Glegg
Arsa menelan ludahnya saat melihat tubuh Aurel yang hanya memakai lingerie tipis berwarna hitam, bahkan Arsa bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
"Sayang boleh ya." Ucap Arsa memohon.
Aurel hanya mengangguk malu malu sambil menyilangkan tangannya, melihat anggukan Aurel, tanpa ragu lagi Arsa mulai mengeksplor setiap inchi tubuh istrinya.
"Emhhh, Arsa " Aurel mulai terbuai atas perlakuan Arsa, Arsa memperlakukannya sangat lembut, meski terkesan tidak sabaran namun Arsa berhasil menahan diri agar tidak menyakiti Aurel karena ini adalah pengalaman pertama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Karma
" Sayang mau makan apa? aku pesenin." Arsa bertanya pada Aurel.
" Kamu udah makan?" Tanya Aurel balik.
" Aku nungguin kamu yang." Jawab Arsa.
" Ya udah, aku ikut kamu aja, kamu mau makan apa, aku juga mau, yang penting pedes ya." Pinta Aurel.
" Siap tuan putri, tapi pedes nya aku enggak turutin ya." Ucap Arsa, kemudian pergi untuk membeli dua porsi bakso kesukaan Aurel.
" Kamu dan Arsa pacaran?" Tanya Lea pada Aurel.
Aurel menggeleng, dia menjawab seperti itu, karena memang mereka bukan lagi pacaran status nya, tapi sudah menikah.
" Ohhh" Lea ber Oh Ria, dia lagi lagi salah paham akan hubungan Aurel dan Arsa.
" Temen temen kita pergi dulu ya, kapan kapan kita ngobrol lagi." Raisa tiba tiba mendapat telepon dan ijin berpamitan tentunya Lea mengikuti kemana pun Raisa pergi.
" Akhir nya pergi juga tuh kating, risih banget deh gue." Ucap Arum kesal
" Kenapa mereka bisa di sini?" Tanya Aurel penasaran.
" Lo enggak tau, tadi laki lo ketempelan, kaya nya kelas dia tadi angker tuh." Arum bukan nya menjawab, malah mengatakan hal yang absurd.
Amel tertawa terbahak mendengar ocehan Arum.
" Enggak tau mereka datang dari mana, namun tiba tiba aja duduk sebelah Arsa gitu tadi, untung aja Arum langsung kasi kode keras." Jelas Amel.
" Ohh, gitu." Aurel manggut manggut
Arsa sudah membawa dua porsi Bakso yang di pesan Aurel.
" Ngomongin apa?" Tanya Arsa sambil menyuapkan baso pada Aurel.
" Hantu yang nempel in kamu." Jawab Aurel sambil terkekeh.
Sedang Arsa malah menaikan satu alis nya tak mengerti.
" Gimana orang tua lo, Mon?" Tanya Arsa.
" Mereka sepakat untuk bercerai." Jawab monti.
" Awal nya nyokap masih ingin mempertahankan rumah tangga nya, namun bokap seperti nya tidak, dia ngelepasin nyokap gue, dan menurut gue, itu keputusan pertama bokap yang sangat gue hormati." Lanjut Monti
Amel menggenggam tangan Monti, menguatkan nya, mata nya memancarkan ada dia di samping diri nya.
" Lalu, bagaimana dengan Angga dan juga nyokap nya?" Tanya Arsa.
" Entah, itu urusan Bokap gue dan nyokap Angga, mereka sudah dewasa, dan gue terlalu malas untuk terlibat." Jawab Monti.
" Menurut ku, kamu sudah benar sayang, kamu anak yang baik." Amel mengusap punggung tangan Monti.
" Oh ya Ar Rel, gue mau bilang terimakasih atas usaha yang kalian lakukan buat kita, makasih banget banget, berkat kalian pertunangan gue di batalin." Monti kembali berterimakasih pada Arsa dan Aurelia.
" Apaan si lo, kaya ke siapa saja." Ucap Arsa
" Gue serius, lo memang ter the best deh." Monti mengacungkan jempol nya.
" Sama sama, suatu saat kalian harus membayar nya, semua itu enggak gratis bro."
Ucap Arsa
" Kalian memang pasangan sejati, sampai omongan pun sama persis." Ucap Monti yang di balas kakehan Aurel dan Arsa.
*
*
Sementara itu, di sebuah kafe, terlihat dua orang pria dan wanita yang tengah duduk di sebuah meja di sudut kafe, mereka sengaja mencari tempat yang sedikit privat agar tak terganggu saat berbicara.
" Maaf, hanya itu yang bisa saya kata kan." Seorang Pria paruh baya tengah menyesali perbuatan nya di hadapan wanita yang sudah ia hancurkan hidup nya.
" Buat apa tuan, maaf anda tak bisa membalikan keadaan seperti semula, kesakitan sudah anda tebar kan di mana mana, anda tak pernah tau betapa sakit melahir kan dan terasingkan sendirian, anda tak pernah tau jerit tangis seorang anak yang mencari ayah nya bah kan terpisah dari ibu nya, jadi untuk apa sekarang anda meminta maaf, tak ada guna nya." Wanita paruh baya yang ada di hadapan pria paruh baya itu tak dapat lagi membendung tangis nya.
" Saya tau saya salah, saya akan bertanggung jawab." Ucap pria paruh baya yang tak lain adalah Doni, ia sengaja meminta bertemu secara pribadi dengan Riana.
" Tidak perlu, kita sudah bahagia dengan kehidupan masing masing, anak ku, yang dia tau ayah nya sudah lama mati, bukan kah akan lucu kalau anda tiba tiba datang dan mengaku sebagai ayah nya, sebaik nya kita tak perlu lagi bertemu satu sama lain, kalau begitu saya permisi." Riana berdiri dan meninggalkan Doni sendirian, perasaan nya berkecamuk.
Sebuah penyesalan tiba tiba menggerogoti hati Doni, sudah benar kah apa yang ia lakukan saat ini.
Sekarang ia sudah memilih bercerai dengan istri nya, dan berusaha memperbaiki hubungan nya dengan anak nya yang lain, tapi di lupa, hubungan nya dengan anak nya yang lain belum ia perbaiki.
Doni hanya tinggal menunggu sebuah Karma datang pada nya.
Semangat 💪💪