NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

"Kita lihat aja dulu."

Ning mengangguk perlahan, tangan masih erat memegang gagang kruk. Ia turun dari mobil dengan gerakan hati-hati, sementara Anggun melangkah lebih dulu masuk ke dalam kontrakan yang kecil namun kini terlihat jauh lebih rapi dari biasanya, lantainya kini mengkilap, furnitur kayu yang tadinya kusam bersinar, bahkan tirai baru menggantung di jendela.

"Permisi," ucap Anggun saat memasuki ruang tamu, lalu memberikan sinyal kecil dengan mengangkat alis tipis dan tatapan. Para pria yang tadinya sibuk menyapu dan menyusun barang langsung berhenti.

"Kalian siapa?" tanya Anggun lebih keras. Para pelayan itu diam. Lalu Anggun bersuara lagi. "Apa? Temannya Yuda? Jadi kalian temannya Yuda?"

Para pelayan khusus itu saling lirik. Kemudian dengan gerakan terkoordinasi duduk berdampingan di kursi kayu, wajah mereka tenang dan tidak menyalahi pandang.

"Ning mereka teman-teman suamimu katanya," ucap Bu Anggun saat Ning baru saja masuk.

Ning terdiam, matanya melihat sekeliling dengan tatapan penuh keheranan. "Teman-teman Mas Yuda?" tanyanya lembut.

"Iya, benar. Kami temannya Mas Yuda, Mbak Ning," jawab salah satu dari para pelayan khusus itu.

"Mas Yuda nya...?"

"Tadi... Dapat panggilan..."

"Panggilan?" Alis Ning berkerut, "Aahh, dapat orderan ya?" tebak Ning.

Wajah para pelayan yang sempat ketar-ketir itu lega dan mengangguk.

"Iya, Mbak."

"Oohh..." Ning melangkah masuk. "Udah dikasih minum?" tanya Ning melihat sekitar, namun yang dia temukan hanyalah alat pel.

"Ah, belum ya?" Ning lalu melangkah ke dapur. "Loh, ini kok nyala kompornya," serunya.

"Ee... Anu Mbak! Itu tadi Mas Yuda lagi masak juga, terus keburu dapat orderan, jadi kami suruh tinggal aja, kami bantuin nerusin soalnya tinggal nunggu matang aja kok."

"Oohh, begitu. Maaf ya, Mas, Mbak, jadi ngrepotin," seru Ning dari dapur. Tadi Bu Mar si tukang masak sudah kabur duluan dari pintu belakang.

****

Di kantor pusat perusahaan keluarga, Yuda baru saja menyentuh layar ponselnya dan melihat pesan dari Ning.

"Bu Anggun mau ajak pergi sebentar, Ning mau minta izin ya Mas."

Barulah ia menyadari panggilan yang terlewatkan tadi.

"Ngapain sih, Mama pake mau ngajakin Ning pergi segala, kalau istriku capek gimana?" gerutunya sambil mengetik pesan balasan. "Enggak usahlah."

Belum sempat ia tekan tombol kirim, wajahnya langsung mengerut saat Bastian masuk dengan wajah tegang.

"Yuda," ucap Bastian dengan suara rendah. "Nyonya baru saja mengantar Ning pulang ke kontrakan."

"Apa?!"

Yuda berdiri dengan tiba-tiba, buku kerja yang ada di mejanya terjatuh. "Sial! Belum selesai kerja mereka! Gawat kalau ketahuan Ning!"

Tanpa berpikir panjang, ia mencabut dasi dan melepas jasnya dengan tergesa-gesa sambil berlari keluar. Bastian mengikuti.

Mereka masuk ke dalam mobil. Bastian yang menyetir, Yuda mengganti celana panjang dengan celana jeans dan baju kerja dengan kaos polos yang selalu ia simpan di jog belakang mobil. Jaket hijau yang biasa dikenakan saat menjadi tukang ojek online segera menutupi badannya.

Dalam beberapa menit, ia sampai di depan gang. Seseorang sudah menunggunya di sana di samping sebuah sepeda motor matik. Yuda langsung gas ke kontrakan.

Keringat Yuda sudah menetes di dahinya, wajahnya penuh kekhawatiran. Tapi ketika memasuki ruang tamu, yang ia lihat bukanlah adegan yang ia khawatirkan, para pelayan sedang duduk dengan tenang, sementara Ning berdiri di dekat meja kecil, sedang menuangkan air teh panas ke dalam gelas dengan gerakan hati-hati.

"Mas Yuda!" teriak Ning dengan senyum hangat.

Yuda masih terengah, wajah bingung meminta penjelasan pada wajah-wajah di sana.

Yuda menatap ibunya dengan tatapan bingung. Anggun segera memberikan sinyal kecil, lalu berdiri dan berkata, "Teman-temanmu ini baik, ya Mas Yuda. Waktu kami datang, mereka baru saja selesai membersihkan... katanya enggak enak kalau bertamu di rumah orang, ditinggal malah duduk diam. Jadi mereka bantu berberes dan selesaikan masakan yang kamu tinggal."

Yuda mengangguk perlahan, rasa lega mengalir di dalam dirinya. Ia mendekati Ning dan menepuk bahunya lembut. "Oh, iya. Maaf ya, baru bisa pulang. Tiba-tiba aja gacor banget tadi."

Ning menggeleng. "Tidak apa-apa Mas. Teman-teman kamu baik banget."

Setelah para pelayan dengan sopan menyampaikan pesan maaf karena harus kembali dan pamit pergi, Anggun menghadap Ning dengan wajah yang lebih lembut.

"Tadi kita belum sempat pergi," ucapnya. "Kalau boleh, Ma... Ibu. Ibu ingin ajak kamu jalan-jalan sebentar saja. Biar enggak bosan di rumah."

Ning melihat Yuda dengan tatapan meminta izin, dan pada saat itu, rasa kagum dan cinta mengalir deras di hati Yuda. Betapa menghormatinya wanita ini padanya, bahkan untuk keluar bersama orang lain sekalipun, ia selalu menginginkan izinnya.

"Kalau kamu mau, ya boleh," ucap Yuda dengan senyum lembut. "Tapi, Mas masih harus cari orderan lain. Tidak apa, kan?"

****

Di kantor lain, jauh dari sana, Ridho baru saja memasuki ruang kerja setelah beberapa minggu libur karena sakit dan pernikahannya dengan Dewi. Teman-temannya segera mengelilinginya, memberikan ucapan selamat dan membawa beberapa paket kecil sebagai hadiah.

"Semoga bahagia ya Ridho!" ucap salah satu rekan kerja dengan senyum ramah. "Kamu sudah lama tidak datang, kita semua merindukanmu."

Ridho tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik, meskipun terkadang ada rasa kosong yang tak bisa ia jelaskan di dalam dirinya... seolah ada bagian ingatan yang hilang dan selalu ingin ia cari.

Ia mendekati mejanya yang sudah dibersihkan oleh rekan kerja. Ia membuka laci bawah untuk mengambil dokumen proyek yang harus diselesaikan, namun tangannya tiba-tiba berhenti ketika menyentuh sesuatu yang keras dan licin. Ia menariknya keluar... sebuah foto kecil yang tertutup kaca. Di dalamnya, seorang gadis berjilbab dengan senyum lembut sedang duduk di kursi taman, wajahnya tampak tenang dan lembut.

Ridho menatap foto itu dengan lama, rasa asing namun juga akrab menghantui dirinya. Ia mengerutkan dahinya, mencoba mengingat dari mana foto itu berasal dan siapa gadis yang ada di dalamnya. Tapi ingatan itu seperti kabut yang tak bisa ia pegang, hanya rasa hangat yang tersisa di dadanya, dan pertanyaan yang terus mengganggunya, "Siapa kamu?"

1
🌹🪴eiv🪴🌹
seru.....seru.....seru.....

terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
Alhamdulillah,Ranu lihat

nggak mungkin mikirnya Ning cewek nggak bener kan🥳
🌹🪴eiv🪴🌹
bhuahahahahahahahahaha
OORers 0693
menarik
🌹🪴eiv🪴🌹
tambah stres kan mbyak dewi 👻🤣🤣🤣🤣
Siska Febriana
good novel
🌹🪴eiv🪴🌹
jangan pingsang buk,,nggak liat mobil bagus nanti 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
ridho amnesia wi,masuk wi di persilahkan
Ning sama Yudha yg pak ceeeoo aja 🥳
🌹🪴eiv🪴🌹
apa.....!!!!!!!!

ibunya Dewi jangan stroke ya
Aghitsna Agis
ranu walaupun nga keccelakaan itu karena kamu saat itu nibg udah sm ridho jadi blm tentu ning mau nerimanya dan mungkin saat itu keluarganya belum se toxic kaya sekarang jadi jgn kecewa dan bu anggun juga salah udah tahu ning udah punya suami malah suruh merwat bukan muhrimnya walaypun kakanya senduri dan dengan sengaja mendekatkan ranu sm ning aneh juga
Zahraputri Putri
emg kmu gagal jadi ortu hasto karna ning sdh dri kecil diperlakukan begitu dn kmu bisanya diem aja
Zahraputri Putri
baru baca udh gregetan,mgkn pak hsto tangan dn kakinya sakit paling ya koq gk bisa ngasih pelajaran dewi,mbok yo sekali sekali ditendang atau kalau gk ya tanganya bertindak ngunu lo🤭
yah
dewi dirumah mu ngada kaca cermin kah manupulatif siapa
Wardani endah Budi rahayu
CEPATLAH NING HAMIL..BIAR AGAK JEDA BERTEMU SM RANU
Siti Maulidah
ceritanya menarik
Siska rianing sih Siska
dasar perempuan gatel kamu Dewi
Kaira Caem
kemarin manggil nya ayah.. kok sekarang jadi bapak😞
ceuceu
yuda ga jelas,ngapain nutupin identitas nyusahin diri sendiri aj,lelet banget ga jelas
ceuceu
Masih ngeraba jalan ceritanya kenapa yuda masih sembunyikan identitas.
buat apa hadirkan pembantu bayangan?
mending ning ajak krmh utama
Ruth Khoiriyah
cocok semua ganteng2 dan cantik pas bsnget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!