Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
Matahari bergerak menuju puncaknya, memanggang alun-alun Kota Daun Musim Gugur dengan panas yang menyengat. Namun, atmosfer di dalam arena jauh lebih mendidih daripada cuaca di atas kepala mereka.
Babak utama turnamen berlangsung dengan tempo yang sangat cepat. Tiga puluh dua peserta perlahan gugur, menyisakan delapan orang untuk babak perempat final, dan tak lama kemudian, empat orang melaju ke babak semi-final.
Sepanjang pertandingan tersebut, dua nama menjadi pusat perhatian mutlak dari puluhan ribu pasang mata: Wang Xue'er dan Lin Chen.
Wang Xue'er menunjukkan dominasi absolutnya. Setiap kali ia naik ke atas ring, lawannya bahkan tidak sempat mengeluarkan senjata. Hanya dengan satu lambaian tangannya yang ramping, Qi berelemen es miliknya akan membekukan lantai arena dan menyegel lawannya dalam balok es, membuat mereka menyerah tanpa syarat. Kecantikan dan kekuatan yang mematikan itu membuat para pemuda di kota memandangnya seperti dewi yang turun dari kahyangan.
Di sisi lain, Lin Chen menampilkan gaya pertarungan yang benar-benar bertolak belakang.
Ia tidak memancarkan elemen yang indah. Ia bahkan tidak menggunakan teknik gerakan yang elegan. Setiap lawan yang dihadapinya—tak peduli mereka berada di Tingkat 4 maupun puncak Tingkat 5—berakhir dengan nasib yang sama: diterbangkan keluar arena hanya dengan satu tamparan atau satu pukulan biasa.
Pedang raksasa di punggungnya tetap tertidur pulas di dalam sarung kulitnya, seolah-olah tidak ada satu pun orang di arena ini yang pantas membuatnya menghunus senjata.
"Babak Semi-Final Pertama!" wasit berteriak dari tengah arena, suaranya terdengar bergetar karena antusiasme. "Lin Chen dari Keluarga Lin, melawan Zhao Feng dari Keluarga Zhao!"
Mendengar pengumuman itu, riuh penonton seketika teredam. Semua orang menahan napas. Ini adalah pertarungan antar dua jenius dari klan besar!
Zhao Feng, yang duduk di area istirahat, merasakan jantungnya mencelos. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di dahinya. Kepercayaan dirinya yang setinggi langit di Paviliun Harta Surgawi kini telah menguap tanpa sisa setelah melihat sepupunya yang berbadan raksasa dihancurkan dengan satu pukulan.
"Feng'er, apa yang kau takutkan?!" Patriark Zhao, Zhao Wuji, mendengus dingin melihat cucunya gemetar. "Kekuatan fisiknya memang besar, tapi kau berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6! Gunakan kelincahanmu, jangan beradu kekuatan murni. Gunakan Teknik Pedang Bayangan Angin kebanggaan keluarga kita, dan potong urat nadinya!"
Mendapat dorongan dari kakeknya, Zhao Feng menggertakkan gigi. Benar! Lin Chen hanya memiliki tenaga kasar! Selama ia menjaga jarak, kekuatan pukulan Lin Chen tidak akan berguna!
Zhao Feng melompat ke atas arena, menghunus pedang perak bersinar yang merupakan Senjata Spiritual tingkat rendah. "Lin Chen! Jangan kira kau bisa beruntung terus-menerus! Hari ini, di depan semua orang, aku akan menebus penghinaan di Paviliun Harta Surgawi!"
Lin Chen berjalan menaiki tangga dengan ritme yang lambat dan tenang. Ia berhenti sepuluh langkah dari Zhao Feng, menatap pemuda flamboyan itu dengan sebelah mata.
"Menjaga jarak? Kau pikir itu akan menyelamatkan nyawamu?" Lin Chen terkekeh pelan, suaranya sangat meremehkan. "Baiklah. Karena kau sangat membanggakan pedang kecilmu itu... akan kutunjukkan padamu apa arti 'Pedang' yang sesungguhnya."
Perlahan, Lin Chen mengangkat tangan kanannya melewati bahu, menggenggam gagang Pedang Berat Penelan Bintang.
Sring!
Tali kulit pengikatnya terlepas. Saat pedang hitam legam tak bersarung itu ditarik dan ujungnya menyentuh lantai arena...
BOOOM!
Lantai arena yang terbuat dari batu granit kokoh langsung retak dan ambles sedalam satu jengkal di bawah ujung pedang tersebut! Getaran berat menyebar ke seluruh alun-alun, membuat hati semua orang ikut bergetar.
Hanya dengan diletakkan, pedang itu sudah menghancurkan lantai! Seberat apa besi hitam itu?!
Mata Zhao Feng melebar ketakutan. Tekanan yang dipancarkan oleh Lin Chen dan pedang rongsokan itu tiba-tiba berubah, menekan paru-parunya seolah ada gunung yang tak kasat mata menimpanya.
"M-Mati kau! Sabetan Bayangan Angin!"
Karena panik, Zhao Feng tidak berani menahan diri. Ia membakar seluruh Qi Tingkat 6 miliknya. Pedang peraknya bergetar dan membelah menjadi belasan bayangan pedang yang terbuat dari angin tajam, melesat dari berbagai arah untuk mencabik-cabik Lin Chen. Ini adalah teknik tingkat menengah yang paling sulit dikuasai di Keluarga Zhao.
Lin Chen berdiri tak tergoyahkan di tengah badai pisau angin tersebut.
"Teknik murahan yang penuh dengan celah."
Ia mengangkat Pedang Berat Penelan Bintang dengan satu tangan, sebuah pemandangan yang terlihat sangat tidak masuk akal mengingat beratnya yang mencapai 500 kilogram. Ia tidak menyalurkan energi spiritual ke dalamnya, hanya murni kekuatan fisik.
Alih-alih menggunakan bilah pedangnya yang tumpul untuk menebas, Lin Chen memutar pergelangan tangannya, menggunakan sisi datar dari pedang raksasa itu seperti sebuah tameng besar, dan mengayunkannya dengan kejam ke arah Zhao Feng yang sedang melesat maju.
WUUUSH!
Ayunan pedang seberat itu merobek udara dengan suara ledakan sonik yang menyakitkan telinga. Gaya sentrifugal dari ayunan tersebut menciptakan badai angin yang seketika menghancurkan seluruh bayangan pedang milik Zhao Feng tanpa sisa!
"T-Tidak mungkin—!"
Sebelum Zhao Feng bisa mengubah arahnya, sisi datar pedang hitam raksasa itu menghantam tubuhnya dengan telak.
KRAAAK! PRANG!
Pedang perak Senjata Spiritual yang dibanggakan Zhao Feng hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh begitu bersentuhan dengan Pedang Penelan Bintang.
Detik berikutnya, tubuh Zhao Feng terhantam telak. Suara tulang rusuk yang patah terdengar renyah di seluruh arena. Tuan Muda Keluarga Zhao itu memuntahkan darah seperti air mancur, tubuhnya tertekuk membentuk huruf 'C', dan ia terpelanting ke udara layaknya bola meriam yang ditembakkan.
Zhao Feng melayang melintasi alun-alun dan menabrak pilar batu di tribun kehormatan, tepat di bawah kaki Tuan Kota. Ia langsung pingsan dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.
Satu pukulan kapak, satu hantaman pedang datar. Kakak beradik jenius dari Keluarga Zhao musnah dalam hitungan detik.
Kesunyian mematikan kembali menguasai alun-alun. Bahkan Patriark Zhao Wuji terlalu terkejut untuk langsung bereaksi.
Lin Chen perlahan memanggul kembali pedang raksasanya ke bahu. Ia melirik Tuan Kota yang masih duduk kaku di atas tribun.
"Maaf, tanganku sedikit tergelincir," ucap Lin Chen datar, seolah ia baru saja tak sengaja memecahkan piring, bukan menghancurkan masa depan penerus Keluarga Zhao.
Wasit menelan ludah dengan susah payah, mengusap keringat dingin di lehernya. "P-pemenang, Lin Chen dari Keluarga Lin! Dia berhak melaju ke Babak Final!"
Alun-alun akhirnya meledak dalam sorakan gila. Nama Lin Chen diteriakkan oleh ribuan orang. Bagi mereka, menyaksikan kekuatan yang begitu absolut, brutal, dan lugas adalah hiburan paling memabukkan.
Di tribun Keluarga Lin, Lin Zhentian tidak bisa lagi menutupi senyum lebarnya. Ia bahkan melirik ke arah Patriark Keluarga Wang dengan tatapan mengejek.
Wang Teng, di sisi lain, meremas lengan kursinya hingga hancur berkeping-keping. "Hanya kekuatan kasar! Xue'er pasti bisa membekukan monyet barbar itu!"
Tak lama kemudian, pertandingan semi-final kedua berakhir dengan cepat. Sesuai prediksi, Wang Xue'er membekukan lawannya dalam tiga tarikan napas tanpa harus berkeringat.
Kini, matahari mulai condong ke barat, mengubah langit menjadi jingga keemasan. Arena yang retak akibat pedang Lin Chen telah dibersihkan secara ala kadarnya.
Wasit melangkah ke tengah arena dengan suara lantang yang mengandung Qi, memastikan seluruh alun-alun mendengarnya.
"Tiba saatnya untuk pertandingan pamungkas kita! Babak Final Turnamen Kota Daun Musim Gugur!"
Wasit menunjuk ke dua sisi arena.
"Di sisi kiri, jenius nomor satu kita yang telah diakui oleh Akademi Bintang Jatuh, Wang Xue'er dari Keluarga Wang!"
"Di sisi kanan, kuda hitam terdahsyat tahun ini, pengguna pedang berat, Lin Chen dari Keluarga Lin!"
Saat kedua nama itu dipanggil, seluruh penonton terdiam dalam antisipasi. Semua orang di kota ini tahu sejarah di antara mereka berdua—dari perjodohan yang diatur, status sampah dan jenius yang terbalik, hingga insiden pembatalan sepihak dan "Surat Pemutusan" yang menghebohkan.
Ini bukan lagi sekadar perebutan juara pertama. Ini adalah pertempuran untuk mempertahankan harga diri dan membuktikan siapa yang sesungguhnya layak menginjak siapa.
Wang Xue'er melayang naik ke atas arena dengan keanggunan seorang dewi es. Jubah putihnya berkibar, dan udara di sekitarnya seketika anjlok ke titik beku, memunculkan butiran salju tipis yang turun dari udara kosong. Ia menatap Lin Chen yang berjalan menaiki tangga di sisi seberangnya dengan tatapan dingin dan penuh kebencian.
"Lin Chen," suara Wang Xue'er terdengar merdu namun sedingin es abadi. "Kau telah membuktikan bahwa kau bukan lagi sampah. Namun, menggunakan kekuatan kasar untuk pamer di depan badut-badut itu tidak akan berguna di depanku."
Ia menghunus pedang kristal es miliknya, mengarahkannya lurus ke wajah Lin Chen.
"Hari ini, aku akan mencabik-cabik harga dirimu dan membuktikan kepada seluruh kota, bahwa keputusanku untuk membatalkan pertunangan kita adalah hal yang paling benar. Kau... tidak akan pernah setara denganku."
Mendengar deklamasi yang arogan itu, Lin Chen hanya tersenyum tipis. Ia menurunkan Pedang Berat Penelan Bintang dari bahunya, menancapkannya ke lantai arena hingga menimbulkan retakan baru.
"Setara denganmu?" Lin Chen menggelengkan kepalanya pelan, matanya memancarkan kedalaman ruang hampa yang pernah menelan galaksi. "Kau terlalu meninggikan dirimu, Gadis Kecil. Di mataku, kau bahkan tidak pantas menjadi debu di ujung pedangku."