Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 baju
Kamar Timur di rumah Keluarga Yan adalah tempat tinggal Yan Shong dan istri keduanya, Han Ruo.
Selain ukurannya yang paling luas, posisi kamar di sisi timur juga melambangkan status penting dalam rumah. Namun ironisnya, kamar utama ini justru ditempati oleh istri kedua, sementara istri sah malah disingkirkan ke Kamar Barat yang sempit.
Han Ruo yang sedang bersantai di atas ranjang dengan gaya manja, melirik meja kayu yang baru saja ditendang suaminya sampai bergoyang.
Dia mendengus pelan melihat kelakuan pria itu. "Sabar sedikit, meja ini bisa hancur kalau kamu tendang terus. Kalau sampai rusak, kita harus pakai uang sendiri buat beli yang baru, nanti ibumu pasti bakal mengomel."
Yan Shong mendengus kesal lalu mengempaskan badannya ke atas ranjang kayu dengan wajah merah padam. Dia benar-benar jengkel memikirkan sikap pilih kasih kedua orang tuanya belakangan ini.
Karena keluarga besar ini belum pecah kongsi, hampir semua uang hasil kerjanya di kota harus diserahkan kepada ibunya, Nenek Lou.
Tiap kali ada barang rusak dan dia butuh uang, meminta pada Nenek Lou rasanya seperti meminta nyawa sendiri. Semua itu gara-gara uangnya selalu disimpan untuk biaya nikah Yan Ming dan mas kawin Yan Ling.
"Lagipula, buat apa kamu pasang muka cemberut begitu di rumah? Kalau memang berani, kenapa tidak minta pisah rumah saja?" pancing Han Ruo sambil menyenggol kaki suaminya.
"Jangan mimpi," sahut Yan Shong sambil bangkit duduk di tepi ranjang dengan nada jengkel. "Selama Yan Ming belum punya istri dan Yan Ling belum menikah, jangan harap bisa pisah rumah."
Kakek Yan jelas tidak akan pernah mengizinkan hal itu terjadi selama masih ada anak yang belum berkeluarga. Jadi, keinginan untuk mandiri itu cuma mimpi di siang bolong aja.
Han Ruo mengerucutkan bibirnya dengan wajah masam. "Memangnya kalau mereka tidak mau, kita harus ikut menderita? Bertahun-tahun semua uangmu dikuras, sampai-sampai makan kita bertiga saja sering kurang."
"Yan Ran juga makin besar, sebentar lagi mau bersiap cari jodoh, tapi baju baru yang layak saja dia tidak punya," keluhnya.
Wanita itu bangkit, berjalan ke arah pintu untuk memastikan situasi di luar, lalu menutupnya rapat-rapat. Dia kembali mendekati Yan Shong dan berbisik pelan.
"Kamu kan sering di kota jadi tidak tahu, dua hari lalu ibumu membelikan Yan Ling baju baru yang mewah. Jangan sangka aku tidak tahu ya, mereka mencobanya diam-diam di dalam kamar. Harganya pasti mahal, bisa sampai ratusan koin!"
Yan Shong mengernyitkan alisnya mendengar cerita itu. "Yan Ling kan pintar menyulam dan sering menjual saputangan buatannya, mungkin saja itu dibeli pakai uangnya sendiri."
"Cuih!" Han Ruo langsung meludah ke lantai sambil mencibir meremehkan.
"Hasil sulaman sekasar itu mana laku dijual? Hasil kerja dia bahkan lebih jelek dibanding buatan Nara, kita saja malas melihatnya, apalagi orang luar."
Melihat suaminya yang masih tampak tidak peduli, Han Ruo makin gencar menghasut. "Jangan naif deh, kain sulamannya kasar begitu siapa yang mau beli? Memangnya bisa dapat uang berapa dari sana? Jelas baju itu dibelikan oleh ibumu pakai uang hasil keringatmu!"
"Cuma kamu aja yang bodoh, mengira semua uangmu disimpan baik-baik, padahal aslinya malah dinikmati orang lain," lanjutnya memanas-manasi.
Melihat wajah Yan Shong yang mulai menggelap karena kesal, Han Ruo menghela napas panjang agar dramanya makin meyakinkan. Dia duduk kembali di samping suaminya dengan raut wajah sedih.
"Sama-sama anak perempuan, tapi masa adikmu lebih diprioritaskan dibanding anak kandung sendiri? Kalau Yan Ran didandani dengan baju bagus, dia pasti secantik bunga dan cocok dinikahkan dengan pria terpelajar di kota. Hidup kita di masa tua nanti juga bakal ikut senang."
Han Ruo melirik Yan Shong yang mulai termenung, lalu sengaja memancing emosinya lagi. "Kamu memang punya dua anak perempuan, tapi yang satu cacat dan bawa sial. Kasihan Yan Ran-ku, masa depan anak sekandung ini malah dikorbankan..."
Air mata Han Ruo mulai tumpah secara pura-pura, dia menyekanya dengan saputangan untuk menarik simpati.
Menyebut-nyebut tentang Nara adalah hal yang paling tidak suka didengar oleh Yan Shong. Benar saja, raut wajah Yan Shong langsung berubah beringas begitu topik itu disentuh.
"Jangan bahas anak sialan itu di depanku!" potong Yan Shong dengan suara dingin. "Aku tidak pernah punya anak perempuan pemberontak seperti dia!"
Han Ruo tersenyum puas dalam hati karena siasatnya berhasil. Dia buru-buru menutupi senyum kemenangannya di balik saputangan sambil pura-pura terisak pelan.
Yan Shong yang melihat wajah merana istri mudanya itu mendadak merasa iba sekaligus bergairah. Dia menarik Han Ruo ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanita itu.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mana mungkin aku tidak memikirkan masa depan Yan Ran? Tenang aja, mulai sekarang aku bakal menyisihkan sebagian uang hasil kerjaku tanpa sepengetahuan ibu."
"Benaran?" tanya Han Ruo memastikan dengan mata berbinar.
"Tentu saja benar, Sayang. Ayo sekarang pijat aku, aku kangen sekali sama kamu..." Yan Shong mulai melonggarkan ikat pinggangnya, lalu menarik tubuh Han Ruo ke bawah dekapannya.
"Ah, kamu ini... pelan-pelan sedikit..."