hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 34: GEMBEL ITU NAMA BUKAN PANGGIL
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 34: GEMBEL ITU NAMA BUKAN PANGGILAN
Hari pertama masuk sekolah berjalan aman, meski ada satu hal yang menjadi kenyataan pahit di kelas kami. Di kelas 2 SMP ini, jumlah murid sebenarnya cukup banyak jika semua naik kelas. Sebenarnya jumlah kami seharusnya ada 34 anak, tapi ternyata ada 6 orang teman kami yang tertinggal atau tidak naik kelas karena nilai mereka belum memenuhi standar. Akhirnya, di kelas 2 SMP ini hanya ada kami 28 murid saja yang duduk di sini, melanjutkan langkah pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Di jam pertama pelajaran, suasana kelas terasa hangat dan riuh. Kegiatan pembukaan kelas dimulai dengan sesi sambutan dan tanya jawab dari Bapak Ibu Guru. Topik pembicaraan kali ini adalah cerita liburan. Semua teman-teman bersemangat sekali bercerita ke mana saja mereka pergi selama liburan panjang kemarin.
"Aku liburan kemarin pergi ke rumah Nenek, Pak... Jauh banget, naik kereta api!" kata salah satu teman dengan bangga.
"Aku sama orang tua liburan ke luar kota Pak, ke pantai, seru banget!" sahut yang lain.
Cerita demi cerita bermacam-macam terdengar memenuhi ruangan. Ada yang bercerita pergi ke tempat wisata, ada yang bercerita beli baju baru, ada yang bercerita makan-makan enak. Semua tertawa bahagia berbagi kenangan indah mereka.
Hanya ada satu orang yang diam membisu di bangku paling belakang, itu aku, Ria. Aku hanya menunduk, mendengarkan cerita mereka satu per satu. "Ke mana aku pergi liburan kemarin? Aku tidak pernah pergi ke mana-mana... Kecuali pergi ke kebun membantu Bunda menanam, menyiangi rumput, atau pergi ke rumah tetangga membantu mencuci dan menggosok baju. Itu saja liburanku..." batinku sedih. Aku memilih diam, aku tidak punya cerita indah untuk dibagi, dan diam itulah yang paling pas menggambarkan apa yang aku rasakan saat itu.
Di tengah keriuhan itu, ada sosok guru baru yang belum pernah kami kenal sebelumnya. Beliau bernama Pak Bilal, seorang guru pindahan yang datang jauh dari kota Bengkulu, mendapat tugas mengajar di desa kami ini. Beliau mengamati satu per satu muridnya, sampai pandangannya tertuju padaku yang duduk sendirian di pojok belakang.
Pak Bilal bertanya pada teman di dekatnya. "Itu yang duduk sendirian di pojok sana, siapa namanya?"
"Namanya Gem atau Mis, Pak," jawab teman itu asal saja sambil menahan tawa.
"Gem? Mis? Terus dipanggil apa? Gem atau Mis?" tanya Pak Bilal lagi bingung, mengira itu memang nama panggilanku.
"Haaaaa....!!!"
Seketika satu kelas tertawa terbahak-bahak, suaranya memecah ruangan.
"Ya Pak... Dipanggil Gem... Gembel maksudnya Pak!" sahut Bayu, anak yang paling sering memimpin teman-teman mengejekku. "Atau Mis... Miskin! Haaaaa..."
Mereka semua tertawa puas, senang sekali rasanya mengejekku. Aku pun ikut tersenyum tipis, senyum yang terasa getir dan pahit, sudah biasa rasanya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut mereka.
Pak Bilal tampak bingung luar biasa. Beliau mengerutkan keningnya, melihat mereka tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku hanya diam menunduk tanpa suara. "Ada apa ini? Ada yang salah di sini," batin Pak Bilal merasa ada yang janggal.
Tiba-tiba Pak Bilal mengambil sebatang kayu kecil, panjangnya seukuran lidi tapi agak besar, alat yang biasa dipakai guru untuk menunjuk tulisan di papan tulis. Beliau berjalan mendekat ke papan tulis lalu mengetuk-ngetuk keras.
Tok... Tok... Tok...!!!
"Diam semuanya!!!" suara Pak Bilal menggelegar, seketika hening seketika.
"Kenapa kalian semua tertawa? Ada yang lucu? Ada yang bikin kalian ramai tidak karuan di mana lucunya? Diam semua, jawab saya!!!" bentak Pak Bilal tegas.
"Barusan kalian tertawa terbahak-bahak, sekarang saya tanya malah diam semua? Canggung ya?" suara Pak Bilal mulai tinggi.
Aku masih menunduk dalam. Bagiku, diejek, dicemooh, dikatai itu sudah makanan sehari-hari. Mungkin bagi guru baru yang melihat kejadian ini akan merasa heran atau marah, tapi bagiku rasanya sudah mati rasa.
"Kamu..." Pak Bilal menunjuk tepat ke arah Bayu, suaranya lantang bergema. "Jelaskan apa artinya Gem dan Mis tadi! Dan kamu Lilla, kamu juga saya tunjuk, jawab!!"
Bayu maju sedikit, wajahnya mulai pucat, ia mendadak gagap. "Emmm... Ma-maaf Pak... Kami... Kami sudah biasa memanggil dia begitu Pak..."
"Kamu Lilla, apa alasanmu?" tanya Pak Bilal menoleh ke anak perempuan itu.
"Ma...maa...maaf Pak... Saya juga sama... Ikut yang lain... Panggil gitu juga Pak..." jawab Lilla dengan wajah gugup dan ketakutan.
"Saya minta penjelasan yang jelas! Apa kenapa kalian ketakutan begitu? Ayo jawab dengan suara lantang!" tuntut Pak Bilal.
Bayu menarik nafas panjang, akhirnya menjawab pelan. "Gembel... Pak... Sama Mis..."
"Apa katanya? Miskin?!" Pak Bilal memastikan.
"Yang keras! Bapak tidak dengar kalau ngomong pelan-pelan begitu!" bentak Pak Bilal lagi.
"GEMBEL... MISKIN... PAK!!!" teriak Bayu akhirnya dengan suara lantang.
"Astaghfirullah Halazim..." Pak Bilal kaget bukan main, dadanya terasa sesak mendengar sebutan kasar itu.
"Ooh... Jadi begitu... Berarti kalian semua menganggap diri kalian anak orang kaya, ya? Pakai baju bagus, punya uang banyak, terus bisa sembarangan menghina orang lain begitu? Ingat baik-baik anak-anakku... Semua itu milik Allah semata. Kekayaan, jabatan, pakaian bagus, itu semua titipan. Jika Allah sudah berkehendak, detik ini juga kalian bisa tidak punya apa-apa, bisa jadi lebih susah dari dia yang kalian ejek ini! Jangan pernah suka menghina sesama manusia, ingat itu!"
Suasana hening mencekam. Mata semua anak tertunduk tak berani menatap wajah Pak Bilal yang tampak sangat kecewa.
"Dan kamu... Nak... Kemari sebentar..." panggil Pak Bilal menunjuk ke arahku. "Kamu yang duduk paling belakang, kemari Nak..."
"Baik Pak..." jawabku pelan. Aku pun berjalan maju ke depan, menghadap Pak Bilal.
"Nak... Siapa namamu? Siapa nama aslimu?" tanya Pak Bilal lembut, suaranya berubah drastis menjadi halus dan hangat.
"Maaf Pak... Perkenalkan nama saya Komiria... Biasa dipanggil Ria Pak," jawabku sopan sambil menundukkan kepalaku sedikit. Bukan karena takut, tapi itu bentuk hormatku pada orang yang lebih tua.
"Subhanallah... Nama yang cantik... Nama yang indah... Indah sekali bunyinya, persis seperti orangnya," gumam Pak Bilal pelan.
Beliau diam sejenak, seolah sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Di mana aku pernah mendengar nama Komiria ini ya? Rasanya tidak asing..." batin Pak Bilal. Beliau menggelengkan kepalanya pelan. "Nanti saja lah, nanti saya lihat data lengkap anak ini di berkas," pikirnya.
"Baiklah Nak Ria... Terima kasih ya, silakan duduk kembali ke tempatmu," kata Pak Bilal lembut.
"Iya Pak... Terima kasih... Permisi Pak," jawabku lalu berjalan kembali ke bangku belakangku.
Pak Bilal kembali menatap seluruh muridnya dengan tatapan tajam namun penuh nasihat.
"Dengar ya semuanya... Nama itu adalah pemberian dari orang tua. Berarti nama itu adalah doa yang dipanjatkan orang tuanya untuk anaknya, untuk selamanya. Paham?!"
"PAHAM...!!!" jawab kami serentak dan keras.
"Bapak di sini ditugaskan untuk mengajari kalian. Bapak datang jauh-jauh dari Bengkulu, meninggalkan keluarga, hanya karena tugas. Kalau nanti kalian lulus sekolah dengan nilai yang baik, dan ilmu yang Bapak berikan bisa kalian bawa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Alhamdulillah... Bapak bangga sekali. Itu semua buat kebaikan masa depan kalian, paham?!"
"PAHAM...!!!"
"Dan satu lagi... Siapa yang tidak suka cara Bapak mengajar atau keberatan Bapak ada di sini, silakan angkat tangan sekarang, dan kasih alasannya. Biar Bapak langsung lapor ke atasan biar Bapak pindah saja!" tantang Pak Bilal.
Tidak ada satu pun yang berani angkat tangan.
"Bapak jujur ya sama kalian semua... Memang Bapak mengajar itu keras, tegas, kadang galak. Tapi itu demi siapa? Demi kalian semua, biar kalian jadi anak yang berilmu dan beradab. Tapi yang paling bikin Bapak sedih dan sakit hati itu kalau kalian menghina sesama teman kalian, mengejek, membully, menyakiti hati orang lain... Itu yang tidak boleh, itu yang tidak baik!"
Pak Bilal menghela nafas panjang, lalu melanjutkan nasihatnya yang sangat dalam.
"Coba kita tukar saja nasibnya... Seandainya kalian yang ada di posisi Komiria atau Ria itu... Apakah kalian akan sanggup menjalani semua cemoohan ini setiap hari? Belum tentu kan? Kadang Allah kasih ujian ke setiap manusia itu caranya berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kekayaan, ada yang diuji dengan kepintaran, ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kesabaran. Ingat kalian semua... Jangan pernah meremehkan orang lain, jangan pamer kesombongan, jangan tanam kebencian di hati kalian. Padahal yang kalian hina, yang kalian ejek... Apakah kalian sudah memberi makan dia? Apakah kalian sudah menghidupi dia? Belum kan? Kalian belum tentu sanggup ada di posisi dia yang kuat dan sabar itu!"
Aku yang duduk di belakang diam membeku. Air mata perlahan menetes satu per satu membasahi pipiku yang kering. Hati kecilku menangis dalam doa.
"Ya Allah... Hamba sebenarnya tidak mau ada di posisi ini... Hamba sebenarnya ingin seperti mereka, bisa bercerita indah, bisa tertawa bahagia... Tapi mungkin Allah tahu kalau Ria bisa... Allah tahu Ria kuat dengan semua ujian ini. Astaghfirullah... Hamba ikhlas ya Allah... Hamba terima semua ini dengan hati lapang, karena Engkau yang Maha Tahu keadaan hamba-Mu ini..."
Hari itu, di kelas itu, kata-kata Pak Bilal menjadi obat penenang sekaligus luka baru yang membekas di hatiku. Aku sadar satu hal: biarpun dunia ini keras dan banyak yang jahat, Allah pasti selalu mengirimkan orang Jawab baik yang akan membela dan menguatkan hamba-Nya yang lemah.