Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Berharap
“Kau tidak bisa memaksa orang jatuh cinta padamu, Rei,” katanya, suaranya lebih rendah sekarang. Bukan karena takut, tapi karena kalau ia bicara terlalu keras, suaranya akan bergetar. Lagipula ia belum dapat menerjemahkan rasa debar ini terjadi karena amarah atau ia mulai jatuh cinta.
Rei tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Aku tidak memaksa. Aku hanya tidak memberi pilihan lain.”
“Kau memaksa ku?! Gila.” Desis Alin nyaris tak terdengar, Ia beranjak pergi, berniat keluar dari ruangan itu.
Tapi sebelum kakinya benar-benar melangkah, pergelangan tangannya tertahan. Sentuhan Rei ringan, hampir ragu-ragu. Seolah kalau ia menggenggam lebih erat, Alin akan pecah. Sial, ia kali ini entah kenapa tidak dapat menahan hasratnya untuk memiliki wanita itu. Tidak disaat banyak yang menginginkannya.
“Kalau kau pergi sekarang,” suara Rei rendah di belakangnya, “kau akan menghabiskan malam ini dengan memikirkanku lagi.” Teringat oleh Rei bagaimana sikap Alin dibalkon kamarnya saat pria itu menghubunginya di tengah malam. Gugup dan ragu namun ada sepercik rasa senang yang berusaha wanita itu sembunyikan.
Alin berhenti.
Sial. Dia benar.
Ia menutup mata sebentar, menarik napas. Ketika ia berbalik, ekspresinya sudah dipasang lagi—dingin, tajam.
“Lepaskan.”
Rei tidak langsung melepaskan. Ia menatap mata Alin, mencari retakan di balik topeng itu. Dan ia menemukannya. Di sana, di kedalaman iris cokelat itu, ada kerinduan yang tidak diakui.
“Baik,” gumam Rei akhirnya, dan tangannya jatuh.
Tapi sebelum Alin sempat merasa menang, Rei menambahkan.
“Tapi ingat, Alin. Setiap kali kau lari, aku akan ada di tempat kau berhenti.”
Alin mendengus, melewatinya dengan langkah cepat.
Namun di dalam hati, ia tahu, ia tidak lari dari Rei.
Ia lari dari dirinya sendiri yang hampir mengangguk. Mengiyakan semua ucapakan pria itu.
Di belakangnya, Rei tidak mengejarnya hanya terpaku menatap langkah Alin yang akan segera meninggalkan kediamannya. Matanya tidak berkedip.
Hujan semakin deras. Alin memasuki mobilnya. Rei sejak awal terlihat keras kepala dan suka memaksanya, tapi setidaknya pria itu tahu batasnya.
Dari lantai atas kediamannya, Rei melihat dengan tajam mobil yang dikendarai Alin. Wanita itu pergi, ditengah percakapan yang seakan menggantung.
“Kau tidak mengejarnya Tuan?” Tanya Yuchen.
“Tidak. Minta seseorang mengikutinya. Katanya dia tidak akan kembali ke Linggu, cari tahu dia akan bertemu dengan siapa. Lindungi dia jika terjadi sesuatu.” Perintahnya.
...****************...
“Hai…” Sapa ceria seorang pria.
Lu Minghan. Direktur busuk yang membuat Alin berada di negara Xinglan, direktur brengsek yang membuangnya hanya karena ia menolak cinta pria itu.
“Katakan apa keperluanmu, aku tidak memiliki waktu banyak.” Ujarnya langsung menarik sebuah kursi tepat dihadapan pria itu.
“Kenapa tanganmu?” Tanyanya saat melihat luka dipunggung tangan Alin.
Alin menarik langsung tangannya.
“Kau masih marah?” Tanya Lu kembali.
Wanita itu hanya tersenyum sinis.
“Aku terbang sejauh 8 jam untuk menemui mu.”
“Dan aku tidak mengharapkan itu.” Ketus Alin.
“Aku tahu, karena aku yang berharap disini.” Ujarnya menyesap americano hangatnya, “Aku tidak memaksamu untuk masalah perasaan ku lagi. Tapi aku minta kau cabut perkara yang menjatuhkan ku.”
Pria yang dulu berdiri dipuncak kini di depak dari keluarga besar Lu karena penyalahgunaan kewenangan dan pengalihan dana pengoperasian rumah sakit. Setelah dilakukan audit, ia terbukti salah dan dikirim ke wilayah perbatasan. Nama besarnya tinggal sejarah, jabatannya tinggal abu.
Tapi itu semua bukan karena perbuatan Alin, mungkin wanita itu keji. Tapi ia tak akan mengusik seseorang hingga sejauh itu.
“Jadi kau mengira itu semua karena perbuatan ku tuan Lu?” Alin bersandar, menyilangkan kedua tangannya, “Ternyata kau menilaiku terlalu tinggi.”
“Hanya kau yang mengetahui draft itu.” Dingin Lu, mereka sempat dekat dan memahami satu sama lain. Hingga tanpa sengaja Alin membaca draft dokumen yang terkirim begitu saja di email Lu saat Alin sedang menggunakan laptop pria itu.
Alin tertawa pendek. Dingin.
“Aku memang membencimu saat ini. Tapi aku tidak akan mendepak seseorang begitu saja.” Ungkapan Alin seakan tertuju pada perbuatan Lu padanya.
“Perkaramu jatuh karena kau terbukti salah. Dan kalau kau datang menemuiku berharap aku akan menyelamatkanmu— kau salah orang. Aku tidak memiliki kapabilitas atas masalahmu. Aku hanya dokter biasa tuan Lu.”
Dokter biasa.
Dua kata itu jatuh seperti palu.
Lu membuka mulut, ingin membantah, tapi tidak ada kata yang keluar. Audit itu bersih. Bukti itu nyata. Tidak ada nama Alin di berkas mana pun.
Ia hanya tidak terima kalau kejatuhannya terjadi tepat setelah Alin menolaknya.
“Kau masih sama,” gumam Lu akhirnya. Pahit. “Dingin. Rasional. Tidak pernah membiarkan perasaan mengacaukan logika.”
Alin mengangkat satu alis.
“Kau baru sadar sekarang? Sayang sekali.”
Ia meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk minuman yang tidak disentuhnya, lalu berdiri. Hujan di luar masih turun, matahari mulai terbenam berganti malam pekat. Jalanan Xinglan basah dan sepi, cocok untuk pembicaraan yang tidak pernah seharusnya terjadi.
Lu tidak menghentikannya. Ia tahu, kalau Alin sudah berbalik, itu artinya percakapan selesai.
Tapi tepat sebelum jarak Alin semakin jauh, suara Lu menghentikan langkahnya.
“Alin. Perasaanmu sungguh dingin.” Lirihnya.
Alin tidak menoleh.
Ia hanya menjawab pelan, cukup untuk dirinya sendiri, “Karena sejak awal aku tidak memiliki perasaan padamu.”
Tinggal Lu sendiri di dalam, dengan americano yang sudah dingin dan kenyataan bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk berharap.
Kepala Alin begitu berat di hari itu. Pikirannya penuh menebak, entah perbuatan siapa yang dapat membocorkan perkara Lu. Hingga pria itu sampai sejauh ini menemuinya.
Dan tak terlintas jika semua itu adalah perbuatan pangeran Yan, semua yang menjadi penghalang dan menyusahkan hidup Alin, akan menghadapi murka sang pangeran.
Disisi lain, kediaman pribadi pangeran Yan. Rei tengah disibukkan dengan tugas kenegaraannya.
“Dia bertemu dengan direkturnya? Lu Minghan dia di negara Xinglan?” Tanya Rei memastikan saat Yuchen memberikan informasi. Ia meletakkan tabletnya, seakan otaknya berpikir penuh hal apa yang membuat Alin masih mau bertemu dengan pria itu.
“Ya, Tuan. Tuan Lu memesan sebuah ruang private untuk bertemu dengannya. Tapi kemungkinan mereka bertengkar, karena setelah itu dokter Yi keluar dengan marah.”
Yuchen menunggu perintah selanjutnya. Tapi yang ia lihat adalah Pangeran Yan hanya terpaku menatap photo yang dikirim oleh pengawal pribadi pangeran. Alin keluar dari cafe tersebut dengan raut marah namun ada kecemasan didalamnya.
Rei mengepalkan tangan di bawah meja.
Rencana itu harusnya bersih. Lu hancur, Alin aman, dan Rei yang ada di belakang semua itu tidak akan pernah ketahuan.
Tapi Alin pergi menemui Lu.
Alin marah.
Alin sekarang pasti curiga.
“Yuchen,” suara Rei rendah, hampir berbisik. “Hapus semua jejak yang mengarah ke nama ku di laporan itu. Sisa bukti, serahkan ke Lu. Biar dia pikir itu murni balas dendam Alin.”
Yuchen mengerutkan dahi. “Tuan, kalau begitu dokter Yi—”
“Akan membenciku lebih dalam,” potong Rei. Ia tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. “Bagus. Lebih baik dia membenciku karena salah paham, daripada dia tahu aku yang menjebak Lu untuk melindunginya.”
Ia berdiri, menyerahkan tablet. Pekerjaannya sudah selesai.
“Alin pikir dia bisa melindungi semua orang dengan prinsipnya. Tapi dunia ini tidak bekerja begitu. Kalau aku tidak menjatuhkan Lu lebih dulu, Lu akan menjatuhkan Alin. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Yuchen menunduk. “Lalu, bagaimana dengan dokter Yi, tuan?”
Rei diam. Lama.
Kemudian ia menjawab pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri:
“Biarkan dia marah. Biarkan dia membenciku. Asal dia tetap berdiri di tempat yang aman… aku bisa menanggung semua murkanya sendiri.”
Ia tak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu. Saat kejadian kapal itu. Alin dengan nekat memilih tenggelam bersama para korban dibandingkan nyawanya sendiri, ia mengabaikan luka dikakinya dan rasa takutnya. Hingga dokter Gu murka dengan sikapnya, “Tidak semua dapat kau selamatkan.”
Ungkapan dokter Gu kala itu, yang sama dengan pikiran Rei saat ini