NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Satu Atap yang Dingin

Upacara pernikahan berlangsung persis seperti yang disepakati: sederhana, tertutup, dan hanya dihadiri oleh keluarga inti serta saksi bisnis. Tidak ada pesta besar, tidak ada sorak-sorai, tidak ada momen romantis. Bagi dunia, Choi Heesung masih lajang, masih menjadi idola yang sempurna dan bebas. Pernikahan ini hanyalah tinta di atas kertas, rahasia besar yang dikunci rapat di bawah tanah.

Tiga hari setelah penandatanganan dokumen, Park Hye-ri tiba di kediaman pribadi Choi Heesung—atau lebih tepatnya, kediaman keluarga Chou yang kini menjadi tempat tinggal resmi mereka berdua.

Rumah itu bukan sekadar rumah, melainkan sebuah vila megah bergaya modern minimalis yang berdiri di atas bukit tinggi, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan rimbun yang menjaga privasi dari mata-mata luar. Bangunan itu indah, mewah, dan sangat luas... tapi saat Hye-ri melangkah masuk melewati pintu depan, yang pertama kali ia rasakan bukanlah kenyamanan, melainkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Interiornya serba putih, abu-abu, dan hitam. Bersih, rapi, terlalu sempurna hingga terasa tak bernyawa. Tidak ada foto keluarga, tidak ada barang pribadi yang berkesan. Segalanya terlihat seperti hotel mahal yang siap disewakan, bukan tempat tinggal manusia.

"Selamat datang, Nyonya Chou," sapa seorang wanita paruh baya yang ramah namun sopan sekali. Itu adalah Ibu Jung, kepala pembantu rumah tangga yang sudah bekerja untuk keluarga Chou bertahun-tahun. "Tuan Choi sedang ada jadwal latihan di agensi. Beliau berpesan agar Anda menempati kamar di sayap timur. Kamar beliau ada di sayap barat, di lantai dua. Ada pintu penghubung di koridor, tapi biasanya pintu itu selalu dikunci dari sisi beliau."

Hye-ri mengangguk pelan, menurunkan koper kecil miliknya. Ia hanya membawa sedikit barang. Baginya, rumah ini hanyalah tempat tinggal sementara, sama seperti hubungan mereka.

"Terima kasih, Ibu Jung. Panggil saja aku Hye-ri. Jangan terlalu formal," jawab Hye-ri lembut. Ia tidak terlihat tertekan, even saat mendengar bahwa suaminya sendiri mengunci pintu penghubung di antara kamar mereka. Itu sudah ia duga sebelumnya.

Hye-ri berjalan menuju kamarnya. Ruangan itu sangat luas, dengan jendela kaca besar yang menghadap ke arah taman belakang. Perabotannya serba mahal dan nyaman, namun lagi-lagi terasa kosong. Ia meletakkan barang-barang miliknya perlahan, menata pakaiannya di lemari besar yang setengah isinya masih kosong melompong.

"Ini rumahnya, bukan rumahku," batin Hye-ri sambil menghela napas panjang. "Aku hanya tamu yang punya izin tinggal lebih lama. Ingat perjanjian itu, Hye-ri. Jangan berharap lebih."

 

Malam itu, larut malam.

Hye-ri sedang duduk di ruang tengah, membaca buku sambil menyesap teh hangat. Ia tidak tidur, entah kenapa rasanya belum tenang benar-benar berada di tempat ini. Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit.

Terdengar suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki berat yang menggema di lantai marmer. Hye-ri menutup bukunya perlahan. Ia tahu itu dia.

Choi Heesung masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terlihat lelah sekali. Rambut hitamnya sedikit berantakan, jaket kulitnya dilepas dan disampirkan sembarangan di lengan. Di bawah lampu gantung yang terang, wajah tampannya terlihat pucat dan lelah, namun pesonanya tetap sama kuatnya—jenis ketampanan yang membuat siapa pun menahan napas saat melihatnya.

Ia berjalan melewati ruang tengah, hendak langsung naik ke lantai dua tanpa menoleh sedikit pun. Seolah-olah Hye-ri tidak ada di sana, seolah ia sendirian di rumah besar ini.

"Tuan Choi," panggil Hye-ri pelan, namun cukup jelas terdengar.

Heesung berhenti melangkah. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya memutar kepalanya sedikit ke samping, menatap Hye-ri dengan tatapan datar dan tanpa emosi.

"Apa?" suaranya terdengar serak, mungkin karena seharian bernyanyi dan berbicara.

Hye-ri bangkit berdiri, menatap pria itu dengan tenang.

"Makan malammu sudah disiapkan Ibu Jung di atas meja makan. Katanya kau belum makan dari sore," ucap Hye-ri. Ia hanya menyampaikan pesan pembantu itu, tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak berniat bersikap manis atau peduli berlebihan.

Heesung terdiam sejenak, menatap wajah Hye-ri yang polos tanpa riasan itu. Gadis itu mengenakan pakaian rumah yang sederhana, rambutnya terurai rapi. Tidak ada sedikit pun godaan atau rayuan dalam tatapannya. Hanya ketenangan yang dingin, sama seperti dirinya.

Rasa kesal yang dulu dirasakannya saat pertemuan mereka dulu kembali muncul. Kenapa wanita ini tidak pernah terlihat terpesona padanya? Kenapa dia tidak pernah memandangnya seperti penggemar lainnya? Kenapa dia terlihat begitu... biasa saja?

"Aku sudah makan di luar," jawab Heesung ketus. Ia hendak kembali berjalan, tapi kalimat Hye-ri selanjutnya membuat langkahnya terhenti lagi.

"Dan Ibu Jung bilang, obat asma dan obat lambungmu sudah ditaruh di meja samping tempat tidur. Beliau bilang kau sering lupa meminumnya kalau tidak diingatkan."

Heesung mengerutkan kening, merasa sedikit tersentil harga dirinya. Penyakit-penyakit kecil itu adalah rahasia yang dijaga ketat agensinya. Bagaimana mungkin wanita ini tahu?

"Kau mau mengatur hidupku sekarang?" tanya Heesung tajam, matanya menyipit menatap Hye-ri dengan pandangan mengancam. "Ingat posisimu, Park Hye-ri. Kau di sini hanya untuk menjadi patung. Jangan berpikir kau bisa masuk ke urusan pribadiku, atau bertindak seolah-olah kau istriku yang sesungguhnya."

Hye-ri tidak mundur, tidak pun marah. Ia hanya menatap balik dengan tatapan yang sangat tenang, bahkan sedikit datar. Tatapan yang membuat Heesung merasa seolah dirinyalah yang sedang berlebihan di sini.

"Aku tidak mengaturmu, Tuan Choi. Aku hanya menyampaikan pesan Ibu Jung. Lagipula..." Hye-ri sedikit tersenyum miring, senyum yang sama dinginnya dengan senyum Heesung, "...jika kau jatuh sakit atau ada apa-apa, nama keluargaku juga akan tercoreng. Kita terikat kontrak, ingat? Reputasi kau adalah reputasi aku juga. Jadi demi kepentingan bersama, aku hanya memastikan kau tetap sehat dan bisa bekerja. Tidak ada rasa peduli di situ, jadi kau tidak perlu khawatir aku berharap lebih."

Jawaban itu tepat sasaran. Menohok, tajam, dan menempatkan keduanya kembali pada posisi semula: sekadar mitra kontrak.

Heesung terdiam, bibirnya terkatup rapat karena kesal. Ia benci bagaimana gadis ini selalu bisa membuatnya terlihat seperti orang yang emosian dan tidak masuk akal. Ia benci bagaimana gadis ini terlihat jauh lebih tenang dan menguasai diri dibanding dirinya sendiri.

"Bagus kalau kau mengerti," jawab Heesung akhirnya dengan suara rendah. Ia tidak mau kalah. "Lakukan saja tugasmu, dan jangan mencoba lebih dari itu."

Dengan itu, ia berbalik badan dan berjalan cepat menaiki tangga, menghilang di balik pintu kamarnya di lantai atas yang langsung dikunci dari dalam. Klik. Suara kunci itu terdengar begitu jelas, seolah peringatan keras bahwa dinding di antara mereka tebal dan kokoh.

Hye-ri kembali duduk di kursinya, mengambil bukunya lagi. Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum getir seorang diri.

"Angkuh, dingin, dan tidak tahu terima kasih," batinnya. "Tapi tidak apa-apa, Hye-ri. Kau sudah tahu sifatnya dari awal. Kau sudah siap. Ini hanya permulaan."

 

Hari-hari berlalu dengan pola yang sama. Hidup di rumah besar itu seperti hidup di dua dunia yang berbeda namun berada di tempat yang sama.

Pagi hari, Hye-ri bangun pagi, membantu Ibu Jung mengurus rumah, membaca buku, atau berkebun di halaman belakang. Ia melakukan segalanya dengan tenang, tidak pernah membuat keributan, tidak pernah bertanya kenapa suaminya pulang pagi atau pergi siang.

Sementara itu, Choi Heesung... bagaikan hantu yang datang dan pergi. Kadang Hye-ri melihatnya saat sarapan—saat mereka duduk berhadapan di meja makan panjang yang terasa makin panjang karena keheningan di antara mereka.

Heesung selalu duduk tegak, memakan sarapannya dengan cepat, wajahnya tertanam di layar ponsel atau tabletnya, membaca komentar penggemar, membalas pesan agensi, atau melihat jadwal padatnya. Ia tidak pernah menyapa, tidak pernah bertanya kabar. Dan Hye-ri pun melakukan hal yang sama. Ia makan, lalu pergi ke ruang kerjanya atau keluar rumah untuk berjalan-jalan sebentar.

Suatu sore, hujan turun sangat deras. Petir menyambar sesekali, membuat suasana rumah menjadi suram dan dingin. Heesung pulang lebih awal dari biasanya, basah kuyup karena berlari dari mobil ke pintu depan karena lupa membawa payung.

Ia masuk dengan wajah cemberut, marah-marah sendirian karena pakaian mahalnya basah dan rambutnya rusak. Ibu Jung sedang pergi ke pasar, dan pembantu lain sedang libur. Hanya ada Hye-ri di rumah, yang sedang menyiapkan teh hangat di dapur.

Heesung masuk ke ruang tengah, mengguncang-guncangkan rambutnya yang basah hingga air terciprat ke mana-mana. Ia menggeliat kedinginan, napasnya terdengar berat. Tiba-tiba ia terbatuk-batuk keras, batuk yang dalam dan kasar, seolah paru-parunya terasa sakit.

Hye-ri mendengarnya dari dapur. Ia berhenti mengaduk teh, menutup matanya sejenak menahan rasa malas yang muncul. Ia tahu ia seharusnya diam saja. Ia tahu ia sebaiknya masuk ke kamarnya dan pura-pura tidak mendengar apa-apa.

Tapi suara batuk itu terdengar begitu menyakitkan, dan ingatannya pada masa lalu—saat ayahnya sakit dan butuh bantuan—membuat kakinya bergerak sendiri.

Hye-ri membawa sebuah handuk tebal dan segelas air hangat, berjalan mendekati Heesung yang kini duduk di sofa, menekan dadanya yang terasa sesak.

Tanpa bicara, Hye-ri menyodorkan handuk itu ke arah pria itu.

Heesung mendongak, matanya yang merah karena iritasi dan lelah menatap tajam ke arah Hye-ri.

"Apa lagi?" tanyanya kasar, napasnya masih memburu.

"Keringkan rambutmu. Kau tidak mau sakit dan batal jadwalmu, kan?" jawab Hye-ri datar. Ia meletakkan gelas air di meja depan pria itu. "Minum ini. Dan obat asma yang kau bawa di saku jasmu... sebaiknya pakai sekarang. Udara dingin dan basah tidak baik untukmu."

Heesung menatap handuk putih bersih itu, lalu menatap wajah Hye-ri. Ada sesuatu dalam nada bicara wanita itu yang membuatnya tidak bisa langsung mengusirnya. Ia mengambil handuk itu dengan kasar, mengusapkannya ke kepala dengan gerakan agresif.

"Kau seolah-olah tahu segalanya tentangku," gumam Heesung sarkas. "Kau mengintipku? Kau memata-mataiku?"

Hye-ri menghela napas, menatap pria itu dengan pandangan tak percaya.

"Aku tidak punya waktu untuk hal konyol seperti itu, Tuan Choi. Ibu Jung yang bercerita. Dia khawatir padamu. Dan aku... aku hanya tidak ingin berita di koran besok pagi bertuliskan 'Idola Terbesar Choi Heesung Meninggal Karena Mengabaikan Kesehatan' atau sejenisnya. Itu akan memalukan bagiku sebagai istrimu, meski hanya di atas kertas."

Hye-ri berbalik hendak pergi, tapi kalimat terakhirnya membuat Heesung menahan langkahnya.

"Kau benar-benar tidak pernah melihatku sebagai laki-laki, ya?" tanya Heesung tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi ada nada aneh di dalamnya—campuran antara rasa heran dan rasa tersinggung yang aneh.

Hye-ri berhenti, menoleh sedikit ke belakang tanpa memutar tubuhnya sepenuhnya. Ia menatap Heesung dengan tatapan polos.

"Kenapa aku harus melihatmu sebagai laki-laki? Bagiku, kau hanyalah klien kontrak yang angkuh, rekan bisnis yang menyusahkan, dan suami di atas kertas yang sangat dingin. Tidak ada lagi dari dirimu yang menarik perhatianku, Tuan Choi."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Hye-ri, jujur, tajam, dan telak.

Heesung terdiam kaku di tempatnya. Jantungnya berdegup aneh, bukan karena cinta, tapi karena rasa terkejut yang luar biasa. Seluruh wanita di dunia ini rela berlutut hanya untuk mendapatkan satu tatapan darinya. Seluruh wanita ingin disentuhnya, ingin diciumnya, ingin diakui sebagai miliknya.

Tapi wanita ini... wanita ini berdiri tepat di bawah atap yang sama, sah menjadi istrinya, dan dia bilang... dia sama sekali tidak tertarik padanya?

Amarah kembali meluap di dada Heesung, tapi kali ini amarah itu bercampur dengan rasa penasaran yang menggelikan.

"Baiklah, Park Hye-ri..." gumam Heesung pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum miring yang berbahaya. "Kau ingin main dingin? Kau ingin bersikap seolah aku tidak berharga? Silakan saja. Tapi ingat satu hal... aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan jika aku memutuskan untuk membuatmu melihatku, membuatmu mengakui keberadaanku... kau tidak akan punya pilihan selain menurut."

Hye-ri tersenyum tipis, lalu berjalan pergi menjauh, meninggalkan Heesung yang kini menatap punggungnya dengan pandangan yang berubah perlahan.

"Silakan saja coba, Tuan Choi," bisik Hye-ri pelan agar tidak terdengar. "Tapi aku berjanji... aku bukan penggemarmu yang mudah meleleh hanya karena ketampanan atau namamu."

Di ruang tengah yang dingin itu, di antara suara hujan dan petir, benih-benih perasaan yang rumit mulai tertanam. Benih-benih yang mereka berdua tolak, tapi perlahan-lahan mulai berakar di antara permusuhan dan perjanjian kaku mereka.

 

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!