NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Jeratan di Bawah Lampu Remang

Malam berikutnya, Adrian harus pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis mendadak selama tiga hari. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ditunggu-tunggu oleh Renata. Namun, ia tidak akan bergerak di dalam rumah Dirgantara. Ia akan memancing jalannya sendiri melalui dunia yang paling ia kuasai—dunia malam.

​Renata menghubungi Mami Sandra dan memberi tahu bahwa "Papillon" akan kembali ke Kupu-Kupu Bar hanya untuk satu malam ini saja. Ia tahu, Arsen Dirgantara sering mengunjungi kelab malam tersebut setelah penyamarannya terbongkar di mata Arsen meskipun Renata belum tahu kalau Arsen sebenarnya sudah mencurigai identitas gandanya.

​Pukul sebelas malam, suasana di Kupu-Kupu Bar berada di puncak keramaiannya. Musik jazz bertempo lambat mengalun seksi, memenuhi ruangan yang dipenuhi asap cerutu dan aroma parfum mahal.

​Renata berdiri di balik cermin ruang rias VIP, kembali mengenakan topeng renda hitamnya dan gaun sutra merah marun yang mengekspos punggung indahnya. Di balik topeng itu, matanya memancarkan kilat predator. Malam ini, ia tidak datang sebagai korban namun ia datang sebagai jeratan.

​"Papillon, Tuan Arsen Dirgantara sudah berada di Ruang VIP 3. Dia menunggumu," bisik seorang pelayan bar yang sudah diinstruksikan oleh Mami Sandra.

​Renata tersenyum dingin di balik topengnya. "Baik. Antarkan minuman terbaik ke ruangan itu."

​Renata melangkah keluar, menyusuri koridor remang-remang kelab malam dengan langkah kaki yang anggun dan berirama. Setiap pasang mata pria yang melewatinya menatapnya dengan penuh gairah, namun Renata mengabaikan mereka semua. Fokusnya hanya tertuju pada satu pintu kayu jati dengan nomor '3' berlapis perak.

​Begitu pintu dibuka, Renata melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi pendar lampu neon berwarna ungu dan biru. Arsen duduk di tengah sofa, memegang sebatang rokok yang menyala di tangannya, sementara dua orang pengawalnya berjaga di dekat pintu.

​"Selamat malam, Tuan Arsen yang Terhormat," sapa Renata dengan suara "Papillon" yang rendah, serak-serak basah dan penuh godaan. Ia berjalan mendekati meja, menuangkan wiski ke dalam gelas dengan gerakan lentik yang sangat memikat.

​Arsen tidak langsung menjawab. Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu menatap Renata dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan seringai licik yang membuat Renata merasa jijik di dalam hati. Pria itu memberi isyarat tangan kepada dua pengawalnya untuk keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat.

​Kini, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan yang kedap suara itu.

​"Lama tidak bertemu, Papillon," ujar Arsen, menekankan kata 'Papillon' dengan nada suara yang penuh intrik. "Kudengar kamu adalah kupu-kupu yang paling sulit ditangkap di bar ini. Bahkan sepupuku yang kaku, Adrian, sampai rela membayarmu mahal hanya untuk menemaninya malam itu."

​Renata duduk di sofa yang berseberangan dengan Arsen, menjaga jarak yang aman namun tetap terlihat intim. Ia menyilangkan kakinya yang jenjang, tersenyum misterius di balik topengnya. "Tuan Adrian adalah pria yang murah hati, Tuan Arsen. Tapi malam ini... saya dengar Anda secara khusus memesan saya. Apakah ada hal yang bisa saya bantu untuk memuaskan hasrat Anda?"

​Arsen tertawa lepas, suara tawa yang terdengar sangat berbisa di telinga Renata. Ia menaruh rokoknya di asbak, lalu memajukan tubuhnya ke arah Renata, menumpukan kedua tangannya di atas meja marmer yang memisahkan mereka.

​"Aku tidak butuh minuman, Papillon. Dan aku juga tidak butuh tubuhmu," bisik Arsen, matanya menyipit tajam menembus renda hitam topeng Renata. "Aku hanya ingin tahu satu hal... bagaimana rasanya menjalani dua kehidupan yang sangat berbeda? Di siang hari menjadi tikus perpustakaan yang polos di samping Adrian, dan di malam hari menjadi kupu-kupu bertopeng yang menggoda di barmu sendiri?"

​Seketika itu juga, senyuman di bibir Renata membeku. Seluruh pasokan udara di dalam dadanya seolah tersedot habis. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.

​‘Dia... dia sudah tahu!’ batin Renata dalam kepanikan yang luar biasa.

​Namun, sebelum Renata sempat mundur atau membela diri, Arsen tiba-tiba bergerak dengan sangat cepat. Ia meraih pergelangan tangan Renata dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga membuat Renata memekik pelan karena sakit. Arsen menarik tubuh Renata mendekat ke arahnya melewati meja marmer.

​"Kamu pikir kamu bisa membohongiku dengan kacamata tebal dan rok panjangmu itu, Renata?" desis Arsen di depan wajah Renata, ekspresinya berubah menjadi sangat kejam dan penuh kemenangan. "Aku sudah tahu siapa kamu sejak pesta perjamuan bisnis itu. Tatapan matamu yang penuh kebencian saat melihatku... itu adalah tatapan mata yang sama dengan jalang sialan bernama Maya, kakak perempuanmu yang tewas gantung diri setahun lalu!"

​Mendengar nama kakaknya dihina sebagai 'jalang', benteng pertahanan Renata runtuh digantikan oleh amarah yang meledak-ledak. Ia tidak lagi peduli pada penyamarannya. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mencoba mencakar wajah Arsen, namun Arsen dengan mudah menangkap tangan itu dan menguncinya di atas meja.

​"Lepaskan aku, bajingan!" teriak Renata, matanya memancarkan kilat kebencian yang murni. "Kamu yang membunuh Kak Maya! Kamu menyiksanya hingga dia memilih untuk mati! Aku akan memastikan kamu membusuk di penjara!"

​Arsen tertawa sinis, menatap Renata seolah-olah melihat seekor semut yang mencoba melawan gajah. "Membuktikannya? Dengan apa? Kamu tidak punya bukti apa pun, Renata. Polisi ada di bawah kendali uang keluargaku. Dan sekarang... setelah kamu masuk ke dalam rumah Adrian sebagai istri kontraknya, kamu justru memberikan lehermu sendiri ke dalam perangkapku."

​Arsen mendekatkan bibirnya ke telinga Renata, membisikkan ancaman yang membuat darah Renata membeku. "Jika Adrian tahu bahwa istri polos yang dia sewa adalah wanita malam yang sengaja masuk ke rumahnya untuk menghancurkan keluarganya, menurutmu apa yang akan dilakukan oleh CEO dingin itu padamu? Dia akan menghancurkanmu bahkan sebelum aku sempat menyentuhmu."

​Renata terengah-engah, air mata kemarahan mengalir di balik topeng rendanya. Ia terjebak jeratan yang ia pasang malam ini justru berbalik mencekik lehernya sendiri di bawah lampu remang Kupu-Kupu Bar.

​Namun, di tengah keputusasaan Renata dan tawa kemenangan Arsen, pintu Ruang VIP 3 tiba-tiba didobrak dari luar dengan hantaman yang sangat keras hingga engselnya jebol.

​BRAKK!

​Sosok tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang tampak sedikit berantakan akibat perjalanan jauh berdiri di ambang pintu. Aura penindasan dan kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat hingga membuat seluruh ruangan seketika mendingin.

​Pria itu adalah Adrian Dirgantara. Perjalanan bisnisnya dibatalkan di tengah jalan karena firasat buruk yang mengusiknya sejak sore tadi.

​Mata elang Adrian langsung tertuju pada pergelangan tangan Renata yang dicengkeram kuat oleh Arsen di atas meja. Rahang Adrian mengeras, dan tangannya terkepal begitu kuat hingga urat-uratnya menonjol kemerahan.

​"Lepaskan tanganmu dari istriku, Arsen," suara bariton Adrian berdentum rendah penuh ancaman kematian, membuat suasana di dalam Ruang VIP 3 seketika berubah menjadi medan perang yang siap meledak kapan saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!