​"Gue nggak bisa hubungin dia, Van! Nggak bisa sama sekali!" suaraku pecah, air mata kepanikan mulai menggenang. "Kedai gue ditutup paksa sama dinas, ulasan palsu bertebaran hancurin nama gue... gue butuh ketemu dia, Van. Tolong gue."

​Mendengar itu, rahang Revan mengeras. Ia melirik ke sekeliling lobi dengan waspada, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku.

​"Ikut gue sekarang," bisiknya cepat.

​Revan langsung menarik lenganku. Ia menempelkan kartu akses level tingginya di sebuah pintu kaca samping dan membawaku masuk lewat jalur staf. Kami menghindari lift kaca transparan di tengah lobi dan masuk ke lift tertutup yang sepertinya hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.

​"Arka lagi dijepit habis-habisan, Nja," Revan menjelaskan dengan suara pelan saat lift melesat naik membuat telingaku berdenging. "Bokapnya sama Pak Wibowo bokapnya Clara lagi naruh tekanan gila-gilaan soal penggabungan perusahaan. Arka dilarang pegang ponsel pribadinya sama sekali. Dia diawasin dua puluh empat jam sama asisten pribadi yang diutus langsung sama bokapnya buat matiin langkah dia."

​Aku memejamkan mata. Rasa sakit mencubit ulu hatiku. Jadi dia tidak mengabaikanku. Dia disandera di kerajaannya sendiri.

​Ting. Pintu lift terbuka di lantai 45. Lantai ini jauh lebih sunyi, lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki. Udaranya terasa begitu berat dan kaku.

​Revan menahan langkahku di ujung lorong. "Gue cuma bisa bawa lo sampai titik ini, Nja. Ruang kerja pribadinya ada di ujung sana, pintu kayu yang paling besar." Revan menatapku dengan sorot mata kasihan. "Tapi lo harus siap mental. Clara ada di dalam nemenin dia."

​Aku mengangguk pelan. Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku ngilu. Aku melangkah meninggalkan Revan, berjalan perlahan di atas karpet tebal itu menuju pintu kayu ganda yang menjulang tinggi.

​Pintu itu tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang sengaja dibiarkan terbuka, membiarkan suara-suara dari dalam mengudara ke lorong yang sepi ini.

​Aku menahan napas, merapatkan tubuhku ke dinding, dan mengintip melalui celah sempit itu.

​Di dalam sana, ruangannya luar biasa mewah. Namun, mataku langsung tertuju pada satu sosok. Arka duduk di kursi kebesarannya di balik meja kerja dari kayu jati. Tapi pria itu sama sekali tidak terlihat seperti raja. Jasnya sudah entah ke mana, dasinya ditarik melonggar, dan rambutnya berantakan. Wajahnya memancarkan kelelahan yang begitu absolut, seolah nyawanya baru saja disedot habis.

​Di samping kursi Arka, berdiri Clara Beatrice. Perempuan itu mengenakan gaun kerja rancangan desainer yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.

​"Kamu harus tanda tangani draf ini sekarang, Arka," suara Clara terdengar mengalun. Sangat manis, sangat lembut, namun sangat menuntut. Sebuah perintah yang dibungkus madu. "Ini demi masa depan kita berdua. Om Handoko sudah setuju, Papa juga sudah oke. Setelah kamu tanda tangan, sore ini juga kita akan umumkan tanggal pertunangan kita ke media dan semua tekanan ini akan selesai."

​Clara menyodorkan sebuah pena mahal dan dokumen ke atas meja Arka.

​Aku menahan napas, meremas kemeja flanelku sendiri. Ayo, Arka. Tolak dia. Buang dokumen itu seperti kau merobek draf penggusuranku dulu, batinku memohon dengan putus asa.

​"Aku butuh waktu, Clara," jawab Arka pelan. Suaranya terdengar sangat parau dan kosong. Tidak ada perlawanan yang meledak-ledak. Tidak ada bentakan.

​"Waktu untuk apa?" Clara membelai pundak Arka. "Menunggu cewek penjual kopi itu? Arka, sadarlah. Tolong buka matamu."

​Jantungku berhenti berdetak saat mendengar namaku disebut.

​"Kamu lihat apa yang terjadi sama kedai kumuhnya itu dalam dua hari ini?" lanjut Clara, nada suaranya berubah menjadi ejekan tajam yang mengiris. "Itu bukti mutlak kalau dia cuma pembawa sial buat karier dan hidup kamu. Dia nggak level sama kamu, Ka. Di dunia ini, orang-orang kecil seperti dia cuma bisa jadi beban yang menarikmu jatuh ke bawah."

​Kata-kata Clara bagaikan belati berkarat yang ditusukkan berulang kali ke dadaku. Pembawa sial. Tidak selevel. Beban.

​Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya menggenang. Namun, yang paling menghancurkan hatiku bukanlah hinaan Clara. Yang menghancurkanku hingga tak bersisa adalah reaksi Arka.

​Arka tidak menepis tangan Clara yang sedang merapikan kerah kemejanya dengan gerakan luar biasa posesif. Pria yang biasanya begitu berapi-api melindungiku itu, kini hanya terdiam. Ia duduk mematung, menatap dokumen di depannya dengan tatapan kosong. Mulutnya terkunci rapat.

​Pemandangan itu... kepasrahan Arka di bawah sentuhan Clara... adalah pukulan mematikan yang meruntuhkan duniaku.

​Aku mundur perlahan dari celah pintu itu. Tanganku membekap mulutku sendiri agar isak tangisku tidak pecah di lorong ini.

​Aku tidak jadi masuk. Untuk apa?

​Melihat Arka yang duduk di ruangannya yang dikelilingi kemewahan tak terbatas, bersandingan dengan Clara yang begitu serasi di mata dunia, aku akhirnya disadarkan pada satu kenyataan pahit. Kehadiranku di ruangan itu hanya akan mempermalukan diriku sendiri dan memperumit keadaan Arka.

​Aku menunduk menatap celana hitamku yang pudar. Di menara kaca ini, aku merasa seperti setitik debu kotor di atas lantai marmer yang mengilap—tidak seharusnya ada di sana, mengganggu pemandangan, dan hanya akan disapu bersih jika ketahuan.

​Aku berbalik. Berlari.

​Aku berlari menyusuri lorong panjang itu, mengabaikan Revan yang memanggil namaku dengan kebingungan dari depan lift. Aku menekan tombol lift dengan panik, membiarkan kotak besi itu membawaku meluncur turun kembali ke dasar.

​Begitu pintu lobi utama terbuka, aku berlari keluar menembus pintu putar kaca, kembali ke jalanan Jakarta yang panasnya menyengat kulit. Panas ini jauh lebih baik daripada udara beku di lantai 45 tadi.

​Di bawah teriknya matahari dan polusi asap knalpot, air mataku tumpah tak tertahankan. Hari ini, ilusi dongengku resmi berakhir. Cintaku pada Arka mungkin sangat kuat dan jujur, tapi dunia milik pria itu terlalu luas, terlalu licik, dan terlalu kejam untuk kumasuki sendirian. Dan yang paling menyakitkan: aku mulai percaya ucapan Clara, bahwa aku memang hanyalah sebuah beban bagi pria itu.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!