NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Penolakan

Pagi belum sepenuhnya menyingsing, tapi Naura sudah terjaga. Bukan karena ia bangun, tapi karena ia sama sekali tidak tidur.

Matanya terbangun merah, bantalnya lembap oleh air mata yang tak berhenti mengalir semalaman. Ia melihat ke langit-langit kamarnya, memandang keranda kristal lampu gantung yang biasa membuatnya bangga kini terasa seperti ornamen penjara.

Dinding kamar penuh poster art gallery, rak buku dipenuhi novel-novel romance dan foto-fotonya bersama Cipa, vas bunga segar di meja rias semuanya adalah dunianya. Dunia yang ia bangun sendiri, dunia yang ia cintai dan semua itu akan direnggut besok.

Ting!

Ponsel di samping bantalnya bergeta. Naura melirik layar.

Cipa: Lo udah bangun belum? Gue baru mimpi lo nikah sama ustaz trus lo pakai jubah tebal kayak hantu. SCARY BANGET. Hahaha.

Naura melempar ponselnya ke ujung kasur. Tidak ada humor yang bisa menyelamatkannya pagi ini.

Ia bangkit, berjalan ke arah meja rias, dan menatap dirinya di cermin. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, matanya bengkak. Ia memakai hair tie sembarangan, lalu berjalan ke balkon kamar.

Udara pagi Jakarta menempel di kulitnya, dingin dan lembap. Ia menatap taman bunga di halaman belakang rumah, mawar merah, tulip, dan lavender yang ia tanam sendiri dua tahun lalu. Bunga-bunga itu adalah pelariannya. Saat dunia terasa terlalu berisik, ia cukup duduk di antara mereka, dan suara bising itu menguap.

"Gue bakal ninggalin kalian," bisik hatinya. "Maaf."

Terdengar ketukan halus di pintu.

"Naura?" Suara Diana lembut dari luar. "Sarapan, Sayang. Papa sudah menunggu di meja makan."

Naura tidak menjawab. Ia mendengus pelan, lalu membuka pintu dengan wajah yang ditegas sekuat tenaga.

"Aku tidak lapar."

Diana menatap putrinya dengan raut wajah penuh kasihan. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu Naura, tapi gadis itu menghindar.

"Jangan sentuh aku, Mama," kata Naura, suaranya datar. "Kalian sudah menjualku. Jangan pura-pura kasihan sekarang."

Diana terdiam, tangannya tergantung di udara. Bibirnya bergetar, tapi ia tidak membantah. Ia tahu, putrinya berhak marah.

Naura berjalan melewati ibunya, menuruni tangga dengan langkah berat. Setiap anak tangga terasa seperti langkah menuju ruang eksekusi.

Di ruang makan, Mahendra sudah duduk di kepala meja. Di hadapannya, piring bacon dan scrambled egg utuh belum tersentuh. Ia membaca koran, tapi mata jelas tidak fokus pada huruf-huruf cetak.

Naura menarik kursi dengan kasar, duduk tanpa berkata. Pembantu rumah tangga segera menghidangkan makanan, tapi Naura hanya menatap piringnya seperti melihat racun.

Lama ruangan itu sunyi. Hanya suara sendok berdenting dan detik jam dinding.

"Aku menolak," ucap Naura akhirnya, memecah keheningan tanpa menatap ayahnya. "Aku tidak akan menikah dengan Gus Azzam. Tidak akan."

Mahendra melipat korannya perlahan, meletakkannya di samping piring. Ia menatap putrinya dengan tatapan yang tidak lagi memohon, melainkan memerintah.

"Kamu tidak punya pilihan, Naura."

"Aku punya pilihan!" Naura menohok meja, membuat gelas jus bergeta. "Ini hidupku, Papa! Tubuhku, masa depanku, kebahagiaanku! Kalian tidak berhak—"

"BERHENTI!" Mahendra menghentak, suaranya menggema di ruang makan. Wajahnya memerah, urat di lehernya menonjol. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Naura melihat ayahnya marah sungguhan.

Naura terkejut. Ia terdiam, bibirnya sedikit bergetar.

Mahendra menarik napas, berusaha menahan emosinya. Ia meraih gelas air, minum perlahan, lalu meletakkannya kembali.

"Dengarkan Papa, Naura," suara Mahendra kini kembali terkendali, tapi ada getar yang tak bisa ia sembunyikan. "Bisnis Papa sedang di ambang jurang, Rangga Prasetyo rival Papa sedang berusaha menghancurkan segalanya. Ia punya koneksi ke pejabat, ia punya media, ia punya pengacara. Jika Papa jatuh, kita kehilangan semuanya. Rumah ini, mobil, kuliahmu, hidupmu..."

"Kalau begitu cari jalan lain!" Naura membantah, meski suaranya kini lebih pelan.

"Tidak ada jalan lain!" Mahendra menekankan setiap kata. "Keluarga Al-Farizi adalah satu-satunya tameng yang kita punya. Pesantren mereka punya pengaruh politik yang tidak bisa disentuh Rangga. Pernikahan ini akan mengikat keluarga kita dengan keluarga paling dihormati di negeri ini. Tidak ada yang berani menyentuh kita jika nama Al-Farizi berada di belakangmu."

Naura menatap ayahnya lama-lama. Matanya terasa perih, tapi ia menolak menangis lagi di depan pria ini.

"Jadi ini transaksi bisnis," bisiknya pahit. "Aku adalah komoditas."

"Ini pengorbanan," Mahendra membalas, matanya redup. "Dan Papa minta maaf karena harus memintamu melakukan ini."

Naura berdiri. Kakinya terasa berat, tapi ia memaksa dirinya berjalan. Saat tangannya memegang pinggir pintu ruang makan, ia menoleh separuh badan.

"Kalau Papa memaksaku, aku akan membencimu seumur hidupku."

Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.

.

.

.

Pukul sepuluh pagi, Naura duduk di corner kesayangannya di Cafe Lumiere kafe aesthetic di kawasan Selatan Jakarta yang menjadi markasnya sejak SMA. Di hadapannya, iced latte dengan matcha latte yang belum disentuh. Di tangannya, buku harian berkulit merah muda yang halamannya masih kosong.

Ia tidak bisa menulis, tidak bisa berpikir. Hanya bisa menatap jendela cafe dengan tatapan kosong.

Tidak lama, kursi di depannya ditarik. Aroma parfum citrus yang terlalu kuat menghantam hidung Naura sebelum ia melihat siapa yang datang.

Cipa Rahmania.

Sahabatnya itu mendarat dengan oversized hoodie, celana jeans, dan topi baseball yang dipakai terbalik. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya tanpa makeup, tapi senyumnya selebar spread buffet.

"Brought reinforcements!" Cipa menjatuhkan sebuah paper bag berisi croissant dan eclair cokelat ke meja. "Gue bawa gula. Karena lo butuh gula. Dan juga karena gue mau dengerin cerita lo langsung dan uncut."

Naura hanya mendengus.

Cipa tidak mempedulikan respons dingin itu. Ia menggigit croissant-nya dengan lahap, lalu menatap Naura dengan mata penasaran yang berkilat.

"Jadi," Cipa menelan, "ceritanya gimana? Lo dijodohin sama Gus Azzam Al-Farizi. Itu loh, yang viral di TikTok beberapa bulan lalu karena ceramahnya. Gue lupa caption-nya apa... ah, 'Gus tampan yang bikin jamaah...'? No, wait—"

"Cipa!" Naura memotong, wajahnya berkerut jijik. "Serius nih gue lagi nangis, lo malah roasting?"

"Yaelah, Nau, gue coba cheer lo up!" Cipa tertawa, tapi kemudian ekspresinya berubah jadi lebih serius. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap sahabatnya dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan—tatapan yang benar-benar peduli. "Gue serius sekarang. Lo mau apa? Lo seriusan nggak mau?"

"Tentu saja gue nggak mau!" Naura mencondongkan badan, suaranya berdesi. "Cipa, dia itu... Gus. Anak kyai. Pewaris pesantren. Hidupnya penuh aturan, disiplin, jam 4 pagi udah bangun, baca kitab seharian, ngomongnya pakai bahasa halus, mikirnya pakai kaidah fiqih. Dan gue? Gue itu... gue ini."

Naura menunjuk dirinya sendiri. Crop top di bawah blazer oversized, celana jeans ripped, rambut tergerai, kutek berwarna merah marun.

"Gue ini gadis modern, suka café, suka baca novel romance, suka nongkrong sampai malam, suka foto bunga, pakai makeup, pakai fashion yang gue suka. Gue nggak bisa hidup di lingkungan yang setiap detik ngatur gue. gue nggak bisa jadi istri ustaz!"

Cipa mengunyah pelan, memproses kata-kata sahabatnya. Lalu ia bertanya, "Lo pernah ketemu dia nggak?"

Naura menghentikan gerakan. "Siapa? Gus Azzam?"

"Iya, siapa lagi? Deddy Corbuzier?"

"Belum," Naura menghela napas. "Tapi foto-fotonya aku lihat. Dan kayaknya dia tipe orang yang mukanya kayak patung Yunani tapi personality-nya kayak guru fiqih jaman ice age. Dingin. Kaku.."

"Hmm," Cipa mengetuk-ngetuk jari di meja. "Tapi lo tahu nggak, kadang orang yang kelihatan dingin itu soft spoken banget di dalam. Trope 'ustaz dingin yang sebenarnya romantis' itu real loh di novel-novel."

"Ini bukan novel, Cip!" Naura memukul meja pelan. "Ini hidupku! Dan kalau gue menikah dengan dia, gue nggak bisa... gue nggak bisa jadi diriku lagi."

Cipa terdiam sejenak. Ia meraih tangan Naura, menggenggamnya erat.

"Nau," ucapnya lembut, untuk sekali ini tanpa humor. "Gue nggak akan bilang 'coba aja dulu' atau 'mungkin dia bagus kok', karena gue tahu lo merasa hiduplo dirampas. Tapi gue mau bilang satu hal, lo orang terkuat yang gue kenal. Lo keras kepala, lo pembangkang, tapi lo juga orang yang paling berhati lembut. Apapun yang terjadi, lo nggak akan pernah kehilangan diri lo sendiri. Promise."

Mata Naura kembali berair. Ia memegang tangan Cipa, mengangguk pelan.

"Tapi gue tetap nggak mau nikah sama dia," bisik Naura.

"Tentu saja," Cipa tersenyum jahil. "Karena kalau lo nikah sama dia, gue ship kalian hard. Dan gue nggak mau guilty pleasure gue terlalu obvious."

"CIPA!"

Keduanya tertawa, dan untuk sesaat sangat singkat beban di dada Naura terasa sedikit lebih ringan.

.

.

.

Sore harinya, Naura pulang ke rumah dengan hati yang masih berat tapi tekad yang sudah bulat.

Ia akan menolak.

Bukan dengan lari. Ia akan menghadapi orang tuanya, berargumentasi, membuktikan bahwa pernikahan ini adalah ide buruk. Ia punya argumen logis, ia tidak cocok, ia tidak siap, dan Gus Azzam pasti juga tidak ingin istri seperti dirinya.

Tapi saat ia membuka pintu rumah, semua rencananya hancur berantakan. Di ruang tamu, duduk dua pria. Yang pertama adalah ayahnya, Mahendra, yang wajahnya tegang seperti batu. Yang kedua...

Naura berhenti di ambang pintu, napasnya tercekat.

Pria itu duduk dengan postur sempurna, punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia memakai koko putih bersih dan celana hitam yang rapi, sorban putih melingkar di kepalanya dengan presisi yang tak sempat satu pun lipatan salah. Wajahnya... Ya Tuhan.

Foto-foto di internet tidak mempersiapkan Naura untuk ini. Kulitnya sawo matang pucat, rahangnya tegas seakan diukir dari batu vulkanik, hidungnya mancung tajam, dan matanya, matanya yang hitam pekat seperti malam tanpa bintang, menatap Naura dengan ketenangan yang mengganggu.

Gus Azzam Al-Farizi.

Ia bahkan lebih tampan dari casting drama Korea mana pun. Tapi auranya bukan idol K-Pop. Auranya adalah... ketenangan. Seperti masjid di sepertiga malam. Seperti hujan di atas atap. Seperti sajadah yang masih hangat dan itu justru membuat Naura merasa terancam.

"Ahu... Assalamu'alaikum," Azzam mengangguk pelan, suaranya bariton yang merdu, terdengar seperti getaran bass yang menyentuh dada Naura langsung.

Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri membeku, matanya membelalak, jantungnya berdebar liar bukan karena kagum, api karena panik. "Kenapa dia di sini?! Kenapa sekarang?!"

Mahendra berdiri, membersihkan tenggorokannya. "Naura, Gus Azzam dan ayahnya datang untuk..."

"Acara lamaran, Naura," sambung Kyai Hanan yang duduk di sofa sebelah, tersenyum hangat. "Kami datang untuk melamarmu."

Dunia Naura berhenti berputar.

Ia menatap Gus Azzam dengan mata terbelalak, dan pria itu menatapnya kembali dengan tatapan yang tak terbaca. Tenang. Sabar. Seperti menunggu badai lewat.

Tapi Naura bukan badai yang bisa lewat dengan diam.

"Dengan segala hormat," Naura mengatupkan kedua tangannya, suaranya bergetar tapi berani, "aku menolak."

Ruangan senyap.

Ayahnya memucat. Ibunya menutup mulut. Kyai Hanan mengerutkan dahi dan Gus Azzam?

Pria itu hanya menatap Naura tanpa reaksi, lalu untuk kejutan semua orang sudut bibirnya sedikit terangkat. Senyum itu bukan senyum mengejek. Bukan senyum marah. Tapi senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

Naura menelan ludah. Jantungnya berdebar tak karuan. "Oh tidak," bisik batinnya. "Orang ini bahaya."

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!