Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara Phoenix di Tengah Kabut Dingin
Episode 29
Rembulan perak kini berada tepat di puncak langit, menyinari Hutan Binatang Buas Azure dengan cahaya yang pucat dan dingin. Cahaya itu memantul di atas sisa-sisa jaring perak Laba-Laba Bulan Spektral yang kini menggantung layu seperti tirai sutra yang terbakar. Di tengah lubang kawah yang diciptakan oleh hantaman pedang Gu Sheng tadi, suasana begitu sunyi, namun kesunyian itu bermuatan listrik, sebuah ketenangan yang menipu sebelum badai lain pecah.
Gu Sheng berdiri mematung di pinggiran kawah. Tangannya masih menggenggam gagang Penebas Dosa, sementara matanya yang berwarna ungu tua terus memindai kegelapan di balik jajaran pohon beringin raksasa. Ia bisa merasakan aliran udara yang berubah; angin malam yang biasanya bertiup dari arah utara, kini tiba-tiba berhenti, digantikan oleh hawa dingin yang statis dan lembap.
Di belakangnya, sekitar tiga meter jauhnya, Qing Er sedang berada di tengah pertempuran batin yang sangat hebat.
Gadis itu duduk bersila dengan tubuh yang gemetar. Seluruh kulitnya yang semula putih porselen kini berubah menjadi merah membara, seolah-olah ada cairan lava yang mengalir di bawah kulitnya. Uap panas yang sangat tebal mengepul dari pori-porinya, bertemu dengan udara malam yang dingin dan menciptakan kabut tebal di sekelilingnya.
“Ugh... Hah... Hah...”
Qing Er menggertakkan giginya dengan sangat kuat hingga suara gesekan giginya terdengar di kesunyian hutan. Di dalam tubuhnya, Neidan (Inti Monster) milik Laba-Laba Bulan Spektral yang baru saja ia telan sedang meledakkan energi perak yang sangat liar dan dingin. Energi itu bersifat parasit, mencoba membekukan jalur meridiannya dari dalam.
Namun, tepat di pusat Dantian-nya, Garis Keturunan Phoenix Purba merespons ancaman tersebut dengan kemarahan yang luar biasa. Sebuah gumpalan api emas kemerahan bangkit, menerjang energi perak itu seperti seekor pemangsa yang tak kenal ampun.
Setiap kali dua energi itu bertabrakan, Qing Er merasa seolah-olah tubuhnya sedang dibelah dan dijahit kembali secara bersamaan. Rasa sakitnya begitu dalam hingga kesadarannya mulai memudar.
“Jangan menyerah, Qing Er,” bisik suara Gu Sheng, namun kali ini melalui transmisi batin yang langsung bergema di kepala gadis itu. “Jangan biarkan energi monster itu mengendalikanmu. Ingat rasa sakit saat cambukan Gu Lie mengenai kulitmu. Gunakan rasa sakit itu sebagai api untuk membakar inti perak tersebut. Telan dia, atau dia yang akan menelanmu.”
Mendengar suara Gu Sheng, Qing Er seolah mendapatkan pegangan di tengah badai. Ia memaksakan pikirannya untuk fokus. Ia membayangkan api Phoenix di dalam dirinya bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai bagian dari kehendaknya sendiri.
Perlahan-lahan, uap di sekeliling Qing Er yang tadinya putih mulai berubah menjadi sedikit keemasan. Energi perak dari laba-laba mulai meleleh, diuraikan menjadi nutrisi murni yang kemudian diserap oleh sumsum tulangnya.
Gu Sheng memantau proses itu melalui Gerbang Pertama. Ia bisa melihat bahwa struktur tulang Qing Er kini mulai berubah warna, menjadi sedikit lebih berkilau, tanda bahwa ia telah secara resmi memasuki tahap Qi Refinement - Tingkat Pertama.
“Bocah, pelayanmu ini benar-benar luar biasa,” suara Kaisar Iblis bergema dengan nada apresiasi yang jarang ia tunjukkan. “Untuk praktisi biasa, menyerap Neidan monster tingkat lima puncak saat masih di tahap awal adalah bunuh diri. Tapi darah Phoenix-nya... ia benar-benar memurnikan segala jenis kotoran menjadi emas. Jika dia terus tumbuh seperti ini, suatu hari nanti dia akan menjadi penguasa api yang tidak akan bisa kau kendalikan jika kau sendiri tidak cukup kuat.”
Gu Sheng hanya menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh dengan ambisi gelap. "Jika dia menjadi penguasa api, maka aku akan menjadi kegelapan yang menelan api itu. Tidak ada yang tidak bisa kutelan, bahkan Phoenix sekalipun."
Tiba-tiba, telinga Gu Sheng bergerak sedikit. Ia menangkap suara yang sangat halus dari arah timur, suara dahan kering yang patah, diikuti oleh bisikan yang sangat pelan yang terbawa angin.
"...apakah kau yakin auranya berasal dari sini? Energi Phoenix itu... jika kita bisa menangkapnya, tetua sekte pasti akan memberikan kita hadiah besar."
"Diamlah! Laba-laba bulan itu seharusnya ada di sekitar sini. Jika kita tidak hati-hati, kita akan menjadi makanannya sebelum melihat Phoenix itu."
Gu Sheng menyipitkan matanya. Jarak mereka masih sekitar satu mil, namun berkat Gerbang Kehidupan (Sheng Men) yang mulai terketuk di ulu hatinya, ia bisa merasakan fluktuasi Qi dari orang-orang tersebut.
Ada lima orang. Empat di antaranya berada di tingkat Spirit Sea - Tingkat Kedua, dan satu orang pemimpin yang auranya jauh lebih stabil, kemungkinan berada di Spirit Sea - Tingkat Kelima, setara dengan Gu Sheng saat ini.
“Mereka bukan dari Sekte Pedang Langit,” gumam Kaisar Iblis. “Aura mereka berbau amis, penuh dengan bau darah yang busuk. Itu adalah teknik dari Sekte Pemurni Darah (Blood Refining Sect). Mereka adalah sekte sesat yang suka menculik kultivator dengan garis keturunan khusus untuk dijadikan bahan ramuan.”
"Sekte Pemurni Darah?" Gu Sheng mengepalkan tangannya. "Satu lagi kotoran yang mencoba mengusik mangsaku."
Gu Sheng tidak langsung bergerak untuk menyerang. Ia melirik ke arah Qing Er yang masih dalam fase krusial meditasinya. Jika ia bertarung sekarang, gelombang kejut dari pertarungannya bisa mengganggu stabilitas energi Qing Er dan menyebabkan gadis itu mengalami Qi Deviation.
Ia harus membuat mereka menjauh secara diam-diam, atau menghabisi mereka tanpa suara.
Gu Sheng melepaskan ikat pinggang jubah hitamnya dan mengikatkan kembali pedang Penebas Dosa dengan lebih erat di punggungnya agar tidak menimbulkan suara saat ia bergerak. Ia kemudian mengeluarkan beberapa batu energi yang sudah kosong dari cincin ruangnya dan meletakkannya di sekitar Qing Er dalam pola formasi Penyembunyi Aura yang sederhana.
"Kaisar, bantu aku menyembunyikan jejak Qing Er selama sepuluh menit," perintah Gu Sheng dalam hati.
“Heh, kau berutang padaku, bocah. Tapi baiklah, aku juga ingin melihat bagaimana kau akan memanen darah-darah busuk itu.”
Seketika, sebuah kabut hitam yang sangat tipis keluar dari Cincin Penelan Langit, menyelimuti tubuh Qing Er dan membuatnya seolah-olah menyatu dengan kegelapan pohon beringin di belakangnya. Dari jarak sepuluh meter, Qing Er kini tampak seperti sebongkah batu besar yang tidak memiliki aura kehidupan sama sekali.
Setelah memastikan Qing Er aman, Gu Sheng mulai bergerak.
Ia tidak berlari; ia merayap di antara bayang-bayang pohon seperti seekor macan kumbang iblis. Setiap langkah kakinya sangat presisi, tidak menyentuh ranting atau daun kering sedikit pun. Berkat Qi Iblis Penghancur Bintang-nya yang berwarna ungu, ia bisa memanipulasi gravitasi di bawah telapak kakinya agar tidak meninggalkan jejak tekanan di tanah.
Di kejauhan, lima orang dengan jubah berwarna merah darah mulai terlihat di antara kabut. Mereka masing-masing memegang sebuah lampu minyak kuno yang memancarkan cahaya hijau yang mampu menembus kabut. Di pinggang mereka, tergantung kantong-kantong kulit yang mengeluarkan suara cairan yang bergejolak, kemungkinan berisi darah manusia atau monster.
"Pemimpin, lihat itu!" salah satu anggota menunjuk ke arah tanah. "Ada bekas luka bakar yang sangat besar di depan sana. Itu pasti api Phoenix!"
Pria yang dipanggil pemimpin itu berhenti. Ia adalah pria dengan wajah yang sangat pucat, dengan beberapa tato garis merah di sepanjang lehernya. Ia menghirup udara dalam-dalam, lalu matanya yang licik menyipit.
"Ada yang tidak beres," bisik si pemimpin, suaranya mengandung kewaspadaan yang tinggi. "Bau api Phoenix ini tercampur dengan bau kematian yang sangat pekat. Dan... di mana Laba-Laba Bulan Spektral itu? Seharusnya tempat ini dipenuhi jaringnya."
Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya berhenti. "Berhati-hatilah. Sesuatu yang mampu membunuh laba-laba bulan tingkat lima puncak bukanlah sesuatu yang bisa kita remehkan."
Gu Sheng yang bersembunyi di atas dahan pohon besar tepat di atas mereka, menatap ke bawah dengan senyum dingin.
"Kau benar, pemimpin sekte rendahan," bisik Gu Sheng di dalam hatinya, suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri. "Kau baru saja melangkah masuk ke dalam perut sang Iblis."
Gu Sheng meraih sebuah belati kecil dari jarahan penjaga kota tempo hari. Ia mengalirkan Qi ungu-nya ke dalam belati itu hingga logamnya mulai bergetar karena tekanan yang berlebihan. Ia tidak akan membunuh mereka semua sekaligus. Ia ingin bermain sedikit dengan rasa takut mereka, sama seperti cara mereka memperlakukan mangsa mereka selama ini.