NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Orang-Orang Bertopeng

Sirine itu terus berbunyi.

Nyaring.

Menusuk kepala.

Suara mekanis dingin yang bergema di seluruh gedung tua seperti alarm perang.

Lampu merah darurat berkedip semakin cepat.

Nayra berdiri kaku sambil menatap chip hitam di tangan Zavian.

Entah kenapa benda kecil itu terasa jauh lebih menyeramkan daripada pistol.

“Protokol aktivasi…” gumam Nayra pelan. “Apa maksudnya?”

Zavian masih memperhatikan chip itu.

Rahangnya menegang.

“Aku nggak suka ini.”

“Itu bukan jawaban.”

Cowok itu akhirnya menoleh.

“Kalau sistem utama aktif, berarti mereka sadar ada yang mengacaukan permainan.”

“Mereka dari tadi juga sadar!”

“Beda.”

Tatapan Zavian bergerak ke layar-layar yang mulai menyala lagi satu per satu.

“Yang tadi cuma permainan.”

“Sekarang… kita jadi ancaman.”

Kalimat itu sukses membuat bulu kuduk Nayra berdiri.

Layar terbesar di ujung ruangan mendadak hidup.

Tulisan merah muncul perlahan.

UNAUTHORIZED ACCESS DETECTED

Di bawahnya muncul nama:

PLAYER 03

Nayra langsung menoleh ke Zavian.

“Mereka tahu itu kamu…”

Zavian malah terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Seolah sudah menduga semuanya.

Lalu tulisan kedua muncul.

TERMINATE PLAYER 03

Deg.

Darah Nayra langsung dingin.

“Terminate?”

“Bunuh,” jawab Zavian singkat.

“AKU TAHU ARTINYA!”

Nayra panik.

“Terus sekarang gimana?!”

Belum sempat Zavian menjawab—

DUARRR!

Ledakan keras terdengar dari lantai bawah.

Getarannya sampai terasa ke lantai tempat mereka berdiri.

Debu jatuh dari langit-langit.

Nayra refleks menutup kepala.

“Apa lagi itu?!”

Zavian langsung berjalan ke jendela pecah dan mengintip keluar.

Ekspresinya berubah.

Buruk.

Sangat buruk.

“Ada tamu.”

Nayra mendekat pelan.

Dan detik berikutnya napasnya langsung tercekat.

Beberapa mobil hitam berhenti di depan gedung.

Pintunya terbuka bersamaan.

Pria-pria berpakaian hitam turun satu per satu.

Semua memakai topeng yang sama.

Topeng hitam.

“Orang-orang itu…”

“Mereka bukan pemain,” kata Zavian pelan.

Salah satu pria bertopeng mengangkat senjata.

Bukan pistol biasa.

Senjata otomatis.

Nayra langsung mundur.

“Mereka bawa senjata?!”

“Mereka datang buat beresin masalah.”

“MASALAHNYA ITU KITA!”

Zavian menatapnya sekilas.

“Sekarang kamu mulai cepat nangkep situasi.”

Nayra hampir mau marah kalau saja tidak terlalu takut.

Dari speaker gedung, suara Game Master kembali terdengar.

Tapi kali ini berbeda.

Tidak santai.

Tidak menikmati permainan.

Melainkan dingin dan penuh ancaman.

“Player 03 telah melanggar aturan sistem.”

“Eksekusi akan dilakukan.”

Nayra langsung menatap sekeliling panik.

“Eksekusi?!”

Zavian menggenggam chip hitam lebih erat.

“Mereka nggak mau rahasia mereka bocor.”

“Rahasia apa?!”

“Entah. Tapi chip ini penting.”

Suara langkah mulai terdengar dari bawah.

Banyak.

Cepat.

Mereka naik.

Nayra langsung mundur.

“Zavian…”

Cowok itu mengeluarkan pistol kecil dari balik hoodie.

Nayra langsung membelalak.

“KAMU BAWA PISTOL?!”

“Aku lupa bilang.”

“KAMU PSIKOPAT YA?!”

“Tenang, aku belum pernah nembak kamu.”

“Itu nggak bikin tenang!”

Zavian mengisi peluru dengan tenang.

Klik.

Suaranya bikin jantung Nayra makin kacau.

“Kamu bisa pakai?”

“Lumayan.”

“Lumayan gimana?!”

“Kalau targetnya diam.”

Nayra menatapnya tidak percaya.

Di situasi seperti ini cowok itu masih bisa bercanda tipis.

Atau mungkin memang otaknya tidak normal.

BRAKK!

Pintu ruangan dihantam dari luar.

Nayra langsung melompat kaget.

“Mereka masuk!”

“Belakang,” kata Zavian cepat.

Mereka langsung berlari ke pintu lain di sisi ruangan.

Tangga lagi.

Selalu tangga.

Nayra mulai benci gedung ini.

Langkah kaki para pria bertopeng terdengar makin dekat di belakang mereka.

Cepat.

Teratur.

Tidak seperti pemain panik.

Mereka terlatih.

“Itu orang-orang siapa sebenarnya?!” Nayra terengah.

“Entah organisasi atau apa.”

“Kenapa ada organisasi bikin game bunuh-bunuhan?!”

“Karena orang kaya gampang bosan.”

Nayra langsung menoleh.

“Kamu serius?”

“Pernah dengar orang bayar buat nonton manusia saling bunuh?”

Nayra tercekat.

Ia pernah dengar rumor aneh di internet.

Dark web.

Permainan ilegal.

Live taruhan.

Tapi ia selalu menganggap itu cuma cerita menyeramkan.

Sampai sekarang.

Dan sekarang ia sedang ada di dalamnya.

Mereka sampai di lantai tiga.

Koridor panjang membentang.

Gelap.

Sunyi.

Pintu-pintu tua berjajar di kanan kiri.

“Masuk mana?” Nayra panik.

“Yang nggak ada mayatnya.”

“Itu bukan bantuan!”

Zavian membuka salah satu pintu.

Kosong.

Mereka masuk cepat.

Ruangan itu seperti bekas kantor tua.

Meja berdebu.

Komputer rusak.

Dan anehnya…

ada foto-foto di dinding.

Foto pemain.

Nayra mendekat perlahan.

Dan wajahnya langsung pucat.

Karena salah satu foto itu adalah dirinya.

Banyak sekali.

Ditempel seperti bahan penelitian.

Di bawah fotonya tertulis:

SUBJECT 07

Response Rate: Stable

Aggression Trigger: Incomplete

Memory Phase: Dormant

Nayra langsung gemetar.

“Apa ini…”

Zavian membaca tulisan itu pelan.

Lalu ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya…

cowok itu terlihat benar-benar terkejut.

“Ini nggak mungkin…”

Nayra menoleh cepat.

“Kamu tahu sesuatu?”

Zavian menatap tulisan itu lama.

“Mereka nggak cuma ngawasin kamu.”

“Terus?”

“Mereka ngebentuk kamu.”

Kalimat itu membuat kepala Nayra kosong.

“Apa maksudnya…?”

Sebelum Zavian menjawab—

layar komputer tua di meja tiba-tiba menyala sendiri.

KREEETTT—

Sebuah video muncul.

Dan Nayra langsung membeku.

Karena yang muncul di layar adalah dirinya.

Tapi… lebih kecil.

Masih anak-anak.

Sekitar umur delapan tahun.

Sedang duduk di ruangan putih.

Tangannya gemetar.

Dan seseorang di luar kamera berkata—

“Subjek 07 menunjukkan perkembangan bagus.”

Nayra langsung mundur.

“Itu… aku?”

Zavian menatap layar tanpa berkedip.

Video berlanjut.

Anak kecil itu menangis.

“Papa… Mama…”

Lalu suara lain terdengar.

“Jangan panggil mereka lagi.”

Nayra langsung memegang kepalanya.

Tiba-tiba kepalanya sakit.

Sangat sakit.

Seperti ada sesuatu yang mencoba keluar.

Potongan-potongan ingatan aneh mulai muncul.

Ruangan putih.

Lampu terang.

Suara orang-orang.

Tangisan.

“AAAH…”

Nayra jatuh berlutut.

“Nayra!”

Zavian langsung menahannya.

“Aku… kepalaku…”

Video di layar terus berjalan.

“Memori lama harus dihapus total sebelum fase permainan dimulai.”

Napas Nayra memburu.

“Hapus… memori?”

Zavian menatap layar tajam.

“Sial…”

“Zavian… apa maksud mereka…”

Cowok itu diam beberapa detik.

Seolah sedang memikirkan sesuatu yang buruk.

Lalu akhirnya berkata pelan—

“Mungkin… kamu pernah ada di permainan ini sebelumnya.”

Dunia Nayra langsung terasa runtuh.

“Hah…?”

“Itu alasan mereka nyebut kamu Subject, bukan Player.”

Nayra menggeleng cepat.

“Enggak… enggak mungkin…”

“Tapi videonya nyata.”

Nayra menutup telinganya.

“Aku nggak ingat apa-apa!”

“Karena mungkin memang sengaja dihapus.”

Air mata mulai jatuh tanpa Nayra sadari.

Selama ini…

hidupnya ternyata mungkin bukan benar-benar miliknya.

BRAKK!

Pintu ruangan dihantam keras.

Mereka langsung tersentak.

Suara pria bertopeng terdengar dari luar.

“PLAYER 03. SERAHKAN CHIP.”

Zavian berdiri cepat.

“Cari jalan keluar.”

Nayra masih syok.

“Aku nggak ngerti apa yang terjadi…”

“Nanti aja bingungnya!”

BRAKK!

Pintu mulai retak.

Zavian mengarahkan pistol.

Napasnya tetap stabil.

Aneh sekali.

Di situasi seperti ini dia malah terlihat semakin hidup.

“Kalau aku bilang lari, jangan nengok belakang.”

“Terus kamu?”

“Aku nyusul.”

“Kamu yakin?”

“Enggak.”

Jawaban itu terlalu jujur.

Dan justru membuat dada Nayra terasa aneh.

Pintu akhirnya jebol.

DUARR!

Tiga pria bertopeng masuk.

Gerakan mereka cepat.

Terlatih.

Zavian langsung menembak.

DUAK!

Salah satu pria jatuh.

Nayra menutup mulut menahan jeritan.

Ini pertama kalinya ia melihat Zavian benar-benar menembak seseorang.

Dan ekspresi cowok itu…

tetap dingin.

Pria lain membalas tembakan.

DUAK! DUAK!

Kaca pecah.

Dinding berlubang.

“LARI!” bentak Zavian.

Nayra refleks bergerak.

Ia menemukan pintu kecil di belakang lemari arsip.

Tangga darurat lagi.

Sial.

Ia turun cepat sambil napas kacau.

Suara tembakan masih terdengar dari atas.

Air mata Nayra jatuh lagi.

“Jangan mati…” bisiknya tanpa sadar.

Saat sampai di lantai bawah, Nayra langsung berhenti.

Karena lorong di depannya…

sudah dipenuhi pria bertopeng lain.

Mereka berdiri diam.

Menatap Nayra.

Seperti sudah menunggu.

Jantung Nayra hampir berhenti.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Lebih tinggi dari yang lain.

Dan saat ia membuka topengnya…

Nayra langsung membeku total.

Karena wajah pria itu—

sangat mirip dengannya.

Bukan mirip biasa.

Tapi seperti keluarga.

Pria itu tersenyum tipis.

“Akhirnya ketemu lagi, Nayra.”

Suara Nayra langsung hilang.

“K-kamu siapa…?”

Pria itu menatapnya lembut.

Terlalu lembut untuk situasi seperti ini.

“Harusnya kamu masih inget aku.”

Nayra mundur pelan.

“Aku nggak kenal kamu…”

Pria itu tersenyum kecil.

“Karena mereka menghapusnya.”

Deg.

“Apa?”

Pria itu melangkah mendekat.

“Aku kakakmu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!