(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Ketenangan seorang Raka
Pria itu mengedip beberapa kali, senyum sinis di wajahnya sedikit memudar sebelum akhirnya terkekeh kecil, berusaha mempertahankan kesan santai.
“Ya jelas bisa lah,” jawabnya cepat sambil membusungkan dada sedikit. “Emangnya gue siapa? Gue nggak kayak lo yang cuma bisa bikin perempuan hidup susah.”
Namun anehnya, nada percaya diri itu terdengar sedikit dipaksakan, Raka hanya mengangguk kecil seolah menerima jawaban itu tanpa minat lebih jauh.
Tatapannya tertuju sesaat pada jam tangan pria tersebut, lalu ke pakaian bermerek yang dipakai, sebelum kembali ke wajahnya.
“Bagus,” ucapnya tenang. “Berarti Rasti tidak salah pilih orang.”
Kalimat itu sederhana, tetapi justru membuat suasana terasa semakin aneh, tidak ada nada mengejek, tidak ada rasa iri, bahkan tidak terdengar seperti pria yang baru saja kehilangan istrinya.
Rasti mulai menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, ada sesuatu dari sikap Raka yang membuatnya tidak nyaman.
Biasanya pria itu akan membujuk, meminta penjelasan, atau setidaknya memperlihatkan rasa kecewa. Namun sekarang, Raka hanya berdiri dengan wajah datar seperti sudah tak mempedulikannya sama sekali.
“Aku serius, Mas,” ucap Rasti lagi, kali ini nadanya sedikit melemah. “Jangan pikir aku senang melakukan ini, aku cuma capek.”
Raka menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Aku tahu,” jawabnya pelan.
Jawaban singkat itu membuat Rasti membeku, tidak ada pembelaan, tidak ada pertanyaan dan tidak ada usaha untuk memperbaiki.
Hanya penerimaan dingin yang terasa jauh lebih menyakitkan, pria di samping Rasti terlihat tidak suka suasana mulai berubah. Ia kembali mendecak pelan lalu melangkah lebih dekat ke arah Raka.
“Udahlah bro, nggak usah sok hebat,” katanya sambil menyeringai. “Kalau sakit hati bilang aja.”
Jack langsung bergerak satu langkah maju, kali ini ekspresinya benar-benar dingin.
“Tuan muda, cukup,” ucapnya rendah.
Pria itu mengernyit. “Tuan muda?” ulangnya sambil tertawa kecil. “Apaan sih? Main peran lo pada?”
Jack menatap lurus tanpa ekspresi. “Jaga bicaramu.”
Namun Raka kembali mengangkat tangan pelan, menghentikan Jack sebelum situasi berubah.
“Sudah,” ucapnya tenang.
Ia lalu menatap pria itu sebentar, cukup lama sampai senyum meremehkan di wajah lawannya sedikit memudar sendiri.
“Kalau kamu memang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik,” kata Raka pelan, “jaga dia baik-baik.”
Kalimat itu membuat Rasti refleks mengangkat kepala, untuk sesaat, ada sesuatu yang bergerak di dadanya, rasa asing yang sulit dijelaskan.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bersama, pria yang selalu bertahan demi dirinya justru terlihat benar-benar melepaskannya.
Raka lalu melangkah mundur setengah langkah, memasukkan kembali tangannya ke saku jaket.
“Oh iya,” lanjutnya tenang seolah baru mengingat sesuatu. “Tolong ingatkan keluarga mu juga, mulai hari ini tidak akan ada transfer apa pun lagi.”
Wajah Rasti langsung berubah. “Mas...” suaranya tercekat kecil.
“Doni tetap tanggung jawabku,” potong Raka datar. “Tapi selain itu, urus saja sendiri.”
Pria di samping Rasti kembali tertawa kecil, kali ini terdengar sedikit dipaksakan.
“Yaelah, segitunya amat,” katanya sambil melirik Rasti. “Tenang sayang, urusan receh begitu gampang.”
Namun ketika tatapan Raka beralih pelan kepadanya, entah kenapa pria itu mendadak menghentikan tawanya sendiri.
Tatapannya terasa seperti seseorang yang sama sekali tidak menempatkan mereka sebagai sesuatu yang layak dipikirkan lagi.
Di dekat pintu, dua pengawal keluarga Pradipta tetap berdiri tanpa bergerak, sementara beberapa pelanggan mulai saling berbisik kecil, penasaran dengan suasana yang semakin sulit dijelaskan.
Raka menghela napas pendek lalu memalingkan tubuh sedikit. “Ayo, Jack,” ucapnya tenang. “Aku kehilangan selera minum kopi di sini.”
Jack langsung mengangguk singkat, meski sorot matanya masih dingin ke arah pria di samping Rasti. Rahangnya mengeras samar, jelas dirinya masih menahan keinginan untuk membalas setiap ucapan merendahkan yang sejak tadi terlontar pada tuan mudanya. Namun melihat Raka sudah berbalik tanpa minat sedikit pun untuk memperpanjang masalah, ia akhirnya ikut melangkah mengikuti di belakang.
Suasana di dalam kafe terasa ganjil, beberapa pelanggan yang sejak tadi memperhatikan perlahan kembali ke meja masing-masing, tetapi tatapan penasaran masih sesekali mengarah ke mereka.
Ada sesuatu dari sikap Raka yang membuat orang-orang sulit mengalihkan perhatian.
Rasti berdiri mematung di tempatnya, entah kenapa, punggung Raka yang perlahan menjauh terasa jauh lebih menyesakkan dibanding jika pria itu marah atau memakinya. Tidak ada lagi tatapan penuh harap, tidak ada kelembutan yang selama ini diam-diam selalu menunggunya pulang.
Yang ada hanya jarak, jarak yang terasa begitu asing dan semakin jauh.
“Mas... tunggu dulu.”
Suara itu keluar begitu saja sebelum Rasti sempat memikirkannya sendiri, langkah Raka berhenti sesaat, tetapi ia tidak langsung menoleh.
Rasti menggenggam jemarinya sendiri tanpa sadar, ada sesuatu yang terasa salah. Seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap akan selalu ada.
“Kamu serius soal semua ini?” tanyanya pelan, suaranya tidak lagi setajam tadi.
Raka akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk membuat sebagian wajahnya terlihat dari samping.
“Aku tidak pernah bercanda soal keputusan,” jawabnya tenang.
Kalimat itu membuat dada Rasti terasa sesak, di sisi lain, pria yang berdiri di dekatnya langsung mendecak kesal lalu merangkul bahunya lagi dengan sedikit lebih keras, seolah ingin menunjukkan sesuatu.
“Ngapain dipikirin?” katanya cepat sambil tertawa hambar. “Bukannya ini bagus? Kita bebas sekarang.”
Namun kali ini Rasti tidak langsung merespons, tatapannya masih tertuju pada Raka.
Jack yang memperhatikan semuanya hanya mendengus kecil sebelum membuka pintu kafe lebih dulu untuk Raka.
Dua pengawal keluarga Pradipta di luar segera berdiri lebih tegap ketika melihat tuan muda mereka keluar, hal kecil itu tidak luput dari perhatian pria di samping Rasti.
Alisnya sedikit berkerut. “Tunggu...” gumamnya pelan.
Tatapannya beralih pada motor hitam besar yang terparkir rapi di depan, lalu ke sosok dua pria berpakaian formal yang berdiri menjaga dengan sikap terlalu disiplin untuk disebut teman biasa.
Kerutan di dahinya semakin dalam. “Sejak kapan tukang kerja serabutan punya pengawal?” gumamnya lirih.
Namun sebelum pikirannya selesai menyusun kemungkinan, suara deru mesin Ducati kembali menggema di depan kafe.
Raka mengenakan helmnya dengan tenang, lalu menaiki motor tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang.
Jack melakukan hal yang sama di motor sebelah, beberapa detik kemudian, dua motor sport itu melaju meninggalkan tempat itu, diikuti mobil hitam yang bergerak perlahan dari belakang.
Rasti berdiri diam memandangi jalan yang mulai kembali ramai, entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa kosong dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Sementara pria di sampingnya masih menatap arah kendaraan itu pergi dengan ekspresi berubah samar.
“Motor itu...” gumamnya pelan. “Kan mahal banget.”
Rasti tidak menjawab, pikirannya justru dipenuhi sesuatu yang jauh lebih mengganggu.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km